Senin, 29 Maret 2010

MELANGKAH DALAM DAMAI

Sebagai manusia yang memiliki keinginan dan harapan semua kita pasti memiliki visi dan misi dalam hidup ini.

Cita-cita merupakan bentuk dari impian hidup setiap manusia. Sekecil apapun cita-cita itu pastilah membutuhkan usaha untuk mencapainya. Tanpa usaha dan harapan serta doa yang seimbang maka akan banyak kesulitan untuk meraihnya.

Ada satu hal penting yang seringkali terlupakan oleh kita dalam usaha mencapai cita-cita. Yaitu perasaan bersalah terhadap sesama.

Menuju puncak kesuksesan ibarat kita sedang menuju suatu tempat yang indah penuh dengan kedamaian dan keindahan yang sangat membahagiakan. Di sana kita akan merasakan diri kita hidup dalam sebuah kesempurnaan. Tapi semua itu tidak akan bisa kita nikmati sepenuhnya apabila masih ada beban rasa bersalah di pungung kita terhadap kerabat, saudara ataupun sahabat. Bahkan perasaan itu bisa menghambat perjalanan yang tengah kita tempuh. Sehingga pada akhirnya sulit bagi kita untuk sampai di tempat tujuan.

Maka, … jika kita hendak mempersiapkan sebuah misi atau usaha untuk meraih kesuksesan dalam meniti karier, bisnis atau apapun juga yang membutuhkan konsentrasi, tenaga serta fikiran kita, sebaiknya kosongkan segala permasalahan dan perseteruan dengan sesama kita. Datang dan memintalah maaf serta doa restu dari mereka.

Mulailah lembaran baru kita dengan membuka lembaran bersih tanpa coreng moreng yang akan memberatkan perjalanan kita. Cobalah……. melangkah dalam damai……

Sukses.

Selasa, 02 Maret 2010

BERDOA DAN BERSYUKUR

Iseng-iseng saya bertanya pada beberapa teman. “Kapan kalian mengucap syukur?”

Jawabannya sangat variatif walaupun pada dasarnya sama. Ucapan syukur seringkali dilontarkan ketika  sedang mendapatkan rejeki. Lalu saya katakan pada mereka bahwa itu adalah hal yang biasa. Ucapan syukur ibarat ucapan terima kasih karena kita baru saja mendapatkan sesuatu dari seseorang. Ucapan terima kasih tersebut adalah lumrah karena memang sudah menjadi kebiasaan kita untuk berterima kasih terhadap suatu pemberian.

Lalu saya tanyakan kembali, pernahkah kalian berterima kasih untuk suatu pengharapan atau permintaan? Bukannya jawaban yang terlontar, justru pertanyaan dikembalikan ke saya. “Untuk apa berterima kasih sebelum kita mendapat sesuatu?”

Pertanyaan itu tidak bisa terjawab karena memang tidak butuh jawaban.

Kemudian saya coba jelaskan beberapa hal. Antara lain, permintaan, doa dan pengharapan kepada TUHAN.

Permintaan adalah upaya yang dilakukan agar kita diberikan sesuatu sesuai dengan keinginan kita. Pengharapan tidak jauh berbeda dengan keinginan agar sesuatu terjadi. Sementara doa seringkali dimaksudkan sebagai lontaran keinginan dan pengharapan kepada TUHAN.

Saya coba gali dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, ternyata DOA berarti “[n] permohonan (harapan, permintaan, pujian) kpd Tuhan.” Dari sinilah saya mulai bisa menjelaskan bahwa dalam doa kita kepada TUHAN seharusnya terdiri dari ucapan keinginan serta harapan kita yang diiringi dengan ucapan syukur.

Ucapan syukur adalah ucapan tanda terima kasih kepada TUHAN yang perlu disertakan di dalam doa-doa kita. Jadi mungkin saat ini kita berharap dapat “kenaikan gaji” Lalu  harapan kita ini terselip dalam doa. Saat itulah kita coba untuk mengucap terima kasih kepada TUHAN atas “kenaikan gaji” yang baru jadi permintaan kita.

