Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juli 2009

JALAN PINTAS

Jalan pintas adalah sebuah kata majemuk yang kurang lebih bermakna sebuah jalan yang diambil agar cepat sampai ke tempat tujuan. Jalan ini kita ambil untuk menghemat waktu, tenaga dan biaya. Ada alasan lain kenapa saya seringkali mengambil jalan pintas, yaitu menghindari kemacetan. Tentu saja kita bisa mengambilnya apabila “Available”. Jika tidak, artinya kita telah memaksakan kehendak. Dan akan banyak pelanggaran yang diakibatkannya. Dan pastilah ia sangat beresiko, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain bahkan bisa membahayakan jiwa sesama.

Satu contoh, untuk menyeberang jalan raya-biasanya di kota-kota besar-telah disediakan jembatan penyeberangan. Letak jembatan itu masih harus menempuh jarak 100 meter, padahal tempat yang kita tuju hanya 100 meter saja di seberang jalan. Apabila kita mengikuti arus yang seharusnya ditempuh kita menghabiskan waktu dan tenaga untuk berjalan sebesar kurang lebih 300 meter, 100 meter untuk berjalan menuju jembatan, 100 meter menyeberang di atas jembatan dan 100 meter dari jembatan ke tempat tujuan.

Seharusnya, keadaan ini tidak “available” bagi kita untuk mengambil jalan pintas. Tapi seringkali kita mengabaikannya dan langsung saja menyeberang jalan tanpa memperdulikan keselamatan bersama para pengguna jalan. Padahal harapan kita sama, yaitu selamat sampai ke tempat tujuan. Tapi, dengan kenekatan tersebut siapa yang mau menjamin kita selamat sampai ke tempat tujuan? 50-50, itulah perbandingannya, kalau berhasil artinya kita selamat, kalau tidak bisa-bisa mati di tengah jalan karena disambar truk gandeng yang sedang melaju kencang. Beresiko dan sangat membahayakan.

Dalam keseharian kita seringkali saya menemukan orang-orang yang suka mengambil resiko dengan seenaknya mengambil jalan pintas. Tidak sedikit pula saya menemukan perilaku tersebut pasti menimbulkan kerugian banyak kalangan.

Contoh kasus lagi dan ini nyata, saya selalu mengambil jalan pintas bila pergi ke kota. Jalan yang saya lalui itu adalah jalan tembusan dari dan menuju sebuah 2 komplek perumahan. Perumahan ini tergolong besar dan memiliki dua pintu gerbang yang berada di arah yang berlawanan. Dengan melalui jalan ini saya menghemat waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke tempat tujuan. Prasarana yang saya lalui tersebut juga cukup bagus, karena sudah beraspal walau kanan kiri jalan masih dipenuhi sawah ladang.

Tidak lebih dari 2 tahun prasarana jalan tersebut sudah hancur, bahkan saya harus membuang waktu 15 menit bila saya melaluinya. Jalan itu kini tidak lagi patut disebut sebagai jalan pintas. Kerusakan jalan yang relatif cepat ini bila diamat-amati disebabkan oleh tidak disiplinnya pengemudi truk besar dengan muatannya yang penuh. Mereka-sepertinya halnya saya tadinya juga bermaksud mengambil jalan pintas, tapi mereka tidak memperhatikan kelas jalan yang mereka lalui. Mereka tidak mengindahkan rambu lalin yang memberitahukan kendaraan apa saja yang bisa melewati jalan tersebut. Dan pelanggaran kecil ini tidak ditindak sehingga telah merusak prasarana yang ada.

2 contoh ini mungkin cukup bagi kita untuk belajar bagaimana melalui jalan pintas yang benar. Jangan sampai kita memaksakan kehendak kita sehingga banyak orang yang dirugikan karena jalan pintas yang kita lalui itu memang tidak seharusnya bisa dilalui.

Jumat, 03 Juli 2009

SCHEDULE

Entah apa maksud dari judul tersebut, tapi yang jelas mungkin itu berarti rencana tindakan, mungkin juga rencana kegiatan atau agenda suatu pekerjaan yang harus diselesaikan. Terus terang malas mencari definisi “schedule” yang sebenarnya. Biarlah otak awam yang saya miliki saja yang bicara.





Seorang teman mengeluh tentang “schedule” pekerjaannya sangat banyak, ia merasa berat akan melaksanakan semua kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan hari itu. Ia jadi enggan berbuat sesuatu sebab dirasa semua pekerjaan itu tidak akan bisa ia selesaikan.





Meskipun ia seorang teman, tapi ia adalah seorang manajer. Jadi apa boleh dikata, sayapun hanya diam mendengar keluhannya. Tapi dalam hati saya sempat terlintas sebuah ungkapan, “Bagaimana bisa selesai kalau setiap hari memulainya selalu terlambat.”



Sebenarnya bukan karena beliau ini datang terlambat, tapi setiap sampai di meja kerja yang ia lakukan hanya berfikir kemudian mengeluh mengenai pekerjaannya. Keterlambatan melakukan kegiatan itu terhambat karena waktunya habis untuk berfikir. Kenapa beliau harus berfikir sebelum bertindak? Bukannya lekas bertindak sesuai dengan schedule yang telah dibuat?





Menurut saya yang ia fikirkan itu-kalau menilik dari keluhannya-mungkin karena schedulenya selalu penuh dan bertambah setiap hari.





Tapi menurut hemat saya, schedulenya bertambah karena ada beberapa kegiatan yang harusnya dilaksanakan pada hari sebelumnya tidak terlaksana, akhirnya mundur pada hari berikutnya. Demikian seterusnya hingga ia merasa pekerjaannya semakin banyak.





Sesederhana itu yang saya fikirkan. Jadi jelas, kenapa tidak kita selesaikan pekerjaan sesuai schedule hari ini hingga tidak membebani pekerjaan untuk esok?









Blog Advertising

Kamis, 18 Juni 2009

SULAP? : FOTO HITAM PUTIH JADI WARNA

Bicara tentang klise mengingatkan kejadian beberapa hari lalu di home studio saya. Seorang customer cewek muda dan cantik datang dengan membawa lembar foto hitam putih ukuran 4x6 hasil cetak dari foto studio lain yang masih memiliki layanan foto hitam putih konvensional.


 

Dengan malu-malu si cantik yang baru lulus sekolah menengah atas setahun silam ini meminta saya agar foto hitam putihnya tadi dijadikan foto warna, sebab ternyata salah. Rupanya mini studio saya juga terkenal bisa merubah foto hitam putih jadi warna.


 

Dengan sabar dan berlama-lama (sengaja-mumpung cantik, xhi xhi xhi…!) saya jelaskan kalau foto hitam putih dijadikan warna hasilnya tidak alami, akan kelihatan kalau foto tadi hasil reka komputer dan sebaiknya tidak digunakan untuk urusan resmi seperti melamar kerja atau persyaratan formal lainnya. Dan saya sarankan untuk berfoto di studio kumuh saya saja. (Kalau mau, lumayan kan, bisa ngintip orang cantik lewat lobang kamera)


 

Tapi nampaknya dia tidak mau foto lagi, ia brengkel agar foto hitam putihnya itu saja dijadikan warna. Yaaa.... apa boleh buat. Sebagai pemberi jasa layanan yang berusaha baik terpaksa harus menuruti apapun permintaan konsumen dengan catatan tidak ada unsur pelanggaran pidana dan pemalsuan dokumen.


 

Setelah ada kesepakatan dari si gadis bahwa resiko ditanggung sendiri jika ada komplain, maka saya segera meminta klise dari fotonya untuk dipindai (scan) dan direka-reka kemudian dicetak jadi berwarna. Tapi dia bilang klise-nya tidak dibawa. Akhirnya saya minta foto yang sudah jadi. Dia menyerahkan sebuah bungkus kecil berisi foto hitam putih berukuran 4x6 sejumlah 10 lembar.


