Tampilkan postingan dengan label Omong Kosong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Omong Kosong. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Oktober 2009

KETIKA

Ketika saya melihat ramai sekali pemuda-pemudi kita berlomba lomba mencalonkan diri menjadi PNS, muncul pertanyaan “tidak sehat” saya dalam hati. “Kenapa sih mereka mau bersusah payah ngantri bahkan berdesak-desakan hanya untuk menjadi PNS?” Lalu, “Kenapa mayoritas diantara kita suka menjadi PNS?”

Jawaban dari pertanyaan ini tidak terjawab juga sampai akhirnya saya menemukan artikel di sebuah website (lupa website apa) yang kurang lebih menjelaskan bahwa Fenomena PNS adalah darah daging putra-putri negeri ini, dimana hampir setiap orang tua dari anak-anak bangsa ini menginginkan putra-putrinya berpenghidupan menjadi pegawai termasuk PNS.

Saat masih sekolah SMA, saya merasa durhaka kepada orang tua karena saya selalu menentang keinginan mereka agar saya nanti bisa menjadi PNS atau pegawai swasta.

Keinginan saya adalah bisa berwirausaha. Mungkin keniginan itu terlalu bermuluk-muluk bagi mereka, sehingga kami seringkali beradu argumentasi yang panas.

Melihat kondisi begitu banyaknya tingkat pengangguran dari sejak saat saya belum lulus sekolah hingga saat ini salahkah jika kita berkeinginan membuka lapangan usaha sendiri? Syukur-syukur bisa membuat beberapa orang kehilangan gelar pengangguran, walau hanya dengan usaha kecil-kecilan.

Semoga semakin banyak orang-orang memiliki ide segar membuka lapangan usaha! Karena hanya inilah solusi mengurangi pengangguran, buka lapangan kerja minimal untuk diri sendiri.

Selasa, 07 Juli 2009

BEBERAPA HARAPAN

Pilpres telah digelar hari ini. Hari-hari sebelumnya sempat terdengar di telinga saya beberapa harapan terlontar dari beberapa mulut. Harapan tersebut antara lain:

  1. 1.   Orang Miskin (yang paham P-4) berharap :
    1. Semoga presiden terpilih nanti benar-benar mampu memimpin bangsa ini ke arah kesejahteraan rakyatnya sesuai dengan amanat UUD’45 dan Pancasila.
  2. 2.   Orang Miskin (yang awam) berharap :
    1. Semoga presiden terpilih nanti bisa menyulap yang miskin jadi kaya, tanpa kekurangan.
  3. 3.   Pengusaha berharap :
    1. Semoga presiden terpilih nanti bisa memperjuangkan hak-hak dagang dan memperkecil pajak ekspor impor serta tidak berpihak pada buruh saja sehingga usahanya tidak pernah merugi.
  4. 4.   Kaum Buruh (pinter) berharap :
    1. Semoga presiden terpilih bisa memperjuangkan hak-hak buruh dan memperkecil pajak ekpor-memperbesar pajak impor sehingga bosnya untung dan gaji buruh meningkat.
  5. 5.   Pekerjanya TPS yang tidak pernah bersyukur berharap :
    1. Semoga Ada Pilpres putaran kedua.
  6. 6.   Orang awam yang bijaksana berharap :
    1. Semoga PILPRES tahun ini sukses tanpa banyak kendala, tidak ada pertikaian mengenai hasil penghitungan. Pokoknya semua lancar dengan presiden terpilih sesuai dengan harapan seluruh rakyat Indonesia. Tentunya tidak ada putaran ke-2, sekali saja cukup. Dan Lanjutkan perjuangan….

Senin, 18 Mei 2009

KETIKA HAMIL

Dalam sebuah pertemuan ibu-ibu, Bu Panda membawa 2 anaknya. Satu putra berusia 7 tahun, satunya lagi putri berumur 5 tahun. Dua anak sekandung sepersusuan itu memilki sifat yang sangat jauh bertolak belakang. Si anak pertama banyak tingkahnya, maklum mungkin karena anak lelaki. Sementara anak keduanya sangat pendiam dan manis tidak banyak tingkah tapi kelihatan begitu cerdas. Terbukti ketika ada yang menanyainya, ia bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat lancar dan lucu walau jawabannya mungkin salah, maklum usianya baru 5 tahun.


 

Seorang ibu lain, sebut saja namanya Bu Norman. Ibu satu anak ini gemas sekali melihat tingkah anak Bu Panda yang menurutnya over acting itu. Dengan tidak sungkan-sungkan akhirnya Bu Norman memaksakan diri untuk bertanya mengenai anak itu pada ibunya,


 

Bu Norman    :    "Duuuuh, nuwun sewu, ya Jeng.... Saya penasaran ... kenapa anak ibu yang pertama kok nakal sekali gitu ya... Ndak seperti adiknya. Sudah pendiam, manis, lucu, pinter lagi....!!!?"

Bu Panda    :    "Iya tu Bu...., ndak tahu kenapa.... saya sendiri kadang-kadang heran. Tapi saya juga sering berfikir. Mungkin itu juga karena salah saya, Jeng!"

Bu Norman    :    "Lho memangnya kenapa. Apa ada yang salah? Waktu hamil barangkali?"

Bu Panda    :    "Yaaaaah,..... itulah yang seringkali terpikir oleh saya."

Bu Norman    :    "Salah ngidam....?"

Bu Panda    :    "Bukan....!"

Bu Norman    :    "Lalu kenapa?"

Bu Panda    :    "Gini lho, Jeng. Suami saya itu, waktu pengantin baru dulu seringkali bilang, kalau hamil nanti saya diminta suka muter musiknya Mozard. Menurut dia sih biar sang bayi nanti bisa jadi anak yang cerdas. Entah darimana ia dapat teori begituan..."

Bu Norman    :    "Emmm... Iya iya... saya juga pernah dengar tentang Mozart itu."

Bu Panda    :    "Ia tidak sekedar ngomong aja lho, Jeng! Keika tahu saya hamil ia belikan saya seperangkat alat stereo lengkap. Ada walk men, ada Hi Fi. Trus, dibelikan juga satu set kira-kira ada 10 keping CD Mozard. Komplit. Sebelum berangkat kerja ia menyempatkan diri memutar musik itu untuk saya. ....."

Bu Norman    :    "Emmmm..... terus..."

Bu Panda    :    "Tahu sendiri kan, Jeng. Musik itu membosankan! Tapi jadinya, ya seperti anak kedua itu. Sudah pendiam, pinter lagi."

Bu Norman    :    "Lho yang pertama kok ndak...?"

Bu Panda    :    "Ya, itu dia masalahnya. Kalau suami saya pergi kerja, saya ganti Mozardnya dengan musik Rock, RnB, Dangdut kadang-kadang Koplo...."

Bu Norman    :    "Chk chk chk ... mungkin juga ya...?"

Sabtu, 16 Mei 2009

KAWIN PAKSA

Ini adalah sebuah kisah lama yang tidak jelas siapa penulis atau pembuatnya. Saya juga sudah lupa dari mana cerita ini saya dengar. Kini saya coba ceritakan kembali dengan bahasa yang mutakhir. O ya, yang anti pornographi sebaiknya tidak membaca artikel ini.


 

Begini kisahnya.


 

Masa itu adalah masa dimana orang tua suka menjodohkan anaknya. Anak seperti tidak punya otoritas dan kuasa dalam menentukan dan memilih calon istri atau calon suami bagi dirinya sendiri. Walau dengan berat hati bagaimanapun juga si anak akan tetap menuruti kemauan kedua orangtuanya agar tidak dicap sebagai anak durhaka.


 

Pak Kamto, sebut saja namanya begitu. (bukan nama sebenarnya) telah menjodohkan putranya bernama Kangmas dengan putri sahabatnya bernama Dimas. Perkawinan yang tidak didasari cinta kedua anak manusia itu berlangsung meriah dan megah. Maklum Pak Kamto adalah salah satu orang terpandang di desanya.


 

Perkawinan telah berjalan selama 1 tahun. Tapi Pak Kamto belum juga mendapatkan tanda-tanda akan mendapatkan seorang cucu dari putra pertamanya itu.


 

Suatu hari Pak Kamto memanggil Kangmas. Ia sangat ingin sekali tahu kenapa sang menantu belum juga hamil, padahal seharusnya dengan usia perkawinan 1 tahun sudah menimang bayi mungil. Ini teori Pak Kamto, hari ini nikahan malam langsung tembak di tempat dan bulan depan si istri pasti terlambat bulan alias hamil.


 

Dengan teori tersebut Pak Kamto penasaran mengenai ketidakhamilan Si Dimas, istri anaknya.


 

"Saya tahu apa yang hendak Bapak bicarakan," Ujar Kangmas menebak apa yang hendak dibicarakan oleh Pak Kamto. "Sayapun sudah lama ingin membicarakannya."


