Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Mei 2009

KAWIN PAKSA

Ini adalah sebuah kisah lama yang tidak jelas siapa penulis atau pembuatnya. Saya juga sudah lupa dari mana cerita ini saya dengar. Kini saya coba ceritakan kembali dengan bahasa yang mutakhir. O ya, yang anti pornographi sebaiknya tidak membaca artikel ini.


 

Begini kisahnya.


 

Masa itu adalah masa dimana orang tua suka menjodohkan anaknya. Anak seperti tidak punya otoritas dan kuasa dalam menentukan dan memilih calon istri atau calon suami bagi dirinya sendiri. Walau dengan berat hati bagaimanapun juga si anak akan tetap menuruti kemauan kedua orangtuanya agar tidak dicap sebagai anak durhaka.


 

Pak Kamto, sebut saja namanya begitu. (bukan nama sebenarnya) telah menjodohkan putranya bernama Kangmas dengan putri sahabatnya bernama Dimas. Perkawinan yang tidak didasari cinta kedua anak manusia itu berlangsung meriah dan megah. Maklum Pak Kamto adalah salah satu orang terpandang di desanya.


 

Perkawinan telah berjalan selama 1 tahun. Tapi Pak Kamto belum juga mendapatkan tanda-tanda akan mendapatkan seorang cucu dari putra pertamanya itu.


 

Suatu hari Pak Kamto memanggil Kangmas. Ia sangat ingin sekali tahu kenapa sang menantu belum juga hamil, padahal seharusnya dengan usia perkawinan 1 tahun sudah menimang bayi mungil. Ini teori Pak Kamto, hari ini nikahan malam langsung tembak di tempat dan bulan depan si istri pasti terlambat bulan alias hamil.


 

Dengan teori tersebut Pak Kamto penasaran mengenai ketidakhamilan Si Dimas, istri anaknya.


 

"Saya tahu apa yang hendak Bapak bicarakan," Ujar Kangmas menebak apa yang hendak dibicarakan oleh Pak Kamto. "Sayapun sudah lama ingin membicarakannya."


 

"O ya? Tentang apa coba?" Kata Pak Kamto


 

"Kenapa Dimas istri saya itu tidak hamil, bukan?"


 

"Tepat. Bapak dan ibumu ini sudah merindukan cucu, Kangmas! Usia pernikahan kalian kan sudah setahun, tapi kenapa belum ada tanda-tanda kehamilan." Ujar Sang Bapak, "Apa ada yang salah dengan…. Ehm… kesuburan kalian?"


 

Kangmas tersenyum, "Bapak bapak... saat bapak dan ibu berniat menjodohkan kami waktu itu, saya sudah bilang bahwa kami butuh waktu untuk saling dekat, untuk saling mengenal dan kemudian saling membutuhkan sebagai suami istri...."


 

"Lha,.... apa waktu setahun belum cukup untuk saling mengenal terus mendekat...?


 

Kangmas menunduk dan mempermainkan kedua tangannya yang saling menggenggam dalam pangkuan. Lalu...


 

"Selama itu pun kami belum juga bisa saling dekat, Pak. Kami belum melakukan kewajiban kami sebagai suami istri. Bahkan kami mau mohon ijin untuk cerai....!"


 

"Apa? Cerai..?" Pak Kamto terperanjat. Bukan saja jantung, bahkan bola matanya hampir copot karena terkejut.


 

"Edan,... edan...edan... dunia memang sudah edan." Pak Kamto berdiri sambil berkacak pinggang.


 

"Apa kamu ndak ingat. Pesta pernikahan kalian adalah yang terbesar di desa ini. Berapa biaya yang sudah keluar. Bapakmu ini orang terhormat dan terpandang. Kalian seenaknya sendiri mau minta cerai. Apa kata dunia, hah?" Pak Kamto mulai marah.


 

"Tapi, Pak....kami benar-benar tidak cocok."


 

"Tidak cocok bagaimana. Yang namanya laki-laki dengan perempuan ya pasti cocok. Kalian saja yang tidak tahu bagaimana cara mencocokkannya." Kata Pak Kamto kesal. "Pokoknya, tidak ada perceraian. Kalian harus jadi suami istri sampai tua seperti bapak dan ibumu ini. Titik. Tidak ada alasan cinta dan tetek bengeknya itu."