 

Setelah proses memindai foto selesai saya serahkan foto-foto itu kembali. Tiba-tiba raut muka dia tampak aneh karena terkejut. Lalu katanya, "Lho, mas fotonya kok masih hitam putih? Katanya bisa berubah warna?"


 

Thoeng...oeng...oeng eeeeeeeeeeeeeeeeng....! Saya lebih terkejut. Dalam hati saya mbatin, "Ini cewek cantik tapi o'on.... Memangnya saya tukang sulap?"

Senin, 27 April 2009

REVOLUSI


Saya minta maaf pada teman-teman semua yang sering berkunjung ke sini. Karena hari-hari ini kalian akan menemukan postingan yang basi dan busuk. Kadaluarsa serta sangat amat kuno sekali.

Belakangan ini saya tengah disibukkan dengan kegiatan di tempat kerja. Saking sibuknya, jangankan mengkoneksikan computer dengan internet, kentut saja serasa tidak sempat.

Tahun-tahun terakhir ini di negeri kita sedang gencar-gencarnya standarsisasi, sertifikasi, akreditasi, mutilasi, imunisasi…. (halah ngelantur....)

Dari berbagai macam model –si –si an itu, instansi tempat saya bekerja sedang kalang kabut seperti kucing kecebur got, garuk sana garuk sini, jungkir balik, guling sana sini. Sibuk dengan dirinya sendiri, persis anjing kegatalan karena tubuhnya dihuni ratusan kutu.

Pihak berwenang sedang menuntut instansi ini mempersiapkan diri untuk disurvei akreditasi. Tuntutannya tidak tanggung-tanggung, dalam survey ini harus lulus. Kalau tidak, ngeeek!!!! – potong leher masak dikuali atau dimakan mentah-mentah

Bah, saya kira itu omong kosong. Kalau saja pihak yang berkepentingan konsisten pastilah instansi ini sudah lama ditutup.

Sejak 2007 saya telah diserahi tugas untuk masuk ke dalam tim khusus yang mempersiapkan segala tetek bengek tentang akreditasi itu. Saya sempat komplain pada atasan karena kualifikasi saya secara formal bukan saja tidak cukup, tapi amat sangat kurang sekali.

Saya tidak tahu alasannya kenapa saya diikutsertakan ke dalam tim itu, bahkan masuk dalam tim inti. Ini benar-benar gila. Saat ini bukan kehormatan yang saya cari, tapi penghidupan yang layak atau paling tidak bisa mendapatkan gaji sesuai UMR yang berlaku.

Tapi namanya bawahan yang masih butuh makan, apa saja perintah big bos harus dilaksanakan.

Pembelajaran materipun dimulai. Saat itulah saya tahu bahwa instansi ini benar-benar jauh dibawah standar minimal yang ditetapkan. Borok-borok dan kutu busuk dalam tubuh manajemen tercium amis. Sistem yang amburadul tak terkendali. Kami dalam satu tim sudah ingin bunuh diri massal, sebab sepertinya pekerjaan kami sangat sulit, sesulit mengangkat Anak Gunung Krakatau ke daratan.

Dua tahun berlalu, tidak ada hasil kerja tim yang nampak. Analisis sementara mengatakan bahwa perubahan tidak akan terjadi tanpa ada kemauan.

Kualifikasi sdm secara akademis belum cukup tanpa niat dari masing-masing oknum. Dimulai dari tingkat manajer tertinggi yang sulit merubah kebiasaan buruk dalam mengatur hingga tingkat pelaksana yang suka seenaknya dalam bekerja karena alasan gaji yang pas-pasan. Semuanya Hampir tidak masuk akal untuk dirubah.

Satu tahun kemudian (2008) beberapa anggota tim khusus menyerah kalah. Mereka berhenti kerja lalu pergi entah kemana, tak tentu rimbanya. Pergi menghilang mencari tempat penghidupan baru yang mudah tanpa beban, begitu katanya. Bahkan ketua tim-nya kabur tanpa bekas.

Dari situlah saya muncul ke permukaan. Nasi terlanjur ditelan, tidak mungkin dimuntahkan. Dan saya terlanjur tercebur terlalu dalam. Mustahil ikut juga melarikan diri seperti pengecut yang mementingkan diri sendiri tanpa mau bertanggung jawab.

Saat itu kebijakan tim ada di tangan saya. Perubahan frontal dan besar-besaran akan saya mulai. Tidak peduli saya lulusan apa. Apa yang saya dan tim inginkan harus dilaksanakan. Tidak peduli mereka alumni mana, kalau mau bekerja dan mendapatkan penghasilan dari instansi ini harus melaksanakan tugasnya sesuai aturan. Itu intinya.

Perubahan pun dimulai. Gaji semua staf dinaikkan sesuai standar minimal. Usulan awal terlaksana. Tapi perubahan belum mencapai 25% target. Tahun 2008 berakhir. Batas persiapan akreditasi tinggal satu tahun. Kini adalah masa-masa sulit kami untuk merubah segalanya. Kami bergerilya dari kolong-kolong manajemen tertinggi hingga lorong-lorong pekerja bawahan. Aturan demi aturan yang benar dalam bekerja sedang kami paksakan untuk dilaksanakan. Penyaringan tenaga kerja baru diperketat sedemikian rupa, karena kami ingin sdm yang bermutu dan penuh tanggung jawab, yang tidak saja menuntut hak tapi juga sadar akan kewajibannya. Persyaratan tingkat kualifikasi ketenagaannya ditinggikan. Dan sebagainya.

Kami bersyukur, akhir bulan ini kami sudah mendapatkan tingkat kemajuan hingga 60%. Dan yang paling penting, kabar gembiranya adalah gaji saya bersama beberapa orang dari satu tim sudah ditambah bonus karena berhasil merevolusi keadaan.

. Memang, dalam hal apapun kita harus bekerja keras untuk mendapatkan yang terbaik, bukan berharap mukjizat datang begitu saja

Selasa, 24 Maret 2009

RE-BOUNDING & RE-KERITING

Seumur-umur saya baru ngerti kalau namanya rebounding itu membuat rambut keriting jadi lurus dan lembut. Ini menurut istilah katrok saya. Yang sebenarnya? Saya tidak tahu secara pasti.Pengertian ini mengingatkan saya pada seorang teman sesama TKI dari Jember 8 tahun silam. Ceritanya, teman saya ini tidak kerasan kerja jadi buruh pabrik. Jadi ia mengundurkan diri setahun sebelum masa kontraknya habis. Sebelum pulang ke tanah air ia mnyempatkan diri membuat rambutnya jadi lurus dan lembut.


 

Setelah rambutnya diluruskan, sang teman ini nampak beda. Penampilannya jadi semakin keren untuk ukuran bocah yang asalnya dari pedalaman kabupaten ini. Saya sempat terkejut juga melihatnya. Apalagi setelah menyentuh rambutnya yang lembut. Style-nya mirip potongan rambut Andy Lau. Dasar wajahnya sudah ganteng, kulitnya memutih dan membersih (dikasih awalan me-) karena sebelum berangkat hitam legam dan kusam.


 

Saat berpamitan pada kawan-kawan ia bilang akan kembali lagi. Mungkin hanya satu bulan saja di rumah. Ia akan coba cari job lain selain di pabrik.


 

Ternyata teman saya ini hanya 1 minggu di rumahnya, sebab 2 minggu setelah itu ia muncul di Hostel (asrama) kami. Dan apa yang saya lihat dari kemunculannya ini adalah kebalikannya saat ia mau pulang. Perbedaannya jauh sekali, bisa dibilang berputar 180o. Rambut yang tadinya lurus dan lembut jadi ikal tebal seperti saat kami baru berangkat dulu. Kulitnya pun jadi hitam legam kembali.


