Tampilkan postingan dengan label Ngawur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngawur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Oktober 2009

KETIKA

Ketika saya melihat ramai sekali pemuda-pemudi kita berlomba lomba mencalonkan diri menjadi PNS, muncul pertanyaan “tidak sehat” saya dalam hati. “Kenapa sih mereka mau bersusah payah ngantri bahkan berdesak-desakan hanya untuk menjadi PNS?” Lalu, “Kenapa mayoritas diantara kita suka menjadi PNS?”

Jawaban dari pertanyaan ini tidak terjawab juga sampai akhirnya saya menemukan artikel di sebuah website (lupa website apa) yang kurang lebih menjelaskan bahwa Fenomena PNS adalah darah daging putra-putri negeri ini, dimana hampir setiap orang tua dari anak-anak bangsa ini menginginkan putra-putrinya berpenghidupan menjadi pegawai termasuk PNS.

Saat masih sekolah SMA, saya merasa durhaka kepada orang tua karena saya selalu menentang keinginan mereka agar saya nanti bisa menjadi PNS atau pegawai swasta.

Keinginan saya adalah bisa berwirausaha. Mungkin keniginan itu terlalu bermuluk-muluk bagi mereka, sehingga kami seringkali beradu argumentasi yang panas.

Melihat kondisi begitu banyaknya tingkat pengangguran dari sejak saat saya belum lulus sekolah hingga saat ini salahkah jika kita berkeinginan membuka lapangan usaha sendiri? Syukur-syukur bisa membuat beberapa orang kehilangan gelar pengangguran, walau hanya dengan usaha kecil-kecilan.

Semoga semakin banyak orang-orang memiliki ide segar membuka lapangan usaha! Karena hanya inilah solusi mengurangi pengangguran, buka lapangan kerja minimal untuk diri sendiri.

Senin, 05 Oktober 2009

Dari Titik Awal Tapi bukan Nol

 

 

 

Sangat lama sekali saya tidak bikin psoting. Ini berkaitan dengan keadaan off line saya yang benar-benar sibuk, sehingga saya harus memilih mana yang harus menjadi prioritas utama untuk dikerjakan.

 

Sehubungan dengan itu, jelas yang utama adalah kewajiban.

Sejak pertengahan Agustus hingga akhir lebaran tahun ini, adalah kesempatan yang harus saya gunakan untuk menyeselaikan tugas di tempat kerja dan setelah itu Bye-Bye. Karena saya sudah punya sekema untuk menekuni usaha sendiri. Ini memang cita-cita saya yang lama terpendam. Kini tinggal selangkah lagi, maka akan saya mulai berpenghasilan tanpa harus jadi pekerja sebuah korporat. Inilah kebebasan saya untuk memulai tapi bukan dari nol, sebab modal kemandirian telah saya miliki. Nekat……!

Sabtu, 08 Agustus 2009

88

Hari ini tanggal 8 Bulan 8, dikabarkan oleh media bahwa Noerdin M. Top Tewas dalam operasi penggerebekan di sebuah desa di Temanggung Jawa Tengah. Entah kebetulan atau tidak, tapi jelas kejadian ini bertepatan dengan angka 8. Dimana TIM yang bertugas dari POLRI memiliki nama 88.

Bravo DENSUS 88! Walaupun belum ada pernyataan resmi terkait benar atau tidaknya mayat yang ditemukan dalam peristiwa 8 agustus ini adalah Noerdin M. Top, tapi saya turut berbangga memiliki aparat yang tegas dan sigap dalam melaksanakan tugasnya.

Bahkan kenyataannya, tidak lebih dari 24 jam TIM POLRI ini telah melakukan manuver yang cukup hebat di dua tempat yang berbeda. Sebelumnya dikabarkan bahwa di daerah Bekasi sana telah digerebek pula sarang teroris dan menyebabkan 2 orang tewas di pihak musuh.

Salahkah saya turut berbangga juga? Bukankah tidak berlebihan jika saya ingin sekali memberikan apresiasi serta penghargaan yang mungkin hanya bisa ditulis melalui blog sekecil ini?

Walaupun mungkin nantinya ternyata korban tewas di Temanggung itu bukan Noerdin, tapi saya tetap angkat topi untuk DENSUS 88 ANTI TEROR.