 

"O ya? Tentang apa coba?" Kata Pak Kamto


 

"Kenapa Dimas istri saya itu tidak hamil, bukan?"


 

"Tepat. Bapak dan ibumu ini sudah merindukan cucu, Kangmas! Usia pernikahan kalian kan sudah setahun, tapi kenapa belum ada tanda-tanda kehamilan." Ujar Sang Bapak, "Apa ada yang salah dengan…. Ehm… kesuburan kalian?"


 

Kangmas tersenyum, "Bapak bapak... saat bapak dan ibu berniat menjodohkan kami waktu itu, saya sudah bilang bahwa kami butuh waktu untuk saling dekat, untuk saling mengenal dan kemudian saling membutuhkan sebagai suami istri...."


 

"Lha,.... apa waktu setahun belum cukup untuk saling mengenal terus mendekat...?


 

Kangmas menunduk dan mempermainkan kedua tangannya yang saling menggenggam dalam pangkuan. Lalu...


 

"Selama itu pun kami belum juga bisa saling dekat, Pak. Kami belum melakukan kewajiban kami sebagai suami istri. Bahkan kami mau mohon ijin untuk cerai....!"


 

"Apa? Cerai..?" Pak Kamto terperanjat. Bukan saja jantung, bahkan bola matanya hampir copot karena terkejut.


 

"Edan,... edan...edan... dunia memang sudah edan." Pak Kamto berdiri sambil berkacak pinggang.


 

"Apa kamu ndak ingat. Pesta pernikahan kalian adalah yang terbesar di desa ini. Berapa biaya yang sudah keluar. Bapakmu ini orang terhormat dan terpandang. Kalian seenaknya sendiri mau minta cerai. Apa kata dunia, hah?" Pak Kamto mulai marah.


 

"Tapi, Pak....kami benar-benar tidak cocok."


 

"Tidak cocok bagaimana. Yang namanya laki-laki dengan perempuan ya pasti cocok. Kalian saja yang tidak tahu bagaimana cara mencocokkannya." Kata Pak Kamto kesal. "Pokoknya, tidak ada perceraian. Kalian harus jadi suami istri sampai tua seperti bapak dan ibumu ini. Titik. Tidak ada alasan cinta dan tetek bengeknya itu."


 

Kangmas hanya mengangguk lesu.


 

"Besok malam kamu beserta istrimu temui bapak lagi. Sekarang Bapak mau ke tempatnya eyang, mohon petunjuk." Ujar Pak Kamto seraya ngeloyor meninggalkan Kangmas dalam ketakutan.


 

Malam itu Pak Kamto bersama istrinya bertandang ke rumah orangtuanya, eyang si Kangmas untuk membicarakan masalah yang terjadi pada anak dan menantunya. Selesai meminta petunjuk Pak Kamto langsung pulang.


 

Keesokkan harinya Kangmas dan Dimas, suami istri yang tidak atut itu menghadap Pak Kamto. Kedua mempelai yang masih original walau sudah setahun itu seperti ketakutan. Mereka seolah terdakwa yang menunggu vonis sang hakim. Tunduk seperti pesakitan di hadapan sidang.


 

Tapi anehnya, Pak Kamto tersenyum senyum melihat kedua pasang anak manusia itu. Ia yakin sekali bahwa petunjuk dari orang tuanya yang didapat kemarin akan berhasil menyatukan perkawinan mereka.


 

"Kangmas,... dan kau Dimas..." Pak Kamto membuka acara pertemuan.


 

Kedua pasang manusia yang berada dihadapan Pak Kamto tidak menjawab. Mereka mendongak dan memandang orang tua itu penuh harap.


 

"Kalian boleh bercerai….!" Lanjut Pak Kamto.


 

Kedua orang muda itu wajahnya langsung sumringah. Keinginan mereka untuk terbebas dari perkawinan paksa akan segera terpenuhi.


 

"Eit, jangan senang dulu. Masih ada tapinya...." Ujar Pak Kamto lagi.


 

"Ada syaratnya, Pak?" tanya Kangmas yang hampir bergembira ria itu.


 

"Iya dong. Bapak kan sudah mengeluarkan banyak biaya dan tenaga untuk perkawinan kalian. Bukannya bapak mau kalian mengembalikan itu semua. Bapak hanya ingin kalian melakukan satu syarat saja sebelum kalian boleh benar-benar bercerai,"


 

Kedua manusia dewasa di hadapan Pak Kamto tiba-tiba saling berpandangan seperti menyetujui persyaratan itu.


 

"Baiklah, Pak. Apa syaratnya?" Tanya Kamto kemudian.


 

Tanpa mempedulikan rasa heran dari anak dan menantunya itu, Pak Kamto mengeluarkan 2 buah biji asam jawa dari dalam kantung plastik di sakunya.


 

"Begini. Ini dua biji buah asam. Untuk Kangmas satu dan Dimas satu."


 

Kangmas dan Dimas terheran-heran belum mengerti maksud orang tua itu.


 

"Kalian harus mengadu dua biji buah asam ini sampai salah satunya pecah." Lanjut Pak Kamto menjelaskan sambil mengulurkan biji buah asam jawa itu kepada mereka masing-masing satu.


 

"Dan ini perekat." Pak Kamto kembali mengulurkan sebuah botol kecil kepada mereka.


 

"Caranya, lekatkan biji itu pada pusar kalian masing masing lalu adu dua biji itu, benturkan satu sama lain sampai salah satunya pecah. Nah mudah kan?"


 

Pak Kamto mengakhiri petunjuknya sambil tersenyum penuh kemenangan. Tapi kedua pasang suami istri itu belum juga mengerti maksudnya.


 

"Ayo lekas pergi dan lakukan...!"


 

"Tapi, Pak.????" Kangmas terbata.


 

"Sudah.... lakukan itu dalam kamar kalian, mulai sekarang. Katanya mau cepat-cepat cerai."


 

Dua orang itu masih tidak beranjak juga.


 

"Baiklah, sini..!" Pak Kamto memanggil Kangmas agar mendekatinya."Biar bapak yang melekatkan biji itu pada pusarmu. Dan Dimas, sana pergi ke ibumu biar dia lekatkan biji asam itu ke pusarmu."


 

Kangmas mendekati Bapaknya. Dimas pergi ke kamar ibunya.


 

Proses melekatkan biji asam ke pusar Kangmas oleh bapaknya dan Dimas oleh ibu telah selesai.


 

"Nah, sekarang juga kalian pergi masuk kamar. Adu dua biji asam jawa itu sampai pecah. Saya beri waktu kalian paling lama 3 bulan. Kalian harus melakukannya tiap hari bila ada kesempatan sampai biji asam itu benar-benar ada yang pecah."


 

Jangan dibayangkan, proses adu dua biji asam itu pasti mengerikan. Sama saja dengan proses adu pusar antara dua manusia berlainan jenis. Apalagi mereka berdua harus sama-sama bertelanjang perut.


 

1 bulan berlalu belum ada kabar pecahnya salah satu biji asam jawa dari Kangmas dan Dimas. Hingga bulan ke-3 pun telah terlampaui. Dan bulan ke-4 ternyata Dimas dikabarkan terlambat bulan.


 

Ternyata proses adu buah biji asam jawa dengan pusar telah jitu membuat Kangmas dan Dimas sukses menjadi suami istri hingga beranak pinak.

Senin, 27 April 2009

REVOLUSI


Saya minta maaf pada teman-teman semua yang sering berkunjung ke sini. Karena hari-hari ini kalian akan menemukan postingan yang basi dan busuk. Kadaluarsa serta sangat amat kuno sekali.

Belakangan ini saya tengah disibukkan dengan kegiatan di tempat kerja. Saking sibuknya, jangankan mengkoneksikan computer dengan internet, kentut saja serasa tidak sempat.

Tahun-tahun terakhir ini di negeri kita sedang gencar-gencarnya standarsisasi, sertifikasi, akreditasi, mutilasi, imunisasi…. (halah ngelantur....)

Dari berbagai macam model –si –si an itu, instansi tempat saya bekerja sedang kalang kabut seperti kucing kecebur got, garuk sana garuk sini, jungkir balik, guling sana sini. Sibuk dengan dirinya sendiri, persis anjing kegatalan karena tubuhnya dihuni ratusan kutu.

Pihak berwenang sedang menuntut instansi ini mempersiapkan diri untuk disurvei akreditasi. Tuntutannya tidak tanggung-tanggung, dalam survey ini harus lulus. Kalau tidak, ngeeek!!!! – potong leher masak dikuali atau dimakan mentah-mentah

Bah, saya kira itu omong kosong. Kalau saja pihak yang berkepentingan konsisten pastilah instansi ini sudah lama ditutup.

Sejak 2007 saya telah diserahi tugas untuk masuk ke dalam tim khusus yang mempersiapkan segala tetek bengek tentang akreditasi itu. Saya sempat komplain pada atasan karena kualifikasi saya secara formal bukan saja tidak cukup, tapi amat sangat kurang sekali.