 

Sekarang saya berfikir, mungkin Rebonding di Malaysia tidak matching untuk iklim di Indonesia. Cuma bertahan 1 minggu, rebondingnya jadi re-keriting.

Rabu, 18 Februari 2009

Bukan Dokter Bicara DM



Saat ini ramai orang membicarakan Kampanye Damai Pemilu 2009, lalu masih tak pernah lekang tentang koleksi foto foto artis, model seksi, bintang film, artis sinetron, model seksi, gosip selebrits, wallpaper artis, bikini model, casting film, cerita seks artis, eksklusif, artis ABG, abg korea, model Jepang, Bugil dan Telanjang.-Meskipun UU APP sudah disyahkan. Serta ramainya pebisnis internet yang menggembar-gemborkan sukses secara spectakuler seperti iklan-iklan yang ada di bawah atau di samping. Diantara itu semua saya akan mencoba sesuatu yang lain untuk ditulis, yaitu DIABETES MELLITUS. Belum tahu?


Pernah dengar DM? Dalam pelajaran bahasa DM merupakan singkatan dari Diterangkan Menerangkan. Tapi dalam dunia kesehatan atau dunia medis DM adalah singkatan dari Diabetes Mellitus. Ahli therapi dan Paramedis sering menyebutkan demikian. Tapi sebagai orang awam saya lebih familiar menyebutnya dengan Kencing Manis. Istilah ini sudah sering saya dengar sejak saya masih anak-anak, ketika itu nenek saya punya teman yang “ngamar” di sebuah rumah sakit karena penyakit tersebut.


Diabetes konon berarti curahan air kencing atau kencing yang berlebihan, kemudian Mellitus berarti banyak kandungan gula dalam kencing. Kencing manis ditandai dengan :

  • Air kencing yang manis. Jangan dicoba sendiri rasanya, kasih semut untuk mencobanya. Caranya, air kencing taruh pada sebuah wadah kecil lalu tempatkan pada ruangan yang biasa dilalui semut. Kalau air kencing itu ramai dikunjungi semut artinya kencing itu benar-benar manis. Tapi kalau traffic si semut tidak banyak ya berarti ndak ada masalah.



  • Mudah merasa lapar, tidak seperti biasa. Mudah merasa haus, walau di malam hari. Sering buang air kecil



  • Walaupun makan dan minum sudah melebihi kebiasaan tapi berat badan terus menurun



Apabila kita mengalami tanda-tanda di atas, maka segera datang ke dokter terdekat. Cukup ke dokter umum dulu. Jangan ke dukun apalagi jauh-jauh pergi ke rumah Ponari – kasihan bocah ini sudah kehilangan banyak hal berharga yang dimilikinya – belum tentu juga Ponari tahu apa itu kencing manis. I ya kan? .


Konsultasi sama dokter, berikan informasi yang detail tentang apa saja yang berhubungan dengan keluhan. Kalau dokter tanya alamat email hati-hati, jangan-jangan anda nanti dijadikan refferalnya. He..he.. .


Mengenai kencing manis, anda tidak perlu tanya sama dokter karena akan menyita waktunya, kecuali dokter itu teman dekat, saudara atau pacar anda. Cukup anda baca di sini. Saya akan menjelaskan sedikit yang saya tahu dengan bahasa awam saya. .


Baiklah, kencing manis adalah penyakit yang terjadi karena darah kita kelebihan kadar gula. Secara umum kencing manis dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan penyebabnya, antara lain :

  • Diabetes jenis pertama dikenali karena penderita ketergantungan insulin. (lihat di wikipedia lebih detail tentang insulin) ketergantungan ini terjadi karena pancreas tidak bisa lagi memproduksi insulin, sehingga penderita harus mendapatkan suply insulin dari luar melalui suntikan.(pergi ke wikipedia juga untuk tahu apa itu pancreas)



  • Diabetes jenis kedua dikenali sebagai penderita yang kadar insulinnya tidak bekerja secara maksimal, karena kegemukan misalnya. Pada jenis ini penderita tidak membutuhkan suply insulin dari luar. Hanya membutuhkan pemeliharaan tubuh secara benar, yaitu melalui pola makan, minum dan beraktivitas, sehingga tidak terjadi pengendapan energi yang harusnya dibuang. Olah raga teratur yang bertujuan membakar lemak-lemak dan kandungan karbohidrat dalam darah bisa anda dapatkan melalui latihan-latihan kebugaran tubuh atau senam. Kalau saya cukup bersepeda setiap pagi sejauh 1 km (bukan berarti saya sedang mengidap, hanya untuk pencegahan)




Inilah sedikit yang saya tahu tentang kencing manis. Bahkan banyak penderita kencing manis sekarang ini yang masih berusia di bawah 30 tahun. Mungkin pola hidup masa kini telah membuat fenomena baru pada penyakit ini dengan menyerang pada usia produktif.


Makanya hati-hati, jangan karena anda berusia muda lalu mengabaikan kesehatan anda dari serangan kencing manis. Kita semua berpotensi terkena penyakit itu, kecuali kita adalah orang yang punya aktivitas tinggi seperti olahragawan atau pekerja keras. Kalau aktivitas kita hanya di depan PC dan duduk di belakang meja dengan camilan yang bermacam-macam serta minuman yang serba manis, kita harus ekstra hati-hati. Sebab penumpukan energi yang dihasilkan oleh kebiasaan makan kita yang tinggi dan tidak diimbangi dengan aktivitas tubuh yang teratur akan menghalangi kinerja insulin sehingga kadar gula dalam darah kita meningkat.


Anda boleh tidak percaya dengan informasi ini, karena ini memang bukan tulisan yang valid. Silahkan rujuk pada sumber pengetahuan yang benar mengenai Kencing Manis. Ingat pesan ini ”JIKA SAKIT BERLANJUT HUBUNGI DOKTER”


Rabu, 11 Februari 2009

AKU CINTA INDONESIA 4


BAGIAN AKHIR : Tentang Hidup di negeri orang, Ketika Indonesia Raya dikumandangkan Dan Bye Bye Malaysia!




Hidup di negeri orang bukan hal yang mudah. Apalagi di sana kita mengadu nasib dan mengais rejeki. Mungkin benar kata pepatah, ”Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri.” Seenak-enaknya bernafas di negeri asing, lebih enak menghirup udara di kampung sendiri. Dua setengah tahun berada di Malaysia seperti hanya dalam mimpi, tapi yang saya rasakan waktu itu hari-hari seakan lambat bergerak. Menunggu besok rasanya seperti menunggu tahun berganti.


Bagi kalian yang belum dan akan pergi ke mana saja di luar negeri ini, jika hanya untuk menjadi buruh kalau boleh saya sarankan lebih baik batalkan. Apalagi di Malaysia, di sana kaum buruh asing semacam saya waktu itu seperti tidak bermartabat. Seringkali orang memandang kita dengan sebelah mata.

Pernah suatu saat ketika sedang istirahat siang di halaman belakang pabrik, saya sedang nongkrong, sendirian ada seorang tenaga kerja asing dari Bangladesh sedang belajar naik motor. Orang-orang Melayu ramai menertawainya. Secara reflek sayapun ikut tersenyum oleh ulah Bangla itu. Tiba-tiba seorang Melayu yang akrab dengan Bangla itu membentak saya, “He You, Indon! Awak ni budak miskin datang mari dah naik tongkang, tersenyum-senyum pula, boleh awak naik motosikal?,”


Nampaknya orang ini tidak suka saya ikutan tersenyum tadi. Dan dikiranya saya tidak bisa naik motor. Dan dipikirnya saya datang ke Malaysia dengan perahu. Nada bicaranya pun seakan mengejek saya. Maka dengan amarah di dada saya berdiri, sebatang rokok yang baru terhisap separuh di bibir saya buang dan injak, lalu saya hampiri dia.