 

Kangmas hanya mengangguk lesu.


 

"Besok malam kamu beserta istrimu temui bapak lagi. Sekarang Bapak mau ke tempatnya eyang, mohon petunjuk." Ujar Pak Kamto seraya ngeloyor meninggalkan Kangmas dalam ketakutan.


 

Malam itu Pak Kamto bersama istrinya bertandang ke rumah orangtuanya, eyang si Kangmas untuk membicarakan masalah yang terjadi pada anak dan menantunya. Selesai meminta petunjuk Pak Kamto langsung pulang.


 

Keesokkan harinya Kangmas dan Dimas, suami istri yang tidak atut itu menghadap Pak Kamto. Kedua mempelai yang masih original walau sudah setahun itu seperti ketakutan. Mereka seolah terdakwa yang menunggu vonis sang hakim. Tunduk seperti pesakitan di hadapan sidang.


 

Tapi anehnya, Pak Kamto tersenyum senyum melihat kedua pasang anak manusia itu. Ia yakin sekali bahwa petunjuk dari orang tuanya yang didapat kemarin akan berhasil menyatukan perkawinan mereka.


 

"Kangmas,... dan kau Dimas..." Pak Kamto membuka acara pertemuan.


 

Kedua pasang manusia yang berada dihadapan Pak Kamto tidak menjawab. Mereka mendongak dan memandang orang tua itu penuh harap.


 

"Kalian boleh bercerai….!" Lanjut Pak Kamto.


 

Kedua orang muda itu wajahnya langsung sumringah. Keinginan mereka untuk terbebas dari perkawinan paksa akan segera terpenuhi.


 

"Eit, jangan senang dulu. Masih ada tapinya...." Ujar Pak Kamto lagi.


 

"Ada syaratnya, Pak?" tanya Kangmas yang hampir bergembira ria itu.


 

"Iya dong. Bapak kan sudah mengeluarkan banyak biaya dan tenaga untuk perkawinan kalian. Bukannya bapak mau kalian mengembalikan itu semua. Bapak hanya ingin kalian melakukan satu syarat saja sebelum kalian boleh benar-benar bercerai,"


 

Kedua manusia dewasa di hadapan Pak Kamto tiba-tiba saling berpandangan seperti menyetujui persyaratan itu.


 

"Baiklah, Pak. Apa syaratnya?" Tanya Kamto kemudian.


 

Tanpa mempedulikan rasa heran dari anak dan menantunya itu, Pak Kamto mengeluarkan 2 buah biji asam jawa dari dalam kantung plastik di sakunya.


 

"Begini. Ini dua biji buah asam. Untuk Kangmas satu dan Dimas satu."


 

Kangmas dan Dimas terheran-heran belum mengerti maksud orang tua itu.


 

"Kalian harus mengadu dua biji buah asam ini sampai salah satunya pecah." Lanjut Pak Kamto menjelaskan sambil mengulurkan biji buah asam jawa itu kepada mereka masing-masing satu.


 

"Dan ini perekat." Pak Kamto kembali mengulurkan sebuah botol kecil kepada mereka.


 

"Caranya, lekatkan biji itu pada pusar kalian masing masing lalu adu dua biji itu, benturkan satu sama lain sampai salah satunya pecah. Nah mudah kan?"


 

Pak Kamto mengakhiri petunjuknya sambil tersenyum penuh kemenangan. Tapi kedua pasang suami istri itu belum juga mengerti maksudnya.


 

"Ayo lekas pergi dan lakukan...!"


 

"Tapi, Pak.????" Kangmas terbata.


 

"Sudah.... lakukan itu dalam kamar kalian, mulai sekarang. Katanya mau cepat-cepat cerai."


 

Dua orang itu masih tidak beranjak juga.


 

"Baiklah, sini..!" Pak Kamto memanggil Kangmas agar mendekatinya."Biar bapak yang melekatkan biji itu pada pusarmu. Dan Dimas, sana pergi ke ibumu biar dia lekatkan biji asam itu ke pusarmu."


 

Kangmas mendekati Bapaknya. Dimas pergi ke kamar ibunya.


 

Proses melekatkan biji asam ke pusar Kangmas oleh bapaknya dan Dimas oleh ibu telah selesai.