Kekuatan doa yang disertai dengan ucapan syukur akan menambah kemampuan kita untuk berusaha lebih keras dalam meraih prestasi sehingga pengharapan kita menjadi lebih tertuju secara tepat seperti anak panah yang dibidikkan dengan penuh konsentrasi oleh si pemegang busurnya. Kalaupun beberapa kali anak panah itu meleset dari sasaran, tetapi dengan penuh ketekunan dan kesabaran pastilah suatu saat ada yang tertancap tepat mengenai sasaran.

Demikianlah doa dan pengharapan disertai dengan ucapan syukur yang tulus akan menjadi kekuatan yang luar biasa bagi kita untuk terus berusaha agar apa yang kita cita-citakan dapat tercapai.



Bagikan

Sabtu, 10 Oktober 2009

KETIKA

Ketika saya melihat ramai sekali pemuda-pemudi kita berlomba lomba mencalonkan diri menjadi PNS, muncul pertanyaan “tidak sehat” saya dalam hati. “Kenapa sih mereka mau bersusah payah ngantri bahkan berdesak-desakan hanya untuk menjadi PNS?” Lalu, “Kenapa mayoritas diantara kita suka menjadi PNS?”

Jawaban dari pertanyaan ini tidak terjawab juga sampai akhirnya saya menemukan artikel di sebuah website (lupa website apa) yang kurang lebih menjelaskan bahwa Fenomena PNS adalah darah daging putra-putri negeri ini, dimana hampir setiap orang tua dari anak-anak bangsa ini menginginkan putra-putrinya berpenghidupan menjadi pegawai termasuk PNS.

Saat masih sekolah SMA, saya merasa durhaka kepada orang tua karena saya selalu menentang keinginan mereka agar saya nanti bisa menjadi PNS atau pegawai swasta.

Keinginan saya adalah bisa berwirausaha. Mungkin keniginan itu terlalu bermuluk-muluk bagi mereka, sehingga kami seringkali beradu argumentasi yang panas.

Melihat kondisi begitu banyaknya tingkat pengangguran dari sejak saat saya belum lulus sekolah hingga saat ini salahkah jika kita berkeinginan membuka lapangan usaha sendiri? Syukur-syukur bisa membuat beberapa orang kehilangan gelar pengangguran, walau hanya dengan usaha kecil-kecilan.

Semoga semakin banyak orang-orang memiliki ide segar membuka lapangan usaha! Karena hanya inilah solusi mengurangi pengangguran, buka lapangan kerja minimal untuk diri sendiri.

Kamis, 08 Oktober 2009

Enggan Berhitung

Ketika mainan dunia maya tak sengaja menemukan sebuah inspirasi yang menarik, Begini :


"Orang Pintar cenderung banyak menghitung, sehingga takut memulai usaha. Orang bodoh tak pandai berhitung, sehingga dia Mulai saja memBUKA usaha" Jaya Setiabudi


Wah saya jadi bangga dibilang bodoh, tapi yang jelas bukan secara harfiah kita mengartikannya. Ada makna yang lebih dari kalimat tersebut.


Satu contoh nyata pernah saya alami, sebagai orang gajian dengan gaji minim kalau dipikir rasional saat itu saya tidak mungkin bisa kredit motor baru apalagi beli kontan. Kalau mau nabung pun harus nunggu sekitar 5 tahun. Nah, ketika masa nabung sudah sampai target, harga motor sudah naik seiring kenaikan harga barang-barang, maka uang tabungan masih tidak cukup.


Saya tidak perlu menunggu 5 tahun untuk bisa punya motor. Tahun 1997, harga motor baru paling murah masih dibawah 5 juta. Saya coba tabung gaji saya selama 6 bulan, tiap bulan dis impan 150 ribu. Karena masih nebeng orang tua, gaji sebesar 150 ribupun cukup ditabung saja. Lalu, setelah dirasa masa 8 bulan tabungan saya menjadi sekitar 1 jutaan lebih. Harga kredit motor saat itu masih mahal. DP saja minimal 1 juta, cicilannya 180 ribuan. Nah gaji saya gak cukupkan bayar cicilan?