“Hei, Bang. Jangan hina kami, ya. Kami memang miskin, tapi kami bukan bodo macam You punya member tu. Jangankan motor, naik kereta pun saya boleh. Kalau ada masa boleh kita resing, saya dengan You, macam mana? Bila? You pilih masa, kita berlumba, ha?” Saya berbicara agak keras persis di hadapannya.
“Satu lagi, Bang. Saya datang mari tidak naik tongkang. Kami beli tiket pesawat oh.. you tak tahu pesawat kan? Air Plane. Saya turun KLIA, tahu KLIA? Dan saya bayar mahal untuk bisa kerja di sini. Jadi tolong jangan macam-macam dengan kami, jaga awak punya mulut. Ok?” Lalu saya pergi ngeloyor tanpa mempedulikan mimik di wajahnya.


Dua bulan berada di Malaysia, secara kebetulan saya terpilih jadi Line Leader mewakili teman-teman dari Indonesia. Bagi saya ini adalah suatu kesempatan untuk menunjukkan siapa Indonesia di mata mereka. Saya akan berusaha memberikan segala kemampuan untuk membuktikan bahwa kita bukan bangsa yang miskin dan bodoh seperti mereka.


Tahun-tahun sebelum pergi ke Malaysia saya pernah menjadi anggota ORARI, saya banyak mendapatkan pengetahuan tentang radio dan elektronika dari organisasi ini. Jadi ketika saya bekerja pada pabrik elektronika milik Jepang di Malaysia itu sebenarnya saya sudah mempunyai bekal pengetahuan tentang arus listrik lemah serta beberapa perangkatnya. Sehingga saya tidak kesulitan membaca spec-spec dari product yang dibuat.


Saya hanya menjalani training selama satu minggu, setelah itu sudah dipercaya membawahi 3 line production dengan 21 orang member. Hebat? Tidak. Karena sebenarnya personil-personil di sana SDM-nya masih bisa dibilang rata-rata di bawah saya, sementara di Indonesia - kalau kita mau mengakui - SDM bangsa kita jauh di atas rata-rata melebihi saya. Saya hanya penggalan kecil dari bangsa yang besar ini. Lihatlah pemuda-pemuda kita banyak yang sudah menunjukkan kemampuannya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pada kontes-kontes internasional. Tidak sedikit pula dari mereka telah mendapatkan award. Sementara saya? Saya hanya mengadu nasib untuk melanjutkan hidup, tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk negeri ini.


Masa-masa menantikan habis kontrak 2 tahun seperti terlupakan. Kesibukan saya sebagai line leader membuat jam kerja saya lebih banyak, sehingga waktu seakan cepat berlalu. Hampir semua tugas-tugas yang diberikan kepada saya baik oleh atasan lokal maupun Jepun tidak mengecewakan mereka. Mereka bersimpati kepada saya. Member lokal maupun luar banyak yang menghormati saya. Tidak ada lagi umpatan dan pelecehan terhadap saya dan teman-teman sebangsa. Mereka semua jadi baik dan bersahabat serta dapat bekerja sama. Target produksi selalu tercapai bahkan sering lebih. Bulan ke-6 pun gaji dan tunjangan saya bertambah (ini yang penting ha..ha..ha..)


Walaupun demikian beberapa kejadian sempat mengecewakan saya. Ada beberapa teman dari tanah air yang membuat ulah, sehingga sedikit banyak memperburuk citra bangsa. Dan saya tidak perlu menyebutkan di sini, sebab itu memalukan. Sebagai line leader saya berusaha menomorsatukan teman-teman sendiri dari tanah air untuk banyak-banyak mendapatkan ”over time” (lembur), tapi beberapa dari mereka justru menolaknya, sayang sekali memang. Tapi saya tidak bisa berbuat banyak. Argumentasi saya selalu dipatahkan dengan berbagai macam alasan. Akhirnya saya hanya memilih beberapa teman yang sungguh-sungguh ingin menambah penghasilannya. Bagi mereka yang menolak? Saya tidak ingin tahu akibatnya.


Bekerja sebagai buruh pabrik di Malaysia gajinya tidak terlalu besar. Justru dari tambahan ”over time” (kerja lembur) itu pendapatan kita bisa meningkat sampai 2 kali lipat dari basic (gaji pokok). Percaya atau tidak percaya, saya sudah mengalaminya sendiri. Pernah, pada suatu bulan selama kurang lebih 3 bulan saya tidak seberapa aktif kerja lembur, pendapatan saya hanya cukup untuk makan, tidak sedikitpun bisa saya tabung. Saat itu ketika krisis pasca WTC main-main sama mercon raksasa sampai runtuh, Tahun 2001. Pengaruhnya begitu luas hingga tempat kerja saya pun kena dampak dengan berkurangnya order, maka pekerjaan pun berkurang.


Pada bulan September 2001 Malaysia menjadi tuan rumah SEA GAMES ke-21. Saya merasa sangat beruntung, karena kesempatan ini belum tentu bisa saya dapatkan walaupun Indonesia yang menjadi tuan rumahnya. Saya berkesempatan melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana PSSI berlaga, saya bangga bisa selalu hadir dalam setiap pertandingannya – meskipun saat itu Tim Merah putih hanya puas di urutan ketiga.


Sepulang kerja (tanpa lembur) sore hari saya sudah siap di stadion sebelum pertandingan dimulai. Seorang teman yang juga menjabat line leader sumur saya selalu menemani. Jadi, transportasinyapun gratis – karena ia memakai mobilnya untuk kami berempat. Dan kami selalu duduk sebangku, hanya sekali kami terpisah saat tim Malaysia bertanding dengan Tim Merah Putih, sebab peraturan bagi penonton mengharuskan kami harus dipisah. Separuh tribun untuk penonton Indonesia dan separuhnya untuk Malaysia.


Ada yang membuat miris di hati saya, yaitu ketika Indonesia Raya dikumandangkan sebelum pertandingan dimulai. Saya jadi teringat masa-masa sekolah, saya jadi teringat tanah air. Bulu kuduk saya meremang. Semangat saya seolah dibakar. Sayapun tidak ketinggalan ikut berteriak-teriak menyanyikan lagu kebangsaan ini. Saya tidak peduli seorang teman Melayu duduk di sebelah saya. Wow, mengesankan sekali. Ada sesuatu yang berbeda ketika kita mendengarkan lagu kebangsaan itu di negeri orang. Dan saya tidak bisa menggambarkan seberapa indahnya lagu itu untuk dikumandangkan.


Tahunpun berganti. Keadaan krisis di perusahaan jepun tempat saya bekerja itu nampaknya terus berlanjut. Banyak pekerja-pekerja lokal dirumahkan. Pekerja asing dari Bangladesh habis dipulangkan. Dari Indonesia sendiri tinggal 20 orang. Beberapa teman merasa tidak betah sehingga cukup hanya 2 tahun saja di sana. Sementara saya mencoba untuk bertahan, saya berharap mungkin ada perubahan.


Perubahan yang saya harapkan itu mulai terjadi. Order bertambah, tapi ada sesuatu yang salah mungkin terjadi dalam manajemen. Dampaknya bagi saya terlalu berat. Jam kerja saya jadi semrawut. Kakuatan kerja saya dan teman-teman seolah-olah dipaksakan. Kami jadi seperti mesin. Waktu untuk istirahat sangat terbatas. Kerja selama hampir 18 jam pun pernah saya lakukan.


Keadaan semrawut ini membuat saya hanya mampu bertahan selama 5 bulan. Pada bulan ke-8 Tahun 2002 saya mendapatkan tugas kerja malam full selama satu bulan penuh. Teman-teman saya menganggap saya gila. Tapi saya memang punya rencana yang mereka tidak tahu.