Saya tidak tahu alasannya kenapa saya diikutsertakan ke dalam tim itu, bahkan masuk dalam tim inti. Ini benar-benar gila. Saat ini bukan kehormatan yang saya cari, tapi penghidupan yang layak atau paling tidak bisa mendapatkan gaji sesuai UMR yang berlaku.

Tapi namanya bawahan yang masih butuh makan, apa saja perintah big bos harus dilaksanakan.

Pembelajaran materipun dimulai. Saat itulah saya tahu bahwa instansi ini benar-benar jauh dibawah standar minimal yang ditetapkan. Borok-borok dan kutu busuk dalam tubuh manajemen tercium amis. Sistem yang amburadul tak terkendali. Kami dalam satu tim sudah ingin bunuh diri massal, sebab sepertinya pekerjaan kami sangat sulit, sesulit mengangkat Anak Gunung Krakatau ke daratan.

Dua tahun berlalu, tidak ada hasil kerja tim yang nampak. Analisis sementara mengatakan bahwa perubahan tidak akan terjadi tanpa ada kemauan.

Kualifikasi sdm secara akademis belum cukup tanpa niat dari masing-masing oknum. Dimulai dari tingkat manajer tertinggi yang sulit merubah kebiasaan buruk dalam mengatur hingga tingkat pelaksana yang suka seenaknya dalam bekerja karena alasan gaji yang pas-pasan. Semuanya Hampir tidak masuk akal untuk dirubah.

Satu tahun kemudian (2008) beberapa anggota tim khusus menyerah kalah. Mereka berhenti kerja lalu pergi entah kemana, tak tentu rimbanya. Pergi menghilang mencari tempat penghidupan baru yang mudah tanpa beban, begitu katanya. Bahkan ketua tim-nya kabur tanpa bekas.

Dari situlah saya muncul ke permukaan. Nasi terlanjur ditelan, tidak mungkin dimuntahkan. Dan saya terlanjur tercebur terlalu dalam. Mustahil ikut juga melarikan diri seperti pengecut yang mementingkan diri sendiri tanpa mau bertanggung jawab.

Saat itu kebijakan tim ada di tangan saya. Perubahan frontal dan besar-besaran akan saya mulai. Tidak peduli saya lulusan apa. Apa yang saya dan tim inginkan harus dilaksanakan. Tidak peduli mereka alumni mana, kalau mau bekerja dan mendapatkan penghasilan dari instansi ini harus melaksanakan tugasnya sesuai aturan. Itu intinya.

Perubahan pun dimulai. Gaji semua staf dinaikkan sesuai standar minimal. Usulan awal terlaksana. Tapi perubahan belum mencapai 25% target. Tahun 2008 berakhir. Batas persiapan akreditasi tinggal satu tahun. Kini adalah masa-masa sulit kami untuk merubah segalanya. Kami bergerilya dari kolong-kolong manajemen tertinggi hingga lorong-lorong pekerja bawahan. Aturan demi aturan yang benar dalam bekerja sedang kami paksakan untuk dilaksanakan. Penyaringan tenaga kerja baru diperketat sedemikian rupa, karena kami ingin sdm yang bermutu dan penuh tanggung jawab, yang tidak saja menuntut hak tapi juga sadar akan kewajibannya. Persyaratan tingkat kualifikasi ketenagaannya ditinggikan. Dan sebagainya.

Kami bersyukur, akhir bulan ini kami sudah mendapatkan tingkat kemajuan hingga 60%. Dan yang paling penting, kabar gembiranya adalah gaji saya bersama beberapa orang dari satu tim sudah ditambah bonus karena berhasil merevolusi keadaan.

. Memang, dalam hal apapun kita harus bekerja keras untuk mendapatkan yang terbaik, bukan berharap mukjizat datang begitu saja

Sabtu, 18 April 2009

JADI CALEG

Pemilu legislative tahun 2009 sudah berlalu. Tapi suasananya masih hangat. Hangatnyapun bukan hangat-hangat tahi ayam, tapi hangatnya pisang goreng yang enak untuk dinikmati saat keadaan di luar sana hujan.


 

Beberapa teman asyik membincangkan suasana pemilu tersebut. Ada yang mengkritik pelaksanaannya. Ada yang membicarakan kemungkinan hasil akhirnya. Ada yang mengunggulkan partai idolanya. Ada pula yang menyesalkan para caleg yang dimungkinkan "gila" ketika kalah. Dan banyak lagi yang lainnya. Giliran saya yang bicara malah bikin mereka semua terpana.


 

Saya bilang, "Saya akan maju jadi caleg tahun depan."


 

Ada yang dukung, "Siiip, Mas. Saya dukung. Sampeyan sudah populer lho!"


 

Ada yang heran, "Kayak katak merindukan bulan. Jangan mimpi!"


 

Ada yang tanya, "Sudah siap gila?"


 

Saya jawab, "Saya jadi caleg, bukan cagil. Calon legislatif bukan calon orang gila"


 

Ada yang Tanya lagi,"Sudah kaya? Seberapa banyak uangmu buat nyangoni rakyat, biar mereka mau memilih."


 

Saya jawab,"Aku bukan mau nyangoni rakyat, aku kan wakil rakyat, ya mereka harusnya yang nyangoni aku. Aku kan mau jadi pembawa suara mereka di DPR, ya mereka yang harusnya memperjuangkan suara agar aku terpilih. Aku kan yang nantinya memperjuangkan nasib mereka, ya merekalah yang harus memperjuangkan agar aku bisa duduk di kursi parlemen. Mereka semua harus menggalang dana dan suara agar aspirasi mereka tersampaikan. Jadi kenapa aku harus jadi orang kaya dulu untuk maju caleg. Dan aku tidak akan pusing-pusing cari pinjaman uang pada rentenir hanya untuk menang. Dan aku pasti menang tahun depan, sebab tidak ada pesaingnya,"


 

Ada yang kecewa, "Yaaa memang, tahun depan mana ada pemilu legislatif?"


 

Saya bilang, "Nah.... ini baru benar!"


 

Jumat, 03 April 2009

RAYUAN MAUT

Seorang manusia keturunan Adam alias lelaki sedang melakukan P-D-K-T (Pendekatan) pada seorang keturunan Hawa yang berstatus gadis lajang. Saat itu si lelaki mengajak wanita idamannya ini ke sebuah rumah makan lesehan santai berdinding bambu runcing. Sambil makan rehat tengah hari lelaki itupun gencar melancarkan serangan-serangan rayuan gombalnya.


 

Lelaki    :

"Sebenarnya sudah lama aku menginginkan saat-saat seperti ini. Bahagia rasanya bisa berdua-dua denganmu. Aku bisa leluasa memandang wajahmu yang cantik. Aku bisa sepuas-puasnya menikmati keharuman tubuhmu."


 

Lelaki ini pasti bohong, kalau sudah tengah hari begitu wanginya sudah hilang ganti bau keringat.


 

Wanita    :

(Diam tanpa ekspresi. Mulutnya asyik menikmati makan siangnya)


 

Lelaki    :

"Akhir-akhir ini aku kesulitan tidur. Wajahmu selalu saja hadir menemani hari-hariku. Ingin rasanya aku selalu berada di dekatmu. Seandainya kamu mau menjadi kekasihku, apapun yang kau minta akan kuberikan."


 

Wanita    :

(mulai tertarik dengan kalimat terakhir ini)


 

Lelaki    :

"Bagaimana, dik? Bersediakah dirimu jadi kekasihku?."


 

Wanita    :

(memberikan sedikit senyumannya, dimanis-maniskan)

"Masih kupikirkan....!"


 

Lelaki    :

"Percayalah, aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk memenuhi segala keinginanmu."

(Menghela nafas sejenak)

"Katakan padaku, apa yang kamu inginkan seandainya kita menjadi sepasang kekasih?"


 

Wanita    :

(kembali memberikan senyumannya)

"Em...mmm... aku hanya mau kau berikan aku bunga dan taruh di atas meja dalam kamar kosku, setiap hari"


 

Lelaki    :

(tersenyum lebar)

"Wah, itu mudah sekali, dik. Katakan, bunga apa yang kamu suka untuk kuantarkan!"


 

Wanita    :

"Bunga Deposito!!!!!"


 

Mampus dah!!!!!!!!!!!!!!!!

Senin, 30 Maret 2009

REST ROOM

Inilah akibatnya jadi pemalas. Masa sekolah dulu, saya alergi dengan Pelajaran Bahasa Inggris. Ironis, sebab waktu SMA saya mengambil jurusan Budaya-waktu itu popular dengan sebutan jurusan A-4. Akibatnya saya adalah murid terbelakang di bidang ini. Untung masih bisa lulus dengan hasil ujian 5. Wah rekor! Setelah lulus, semua baik-baik saja. Tidak terasa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa bulan kemudian barulah saya mulai menyesali kebodohan itu. Saat saya jadi abang bakso si Pulau Dewata Bali. Hancur lebur telinga ini bila yang makan bakso turis asing. Kalau saja rombong baksonya enteng, mungkin saya langsung kabur melarikan diri.