 

"Nah, sekarang juga kalian pergi masuk kamar. Adu dua biji asam jawa itu sampai pecah. Saya beri waktu kalian paling lama 3 bulan. Kalian harus melakukannya tiap hari bila ada kesempatan sampai biji asam itu benar-benar ada yang pecah."


 

Jangan dibayangkan, proses adu dua biji asam itu pasti mengerikan. Sama saja dengan proses adu pusar antara dua manusia berlainan jenis. Apalagi mereka berdua harus sama-sama bertelanjang perut.


 

1 bulan berlalu belum ada kabar pecahnya salah satu biji asam jawa dari Kangmas dan Dimas. Hingga bulan ke-3 pun telah terlampaui. Dan bulan ke-4 ternyata Dimas dikabarkan terlambat bulan.


 

Ternyata proses adu buah biji asam jawa dengan pusar telah jitu membuat Kangmas dan Dimas sukses menjadi suami istri hingga beranak pinak.

Kamis, 26 Maret 2009

SUSAHNYA HIDUP BERSAMA

Hidup bersama memang tidak mudah. Apalagi jika dalam satu rumah terdapat berbagai macam tabiat dan kemauan yang berbeda bahkan terkadang bertentangan. Dubutuhkan kesabaran dan saling mengerti antar penghuni untuk dapat mewujudkan keadaan yang menyenangkan.


 

Pengalaman tinggal bersama 49 orang di negeri asing dengan latar belakang yang berbeda-beda menambah pengalaman saya. Ada pengalaman yang mengerikan, menyenangkan bahkan menjijikkan untuk dingat-ingat.


 

Ketika dalam kesendirian, saya sering merasakan kerinduan untuk berkumpul kembali dengan teman-teman yang menyenangkan. Tapi bila mengingat mereka yang selalu jadi parasit bagi yang lain, jangankan kepingin ketemu mengingatnya saja sudah sakit dodo menthok saya.


 

Saya katakan sebagai parasit sebab beberapa dari mereka ini sukanya ngampung tanpa mau memberi. Mulai dari telur, sayur, sampai beras hingga ke rokok si parasit ini maunya minta dari teman yang satu ke teman yang lain. Padahal kalau mau dikalkulasi, penghasilan kami sama. Yang berbeda adalah pengeluarannya, si parasit dengan tanpa malu dan sungkan seringkali menceritakan pengiriman uangnya ke tanah air sekian juta dalam beberapa bulan. Sedangkan bagi mereka yang hidup layaknya simbiosis mutualisme dengan yang lain masih berada di bawahnya.


 

Mungkin ada yang tidak percaya dengan pengalaman saya ini. Tapi itulah yang terjadi. Saya bersyukur karena tidak termasuk sebagai manusia yang bersifat parasit bagi liyan itu.


 

Sudah menjadi kebiasaan saya dengan teman satu kamar untuk urunan membeli bahan makanan dan minuman, dengan begitu pengeluaran bisa ditekan. Kami berbelanja setiap 2 hari sekali untuk sayur dan buah. Sementara untuk beras, gula serta bahan lain yang tahan lama kami biasa membelinya setiap 2 minggu sekali.


 

Kami bagi tugas untuk gantian masak. Teman yang shift malam bertugas belanja bahan basah dan masak, sementara yang siang belanja bahan kering dan menanak nasi. Tapi ini hanya berjalan selama 3 bulan. Pada bulan berikutnya kami sering kehilangan bahan-bahan itu. Bahkan sayur dan buah yang baru dibeli pagi oleh teman yang shift malam giliran mau dinikmati sudah tidak kebagian. Akhirnya kamipun memutuskan untuk makan di luaran saja, daripada sudah mengeluarkan uang tapi hanya menikmati sisanya. Maksud hati ngirit tapi jadinya ngorot.


 

Kejadian kehilangan ini juga terjadi pada persediaan air minum dalam wadah botol plastik dan ditaruh dalam kulkas. Kami yang saling mengerti akan kebutuhan bersama itu selalu bergantian memasak dan mengisi botol yang kosong. Tapi bagi si parasit, jangankan memasakan air, mengeluarkan dan mencuci botol yang kosong saja sudah tidak mau. Bikin kopi saja hampir setiap hari hanya bawa cangkir kosong.