2 line yang saya jaga bergantian shift. Sementara saya terus pada shift malam. Berangkat jam 5 sore, pulang pada jam 9.30 keesokan harinya, penuh selama 30 hari kerja. Dan perhitungan gaji sayapun meningkat, karena tunjangan shif malam dan lembur yang berlipat. Saya mendapatkan apa yang saya inginkan. Saya akan pulang ke Indonesia.


Awal September 2002 saya mengajukan untuk berhenti dan pulang ke tanah air. Teman-teman saya terkejut mendengarnya. Rekan-rekan kerja di pabrik seperti tidak percaya mendengar penuturan saya. Tahun itu adalah Tahun pertama pada masa kontrak ke-2 selama 1 tahun, dan saya baru menjalaninya selama 6 bulan. Kalau saya pulang sebelum waktunya, berarti saya harus menebus sisanya dengan sejumlah uang. Itu sudah saya perhitungkan. Maka dengan perolehan Bulan Agustus yang telah saya lalui dengan bekerja shift malam penuh satu bulan itu masih banyak tersisa setelah dipotong pengembalian uang kontrak.


Kalau dipikir sayang memang. Tapi entah setan mana yang membuat saya menjadi kepala batu. Tak satupun rayuan dari banyak orang yang ingin saya tetap di sana membuat saya luluh, sampai-sampai saya ditawari untuk cuti saja selama 3 bulan pun saya tolak, saya mau pulang terus. Maka proses kepulangan sayapun dikabulkan. Hari ke-8 bulan itu saya berpamitan. Budak-budak Melayu dan keturunan India yang mengenal saya tidak sedikit yang bersedih, mulai dari operator sampai tingkat manajer. Perpisahan itu memilukan kami. Saya pun kesulitan untuk tidak meneteskan air mata. Peluk dan salam dari mereka sangat mengesankan. Saat-saat menyakitkan dulu telah berganti kekraban yang harus saya akhiri. Mereka menangis seolah mengantarkan mayat seorang sahabat ke liang kubur, seorang sahabat yang tidak mungkin bisa ditemui lagi.


Ada yang bilang, ” Sampai jumpa di akhirat!”


Ada yang mengatakan, ”Jangan pergi mari lagi, kamu terlalu pandai untuk kerja dekat kilang yang teruk ini. Kalo nak kerja, cari kerajaan yang lebih kaya dari Malaysia.”


Ada pula yang mengatakan,”Jangan lupakan kita, ya?”


Keesokan harinya, 9 September 2002 pagi saya diantar ke Bandara KLIA untuk pulang ke Indonesia langsung ke tujuan Bandara Juanda. Saya dilepas hanya sampai di beranda Bandara. Saya masuk seorang diri ke tempat pesawat terbang yang akan membawa saya pulang. Ketika saya sedang berjalan seorang sekuriti memanggil saya dengan bahasa yang kasar. Tapi saya sudah kebal dengan bahasa itu.


”Hei, Wak. Sini!” Panggil sekuriti itu. Sayapun mendekat.


”Apa hal, Bang?” Saya balik bertanya.


”Awak nak balik kampung Indon kah?” Tanya sekuriti itu lagi.


” Ya...” Saya mengangguk.


”Banyak bawa duik, kah? Saya nak tengok,” Melayu itu terus bertanya.


Ini pasti ada yang tidak beres. Sayapun menghindarinya. Saya tidak jadi untuk lebih mendekat. ”Sorry, Bang. Saya terlambat.” Saya sedikit berlari menjauhinya.


”Hei, Indon. Jangan datang mari lagi lu ya....?” Hanya kata-kata itu yang saya sempat dengar.


Saya sedikit sakit hati dengan ulah sekuriti itu. Dalam batin saya mengatakan,”Saya tidak akan datang lagi ke sini sebagai buruh. Tunggu Malay, saya akan datang sebagai BOS!”


Bye-bye Malaysia!
Malaysia boleh kejam, tapi saya tidak akan melupakan sahabat-sahabat saya.
TAMAT.

Minggu, 08 Februari 2009

AKU CINTA INDONESIA 3



BAGIAN KETIGA: TENTANG SAYA, NEGERI SAYA dan NEGERI ORANG


Sudah tidak sabar baca yang ketiga? Lihat dulu gambar ini!
Ini adalah hari pertama saya bersama beberapa teman dari Jember 9 tahun lalu. Silahkan tebak, kira-kira menurut kalian yang pantes jadi saya yang mana hayoo?
Saya kasih kata kunci ya? Wajahnya ndak pantes jadi pemimpin. (Wuih ndak nyambung.....!)


Perasaan lega bercampur senang saat pesawat sudah berhenti dan para penumpang dipersilahkan keluar secara teratur. Saya bersama rombongan telah disambut tim dari perusahaan yang akan memperkerjakan kami. Sambutan yang luar biasa bagus, karena kami hanya calon buruh pabrik.


Yang mengesankan bagi saya saat itu bukan karena penyambutan yang baik dari pihak company, tapi ketika keluar dari pesawat dan berada di sana untuk proses-proses kedatangan-saya melihat bahwa KLIA jauh lebih megah dari Bandara Soekarno-Hatta. Dalam diri saya jadi bertanya-tanya, benarkah? Saya tidak percaya dengan penglihatan saya. Baru beberapa jam yang lalu saya melihat kemegahan Soekarno-Hatta, kini setelah sampai tujuan, saya melihat yang lebih megah lagi.


Saya terenyuh, tapi bukan karena saya merasa bangga telah berada di negeri orang melainkan karena bandara milik negara tercinta saya ternyata masih berada di bawah negara sekecil Malaysia yang usia kemerdekaannya jauh lebih muda dari Indonesia. Saya merasa iri dengan keadaan ini.


Sudah tidak mampukah negeri saya membangun bandara internasional yang lebih megah lagi? Semoga ini adalah penilaian yang subyektif dari saya. (Keadaan Bandara Soekarno-Hatta Tahun 2000 – mungkin sekarang sudah berubah menjadi lebih megah dari bandara manapun).


Minggu pertama saya berada di negeri itu saya merasakan suatu perbedaan tentang keadaan kotanya, di sana masih banyak berkeliaran burung-burung yang terbang ke sana-kemari secara bebas. Kalau di Kota Malang yang sering saya lihat hanya burung gereja. Tapi di pemukiman sebesar Kuala Lumpur lebih bervariasi. Burung-burung itu seakan bersahabat dengan alam perkotaan. Masih banyak pepohonan yang rindang untuk mereka singgahi. Di pagi hari saya dengar nyanyian burung-burung itu layaknya ketika saya tinggal di desa masa kecil dulu, bercericit bersenandung tentang nyanyian alam yang sejuk. Di Indonesia keadaan ini jarang kita temui mungkin karena banyak burung-burung telah dipelihara serta dikurung secara pribadi dan menjadi milik perseorangan. Jadi burung-burung yang ada di kota-kota di Indonesia tidak bisa berkeliaran dengan leluasa, karena orang akan menangkapnya lalu memperdagangkannya. Jadi kalau kita ingin melihat berbagai macam burung lebih baik ke pasar burung atau kebun binatang. Untuk lihat yang bebas, jangan pernah bermimpi.


Pagi di antara nyanyian burung-burung itu para pekerja mulai beraktivitas. Kami mulai berbenah untuk mempersiapkan diri pergi ke tempat kerja. Deru mesin menderum di luar rumah, pada mulanya saya tidak tahu bahwa suara itu adalah suara sebuah truk sampah yang sedang meraung mengepres sampah-sampah yang dimasukkan lewat bak belakang oleh beberapa pekerja. Dasar ”ndeso” yang begituan saja tidak pernah lihat.