Jika boleh saya mengandai-andai, anggap jaringan teroris yang bertopeng agama itu adalah sebuah sistim atau tubuh. Jika beberapa anggota tubuhnya terpotong, maka jelas pergerakannya akan berkurang. JIka itu dianggap sistim, coba bayangkan apa yang akan terjadi jika file sistem pada komputer anda terhapus beberapa bagian, bukankah anda akan mendapati kesulitan loading?

Perjuangan DENSUS 88 belum selesai sebelum seluruh jaringan pada tubuh teroris ini dibumihanguskan dari negeri kita. Ayo, terus lanjutkan perjuanganmu 88. Sukses akan menyertai kalian semua!

Rabu, 15 Juli 2009

JALAN PINTAS

Jalan pintas adalah sebuah kata majemuk yang kurang lebih bermakna sebuah jalan yang diambil agar cepat sampai ke tempat tujuan. Jalan ini kita ambil untuk menghemat waktu, tenaga dan biaya. Ada alasan lain kenapa saya seringkali mengambil jalan pintas, yaitu menghindari kemacetan. Tentu saja kita bisa mengambilnya apabila “Available”. Jika tidak, artinya kita telah memaksakan kehendak. Dan akan banyak pelanggaran yang diakibatkannya. Dan pastilah ia sangat beresiko, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain bahkan bisa membahayakan jiwa sesama.

Satu contoh, untuk menyeberang jalan raya-biasanya di kota-kota besar-telah disediakan jembatan penyeberangan. Letak jembatan itu masih harus menempuh jarak 100 meter, padahal tempat yang kita tuju hanya 100 meter saja di seberang jalan. Apabila kita mengikuti arus yang seharusnya ditempuh kita menghabiskan waktu dan tenaga untuk berjalan sebesar kurang lebih 300 meter, 100 meter untuk berjalan menuju jembatan, 100 meter menyeberang di atas jembatan dan 100 meter dari jembatan ke tempat tujuan.

Seharusnya, keadaan ini tidak “available” bagi kita untuk mengambil jalan pintas. Tapi seringkali kita mengabaikannya dan langsung saja menyeberang jalan tanpa memperdulikan keselamatan bersama para pengguna jalan. Padahal harapan kita sama, yaitu selamat sampai ke tempat tujuan. Tapi, dengan kenekatan tersebut siapa yang mau menjamin kita selamat sampai ke tempat tujuan? 50-50, itulah perbandingannya, kalau berhasil artinya kita selamat, kalau tidak bisa-bisa mati di tengah jalan karena disambar truk gandeng yang sedang melaju kencang. Beresiko dan sangat membahayakan.

Dalam keseharian kita seringkali saya menemukan orang-orang yang suka mengambil resiko dengan seenaknya mengambil jalan pintas. Tidak sedikit pula saya menemukan perilaku tersebut pasti menimbulkan kerugian banyak kalangan.

Contoh kasus lagi dan ini nyata, saya selalu mengambil jalan pintas bila pergi ke kota. Jalan yang saya lalui itu adalah jalan tembusan dari dan menuju sebuah 2 komplek perumahan. Perumahan ini tergolong besar dan memiliki dua pintu gerbang yang berada di arah yang berlawanan. Dengan melalui jalan ini saya menghemat waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke tempat tujuan. Prasarana yang saya lalui tersebut juga cukup bagus, karena sudah beraspal walau kanan kiri jalan masih dipenuhi sawah ladang.

Tidak lebih dari 2 tahun prasarana jalan tersebut sudah hancur, bahkan saya harus membuang waktu 15 menit bila saya melaluinya. Jalan itu kini tidak lagi patut disebut sebagai jalan pintas. Kerusakan jalan yang relatif cepat ini bila diamat-amati disebabkan oleh tidak disiplinnya pengemudi truk besar dengan muatannya yang penuh. Mereka-sepertinya halnya saya tadinya juga bermaksud mengambil jalan pintas, tapi mereka tidak memperhatikan kelas jalan yang mereka lalui. Mereka tidak mengindahkan rambu lalin yang memberitahukan kendaraan apa saja yang bisa melewati jalan tersebut. Dan pelanggaran kecil ini tidak ditindak sehingga telah merusak prasarana yang ada.

2 contoh ini mungkin cukup bagi kita untuk belajar bagaimana melalui jalan pintas yang benar. Jangan sampai kita memaksakan kehendak kita sehingga banyak orang yang dirugikan karena jalan pintas yang kita lalui itu memang tidak seharusnya bisa dilalui.