 

Memang penyesalan selalu datang belakangan, persis polisi dalam sinetron Indonesia yang hadir setelah si penjahat bertekuk lutut oleh kepahlawanan tokoh protagonisnya. Karena ketidakmampuan berbahasa asing saya dibikin malu oleh ulah sendiri, malunya juga pada diri sendiri. Konyol.


 

Begini ceritanya.

Hari itu adalah hari ketiga saya berada di negeri jiran Malaysia. Sudah menjadi kebiasaan saya kalau di tempat baru selalu sulit untuk dapat tidur. Pada malam kedua saya masih belum bisa memejamkan mata. Padahal keesokan harinya ada acara briefing pada sebuah hotel di KL. Pagi-pagi ketika bus jemputan datang, saya merasakan kantuk yang luar biasa. Dalam perjalananpun saya tidak bisa memejamkan mata. Setelah berada dalam ruang pertemuan yang ber-AC rasa kantuk itu semakin tidak bisa ditahan. Sebentar-sebentar kepala saya hilang keseimbangannya. Teklak tekluk seperti mau patah. Karena duduk paling depan akhirnya saya merasa sungkan pada si ibu pembicara. Saya benar-benar tidak bisa mengerti isi pembicaraannya karena serangan kantuk itu.


 

Beberapa saat kemudian saya coba tengok sana tengok sini, mungkin ada jalan keluar untuk bisa merokok sebentar. Tapi pintu keluar selain pintu masuk tidak ada. Tapi pandangan mata saya menemukan sebuah pintu yang tertuliskan Rest Room. Segera otak saya yang tidak mampu menyimpan bahasa Inggris dengan benar ini mulai mereka reka apa artinya. Dalam pengartian harafiah saya, Rest artinya istirahat dan room
adalah ruang atau kamar. Nah ini dia yang saya cari, "Ruang istirahat." Apa salahnya dicoba. Barangkali bisa melepas kantuk sejenak.


 

Dengan tanpa ragu-ragu saya berdiri minta ijin sebentar. Si Ibu pembicara mengijinkan. Dan segera saya pergi ke Rest Room itu dengan penuh percaya diri. Sayapun buka pintu dan masuk. Tapi apa yang saya dapatkan di dalam sana bukan seperti apa yang saya bayangkan. Ruangan itu lebar dan masih ada sekat-sekat berpintu lagi. Saya segera buka pintu salah satu sekat, wah ternyata bukan tempat tidur yang ada melainkan tempat duduk yang tengahnya lobang, alias WC. Waduh, dasar tolol. Tapi ngantuknya hilang karena malu pada diri sendiri.

Sabtu, 28 Maret 2009

RAMALAN MASA SILAM

Jika saya melihat jalanan yang terbentang. Lalu lalang kendaraan bermotor seperti tidak terkendali. Jumlahnya setiap tahun bahkan setiap hari bertambah banyak. Orang-orang yang mengendarainyapun terkadang nampak hanya mampu mengemudi tapi tidak tahu bagaimana menjadi pengemudi yang benar. Kecelakaan sering terjadi dikarenakan kelalaian demi kelalaian para pengendara itu. Tak jarang kejadian itu membuat nyawa mereka melayang sia-sia. Bahkan orang yang berusaha berhati-hatipun bisa menjadi korbannya.


 

Tidakkah kita pernah berfikir bahwa kendaraan bermerk asing yang kita kendarai ini adalah senjata pembunuh yang paling ampuh? Kebetulan rumah tempat tinggal saya tepat berada di pinggir jalan raya. Hampir setiap minggu terjadi kecelakaan di sepanjang jalan itu. Dari beberapa kecelakaan bahkan memakan korban jiwa. Tragis. Kendaraan yang tadinya bertujuan untuk sarana yang mempermudah aktivitas kita, justru mempercepat kita kembali ke alam baka.


 

Mengamati merek-merek kendaraan itu, saya jadi teringat sebuah cerita tentang Jepang saat berpamitan untuk pulang dari Indonesia karena kalah perang dengan sekutu. Kita masih ingat bukan, pada tahun 1945 Jepang yang sebelumnya merajalela hampir di seluruh jagat ini akhirnya menyerah kalah. Dua mercon raksasa terbuat dari atom yang terkenal dengan BOM ATOM dihadiahkan secara cuma-cuma oleh sekutu. Dua kota besar di negeri matahari terbit itu luluh lantak rata dengan tanah. Ribuan nyawa sia-sia melayang. Penduduk tidak bersalah jadi korban kekejaman letusan petasan raksasa itu.


 

Setelah merasakan kekalahan yang tidak terhitung jumlahnya itu akhirnya Jepang menyerah kalah. Sebelum pulang ke tanah airnya yang hancur itu seorang Jepang mengatakan,"Jangan bersuka cita dulu, hai kau orang-orang jajahan. Kini kamu boleh bersorak-sorak bergembira karena kekalahanku. Tapi ingat, Jepang akan datang kembali untuk menjajah kalian tanpa harus memakan korban nyawa dari rakyatku. Kalian akan menikmati kematian demi kematianmu."


 

Kendaraan-kendaraan roda dua hingga roda empat yang kini sering memakan jiwa bangsa kita adalah bukti dari ucapan itu. Tragedi yang tidak pernah kita sadari. Kita telah dijajah dengan kenikmatan berkendara. Matipun tidak terasa.

Kamis, 26 Maret 2009

SUSAHNYA HIDUP BERSAMA

Hidup bersama memang tidak mudah. Apalagi jika dalam satu rumah terdapat berbagai macam tabiat dan kemauan yang berbeda bahkan terkadang bertentangan. Dubutuhkan kesabaran dan saling mengerti antar penghuni untuk dapat mewujudkan keadaan yang menyenangkan.


 

Pengalaman tinggal bersama 49 orang di negeri asing dengan latar belakang yang berbeda-beda menambah pengalaman saya. Ada pengalaman yang mengerikan, menyenangkan bahkan menjijikkan untuk dingat-ingat.


 

Ketika dalam kesendirian, saya sering merasakan kerinduan untuk berkumpul kembali dengan teman-teman yang menyenangkan. Tapi bila mengingat mereka yang selalu jadi parasit bagi yang lain, jangankan kepingin ketemu mengingatnya saja sudah sakit dodo menthok saya.


 

Saya katakan sebagai parasit sebab beberapa dari mereka ini sukanya ngampung tanpa mau memberi. Mulai dari telur, sayur, sampai beras hingga ke rokok si parasit ini maunya minta dari teman yang satu ke teman yang lain. Padahal kalau mau dikalkulasi, penghasilan kami sama. Yang berbeda adalah pengeluarannya, si parasit dengan tanpa malu dan sungkan seringkali menceritakan pengiriman uangnya ke tanah air sekian juta dalam beberapa bulan. Sedangkan bagi mereka yang hidup layaknya simbiosis mutualisme dengan yang lain masih berada di bawahnya.


 

Mungkin ada yang tidak percaya dengan pengalaman saya ini. Tapi itulah yang terjadi. Saya bersyukur karena tidak termasuk sebagai manusia yang bersifat parasit bagi liyan itu.


 

Sudah menjadi kebiasaan saya dengan teman satu kamar untuk urunan membeli bahan makanan dan minuman, dengan begitu pengeluaran bisa ditekan. Kami berbelanja setiap 2 hari sekali untuk sayur dan buah. Sementara untuk beras, gula serta bahan lain yang tahan lama kami biasa membelinya setiap 2 minggu sekali.


 

Kami bagi tugas untuk gantian masak. Teman yang shift malam bertugas belanja bahan basah dan masak, sementara yang siang belanja bahan kering dan menanak nasi. Tapi ini hanya berjalan selama 3 bulan. Pada bulan berikutnya kami sering kehilangan bahan-bahan itu. Bahkan sayur dan buah yang baru dibeli pagi oleh teman yang shift malam giliran mau dinikmati sudah tidak kebagian. Akhirnya kamipun memutuskan untuk makan di luaran saja, daripada sudah mengeluarkan uang tapi hanya menikmati sisanya. Maksud hati ngirit tapi jadinya ngorot.


 

Kejadian kehilangan ini juga terjadi pada persediaan air minum dalam wadah botol plastik dan ditaruh dalam kulkas. Kami yang saling mengerti akan kebutuhan bersama itu selalu bergantian memasak dan mengisi botol yang kosong. Tapi bagi si parasit, jangankan memasakan air, mengeluarkan dan mencuci botol yang kosong saja sudah tidak mau. Bikin kopi saja hampir setiap hari hanya bawa cangkir kosong.


 

Seorang teman seringkali memergoki si parasit-parasit ini seolah tanpa dosa makan buah, goreng telur dan memakai piring orang lain tanpa tanggung jawab. Minum air di kulkas tanpa berusaha mengisinya kembali. Kesabarannya sudah habis karena setiap kali ia pulang kerja dan kehausan, dalam kulkas hanya berisi botol kosong.