Jadi ketika kami sudah siap berangkat sekitar jam 6.30 waktu setempat-sepanjang jalan yang kami lalui sudah bersih dari sampah meskipun beberapa pekerja wanita tukang sapu jalanan berseragam biru muda masih terlihat berada di sekitarnya. Sepagi itu mereka telah selesai dengan pekerjaannya-mungkin mereka memulainya ketika pagi masih gelap. Dan belakangan baru saya tahu bahwa mereka ternyata dari Indonesia.

Saya sering membayangkan, seandainya di kota tempat tinggal saya ada pekerja-pekerja khusus yang dibayar layak untuk sekedar menyapu jalanan dan membuang sampah secara tertib dan teratur seperti itu alangkah indah kota kecil saya, dan lagi kita tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk jadi tukang sapu.

Pertanyaannya, kenapa di Malaysia bisa menerapkan manajemen kebersihan kotanya dengan cara demikian sementara di tempat tinggal saya tidak? Apakah perencanaan kebersihan yang sedemikian itu membutuhkan terlalu banyak biaya? Sehingga APBD tidak cukup untuk membayar beberapa tenaga kebersihan yang layak sehingga mereka bekerja secara benar? Saya tidak bisa menjawabnya karena saya tidak tahu seluk beluk di dalam pemerintahan. Dan saya tidak ingin menuduh pemerintah daerah saya tidak becus dalam mengelola, saya hanya bisa berharap agar gambaran ini bisa dijadikan acuan bagi mereka apabila hal sekecil ini belum mendapatkan perhatian. Tapi apakah ada pihak pemerintah yang membaca tulisan kumuh ini, ya? Semoga!

Sepuluh menit kemudian saya sudah sampai ke tempat kerja. Seperti biasa saya membeli makanan kecil untuk sarapan yang dijual oleh semacam pedagang kaki lima tapi mereka menggunakan bagasi belakang mobil sebagai tempat meletakkan dagangannya. Kemudian saya mengantri di depan mesin penjual kopi, ya memang mesin-di kota kecilku tidak ada yang seperti itu, entah kalau di kota-kota besar semacam Jakarta atau Surabaya atau kota besar lainnya. Jadi kita tinggal masukkan uang recehan dan memencet tombol sesuai menu yang ada maka keluarlah minuman yang kita inginkan-dari yang dingin sampai yang panas.

Ada semacam pertanyaan iseng melintas dalam pikiran saya saat itu, apa mungkin di Indonesia dipasang mesin penjual otomatis di tempat umum? Pasti umurnya tidak panjang, sekarang dipasang 2 hari kemudian sudah rusak oleh tangan-tangan jail, sebab jangankan yang isinya bisa melegakan dahaga lha wong telpon umum saja rusak.

Ketika saya sudah berada di tanah ringgit itu selama kurang lebih satu bulan saya baru merasa bahwa ternyata sangat mudah menemukan orang sebangsa di sana. Hampir setiap sudut jalan kita bisa bertemu orang Indonesia.

Pada sebuah rumah makan - orang sana menyebutnya “Kedai makan” saya sempat berbincang-bincang dengan seorang lelaki muda asal Banyuwangi Jawa Timur. Menurut ceritanya ia sudah berada di sana selama 20 tahun lebih-sejak ia masih remaja. Saya coba bertanya kenapa ia tidak pulang? Dengan logat melayu kentalnya ia menjawab, “Di sini cari duit senang, Wak. Di kampung susah, saya lelah jadi orang miskin.”

Jawaban yang mencengangkan saya, ternyata jadi orang miskin di Indonesia itu melelahkan. Benarkah? Bersambung ………

Rabu, 04 Februari 2009

AKU CINTA INDONESIA 2


BAGIAN KEDUA : TENTANG SAYA DAN NEGERI INI


Cerita ini adalah sambungan dari posting sebelumnya. Jadi, kalau teman-teman tidak keberatan dan tertarik tentunya silahkan baca dulu bagian yang pertama.





Seiring dengan bertambahnya usia saya saat itu keadaan negeri tercinta ini sedang menghadapi saat-saat sulit. Masih hangat pada ingatan kejadian-kejadian yang menimpa Indonesia pada Tahun 1998 silam. Diawali pada akhir jabatan Presiden Soeharto pada Tahun sebelumnya yang kemudian terpilih kembali. Saya tidak akan menjelaskan tentang seberapa besar gejolak politik di negeri kita saat itu, karena saya bukan ahlinya. Saya sangat merasakan akibat dari ketidakstabilan keamanan dan perekonomian saat itu. Saya yakin hampir semua orang di negeri ini juga merasakan hal yang sama. Harga barang-barang kebutuhan melangit, sementara lapangan pekerjaan menyempit. Peluang usaha pun terancam. PHK terjadi di mana-mana. Banyak keterpurukan terjadi di sekitar kita. Ada apa sebenarnya dengan bangsa yang besar ini?


Saya tidak terlalu peduli dengan semua gemuruh perpolitikan. Secara pribadi saya merasa kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah saat itu. Borok yang penuh ulat-ulat pemakan bangkai di tubuh pemerintahan dibongkar secara blak-blakan hampir di semua media masa. Kebaikan dan keberhasilan ORDE BARU seakan lenyap begitu saja, tanpa bekas penghargaan sedikitpun. Orde yang telah dicap sebagai pemerintahan paling korup, bahkan populer dengan istilah KKN. Lalu banyak kalangan elit tampil ke depan untuk menawarkan solusi. Saya berusaha menjadi warga negara yang baik dengan melaksanakan kewajiban berdemokrasi. Sayapun menetapkan pilihan terhadap partai dan calon presiden yang baru.


Waktu terus berjalan. Pesta demokrasi telah berlalu. Pemerintahan baru negeri tercinta ini sudah dibentuk dan mulai bekerja. Tapi secara pribadi yang saya rasakan masih sama. Jalan di tempat, tanpa ada perkembangan sedikitpun.


Belum genap dua tahun pemerintahan pasca Orde Baru bertugas-sembilan tahun yang silam, tepatnya Bulan Februari Tahun 2000 saya coba mengadu nasib di negeri jiran-Malaysia. Beberapa masalah pribadi telah memaksa saya harus mencoba peruntungan untuk mengais rejeki di negeri orang. Dengan tekad dan semangat yang bulat saya berharap bisa meraih kesuksesan di bidang financial. Artinya, dengan mengumpulkan ringgit saya bisa mempunyai modal untuk membuka sebuah usaha sendiri setelah pulang nanti. Sebab walaupun di negeri sendiri saya telah bekerja pada sebuah perusahaan swasta selama 8 tahun belum juga bisa mengumpulkan bekal untuk modal usaha. Jangankan ditabung, untuk kehidupan sehari-hari saja belum cukup, sehingga saya masih harus mencari pekerjaan lain (serabutan) setelah pulang kerja.


Saya alergi dengan hamparan air. Semula saya berfikir saya akan pergi ke Malaysia dengan menggunakan transportasi laut seperti cerita dari beberapa teman dan tetangga yang pernah ke sana. Tetapi ternyata tidak. Puji Tuhan. Saya sangat senang sekali ketika mendengar bahwa keberangkatan saya menggunakan pesawat terbang. Artinya, naik pesawat terbang adalah pengalaman pertama dan bahkan mungkin yang terakhir untuk orang awam seperti saya.


Akhirnya saya bersama 50 orang dalam satu rombongan dengan tujuan yang sama dari beberapa daerah di Jawa ini berangkat ke Malaysia melalui Bandara Soekarno Hatta. Pengalaman pertama saya masuk di lingkungan bandara saya merasa bangga melihatnya. Kagum. Heran. Maklumlah, orang ”ndeso,” katanya Mas Tukul ”Katrok”.