 

Seorang teman seringkali memergoki si parasit-parasit ini seolah tanpa dosa makan buah, goreng telur dan memakai piring orang lain tanpa tanggung jawab. Minum air di kulkas tanpa berusaha mengisinya kembali. Kesabarannya sudah habis karena setiap kali ia pulang kerja dan kehausan, dalam kulkas hanya berisi botol kosong.


 

Suatu pagi sebelum berangkat kerja teman karib saya ini berpesan agar saya tidak meminum botol yang sudah diberi tanda. Ia bilang isinya diganti dengan air istimewa yang hanya boleh diminum oleh pendompleng-pendompleng saja. Saya tidak seberapa memperhatikannya, sebab setiap hari saya selalu membeli air mineral dalam botol 1 literan.


 

Malam harinya sepulang kerja teman saya ini langsung kepingin minum. Ketika sedang buka kulkas, si parasit menegurnya, "To, dalam botol itu air apa? Rasanya kok aneh.?"


 

Air dalam botol khusus itu isinya tinggal separo. Si teman ini langsung lari ke kamar mandi dan, "Hoo...eeek.....! Hoo..eek...!" muntah.


 

Ternyata botol spesial itu telah diisi dengan air kran ditambah air kencingnya dikasih bumbu masak dan garam. Dan setengahnya diminum begitu saja oleh si parasit. Rasain....!


 


 


 


 


 

Kamis, 19 Maret 2009

MATI

Pulang kerja, sore kemarin. Lelah sekali. Ada meeting panjang baru saya lalui. Ingin rasanya segera meletakkan kepala di atas bantal. Dan tidur sampai ngiler. Tapi urusan pendapatan hari itu pasti berkurang kalau dipaksakan pergi ke peraduan sore. Dengan berat menahan kelopak mata untuk tetap terjaga. Banyak kerjaan menunggu untuk diselesaikan. Terpaksa juga harus kembali bekerja.


 

Baru beberapa menit duduk di hadapan partner kerja saya yang kelihatan sudah tua itu tiba-tiba terdengar ringtone dari HP saya. Sayapun menyapa sesorang yang sedang menghubungi saya. O, ternyata adik bungsu saya, cowok, sekitar 27 tahun usianya. Inilah percakapan kami (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):


Adik    :    "Lagi apa, mas?"

Saya    :    "Biasa, kerjaan rutin."

Adik    :    "Rame?"

Saya    :    "Ada saja!.... kamu?"

Adik    :    "Di rumah!"

Saya    :    "Ndak kerja?"

Adik    :    "Pulang bentar, mandi."

Saya    :    "Ooo, ada apa?"

Adik    :    "Ndak ada, pengen tanya dikit?"

Saya    :    "Apa?"

Adik    :    "Habis dapat rejeki banyak, ya?"

Saya    :    "Rejeki apa? Tiap hari kerja, ya dapat. Kalau libur siapa yang mau kasih uang? Kenapa?"

Adik    :    "Ndak ada, tadi malam aku impikan mas mati!"

Saya    :    (Tertawa, rasa kantuk saya agak hilang) "Kalo dimimpikan mati memangnya mau dapat rejeki nomplok?"    


 

Senin, 09 Maret 2009

SARANA

Beberapa hari yang lalu iseng-iseng saya bikin tebak-tebakan dengan beberapa teman di tempat kerja. Saat istirahat siang, di luar masih hujan sejak kemarin sorenya. Dasar otak orang pas-pasan tiba-tiba muncul ide aneh untuk saling mengolok-olok sesama teman pekerja rendahan yang notebene gajinya masih dibawah UMR.

Karena sebagai pegawai rendahan kami hanya bisa bermimpi untuk punya mobil seperti para pekerja menengah ke atas lainnya. Berkhayal saja kami sudah ketakutan. Kalaupun bisa memiliki, itu bukan sesuatu yang mudah bagi kami, jika sedang di tengah perjalanan tiba-tiba salah satu ban meletus dan harus diganti berapa rupiah yang harus dikeluarkan. Belum lagi pajak per tahunnya yang pasti di atas gaji bulanan kami.