 

Suatu pagi sebelum berangkat kerja teman karib saya ini berpesan agar saya tidak meminum botol yang sudah diberi tanda. Ia bilang isinya diganti dengan air istimewa yang hanya boleh diminum oleh pendompleng-pendompleng saja. Saya tidak seberapa memperhatikannya, sebab setiap hari saya selalu membeli air mineral dalam botol 1 literan.


 

Malam harinya sepulang kerja teman saya ini langsung kepingin minum. Ketika sedang buka kulkas, si parasit menegurnya, "To, dalam botol itu air apa? Rasanya kok aneh.?"


 

Air dalam botol khusus itu isinya tinggal separo. Si teman ini langsung lari ke kamar mandi dan, "Hoo...eeek.....! Hoo..eek...!" muntah.


 

Ternyata botol spesial itu telah diisi dengan air kran ditambah air kencingnya dikasih bumbu masak dan garam. Dan setengahnya diminum begitu saja oleh si parasit. Rasain....!


 


 


 


 


 

Selasa, 24 Maret 2009

RE-BOUNDING & RE-KERITING

Seumur-umur saya baru ngerti kalau namanya rebounding itu membuat rambut keriting jadi lurus dan lembut. Ini menurut istilah katrok saya. Yang sebenarnya? Saya tidak tahu secara pasti.Pengertian ini mengingatkan saya pada seorang teman sesama TKI dari Jember 8 tahun silam. Ceritanya, teman saya ini tidak kerasan kerja jadi buruh pabrik. Jadi ia mengundurkan diri setahun sebelum masa kontraknya habis. Sebelum pulang ke tanah air ia mnyempatkan diri membuat rambutnya jadi lurus dan lembut.


 

Setelah rambutnya diluruskan, sang teman ini nampak beda. Penampilannya jadi semakin keren untuk ukuran bocah yang asalnya dari pedalaman kabupaten ini. Saya sempat terkejut juga melihatnya. Apalagi setelah menyentuh rambutnya yang lembut. Style-nya mirip potongan rambut Andy Lau. Dasar wajahnya sudah ganteng, kulitnya memutih dan membersih (dikasih awalan me-) karena sebelum berangkat hitam legam dan kusam.


 

Saat berpamitan pada kawan-kawan ia bilang akan kembali lagi. Mungkin hanya satu bulan saja di rumah. Ia akan coba cari job lain selain di pabrik.


 

Ternyata teman saya ini hanya 1 minggu di rumahnya, sebab 2 minggu setelah itu ia muncul di Hostel (asrama) kami. Dan apa yang saya lihat dari kemunculannya ini adalah kebalikannya saat ia mau pulang. Perbedaannya jauh sekali, bisa dibilang berputar 180o. Rambut yang tadinya lurus dan lembut jadi ikal tebal seperti saat kami baru berangkat dulu. Kulitnya pun jadi hitam legam kembali.


 

Sekarang saya berfikir, mungkin Rebonding di Malaysia tidak matching untuk iklim di Indonesia. Cuma bertahan 1 minggu, rebondingnya jadi re-keriting.

Minggu, 22 Maret 2009

Yang Tua Tidak Mau diganti Kreditan


Pertengahan tahun 2008 kemarin, monitor saya sering ngadat. Ketika sedang dipakai tiba-tiba restart sendiri seperti kita sedang menekan tombol Degauss pada menu onscreennya. Ada bunyi kretek-kretek-kretek. Padahal bulan-bulan itu pekerjaan sedang meningkat. Kontan saja otak saya dipaksa untuk berfikir keras agar segera mencarikan penggantinya. Untuk beli yang kontan tidak mungkin, sebab uang persediaan pengembangan peralatan sudah dibelikan Printer R230 2 buah pada bulan sebelumnya. Satu-satunya jalan, cari yang kreditan. Itupun kalau ada.


 

Ketika jalan-jalan di sebuah mall kecil, kebetulan ada counter dadakan sedang memamerkan produk baru LCD. Eh, ternyata juga melayani permintaan kredit. Wah, ini namanya pucuk monitor dicita ulam LCD tiba. Langsung saja saya isi form pengajuan kredit. Ternyata mudah. Tanpa banyak pertanyaan dan basa-basi. Selesai isi form, si gadis penjaga pesan agar saya tunggu disurvei dalam satu dua hari kedepan.


 

Dasar orang jujur, saat isi form itu saya menuliskan apa adanya tanpa rekayasa. Tepat dua hari kemudian, saya didatangi surveyor penyedia layanan kredit itu, malangnya ia datang ke tempat kerja sesuai form yang saya isikan saat itu. Kemudian bla bla bla, sayapun banyak diserbu pertanyaan oleh si Mas yang kelihatan angker. Dasar saya orang jujur, semua pertanyaan dijawab apa adanya termasuk gaji saya yang berjumlah 2 kali lipat dari angka kredit bulanan sesuai pengajuan. Tanya jawab hanya sampai ke masalah gaji. Lalu disudahi begitu saja, Si Mas yang bertampang serem itu segera pamit.


 

Dua jam kemudian ringtone HP saya berbunyi SOS, sms masuk dari counter dadakan penjual monitor berisi bahwa pengajuan saya ditolak. Lha lak tenan!, saya membatin. Padahal waktu mengisi form saya sudah pesan agar disurvey ke rumah bukan ke kantor bolong saya. Inilah jadinya. Tidak jadi juga mengganti monitor tua saya dengan yang baru. Apa karena kreditan, ya? Anehnya, setelah kejadian itu monitor saya setia menemani hingga detik ini tanpa ngadat sedikitpun. Percaya?


 

Saya sendiri hampir tidak percaya? Tapi itu yang terjadi.


 


 


 


 

Jumat, 20 Maret 2009

PEMILU 2009

Tidak terasa Pemilu 2009 tidak lama lagi. Kurang dari satu bulan Pesta Demokrasi itu akan segera dilaksanakan. Hari-hari ini adalah saat-saat dimana sedang gencar-gencarnya orang mengobral janji. Tapi momen ini tidak terlalu penting bagi saya, PEMILU mengingatkan saya akan kejadian tahun 1992 di Pulau Dewata Bali.


 

Saat itu, telah hampir satu tahun saya tidak bersekolah lagi. Resminya, jadi pengangguran. Semenjak tidak meneruskan ke perguruan tinggi saya telah banyak mencoba berbagai pekerjaan, dari bikin batu bata merah sampai ikutan tukang mebel. Salah satunya, pada bulan April 1992 ada seorang kenalan mengajak kerja di Pulau Bali jualan bakso. Siapa takut. Malu? Ya, sedikit. Wah, mosok alumni sebuah SMA negeri ternama kok jualan bakso. Apa peduli saya. Saya lebih tidak rela dibilang pengangguran.


 

Langsung pada intinya. Satu bulan persis tinggal di sebuah Desa kecil (sudah lupa namanya) di Pulau Dewata itu, menginjak bulan Mei, sebulan sebelum Pemilu 1992, saya didatangi ketua RT.


 

Ketua RT    :    "Dik, saya minta maaf sebelumnya. Ada hal yang harus adik ketahui."

Saya    :    "Ada apa, Pak?"

Ketua RT    :    "Gini, adik datang ke Bali ini kan tidak bawa KTP, hanya surat jalan. Padahal satu bulan lagi ada PEMILU. Demi keamanan adik, kami mohon adik pulang dulu ke Indonesia....."

Saya    :    "Ah, ya terima kasih, Pak."


 

Yang bikin saya heran sampai sekarang, Pak RT itu salah apa lupa saat bilang saya harus pulang ke Indonesia. Seperti turis asing saja yang kebanyakan lebih mengenal BALI daripada Indonesia.

Kamis, 19 Maret 2009

MATI

Pulang kerja, sore kemarin. Lelah sekali. Ada meeting panjang baru saya lalui. Ingin rasanya segera meletakkan kepala di atas bantal. Dan tidur sampai ngiler. Tapi urusan pendapatan hari itu pasti berkurang kalau dipaksakan pergi ke peraduan sore. Dengan berat menahan kelopak mata untuk tetap terjaga. Banyak kerjaan menunggu untuk diselesaikan. Terpaksa juga harus kembali bekerja.


 

Baru beberapa menit duduk di hadapan partner kerja saya yang kelihatan sudah tua itu tiba-tiba terdengar ringtone dari HP saya. Sayapun menyapa sesorang yang sedang menghubungi saya. O, ternyata adik bungsu saya, cowok, sekitar 27 tahun usianya. Inilah percakapan kami (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):


Adik    :    "Lagi apa, mas?"

Saya    :    "Biasa, kerjaan rutin."

Adik    :    "Rame?"

Saya    :    "Ada saja!.... kamu?"

Adik    :    "Di rumah!"

Saya    :    "Ndak kerja?"