Selasa, 07 Juli 2009

BEBERAPA HARAPAN

Pilpres telah digelar hari ini. Hari-hari sebelumnya sempat terdengar di telinga saya beberapa harapan terlontar dari beberapa mulut. Harapan tersebut antara lain:

  1. 1.   Orang Miskin (yang paham P-4) berharap :
    1. Semoga presiden terpilih nanti benar-benar mampu memimpin bangsa ini ke arah kesejahteraan rakyatnya sesuai dengan amanat UUD’45 dan Pancasila.
  2. 2.   Orang Miskin (yang awam) berharap :
    1. Semoga presiden terpilih nanti bisa menyulap yang miskin jadi kaya, tanpa kekurangan.
  3. 3.   Pengusaha berharap :
    1. Semoga presiden terpilih nanti bisa memperjuangkan hak-hak dagang dan memperkecil pajak ekspor impor serta tidak berpihak pada buruh saja sehingga usahanya tidak pernah merugi.
  4. 4.   Kaum Buruh (pinter) berharap :
    1. Semoga presiden terpilih bisa memperjuangkan hak-hak buruh dan memperkecil pajak ekpor-memperbesar pajak impor sehingga bosnya untung dan gaji buruh meningkat.
  5. 5.   Pekerjanya TPS yang tidak pernah bersyukur berharap :
    1. Semoga Ada Pilpres putaran kedua.
  6. 6.   Orang awam yang bijaksana berharap :
    1. Semoga PILPRES tahun ini sukses tanpa banyak kendala, tidak ada pertikaian mengenai hasil penghitungan. Pokoknya semua lancar dengan presiden terpilih sesuai dengan harapan seluruh rakyat Indonesia. Tentunya tidak ada putaran ke-2, sekali saja cukup. Dan Lanjutkan perjuangan….

Jumat, 03 Juli 2009

SCHEDULE

Entah apa maksud dari judul tersebut, tapi yang jelas mungkin itu berarti rencana tindakan, mungkin juga rencana kegiatan atau agenda suatu pekerjaan yang harus diselesaikan. Terus terang malas mencari definisi “schedule” yang sebenarnya. Biarlah otak awam yang saya miliki saja yang bicara.





Seorang teman mengeluh tentang “schedule” pekerjaannya sangat banyak, ia merasa berat akan melaksanakan semua kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan hari itu. Ia jadi enggan berbuat sesuatu sebab dirasa semua pekerjaan itu tidak akan bisa ia selesaikan.





Meskipun ia seorang teman, tapi ia adalah seorang manajer. Jadi apa boleh dikata, sayapun hanya diam mendengar keluhannya. Tapi dalam hati saya sempat terlintas sebuah ungkapan, “Bagaimana bisa selesai kalau setiap hari memulainya selalu terlambat.”



Sebenarnya bukan karena beliau ini datang terlambat, tapi setiap sampai di meja kerja yang ia lakukan hanya berfikir kemudian mengeluh mengenai pekerjaannya. Keterlambatan melakukan kegiatan itu terhambat karena waktunya habis untuk berfikir. Kenapa beliau harus berfikir sebelum bertindak? Bukannya lekas bertindak sesuai dengan schedule yang telah dibuat?





Menurut saya yang ia fikirkan itu-kalau menilik dari keluhannya-mungkin karena schedulenya selalu penuh dan bertambah setiap hari.





Tapi menurut hemat saya, schedulenya bertambah karena ada beberapa kegiatan yang harusnya dilaksanakan pada hari sebelumnya tidak terlaksana, akhirnya mundur pada hari berikutnya. Demikian seterusnya hingga ia merasa pekerjaannya semakin banyak.





Sesederhana itu yang saya fikirkan. Jadi jelas, kenapa tidak kita selesaikan pekerjaan sesuai schedule hari ini hingga tidak membebani pekerjaan untuk esok?









Blog Advertising

Minggu, 14 Juni 2009

KLISE

Dalam dunia fotographi kuno hanya dikenal klise tanpa pewarnaan. Klise terdiri dari dua warna jika telah dicetak menjadi lembaran-lembaran foto. Dengan sebutan negative, klise untuk foto hitam putih akan terlihat berbalik dari hasil cetaknya. Jika dalam foto berwarna hitam maka pada klise terlihat putih transparan. Dan sebaliknya bila di dalam foto berwarna putih maka pada klise terlhat hitam.