Perjalanan kami melalui udara ke Malaysia, tepatnya dari Bandara Soekarno-Hatta ke KLIA (Kuala Lumpur International Airport) memakan waktu kurang lebih satu jam. Beberapa menit sebelum mendarat pesawat yang kami tunggangi mengalami kesulitan karena cuaca buruk. Hujan lebat dengan awan hitam menyelimuti langit terlihat dari jendela pesawat. Beberapa kali pesawat kami mengalami guncangan cukup kuat. Saat itu saya benar-benar ketakutan. Apalagi ketika awak pesawat mengarahkan agar kami segera menggunakan sabuk pengaman. Sayapun hanya bisa berdo’a dengan bahasa yang penuh ketakutan.


Gangguan tersebut ternyata tidak berarti apa-apa. Sebab sebentar kemudian terdengar suara dari awak pesawat bahwa kami akan segera mendarat di Bandara KLIA. Hujan masih terlihat lebat ketika pesawat mencoba landing. Dengan ketakutan terpendam dalam hati, saya berharap penerbangan ini selamat. Dan...... tentu saja saya selamat sampai tujuan, kalau tidak-pasti hantu yang menulis pengalaman ini.Bersambung...

Senin, 02 Februari 2009

AKU CINTA INDONESIA


BAGIAN PERTAMA : TENTANG CITA-CITA




Sebagai anak dari keluarga yang pas-pasan sebetulnya cita-cita saya tidak bisa dibilang sederhana, menjadi tukang foto professional bukan hal biasa. Saya belajar memotret sejak tingkat sekolah menengah atas. Untuk melampiaskan hasrat belajar saya di bidang itu saya terpaksa meminjam kamera tetangga. Agar bisa membeli filem saya harus mengumpulkan uang saku yang diberikan orang tua saya. Bahkan saya rela jalan kaki sejauh 10 km ke sekolah untuk menghemat uang saku saya, tentu saja agar sisa uang tersebut bisa saya pakai untuk praktek belajar memotret. Bagi saya biaya untuk cuci cetak filem saat itu masih sangat mahal.


Tamat SMA saya tidak meneruskan belajar ke perguruan tinggi. Kedua orang tua saya sudah menyerah dan merasa tidak mampu lagi membiayai, karena biaya kuliah mahal. Saya tidak begitu mempersoalkan masalah tersebut walaupun saya tahu dari semua teman-teman sekolah saya hanya saya seorang yang tidak menlanjutkan kuliah.


Saya tidak pernah berputus asa. Kehidupan saya harus terus berlanjut. Cita-cita saya harus tercapai walau bagaimanapun caranya, tapi dengan jalan yang benar. Ketika baru lepas SMA sayapun rajin mencari lowongan pekerjaan di sana-sini. Saya rela ikut kerja apa saja untuk mendapatkan penghasilan. Dan uang yang saya dapatkan bisa digunakan untuk keperluan membuat lamaran dan pergi wawancara bila ada panggilan. Hingga pada akhirnya ada sebuah perusahaan di bidang jasa kesehatan baru yang mau menerima saya untuk bekerja. Walaupun dengan gaji hanya sebesar 50 ribu rupiah per bulan (1992), saya terima kesempatan ini dengan harapan akan ada peningkatan. Tetapi setelah bertahan sampai 8 tahun harapan saya pun tinggal angan-angan. Tahun ke delapan saya hanya bisa menerima gaji sebesar 200 ribu rupiah saja per bulan. Penghasilan yang sedemikian itu tentulah tidak bersisa setelah digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Saat itu usia saya sudah mencapai 27 tahun. Teman-teman sekolah saya sudah banyak yang berhasil. Saya dengar ada beberapa telah menjadi dosen pada perguruan tinggi negeri maupun swasta, bahkan ada yang menjadi pengusaha. Wal hasil saya pun malu bila ada undangan reuni teman-teman sekolah SMA, saya tidak pernah hadir. Dan saya berusaha menghilang dari peredaran mereka sampai saat ini.


Usia saya semakin bertambah, kedua orang tua saya sudah mulai menuntut agar saya segera mencari pasangan hidup. Menurut mereka, rejeki akan bertambah bila saya telah menikah dan mempunyai anak. Banyak contoh diberikan oleh mereka untuk meyakinkan saya, bahwa sebuah keluarga akan memiliki rejekinya masing-masing. Nasib itu akan berubah dengan sendirinya.


Saya mencoba berfikir secara realistis, kalau dengan gaji 200 ribu rupiah per bulan tidak cukup untuk satu orang bagaimana saya bisa menghidupi dua orang.
Ah, masa bodo dengan perkawinan, masa bodo dengan keluarga. Saat itu saya hanya ingin beli kamera SLR untuk meneruskan cita-cita saya jadi tukang potret professional, walau biayanya sangat mahal sekalipun. Lagi pula belum ada satu wanita pun yang mau melirik saya. (Kalau yang saya lirik sudah banyak, Ha ha ha….)

Senin, 26 Januari 2009

FANATIK YANG BERLEBIHAN

Pernah dengar kata fanatik? Sebenarnya saya sendiri tidak begitu faham dengan definisi yang sebenarnya. Menurut pengalaman saya fanatik mungkin berarti mempercayai sesuatu secara berlebihan.



Saya memiliki pengalaman yang menggelikan dengan kata "Fanatik" tersebut. Begini ceritanya, setelah saya menekuni karier jadi tukang foto di rumah selama 5 tahun-pelanggan saya mulai bertambah banyak. Dari kalangan anak-anak sampai nenek-nenek. Mulai dari tukang becak sampai CALEG pun ada. Berbagai macam type manusia telah saya layani, mulai yang sabar sampai yang pemarah.



Saat itu kira-kira 1 tahun yang lalu ketika sedang musim perekrutan PNS-Guru. Seorang pelanggan saya yang juga calon PNS meminta layanan saya dalam membuat Pas Photo untuk keperluan pengajuan PNS-nya. Tempat tinggalnya dari rumah saya sekitar 10 menit dengan menggunakan motor.



Pagi-pagi sekali Ibu ini datang ke rumah bersama beberapa orang temannya untuk berfoto. Dan saya pun melayani mereka sesuai dengan komitmen saya yaitu memberikan layanan foto digital langsung jadi. Ketika saya tawari untuk dibuatkan CD-data fotonya mereka tidak mau, dengan permintaan cetak yang cukup banyak menurut mereka sudah tidak mungkin kurang.



Setelah selesai mendapatkan foto-foto untuk persyaratan merekapun langsung berangkat ke kota kabupaten tempat penyetoran persyaratan pengajuan PNS tersebut. Dan saya-pun bersiap-siap untuk pergi kerja. (usaha foto di rumah hanya sambilan).



Tengah hari kira-kira jam 11 siang, istri saya telpon agar saya pulang sebentar karena ibu-ibu guru calon PNS yang pagi tadi itu datang lagi untuk minta dicetakkan foto lagi.
"Lho katanya tadi sudah kebanyakan kok masih kurang?" Tanya saya heran.



"Foto yang tadi lebih, ada tambahan permintaan Foto Hitam Putih!" Jawab istri saya.



Ini baru namanya aneh, lha wong di kota kabupaten banyak studio foto besar yang memberikan pelayanan foto kilat dengan fasilitas yang lebih komplit-kok masih balik lagi ke tempat saya yang jaraknya sekitar 30 km.



Saya jadi bertanya-tanya apa ibu-ibu ini tidak pernah ke kota, jadi tidak tahu kalau sekedar untuk foto kilat saja mereka tidak mungkin kesulitan?