Adik    :    "Pulang bentar, mandi."

Saya    :    "Ooo, ada apa?"

Adik    :    "Ndak ada, pengen tanya dikit?"

Saya    :    "Apa?"

Adik    :    "Habis dapat rejeki banyak, ya?"

Saya    :    "Rejeki apa? Tiap hari kerja, ya dapat. Kalau libur siapa yang mau kasih uang? Kenapa?"

Adik    :    "Ndak ada, tadi malam aku impikan mas mati!"

Saya    :    (Tertawa, rasa kantuk saya agak hilang) "Kalo dimimpikan mati memangnya mau dapat rejeki nomplok?"    


 

Rabu, 11 Maret 2009

Foto pakai HP VS Foto pakai Kamera Digital

Telah 5 tahun menggeluti usaha kecil-kecilan di rumah, saya banyak mengalami hal-hal unik yang kadang-kadang bikin bludrek, kadang-kadang bikin geli sampai tidurpun terbawa ketawa. Mungkin itulah resiko atau hiburan bagi pekerja jasa semacam saya yang berinteraksi secara langsung dengan pelanggan.


 

Ada satu kejadian yang sampai sekarang bikin saya pegel linu karena geli. Di sini saya tulis dengan bahasa saya yang mudah-mudahan bisa dimengerti.


 

Seperti biasa, sore hari itu tidak seberapa ramai. Baru saja dua cewek keluar, masuk dua orang pemuda usianya kira-kira baru lulus sekolah menengah atas. Yang masuk paling depan pakaiannya necis dan sangat rapi. Kelihatannya ia akan meminta layanan foto. Baru sampai di pintu pemuda ini sudah tersenyum menyapa, sayapun memberikan senyuman balasan (biasa, prosedur standar-harus ramah pada calon pelanggan).


 

"Foto HP, mas!" si pemuda memberikan jawabannya padahal saya belum tanya.


 

"O, ya.... duduk mas. HP-nya pakai blutut apa infra merah ya?" Pertanyaan sesuai protap (prosedur tetap) juga. Eh si pemuda bukan menjawab atau mengeluarkan Hp-nya seperti pelanggan lain yang akan mencetakkan foto dari Hp-nya. Setelah duduk ia malah menoleh pada temannya.


 

"Bawa kartu memory, ta?" tanya saya lagi. Dua pemuda itu seperti kebingungan.


 

"Mau foto HP, mas!" pemuda satunya mengeluarkan suara.


 

"Lha, iya, HP nya pakai blutut apa inframerah? Atau sampeyan sudah bawa kartu memori?"


 

"Ooo, anu mas.... mau foto HP di sini!"


 

"Belum difoto, to?"


 

"Belum."


 

"Ya, silahkan foto-foto dulu, nanti kalau dah selesai kirim ke komputer. HP sampeyan pakai blutut apa inframerah?" mbulet ke situ saja pertanyaan saya, namanya juga prosedur standar.


 

"Fotonya di sini, mas!" pemuda yang masih berdiri itu malah ngeyel. Saya juga telmi. Sejauh itu tidak mengerti maksudnya.


 

"O... iya, ndak pa pa, saya tunggu. Mumpung sepi." lanjut saya.


 

"Ya, sampeyan yang moto, langsung jadi, pakai HP itu. Katanya murah kalau pakai HP!" Kata si pemuda necis mantab.


 

Thoeoeoeoeoeng.................? Kepala seperti kepenthung, baru saya dong maksudnya. Ia mau foto. "Oaaalah, sampeyan mau foto to bukan cetak foto dari HP?

Pemuda itu mengangguk.


 

"Foto di sini gak pake HP mas, saya pakai kamera digital." saya menjelaskan. (tidak ada dalam PROTAP).


 

"Lho kan mahal, mas! Katanya di sini bisa" pemuda satunya masih ngeyel. "Kami mau yang pakai HP aja."


 

Waduh, ini orang ngerti apa ndak sebenarnya. "Saya malah ndak punya HP berkamera. Kalau mau foto di sini ya pakai kamera digital. Nah, mbak-mbak yang barusan dari sini itu tadi ya, mereka bawa HP sendiri, habis foto-fotoan terus nyetaknya di sini, mas. Giiiii...tu!"


 

Mereka diam.


 

"Gimana, jadi pa ndak?"


 

"Iya wis, mas!" jawab si pemuda necis.


 

Akhirnya saya ambil juga gambarnya pakai kamera digital. Kasihan, mereka benar-benar tidak tahu kalau foto pakai HP jauh lebih mahal daripada pakai kamera digital. Soalnya harus beli dulu HP berkamera. Kecuali pinjam?

Selasa, 10 Maret 2009

TEMPAT APA YANG PALING POPULER

Seorang teman lama yang baru jumpa menanyakan apa tempat paling populer di kota saya. Saya tidak bisa langsung menjawabnya. Disamping saya tidak tahu, sebenarnya saya kurang melakukan orientasi dan observasi walaupun sudah terhitung hampir dua dekade menetap di sana. Terus terang kepentingan perut lebih utama daripada sekadar ngelencer mencari tempat wisata, kalau itu yang dimaksud teman saya.


 

Setelah melakukan perenungan agak panjang, akhirnya sayapun bisa mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan itu. Inilah hasil polling batiniah yang memutuskan tempat terpopuler di kota saya.


 

Pada tahun 2003, cardtride Printer EPSON Stylus C43 saya rusak, sudah kemana-mana di seputar kota tidak menemukan toko yang menjualnya bahkan di toko aslinya. Akhirnya saya dapat informasi agar pergi ke kampus. Dan benar, saya menemukannya.


 

Pada Tahun yang sama, HP 3310 saya chasingnya harus diganti. Masa itu masih langka penjual eceran. Di kotapun saya kesulitan mencarinya. Seorang teman menyarankan,"Coba beli di kampus." Dan benar saya juga berhasil.


 

Pada Tahun 2005, saya pesan Printer EPSON R230 di toko langganan, tapi pemilik toko bilang pesanan saya baru bulan depan sampai, kalau mau cepat coba cari di kampus, akhirnya sayapun beli juga walaupun agak sedikit mahal.


 

Pada tahun yang sama, seorang kastamer datang membawa CD berisi foto-foto pengantin, saya diminta mencetak ulang. Saya lihat pose fotonya lumayan bagus. Dasar usil, saya tanya, "Foto studionya dimana, Mbak. Kok bagus-bagus?" Pengantin baru itu menjawab,"Di kampus, mas"
Yaaaaaaaah kampus lagi.


 

Pada tahun 2006, ada seorang pelanggan minta dicetakkan foto sebesar ukuran poster saya bilang, printer saya hanya mampu ukuran A4, seorang tamu yang lain memberikan saran padanya agar pergi ke kampus.


 

Masih di tahun yang sama, tiba-tiba mainboard saya terbakar. Harus diganti. Toko langganan saya sedang tidak memilki stok. Ketika keluar dari toko iseng-iseng tanya sama seorang pemuda yang hendak memasuki toko itu, "Sudah coba cari di kampus, Mas?"


 

Seorang teman datang ke rumah. Baju yang dipakainya terlihat berbeda, sepertinya bikinan butik, bukan istrinya Pak Tik. Mulut jail saya tanya, "Baju baru nih, beli di mana?"

"Kemarin jalan-jalan di kampus, lihat-lihat baju kok bagus.... murah... beli."


 

Tahun 2007 saya diundang kumpul-kumpul bersama para fotografer amatir oleh sebuah studio besar. Saya tidak tahu dimana tempat yang ditulis pada undangan itu. Akhirnya saya call pada pemberi undangan,"Tempatnya dimana?"

"Sebuah aula pertemuan di kampus, mas!"

"Ooooow...."


 

Seorang kenalan datang ke rumah bawa oleh-oleh Bakso. Selesai makan bersama, saya tanya, "Beli dimana?"

"Kampus!"


 

Kampuuuuuuuuuus lagi.


 

Saya jadi bingung, kampus itu tempat apa sih? Kok semua ada di sana. Dan sangat populer.

Senin, 09 Maret 2009

SARANA

Beberapa hari yang lalu iseng-iseng saya bikin tebak-tebakan dengan beberapa teman di tempat kerja. Saat istirahat siang, di luar masih hujan sejak kemarin sorenya. Dasar otak orang pas-pasan tiba-tiba muncul ide aneh untuk saling mengolok-olok sesama teman pekerja rendahan yang notebene gajinya masih dibawah UMR.

Karena sebagai pegawai rendahan kami hanya bisa bermimpi untuk punya mobil seperti para pekerja menengah ke atas lainnya. Berkhayal saja kami sudah ketakutan. Kalaupun bisa memiliki, itu bukan sesuatu yang mudah bagi kami, jika sedang di tengah perjalanan tiba-tiba salah satu ban meletus dan harus diganti berapa rupiah yang harus dikeluarkan. Belum lagi pajak per tahunnya yang pasti di atas gaji bulanan kami.