Sekema ini tidak membuat saya mundur. Kebetulan, saat itu saya punya banyak teman yang baru lulus sekolah tapi nganggur. Muncul ide "bodoh" dari otak saya untuk mengajak mereka bekerja bareng-bareng. Tabungan saya ambil, saya pergi ke dealer motor untuk mendapatkan motor kreditan. Sisa dari uang tabungan untuk DP motor yang 6 bulan tadi saya buat modal bikin usaha kecil-kecilan jualan jagung bakar (saat itu di kota kecil saya belum ada jagung bakar beraroma).


Ide "Bodoh" saya (jualan jagung bakar) berkembang hanya dalam waktu 6 bulan. Saya tidak terlalu dipusingkan uang cicilan lagi. Bahkan ada kelebihan penghasilan. Dan saya sudah menambah beberapa produk jualan (roti bakar dan minuman). Teman-teman saya belikan seragam berupa kaos dan jaket. Luar biasa memang walau pada tahun 1999 harus gulung tikar karena tragedi perpolitikan dan krisis ekonomi. Tapi saat itulah saya pertama kali sudah dipanggil "Bos".

Rabu, 07 Oktober 2009

CAMBUK

Momen lebaran tahun kemarin ada sesuatu yang menarik ketika seorang teman lama datang. Dia bekas anak buah ketika berada di negeri Jiran sembilan tahun silam. Ia agak terkesima melihat perkembangan bisnis kecil-kecilan saya. Sebab inilah yang saya cita-citakan sejak di negeri rantau walau saat itu gagal mendapatkan modal. Tapi ketika tahu saya masih jadi "buruh" sebuah instansi swasta ia malah menertawakan saya. Dia bilang saya belum tobat juga jadi "buruh" padahal sudah punya usaha yang memadai (setidaknya menurut pendapat dia). Sayapun berkilah, bila saya masih mengemban tugas membimbing beberapa teman sampai akhir tahun ini.


 

Sejak 6 tahun silam memanglah saya belum memiliki apa-apa, sehingga saya masih harus rela jadi "buruh" untuk sekedar meyimpan recehan sebagai bekal usaha mandiri. Tapi kemudian saya jadi terlena ketika gaji dari tempat kerja semakin meningkat. Tak bisa dipungkiri, memang saya jadi kurang bersemangat untuk berwiraswasta. Tapi semenjak peristiwa pertemuan itu, seperti sapi penarik pedati yang terkena CAMBUK akhirnya semangat saya bangkit kembali.


 

Terima kasih teman, …………………!

Tapi maaf saya bukan sapi. Saya bisa berlari lebih cepat dari binatang itu walau harus terengah-engah.


 

Senin, 05 Oktober 2009

Dari Titik Awal Tapi bukan Nol

 

 

 

Sangat lama sekali saya tidak bikin psoting. Ini berkaitan dengan keadaan off line saya yang benar-benar sibuk, sehingga saya harus memilih mana yang harus menjadi prioritas utama untuk dikerjakan.

 

Sehubungan dengan itu, jelas yang utama adalah kewajiban.

Sejak pertengahan Agustus hingga akhir lebaran tahun ini, adalah kesempatan yang harus saya gunakan untuk menyeselaikan tugas di tempat kerja dan setelah itu Bye-Bye. Karena saya sudah punya sekema untuk menekuni usaha sendiri. Ini memang cita-cita saya yang lama terpendam. Kini tinggal selangkah lagi, maka akan saya mulai berpenghasilan tanpa harus jadi pekerja sebuah korporat. Inilah kebebasan saya untuk memulai tapi bukan dari nol, sebab modal kemandirian telah saya miliki. Nekat……!

