Sukses? Apa Ukurannya?
Kita sering mendengar kata sukses di dalam kehidupan
sehari-hari kita, misalnya sukses dalam belajar di perguruan tinggi, sukses dalam berkarier, sukses dalam menjalankan penelitian, dan sebagainya.
Tapi seringkali saya merasa ragu dengan batasan-batasannya, sehingga kita bisa dianggap sukses.
Sukses barangkali berhubungan dengan pencapaian sebuah tujuan. Satu contoh, dalam sebuah even pertandingan sepak bola piala dunia, Italia sukses meraih juara dan berhasil mempertahankan gelar juara bertahannya. Contoh kedua, Barack Obama sukses dalam pemilihan presiden Amerika Serikat.
Pada dua contoh kesuksesan di atas terdapat kesamaan dan perbedaannya. Contoh pertama menggambarkan kesuksesan tim, dan yang kedua adalah contoh kesesuksesan secara perorangan.
Tapi keduanya memiliki batasan yang sama, yaitu sudah meraih apa yang diharapkan pada ajang yang diikutinya.
Ketika Tim Nasional Itali itu diurai pada anggota timnya,apakah anggota tim merasakan kesuksesan yang sama dalam kariernya masing-masing? Pencapaian sukses secara subyektif pasti berbeda. Apakah ukuran sukses Del Piero sebagai pemain sepak bola sudah bisa dianggap sukses? Menurut ukuran kita mungkin. Tapi menurut dia belum tentu, sebab kita tidak tahu ukuran sukses bagi dia. Betul?
Nah, satu contoh lagi yang pernah saya alami sendiri. Ketika masih menjadi TKI di negara tetangga, saya sering berdiskusi dengan teman-teman yang intinya mereka semua harus sukses sebagai TKI. Ketika saya bertanya, sukses yang bagaimana? Ada berbagai jawaban, pulang ke tanah air membawa uang yang berlimpah, bisa membeli barang-barang yang diinginkannya, punya modal untuk usaha sendiri dan sebagainya. dari 10 orang yang berdiskusi itu masing-masing memiliki batasan sukses yang berbeda. Hanya beberapa orang yang bisa dianggap sama, yaitu mengumpulkan uang untuk modal usaha di rumah nanti, itupun dengan batasan pengumpulan dana yang berbeda-beda. Dan ketika sudah akhir masa kontrak kami semua harus pulang, maka tibalah kami semua hitung-hitungan hasil. Nampaknya saya tergolong paling tidak berhasil, sebab apa yang saya kumpulkan jauh di bawah teman-teman yang lain. Apakah saya tidak sukses? Jawabannya adalah tidak. Sebab menjadi TKI baru bagian awalnya, selanjutnya saya masih harus memulai bidang usaha sendiri di rumah untuk melanjutkan kehidupan saya dan tidak perlu harus melanglang buana hanya untuk mencari harta benda.
Saya merasa cukup mencari penghasilan di negeri orang hanya sebatas 2 tahun. Kalau saya ke luar negeri nanti dengan urusan yang berbeda yaitu tamasya bukan kerja. Itulah prinsip saya.
Sementara sebagian besar teman-teman saya masih harus pergi lagi jadi TKI ke negara yang sama dengan pekerjaan berbeda atau ke negara tetangga lain, padahal banyak dari mereka ini menganggap jadi TKI sudah sukses. Kalau sukses kenapa jadi TKI lagi? Dan bagaimana dengan saya?
Saya pegang prinsip saya semula untuk meneruskan kehidupan dengan mengais rejeki di rumah walau banyak yang mengatakan saya tidak sukses jadi TKI.
Setelah sampai di kampung halaman, saya pergunakan uang hasil dari menjadi TKI itu sebagai modal usaha kecil-kecilan jadi tukang foto seperti cita-cita saya sewaktu sekolah dulu, saya akan belajar komputer sebab digital kamera sudah mulai berkembang. Ternyata keuangan saya tidak cukup. Saya jual barang-barang saya yang sudah ada sebelum jadi TKI sebagai tambahan modal. Masih juga belum cukup, akhirnya saya terpaksa menjalankan usaha saya itu sambil pelan-pelan kumpulkan modal untuk tambahan pembelian perangkat pendukung usaha.
Kini target saya untuk memenuhi kebutuhan hidup sudah lebih dari cukup. Target menambah perangkat pendukung sudah 75% terpenuhi. Waktu yang saya butuhkan sekitar 7 tahun.
Tiba-tiba seorang teman saya yang dulu sama-sama jadi TKI datang berkunjung dan terkesima dengan keadaan saya. Dia bilang saya sukses. Benarkah saya sukses? Menurut saya biasa-biasa saja, sebab saya masih harus berjuang mempertahankan popularitas usaha saya sehingga layanan saya terus digunakan orang sementara di desa saya banyak pengusaha-pengusaha baru sebagai kompetitor dengan modal yang luar biasa besar (dibanding saya dulu) tapi harga layanan seolah mematikan pesaingnya. Persaingan yang tidak masuk akal yang sangat tidak sehat. Semoga saya terus mampu berusaha?
Jadi ukuran sukses bagi saya adalah ketika sudah bisa menikmati hasil usaha kita tanpa ada lagi kerja keras. Adakah yang demikian?
1 komentar:
kalau boleh berpendapat, menurut saya sukses ada dua, secara harfiah dan filosofis. kalo secara harfiah (makna kata) ya sukses itu sama dengan berhasil, jadi kalo barack obama berhasil jadi presiden, bisa dikatakan sukses...tapi kalo secara filosofis, sukses lebih pada pandangan masing-masing individu, ada yang menilainya sebagai bahagia, banyak uang, dll. gmn menurut anda?
Posting Komentar