Sejak sore hari sebelumnya hingga hari itu hujan belum berhenti. Pada malam hari di tengah lebatnya hujan, seorang pegawai menengah datang ke rumah saya karena ada hal penting yang harus diselesaikan. Saya heran melihatnya tidak menggunakan mobil padahal rumahnya cukup jauh, pertanyaan jail tiba-tiba keluar,"Kok pakai motor, mas? Apa di sana tadi ndak hujan?"

"Sama aja, Cuma males mau bawa mobil. Barusan dicuci tadi pagi," Jawab teman sekantor itu sambil melepas jas hujannya.

...........................

Kejadian itu memberikan inspirasi nakal untuk membuat polling diantara teman-teman senasib, seandainya kami jadi orang yang mampu membeli kendaraan roda empat. Pertanyaannya begini, "Seandainya kita berkecupan dan mampu membeli mobil, sementara itu juga masih memiliki motor dan sepeda. Saat hujan lebat, perut lapar, di rumah tidak ada sesuatu untuk dimakan jadi terpaksa harus pergi ke warung atau restoran, maka kendaraan manakah yang harus kita pakai?"

"Kan kita mang gak punya mobil?" seorang teman bertanya balik.

"Ku bilang apa? Se... an... dai...nya...! Ya pura-puralah! Siapa tahu kemudian hari kita mampu?"

Maka merekapun satu per satu memberikan jawabannya. Dari 8 orang teman saya itu hanya satu yang akan menggunakan roda empat untuk keluar di saat hujan lebat, alasannya biar tidak terkena hujan. Sementara yang lainnya memberikan jawaban yang hampir sama, enggan memakai mobil dengan alasan sama yaitu sayang kalau mobilnya kena hujan.

Saya terpingkal-pingkal menertawai mereka yang menjawab tidak pakai mobil. Akhirnya mereka ingin mendengar jawaban saya. Saya bilang, "Ya pakai mobil, dong. Kalau saya mampu beli roda empat artinya saya sudah lebih dari cukup, bukan orang miskin lagi. Kenapa harus lebih sayang sama mobil? Bukankah kesehatan kita lebih berharga? Mobil rusak ganti baru, kan orang kaya? Kalau tubuh kita yang rusak, percuma punya kekayaan, nggak bisa nikmati."

Mereka tertawa-tawa ramai, dan ada yang nyeletuk, "Dasar orang miskin, berkhayalpun ndak mampu."


 

 

Minggu, 08 Maret 2009

50 Tahun Barbie


Anda kenal Barbie? Nama aslinya Barbara Millicent Robert, lahir 9 Maret 1959 di Willows, Winconsin. Boneka setinggi 29 cm ini memiliki tubuh yang mungkin sangat diidamkan oleh setiap wanita yang perfeksionis. Tubuhnya ramping dengan leher jenjang, kepalanya dihiasi rambut pirang, pinggangnya meliuk serasi dengan kaki yang “lencir”. Sungguh cantik, menawan hati para bocah perempuan bahkan gadis remaja untuk memilikinya. Hari ini Barbie telah berusia 50 tahun, wow.....!, itu jauh lebih tua dari saya.

Ingin tahu sejarah singkatnya? Lihat di KOKI.

Ternyata kesuksesannya selama 50 tahun itu memiliki kisah yang tidak patut kita tiru. Dan jika akhir-akhir ini Barbie banyak mengalami goncangan, tekanan, peniruan bahkan pencekalan di Iran adalah penggugah agar para penerus Mattel berlapang dada mengingat sejarah Barbie tidak seindah tubuhnya.

Sengaja saya tidak menampilkan gambarnya, karena takut kena pelanggaran hak cipta, biarlah saya simpan sendiri.

Malam sudah berganti pagi, peduli amat dengan kisah kelam masa lalu Barbie. Sebentar lagi saya akan beranjak tidur. Daripada ikut-ikutan mikir kampanye damai pemilu 2009 labih baik saya membayangkan Barbie berubah menjadi manusia betulan setinggi 175 cm. Terus saya berjalan disampingnya walau tinggi badan saya hanya 148 cm. Duh, pasti menjadi perhatian banyak orang yang melihatnya. Dan tidak sedikit yang membatin,”Yang jalan sama Barbie itu kacungnya, ya?”

Kamis, 05 Maret 2009

KISAH TIGA ORANG PERTAPA – 2


Saya tidak sabar ingin berbagi mengenai akhir dari cerita ini. Walau tidak banyak respon dari rekan-rekan, tapi saya akan tetap uraikan bagaimana kelanjutannya. Mungkin benar Kang Bahtiar dan Kang Semar bilang bahwa cerita ini sedikit berbau filosofis, tapi cukup untuk sekedar berbagi.


Nah begini kelanjutannya:


Hari ke empat pun telah datang. Tiba saatnya bagi ketiga murid pilihan itu menghadap Sang Maha Guru untuk mempertanggungjawabkan tugasnya.


Penthol, Penthil dan Pedhal telah berada di Ruang khusus Sang Maha Guru tepat pada waktunya.

Dengan penuh Wibawa Sang Maha Guru berdiri dihadapan mereka. Senyum menghiasi wajahnya tanda puas akan kecekatan dan kedisiplinan ketiga murid itu. Satu persatu dipandangi wajah muridnya. Lalu ia duduk di atas singgasananya. Dan berkata,”Aku tidak salah memilih kalian. Kalian memang patut diandalkan”


Sang Maha Guru mengelus Jenggotnya,”Sekarang aku ingin tahu apa dan di mana kalian dalam 3 hari 3 malam yang lalu.” berhenti sejenak, ”Penthol!” Pandangannya mengarah pada si Penthol, ”Dimana kamu telah bertapa? Dan tunjukkan buktinya!”


”Baik, Maha Guru.” Si Penthol mendekat ke hadapan Sang Maha Guru kemudian menyerahkan sesuatu dalam bungkusan kain.

”Ini adalah batu sisa letusan gunung berapi sebagai bukti bahwa saya telah bersemadi di puncak gunung berapi tertinggi di kepulauan ini. Saya hanya seorang diri di sana selama 3 hari 3 malam.” ujar Si Penthol, ”Tidak ada manusia selain saya seorang, Maha Guru!”


Sang Maha Guru menimang-nimang batu milik Penthol sambil mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan muridnya itu. Dan ia percaya. Kemudian meletakkan batu iu di atas meja yang berada di samping tempat duduknya. Kini giliran Si Penthil yang menjadi perhatian dari sorot matanya.
”Baik. Aku terima penjelasan Penthol. Bagaimana dengan kamu Penthil.” katanya kemudian


Penthol mundur ke tempat semula dan berganti Penthil mendekati Sang Maha Guru, sebuah bungkusan sedikit lebih besar dari milik Penthol diserahkannya.
”Ini batu karang, Maha Guru. Saya ambil dari dasar laut pulau bergoa itu. Saya menyelam sangat dalam untuk dapat bersembunyi dari manusia lain.” Penthil coba menjelaskan, ”Dan di sanalah saya bersemadi selama ini, sesuai perintah Maha Guru.”


Sang Maha Guru mendengarkan penjelasan Si Penthil seraya membuka bungkusan itu dan mendekatkan ke hidungnya dan terciumlah bau amis air laut. Batu karang itu masih belum kering. Ia pun kembali manggut-manggut, ”Kalian berdua telah melaksanakan tugas dengan baik.” Ia meletakkan batu karang itu ke atas meja.”Sekarang giliran kamu, Pedhal,”

Pandangan mata Sang Maha Guru beralih pada Si Pedhal, murid pilihan ketiga yang tampak paling kelelahan, tapi ia hanya membawa tangan kosong. ”Mana oleh-oleh mu buat aku?”


Si Pedhal tidak berani memandang wajah Sang Maha Guru. Ia tidak mampu megucapkan sepatah katapun. Kepalanya menunduk lesu.


”Pedhal!” Panggil Sang Maha Guru lagi, berlahan Si Pedhal mengangkat wajahnya, ”Apa yang kamu peroleh?”
Mulut Si Pedhal terasa kelu. Ingin berucap tapi tidak mampu. Bibirnya bergerak namun suara desispun tidak terdengar.


”Apa yang terjadi, Nak?” tanya Maha Guru lembut. ”Apa sebenarnya yang kamu hadapi sehingga kamu seperti ketakutan?”


Pedhal masih belum mengeluarkan suaranya.


”Kamu tidak perlu takut jika kamu memang gagal melaksanakan tugasmu. Tidak ada hukuman bagi kalian yang gagal.” Sang Maha Guru berujar sambil berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Si Pedhal yang kembali menundukkan kepala. ”Ayo, bicaralah!”


Nampaknya Suara Sang Maha Guru yang lembut berwibawa itu membangkitkan keberanian Pedhal untuk membuka suara. ”Maafkan saya Maha Guru!”