Sejak sore hari sebelumnya hingga hari itu hujan belum berhenti. Pada malam hari di tengah lebatnya hujan, seorang pegawai menengah datang ke rumah saya karena ada hal penting yang harus diselesaikan. Saya heran melihatnya tidak menggunakan mobil padahal rumahnya cukup jauh, pertanyaan jail tiba-tiba keluar,"Kok pakai motor, mas? Apa di sana tadi ndak hujan?"

"Sama aja, Cuma males mau bawa mobil. Barusan dicuci tadi pagi," Jawab teman sekantor itu sambil melepas jas hujannya.

...........................

Kejadian itu memberikan inspirasi nakal untuk membuat polling diantara teman-teman senasib, seandainya kami jadi orang yang mampu membeli kendaraan roda empat. Pertanyaannya begini, "Seandainya kita berkecupan dan mampu membeli mobil, sementara itu juga masih memiliki motor dan sepeda. Saat hujan lebat, perut lapar, di rumah tidak ada sesuatu untuk dimakan jadi terpaksa harus pergi ke warung atau restoran, maka kendaraan manakah yang harus kita pakai?"

"Kan kita mang gak punya mobil?" seorang teman bertanya balik.

"Ku bilang apa? Se... an... dai...nya...! Ya pura-puralah! Siapa tahu kemudian hari kita mampu?"

Maka merekapun satu per satu memberikan jawabannya. Dari 8 orang teman saya itu hanya satu yang akan menggunakan roda empat untuk keluar di saat hujan lebat, alasannya biar tidak terkena hujan. Sementara yang lainnya memberikan jawaban yang hampir sama, enggan memakai mobil dengan alasan sama yaitu sayang kalau mobilnya kena hujan.

Saya terpingkal-pingkal menertawai mereka yang menjawab tidak pakai mobil. Akhirnya mereka ingin mendengar jawaban saya. Saya bilang, "Ya pakai mobil, dong. Kalau saya mampu beli roda empat artinya saya sudah lebih dari cukup, bukan orang miskin lagi. Kenapa harus lebih sayang sama mobil? Bukankah kesehatan kita lebih berharga? Mobil rusak ganti baru, kan orang kaya? Kalau tubuh kita yang rusak, percuma punya kekayaan, nggak bisa nikmati."

Mereka tertawa-tawa ramai, dan ada yang nyeletuk, "Dasar orang miskin, berkhayalpun ndak mampu."


 

 

Kamis, 05 Maret 2009

KISAH TIGA ORANG PERTAPA – 2


Saya tidak sabar ingin berbagi mengenai akhir dari cerita ini. Walau tidak banyak respon dari rekan-rekan, tapi saya akan tetap uraikan bagaimana kelanjutannya. Mungkin benar Kang Bahtiar dan Kang Semar bilang bahwa cerita ini sedikit berbau filosofis, tapi cukup untuk sekedar berbagi.


Nah begini kelanjutannya:


Hari ke empat pun telah datang. Tiba saatnya bagi ketiga murid pilihan itu menghadap Sang Maha Guru untuk mempertanggungjawabkan tugasnya.


Penthol, Penthil dan Pedhal telah berada di Ruang khusus Sang Maha Guru tepat pada waktunya.

Dengan penuh Wibawa Sang Maha Guru berdiri dihadapan mereka. Senyum menghiasi wajahnya tanda puas akan kecekatan dan kedisiplinan ketiga murid itu. Satu persatu dipandangi wajah muridnya. Lalu ia duduk di atas singgasananya. Dan berkata,”Aku tidak salah memilih kalian. Kalian memang patut diandalkan”


Sang Maha Guru mengelus Jenggotnya,”Sekarang aku ingin tahu apa dan di mana kalian dalam 3 hari 3 malam yang lalu.” berhenti sejenak, ”Penthol!” Pandangannya mengarah pada si Penthol, ”Dimana kamu telah bertapa? Dan tunjukkan buktinya!”


”Baik, Maha Guru.” Si Penthol mendekat ke hadapan Sang Maha Guru kemudian menyerahkan sesuatu dalam bungkusan kain.

”Ini adalah batu sisa letusan gunung berapi sebagai bukti bahwa saya telah bersemadi di puncak gunung berapi tertinggi di kepulauan ini. Saya hanya seorang diri di sana selama 3 hari 3 malam.” ujar Si Penthol, ”Tidak ada manusia selain saya seorang, Maha Guru!”