Akhirnya saya pun pulang, kebetulan tempat kerja saya tidak jauh hanya 2 menit jalan kaki (kurang lebih 100 m dari rumah).
Sampai di rumah saya coba tanya pada ibu-ibu tersebut.
"Kok ndak Foto di dekat-dekat sana aja, Bu? Kan banyak studio foto digital kilat, bagus-bagus lagi?"



"Waduh, mas. Kami merasa ndak pas kalau ndak foto di sini. Sudah kadung suka di sini. Cepat dah, mas! Kami harus balik lagi."
"Ndak usah difoto lagi, data-nya kan masih saya simpan. Biar itu saja yang dibikin hitam putih. Biar cepat."



"Wah iya, ndak ingat. Tahu gitu kan cukup satu orang aja yang datang?"



Mereka tertawa kompak. Istri saya tiba-tiba nyeletuk,"Makanya jangan terlalu fanatik sama foto di sini, bu?"



Mereka tertawa lagi. "Iya, Mbak. Memang ndak enak kalau ndak foto di sini."



Nah, kalau kejadian ini bisa disebut sebagai akibat kefanatikan seseorang terhadap sesuatu, saya jadi berfikir bahwa fanatik kadang-kadang menyesatkan dan merugikan apalagi fanatik terhadap hal-hal yang sederhana seperti ini. Coba kalau mereka tidak fanatik, mereka pasti tidak perlu tambah ongkos bensin dan waktu mereka tidak terbuang. Iya-Tidak?

Rabu, 21 Januari 2009

GAGAL JUALAN PULSA

Mungkin saya tidak cocok bisnis jualan pulsa. Terus terang saya gagal.

2 Tahun lalu saya coba jualan pulsa di rumah. Kebetulan di sepanjang jalan depan rumah sampai sejauh 500 meter baru ada penjual pulsa. Waktu itu saya pikir jual beli pulsa akan meledak disamping usaha cetak foto yang saya jalani.
Tetapi angan-angan saya hanya berjalan 3 bulan saja. Sebab sebelum usaha itu mencapai tujuannya hampir tiap bulan bermunculan penjual-penjual pulsa baru. Bahkan perkembangannya lebih besar daripada perkembangan tukang komputer yang cetak foto dari HP maupun kamera digital.
Persaingan harga kembali jadi momok yang membuat kemauan saya pudar untuk mengembangkan penjualan pulsa ini.
Tapi saya masih bersyukur karena usaha cetak foto saya justru tidak bisa disaingi siapa saja.
Sampai saat ini saya tidak menemukan formula bisnis yang tepat untuk sukses berjualan pulsa. Mungkin pembaca punya?

Kamis, 15 Januari 2009

APA UKURAN SUKSES?

Sukses? Apa Ukurannya?
Kita sering mendengar kata sukses di dalam kehidupan
sehari-hari kita, misalnya sukses dalam belajar di perguruan tinggi, sukses dalam berkarier, sukses dalam menjalankan penelitian, dan sebagainya.
Tapi seringkali saya merasa ragu dengan batasan-batasannya, sehingga kita bisa dianggap sukses.
Sukses barangkali berhubungan dengan pencapaian sebuah tujuan. Satu contoh, dalam sebuah even pertandingan sepak bola piala dunia, Italia sukses meraih juara dan berhasil mempertahankan gelar juara bertahannya. Contoh kedua, Barack Obama sukses dalam pemilihan presiden Amerika Serikat.
Pada dua contoh kesuksesan di atas terdapat kesamaan dan perbedaannya. Contoh pertama menggambarkan kesuksesan tim, dan yang kedua adalah contoh kesesuksesan secara perorangan.
Tapi keduanya memiliki batasan yang sama, yaitu sudah meraih apa yang diharapkan pada ajang yang diikutinya.
Ketika Tim Nasional Itali itu diurai pada anggota timnya,apakah anggota tim merasakan kesuksesan yang sama dalam kariernya masing-masing? Pencapaian sukses secara subyektif pasti berbeda. Apakah ukuran sukses Del Piero sebagai pemain sepak bola sudah bisa dianggap sukses? Menurut ukuran kita mungkin. Tapi menurut dia belum tentu, sebab kita tidak tahu ukuran sukses bagi dia. Betul?
Nah, satu contoh lagi yang pernah saya alami sendiri. Ketika masih menjadi TKI di negara tetangga, saya sering berdiskusi dengan teman-teman yang intinya mereka semua harus sukses sebagai TKI. Ketika saya bertanya, sukses yang bagaimana? Ada berbagai jawaban, pulang ke tanah air membawa uang yang berlimpah, bisa membeli barang-barang yang diinginkannya, punya modal untuk usaha sendiri dan sebagainya. dari 10 orang yang berdiskusi itu masing-masing memiliki batasan sukses yang berbeda. Hanya beberapa orang yang bisa dianggap sama, yaitu mengumpulkan uang untuk modal usaha di rumah nanti, itupun dengan batasan pengumpulan dana yang berbeda-beda. Dan ketika sudah akhir masa kontrak kami semua harus pulang, maka tibalah kami semua hitung-hitungan hasil. Nampaknya saya tergolong paling tidak berhasil, sebab apa yang saya kumpulkan jauh di bawah teman-teman yang lain. Apakah saya tidak sukses? Jawabannya adalah tidak. Sebab menjadi TKI baru bagian awalnya, selanjutnya saya masih harus memulai bidang usaha sendiri di rumah untuk melanjutkan kehidupan saya dan tidak perlu harus melanglang buana hanya untuk mencari harta benda.
Saya merasa cukup mencari penghasilan di negeri orang hanya sebatas 2 tahun. Kalau saya ke luar negeri nanti dengan urusan yang berbeda yaitu tamasya bukan kerja. Itulah prinsip saya.
Sementara sebagian besar teman-teman saya masih harus pergi lagi jadi TKI ke negara yang sama dengan pekerjaan berbeda atau ke negara tetangga lain, padahal banyak dari mereka ini menganggap jadi TKI sudah sukses. Kalau sukses kenapa jadi TKI lagi? Dan bagaimana dengan saya?
Saya pegang prinsip saya semula untuk meneruskan kehidupan dengan mengais rejeki di rumah walau banyak yang mengatakan saya tidak sukses jadi TKI.
Setelah sampai di kampung halaman, saya pergunakan uang hasil dari menjadi TKI itu sebagai modal usaha kecil-kecilan jadi tukang foto seperti cita-cita saya sewaktu sekolah dulu, saya akan belajar komputer sebab digital kamera sudah mulai berkembang. Ternyata keuangan saya tidak cukup. Saya jual barang-barang saya yang sudah ada sebelum jadi TKI sebagai tambahan modal. Masih juga belum cukup, akhirnya saya terpaksa menjalankan usaha saya itu sambil pelan-pelan kumpulkan modal untuk tambahan pembelian perangkat pendukung usaha.
Kini target saya untuk memenuhi kebutuhan hidup sudah lebih dari cukup. Target menambah perangkat pendukung sudah 75% terpenuhi. Waktu yang saya butuhkan sekitar 7 tahun.
Tiba-tiba seorang teman saya yang dulu sama-sama jadi TKI datang berkunjung dan terkesima dengan keadaan saya. Dia bilang saya sukses. Benarkah saya sukses? Menurut saya biasa-biasa saja, sebab saya masih harus berjuang mempertahankan popularitas usaha saya sehingga layanan saya terus digunakan orang sementara di desa saya banyak pengusaha-pengusaha baru sebagai kompetitor dengan modal yang luar biasa besar (dibanding saya dulu) tapi harga layanan seolah mematikan pesaingnya. Persaingan yang tidak masuk akal yang sangat tidak sehat. Semoga saya terus mampu berusaha?
Jadi ukuran sukses bagi saya adalah ketika sudah bisa menikmati hasil usaha kita tanpa ada lagi kerja keras. Adakah yang demikian?