Sabtu, 19 September 2009

Selamat Lebaran

Lebaran RCO

Sabtu, 08 Agustus 2009

88

Hari ini tanggal 8 Bulan 8, dikabarkan oleh media bahwa Noerdin M. Top Tewas dalam operasi penggerebekan di sebuah desa di Temanggung Jawa Tengah. Entah kebetulan atau tidak, tapi jelas kejadian ini bertepatan dengan angka 8. Dimana TIM yang bertugas dari POLRI memiliki nama 88.

Bravo DENSUS 88! Walaupun belum ada pernyataan resmi terkait benar atau tidaknya mayat yang ditemukan dalam peristiwa 8 agustus ini adalah Noerdin M. Top, tapi saya turut berbangga memiliki aparat yang tegas dan sigap dalam melaksanakan tugasnya.

Bahkan kenyataannya, tidak lebih dari 24 jam TIM POLRI ini telah melakukan manuver yang cukup hebat di dua tempat yang berbeda. Sebelumnya dikabarkan bahwa di daerah Bekasi sana telah digerebek pula sarang teroris dan menyebabkan 2 orang tewas di pihak musuh.

Salahkah saya turut berbangga juga? Bukankah tidak berlebihan jika saya ingin sekali memberikan apresiasi serta penghargaan yang mungkin hanya bisa ditulis melalui blog sekecil ini?

Walaupun mungkin nantinya ternyata korban tewas di Temanggung itu bukan Noerdin, tapi saya tetap angkat topi untuk DENSUS 88 ANTI TEROR.

Jika boleh saya mengandai-andai, anggap jaringan teroris yang bertopeng agama itu adalah sebuah sistim atau tubuh. Jika beberapa anggota tubuhnya terpotong, maka jelas pergerakannya akan berkurang. JIka itu dianggap sistim, coba bayangkan apa yang akan terjadi jika file sistem pada komputer anda terhapus beberapa bagian, bukankah anda akan mendapati kesulitan loading?

Perjuangan DENSUS 88 belum selesai sebelum seluruh jaringan pada tubuh teroris ini dibumihanguskan dari negeri kita. Ayo, terus lanjutkan perjuanganmu 88. Sukses akan menyertai kalian semua!

Selasa, 04 Agustus 2009

JFC Belum Finish

Karena sesuatu dan lain serta banyak hal, yen tak pikir-pikir lagi kok sepertinya foto-foto JFC 2 Agustus 2009 di Jember hasil jepretan kamera sederhana saya lebih baik ditampakkan di sini juga.

Ini dia foto-foto itu (Walau sangat disayangkan jika belum seluruhnya dapat terekam, karena TERLAMBAT JFC):

JFC2009 (1)

(Gambar Mas Dynand Fariz , Sang Pelopor JFC)

 

JFC2009 (2)

JFC2009 (3)

JFC2009 (4)JFC2009 (5) 

JFC2009 (6)

JFC2009 (7)

JFC2009 (9)JFC2009 (11) JFC2009 (10)

JFC2009 (13)

JFC2009 (14)

JFC2009 (16)

 JFC2009 (18)

JFC2009 (19) JFC2009 (22) JFC2009 (21)JFC2009 (24)JFC2009 (25)JFC2009 (26)JFC2009 (27)

JFC2009 (30)

 JFC2009 (31)

 JFC2009 (32) JFC2009 (34) 

JFC2009 (33)JFC2009 (35)JFC2009 (36)   JFC2009 (37)  JFC2009 (38)

JFC2009 (39)

JFC2009 (42) JFC2009 (43) JFC2009 (44) JFC2009 (45) JFC2009 (46) JFC2009 (47)  JFC2009 (49)  JFC2009 (50)

 

 

 

 

 

 

 

JFC2009 (51) JFC2009 (52) JFC2009 (53)

JFC2009 (54)

JFC2009 (56)

JFC2009 (57) 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JFC2009 (58)

JFC2009 (59)

JFC2009 (60)

 

 

 

 

 

 

JFC2009 (61)

JFC2009 (62)

 JFC2009 (65) JFC2009 (64)JFC2009 (63)

JFC2009 (66)

 JFC2009 (67)