Sang Maha Guru menimang-nimang batu milik Penthol sambil mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan muridnya itu. Dan ia percaya. Kemudian meletakkan batu iu di atas meja yang berada di samping tempat duduknya. Kini giliran Si Penthil yang menjadi perhatian dari sorot matanya.
”Baik. Aku terima penjelasan Penthol. Bagaimana dengan kamu Penthil.” katanya kemudian


Penthol mundur ke tempat semula dan berganti Penthil mendekati Sang Maha Guru, sebuah bungkusan sedikit lebih besar dari milik Penthol diserahkannya.
”Ini batu karang, Maha Guru. Saya ambil dari dasar laut pulau bergoa itu. Saya menyelam sangat dalam untuk dapat bersembunyi dari manusia lain.” Penthil coba menjelaskan, ”Dan di sanalah saya bersemadi selama ini, sesuai perintah Maha Guru.”


Sang Maha Guru mendengarkan penjelasan Si Penthil seraya membuka bungkusan itu dan mendekatkan ke hidungnya dan terciumlah bau amis air laut. Batu karang itu masih belum kering. Ia pun kembali manggut-manggut, ”Kalian berdua telah melaksanakan tugas dengan baik.” Ia meletakkan batu karang itu ke atas meja.”Sekarang giliran kamu, Pedhal,”

Pandangan mata Sang Maha Guru beralih pada Si Pedhal, murid pilihan ketiga yang tampak paling kelelahan, tapi ia hanya membawa tangan kosong. ”Mana oleh-oleh mu buat aku?”


Si Pedhal tidak berani memandang wajah Sang Maha Guru. Ia tidak mampu megucapkan sepatah katapun. Kepalanya menunduk lesu.


”Pedhal!” Panggil Sang Maha Guru lagi, berlahan Si Pedhal mengangkat wajahnya, ”Apa yang kamu peroleh?”
Mulut Si Pedhal terasa kelu. Ingin berucap tapi tidak mampu. Bibirnya bergerak namun suara desispun tidak terdengar.


”Apa yang terjadi, Nak?” tanya Maha Guru lembut. ”Apa sebenarnya yang kamu hadapi sehingga kamu seperti ketakutan?”


Pedhal masih belum mengeluarkan suaranya.


”Kamu tidak perlu takut jika kamu memang gagal melaksanakan tugasmu. Tidak ada hukuman bagi kalian yang gagal.” Sang Maha Guru berujar sambil berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Si Pedhal yang kembali menundukkan kepala. ”Ayo, bicaralah!”


Nampaknya Suara Sang Maha Guru yang lembut berwibawa itu membangkitkan keberanian Pedhal untuk membuka suara. ”Maafkan saya Maha Guru!”

”Saya tidak bisa em....”Berhenti sejenak dan mulai berani memandang ke arah Sang Maha Guru yang kini berjongkok di depannya.”...saya tidak sanggup menjalankan tugas ini.”


”Ya... ya... ya..., aku tahu.” Sang Maha Guru menganggukkan kepalanya.”Aku lihat kamu tidak bisa membawa bukti dari tempat bersemadimu. Tapi kenapa?”


”Saya tidak bersemadi, Maha Guru.” Ucap Pedhal mulai menjelaskan. ”Sebab saya tidak menemukan tempat sesuai petunjuk Maha Guru.”


”Pedhal-pedhal...., bumi ini luas. Ada bukit dan lembah. Ada gunung dan lautan luas.”


”Saya sudah pergi kemana-mana, Maha Guru. Seluas bumi ini. Saya kerahkan semua tenaga saya untuk mencari tempat itu.” potong Si Pedhal.


”Dan kau tidak menemukannya?”


”Benar, Maha Guru. Perintah Maha Guru untuk mencari tempat bersemadi yang tidak terdapat manusia itu tidak ada. Karena semua tempat di mana saya pergi di situ ada manusia.” Jelas Si Pedhal. ”Saya masih manusia, Maha Guru. Jadi saya masih menemukan manusia itu dalam diri saya.”


”Cukup!” Kata Sang Maha Guru seraya berdiri dan berjalan mendekati Si Penthol dan Si Penthil. Dalam hati kedua murid itu merasa bahwa persaingan hanya tinggal berdua sebab Si Pedhal pasti gagal.


”Penthol dan Penthil,”

”Saya, Maha Guru.”