”Saya tidak bisa em....”Berhenti sejenak dan mulai berani memandang ke arah Sang Maha Guru yang kini berjongkok di depannya.”...saya tidak sanggup menjalankan tugas ini.”


”Ya... ya... ya..., aku tahu.” Sang Maha Guru menganggukkan kepalanya.”Aku lihat kamu tidak bisa membawa bukti dari tempat bersemadimu. Tapi kenapa?”


”Saya tidak bersemadi, Maha Guru.” Ucap Pedhal mulai menjelaskan. ”Sebab saya tidak menemukan tempat sesuai petunjuk Maha Guru.”


”Pedhal-pedhal...., bumi ini luas. Ada bukit dan lembah. Ada gunung dan lautan luas.”


”Saya sudah pergi kemana-mana, Maha Guru. Seluas bumi ini. Saya kerahkan semua tenaga saya untuk mencari tempat itu.” potong Si Pedhal.


”Dan kau tidak menemukannya?”


”Benar, Maha Guru. Perintah Maha Guru untuk mencari tempat bersemadi yang tidak terdapat manusia itu tidak ada. Karena semua tempat di mana saya pergi di situ ada manusia.” Jelas Si Pedhal. ”Saya masih manusia, Maha Guru. Jadi saya masih menemukan manusia itu dalam diri saya.”


”Cukup!” Kata Sang Maha Guru seraya berdiri dan berjalan mendekati Si Penthol dan Si Penthil. Dalam hati kedua murid itu merasa bahwa persaingan hanya tinggal berdua sebab Si Pedhal pasti gagal.


”Penthol dan Penthil,”

”Saya, Maha Guru.”

”Kalian berdua telah melaksanakan tugas dengan baik. Tapi kalian tidak cukup sempurna dalam memahami apa yang kuperintahkan.” Penthol dan Penthil memandangi Sang Maha Guru heran.


”Yang aku perintahkan saat itu adalah carilah tempat yang menurut kalian tidak ada manusia.” Sang Maha Guru mulai menjelaskan.


”Tapi saya pergi ke tempat sepi dimana...”Si Penthol menyela kata-kata Sang Maha Guru.

”Tidak ada manusia lain selain kamu, Bukan?” lanjut Sang Maha Guru.”Itulah kesalahan kalian. Kalian merasa paling sempurna sehingga kalian lupa bahwa kalian masih manusia seperti halnya aku juga.”


Sejenak tempat itu menjadi sepi. Penthol dan Penthil merenungi kembali apa yang diperintahkan Sang Maha Guru empat hari yang lalu. Merekapun mulai menyadari kesalahannya masing-masing. Tapi Si Pedhal belum merasa menang.

Sang Maha Guru berjalan kembali ke singgasananya dan duduk. Ia kembali memperhatikan ketiga murid yang menundukkan kepalanya itu lalu berkata, ”Bagaimana, Penthol dan Penthil? Apakah kalian sudah mengerti maksudku?”


Penthol dan Penthil pun mengangguk.


”Jadi, sekarang juga aku putuskan bahwa Pedhal pantas menjadi wakilku. Karena ia telah menjalankan tugasnya sebelum melakukan apa yang kuperintahkan.”


Nah, itulah akhir ceritanya. Sederhana, bukan? Semoga ada makna yang bermanfaat bagi kita sebagai manusia.


Baiklah, menanggapi komentar teman-teman yang sudah membaca pada bagian pertama dan telah menebaknya.


Pertama, untuk Kang Seno semoga cepet bisa bangun WC sendiri jadi tidak selalu ke WC umum, xhi..xhi..xhi...!


Kedua untuk Suwung terima kasih sudah gabung di sini, jawabanmu benar, saya hargai tebakanmu karena apa yang ada dipikiranmu sama dengan Si Pedhal yang akhirnya menang.


Untuk Phiy jangan pernah ada kata mungkin, ya? Sebab pemahamanmu sudah pasti. Jadi semangatlah, jangan suka ngantuk lagi, OK?


Karena hampir semua jawaban benar maka, tiket nonton Pemilu 2009 tidak jadi dicetak. Dan lagi, kita semua kan ikut main di sana-jangan sampai ada yang ketinggalan, walaupun mungkin kita sudah jenuh menjalani sistem demokrasi di negeri ini. (Wah jadi kampanye anti GOLPUT Nih!)


OK. Tunggu posting saya besok, pasti lebih seru dan menjijikkan. He...he...he....

Selasa, 03 Maret 2009

KISAH TIGA ORANG PERTAPA


Kisah ini pernah saya dengar dari seorang guru Bahasa Jawa sewaktu SMA dulu. Kini saya akan coba ceritakan kembali dengan versi sedikit berbeda, nanti kawan-kawan saya minta menebak lanjutan ceritanya. Baik, sudah siap?

Yah, apa jawaban anda?

Oh, belum ya?


Begini kisahnya:

Pada sebuah padepokan di negeri Entahkapan sedang mengadakan ujian praktek bagi 3 orang murid senior. Ujian ini dimaksudkan untuk mencari seorang pengganti dari wakil si Maha guru yang melarikan diri gara-gara kecantol partai politik dan siap menjadikannya caleg. Sang Maha Guru segera melakukan tindakan yang tepat untuk mengisi kekosongan jabatan itu dengan memilih 3 orang murid yang berprestasi untuk diseleksi.


Pada suatu petang Sang Maha Guru memanggil 3 murid pilihannya yaitu Si Penthol, Penthil dan Pedhal untuk menghadapnya. Ketiga murid itu merasakan ada sesuatu yang sangat penting, karena tidak biasanya Maha Guru memanggil muridnya secara khusus.


Setelah ketiga murid tersebut berada di ruang pertemuan Sang Maha Guru berkata,”Kalian aku panggil kemari karena aku merasa harus ada pengganti Pedhet, wakilku yang durhaka itu. Tapi hanya satu dari kalian bertiga yang terpilih melaui satu ujian kecil yang harus kalian lakukan.”


Sang Maha Guru mengucapkan kalimatnya dengan penuh wibawa. Para murid menunduk penuh hormat.


“Apakah kalian siap melakukan tugas ujian ini?,”

“Siap, Maha Guru!” Sang Murid menjawab bersamaan.

“Dan jika terpilih, kalian sanggup melakukan tugas sebagai wakilku?”

“Sanggup.”


Sang Maha Guru diam sejenak sambil memperhatikan ketiga muridnya yang sedang menunggu apa gerangan yang hendak diperintahkan.


“Yang harus kalian lakukan adalah bertapa selama 3 hari 3 malam. Kalian harus mencari tempat sendiri-sendiri, carilah tempat yang menurut kalian tidak ada manusia, dan bertapalah kalian di sana. Setelah itu kalian harus menghadap aku pada hari ke empat dengan membawa barang bukti dari tempat kalian bertapa.” Demikian perintah Sang Maha Guru didengarkan baik-baik oleh murid-muridnya itu.


“Kapan kami mulai, Maha Guru?” Tanya Si Pedhal.

“Apakah kalian mengerti petunjuk dari perintahku tadi?”

“Ya, kami mengerti!”

“Sekarang juga kalian bisa memulai dan ingat, hari keempat dari sekarang kalian menghadap aku di tempat ini pada waktu yang sama!”


Maka pergilah ketiga murid pilihan itu untuk menjalani ujian.


Si Penthol dengan pemikiran cerdasnya segera pergi ke puncak gunung tertinggi di kepulauan itu. Ia yakin bahwa di sana pasti tidak ada manusia selain dirinya. Dan malam itu juga ia telah sampai di tempat yang ditujunya menggunakan ilmu angin ngebut andalannya.


Demikian pula dengan Si Penthil, dengan kelebihannya menyelam di laut ia segera pergi ke sebuah goa di tengah-tengah pulau karang. Ia yakin manusia tidak akan bisa sampai ke tempat itu tanpa kemampuan menyelam, karena goa itu hanya bisa dimasuki melalui lobang di bagian bawah pulau karang kemudian menyusuri lorong itu hingga sampai bagian atas pulau yang terdapat goa tanpa air. Malam itupun dia telah berada di sana.


Tapi lain bagi Si Pedhal, dengan kemampuan anuraga yang melebihi kedua rivalnya tanpa berpikir panjang segera melesatkan tubuhnya untuk pergi mendahului mereka. Tapi sejauh apapun ia pergi ia merasa tidak menemukan tempat untuk bertapa sesuai dengan perintah Sang Maha Guru. Dan selama tiga hari tiga malam ia tidak melaksanakan tugasnya untuk bertapa, yang ia lakukan hanya mencari dan mencari.


Sampai di sini dulu ceritanya, tugas kalian yang membaca adalah menebak kira-kira siapa dari ketiga murid itu yang lolos dalam ujian? Lalu apa alasannya? Mudah bukan?


Ada hadiah bagi penebak yang benar. Hadiahnya, tiket VIP untuk 2 orang nonton Pemilu 2009.


Baik, saya tunggu jawabannya.