 

Seiring dengan perkembangan dunia fotographi, akhirnya ditemukan pula proses pewarnaan pada foto. Klise yang digunakan dalam foto warna memiliki tekhnik pencetakan terhadap kertas warna berbeda dengan foto hitam putih. Proses pencetakan foto warna sedikit lebih rumit dari cetak foto hitam putih.


 

Sama halnya foto hitam putih, foto warna sebelum era digital juga menggunakan klise. Klise pada foto warna yang disebut negatif juga memiliki perpaduan warna yang bertolak belakang dengan hasil foto pada hasil cetaknya. Tehknik pencetakan foto warna adalah perpaduan filter warna yang terdiri dari tiga warna, yaitu Cyan, Magenta dan Yellow.


 

Disamping negatif, dalam tekhnik foto celluloid ini juga ada istilah positif filem. Klise yang disebut sebagai positif terlihat real seperti hasil cetakan foto yang langsung bisa dilihat. Karena warnanya tidak terbalik.


 

Positif filem seringkali digunakan untuk pembuatan filem layar lebar daripada untuk kebutuhan cetak foto warna, di samping memiliki harga yang relatif mahal tehnik pemotretan dengan positif filem secara tekhnis lebih rumit.


 

Dengan adanya perkembangan teknologi digital yang sangat pesat akhirnya muncullah pembuatan foto dan video atau filem dengan tehknik digital. Teknologi digital terkini meramu ribuan warna untuk membentuk sebuah foto. Era digital telah melupakan manusia dari kata "KLISE" itu sendiri. Kalau dulu mungkin kita pernah mendengar orang mengatakan, "Wah, cerita dalam novel anu terlalu klise!"


 

Kata klise dalam kalimat tersebut menggambarkan isi cerita novel anu tadi terlalu kuno dan mengedepankan kehidupan yang diisi oleh hitam dan putih, dimana hitam menggambarkan kejahatan dan putih mengambarkan kebaikan. Secara klasik putih akan selalu mengalahkan si hitam pada akhir ceritanya.


 

Dari perkembangan era klise yang hitam putih ke klise warna kemudian menjadi digital dapat kita bayangkan bahwa kehidupan manusia semakin hari semakin rumit.


 

Permasalahan yang dulu hanya antara hitam dan putih, kemudian ada foto warna yang diramu dari 3 jenis warna lalu berkembang lagi dalam ribuan warna pada era digital yang sangat kompleks.


 

Begitulah kehidupan manusia terus berkembang komplit bersama segala permasalahannya.


 

Pernakah anda memperhatikan filem Indonesia atau Sinetron Indonesia? Lalu pernahkah membandingkannya dengan produksi filem dari luar negeri?

Setujukah anda jika saya mengatakan bahwa filem Indonesia atau sinetron-sinetron Indonesia hanya hasil kreatifititas dengan hayalan yang kuno alias klise?


 

Saya berpendapat demikian karena hampir semua kisah yang ada hanya tentang hitam dan putih. Selalu saja ceritanya tentang perlawanan si baik (putih) dengan si jahat (hitam). Perjalanan cerita melelahkan pada sinetron bersambung yang dalam proses pembuatannya selalu kejar tayang itu sebenarnya memiliki cerita serupa tapi tak sama antara judul yang satu dengan yang lain.


 

Kebanyakan, di awal kisah si baik dijaili oleh si jahat. Lalu ada tokoh penengah yang netral dan pada akhirnya tokoh hitam (antagonis) akan dikalahkan oleh si tokoh baik (putih).


 

Dalam cerita-cerita itu selalu menggambarkan bahwa si baik (putih) adalah tokoh yang sangat lembut dan sangat baik hati serta selalu mengalah ditambah taat dalam beribadah. Dan si jahat (hitam) selalu digambarkan sebagai orang yang perangainya selalu buruk dan tidak bisa berbuat baik barang sedikitpun.


 

Itulah gambaran cerita rata-rata yang ada dalam dunia perfileman dan pesinetronan di Indonesia. Terlalu klise dan kuno, padahal kita tahu bahwa sebenarnya tekhnik pembuatannya pun sudah tidak bisa dibilang kuno.


 

Tidak bisakah para pekerja filem dan sinetron itu membuat cerita yang lebih bermutu dan penuh warna seperti perkembangan teknik digital fotographi yang penuh warna?