”Kalian berdua telah melaksanakan tugas dengan baik. Tapi kalian tidak cukup sempurna dalam memahami apa yang kuperintahkan.” Penthol dan Penthil memandangi Sang Maha Guru heran.


”Yang aku perintahkan saat itu adalah carilah tempat yang menurut kalian tidak ada manusia.” Sang Maha Guru mulai menjelaskan.


”Tapi saya pergi ke tempat sepi dimana...”Si Penthol menyela kata-kata Sang Maha Guru.

”Tidak ada manusia lain selain kamu, Bukan?” lanjut Sang Maha Guru.”Itulah kesalahan kalian. Kalian merasa paling sempurna sehingga kalian lupa bahwa kalian masih manusia seperti halnya aku juga.”


Sejenak tempat itu menjadi sepi. Penthol dan Penthil merenungi kembali apa yang diperintahkan Sang Maha Guru empat hari yang lalu. Merekapun mulai menyadari kesalahannya masing-masing. Tapi Si Pedhal belum merasa menang.

Sang Maha Guru berjalan kembali ke singgasananya dan duduk. Ia kembali memperhatikan ketiga murid yang menundukkan kepalanya itu lalu berkata, ”Bagaimana, Penthol dan Penthil? Apakah kalian sudah mengerti maksudku?”


Penthol dan Penthil pun mengangguk.


”Jadi, sekarang juga aku putuskan bahwa Pedhal pantas menjadi wakilku. Karena ia telah menjalankan tugasnya sebelum melakukan apa yang kuperintahkan.”


Nah, itulah akhir ceritanya. Sederhana, bukan? Semoga ada makna yang bermanfaat bagi kita sebagai manusia.


Baiklah, menanggapi komentar teman-teman yang sudah membaca pada bagian pertama dan telah menebaknya.


Pertama, untuk Kang Seno semoga cepet bisa bangun WC sendiri jadi tidak selalu ke WC umum, xhi..xhi..xhi...!


Kedua untuk Suwung terima kasih sudah gabung di sini, jawabanmu benar, saya hargai tebakanmu karena apa yang ada dipikiranmu sama dengan Si Pedhal yang akhirnya menang.


Untuk Phiy jangan pernah ada kata mungkin, ya? Sebab pemahamanmu sudah pasti. Jadi semangatlah, jangan suka ngantuk lagi, OK?


Karena hampir semua jawaban benar maka, tiket nonton Pemilu 2009 tidak jadi dicetak. Dan lagi, kita semua kan ikut main di sana-jangan sampai ada yang ketinggalan, walaupun mungkin kita sudah jenuh menjalani sistem demokrasi di negeri ini. (Wah jadi kampanye anti GOLPUT Nih!)


OK. Tunggu posting saya besok, pasti lebih seru dan menjijikkan. He...he...he....

Selasa, 03 Maret 2009

KISAH TIGA ORANG PERTAPA


Kisah ini pernah saya dengar dari seorang guru Bahasa Jawa sewaktu SMA dulu. Kini saya akan coba ceritakan kembali dengan versi sedikit berbeda, nanti kawan-kawan saya minta menebak lanjutan ceritanya. Baik, sudah siap?

Yah, apa jawaban anda?

Oh, belum ya?


Begini kisahnya:

Pada sebuah padepokan di negeri Entahkapan sedang mengadakan ujian praktek bagi 3 orang murid senior. Ujian ini dimaksudkan untuk mencari seorang pengganti dari wakil si Maha guru yang melarikan diri gara-gara kecantol partai politik dan siap menjadikannya caleg. Sang Maha Guru segera melakukan tindakan yang tepat untuk mengisi kekosongan jabatan itu dengan memilih 3 orang murid yang berprestasi untuk diseleksi.


Pada suatu petang Sang Maha Guru memanggil 3 murid pilihannya yaitu Si Penthol, Penthil dan Pedhal untuk menghadapnya. Ketiga murid itu merasakan ada sesuatu yang sangat penting, karena tidak biasanya Maha Guru memanggil muridnya secara khusus.


Setelah ketiga murid tersebut berada di ruang pertemuan Sang Maha Guru berkata,”Kalian aku panggil kemari karena aku merasa harus ada pengganti Pedhet, wakilku yang durhaka itu. Tapi hanya satu dari kalian bertiga yang terpilih melaui satu ujian kecil yang harus kalian lakukan.”


Sang Maha Guru mengucapkan kalimatnya dengan penuh wibawa. Para murid menunduk penuh hormat.


“Apakah kalian siap melakukan tugas ujian ini?,”

“Siap, Maha Guru!” Sang Murid menjawab bersamaan.

“Dan jika terpilih, kalian sanggup melakukan tugas sebagai wakilku?”

“Sanggup.”


Sang Maha Guru diam sejenak sambil memperhatikan ketiga muridnya yang sedang menunggu apa gerangan yang hendak diperintahkan.


“Yang harus kalian lakukan adalah bertapa selama 3 hari 3 malam. Kalian harus mencari tempat sendiri-sendiri, carilah tempat yang menurut kalian tidak ada manusia, dan bertapalah kalian di sana. Setelah itu kalian harus menghadap aku pada hari ke empat dengan membawa barang bukti dari tempat kalian bertapa.” Demikian perintah Sang Maha Guru didengarkan baik-baik oleh murid-muridnya itu.


“Kapan kami mulai, Maha Guru?” Tanya Si Pedhal.

“Apakah kalian mengerti petunjuk dari perintahku tadi?”

“Ya, kami mengerti!”

“Sekarang juga kalian bisa memulai dan ingat, hari keempat dari sekarang kalian menghadap aku di tempat ini pada waktu yang sama!”


Maka pergilah ketiga murid pilihan itu untuk menjalani ujian.


Si Penthol dengan pemikiran cerdasnya segera pergi ke puncak gunung tertinggi di kepulauan itu. Ia yakin bahwa di sana pasti tidak ada manusia selain dirinya. Dan malam itu juga ia telah sampai di tempat yang ditujunya menggunakan ilmu angin ngebut andalannya.


Demikian pula dengan Si Penthil, dengan kelebihannya menyelam di laut ia segera pergi ke sebuah goa di tengah-tengah pulau karang. Ia yakin manusia tidak akan bisa sampai ke tempat itu tanpa kemampuan menyelam, karena goa itu hanya bisa dimasuki melalui lobang di bagian bawah pulau karang kemudian menyusuri lorong itu hingga sampai bagian atas pulau yang terdapat goa tanpa air. Malam itupun dia telah berada di sana.


Tapi lain bagi Si Pedhal, dengan kemampuan anuraga yang melebihi kedua rivalnya tanpa berpikir panjang segera melesatkan tubuhnya untuk pergi mendahului mereka. Tapi sejauh apapun ia pergi ia merasa tidak menemukan tempat untuk bertapa sesuai dengan perintah Sang Maha Guru. Dan selama tiga hari tiga malam ia tidak melaksanakan tugasnya untuk bertapa, yang ia lakukan hanya mencari dan mencari.


Sampai di sini dulu ceritanya, tugas kalian yang membaca adalah menebak kira-kira siapa dari ketiga murid itu yang lolos dalam ujian? Lalu apa alasannya? Mudah bukan?


Ada hadiah bagi penebak yang benar. Hadiahnya, tiket VIP untuk 2 orang nonton Pemilu 2009.


Baik, saya tunggu jawabannya.

Selasa, 24 Februari 2009

MIMPI SEMALAM


Sejenak setelah menyelesaikan tugas-tugas hingga jam 4 pagi aku tertidur di atas kursi panjang ruang tamu. Seorang teman karib semasa SMA tiba-tiba hadir dalam mimpi kesiangan itu. Dia serupa dulu saat kami masih bersama-sama dalam suka dan duka. Wajah, senyum, nada bicara dan perangainya yang sok diplomatis dengan rambut tebal menutup telinga.


Entah dimana kami bertemu, kurasa tiba-tiba saja ia berada di sampingku dengan membawa sepeda BMX berwarna putih perak mengkilap. Kamipun bersepeda bersama di sebuah tempat entah berantah yang sama sekali asing buatku. Kami saling berlomba. Sesekali aku berada di depannya, terkadang ia dengan penuh semangat berusaha mendahuluiku dan ketika berhasil ia mengolok-olokku. Dan kamipun terus bersukaria sepanjang jalan yang kanan kirinya dipenuhi tumbuhan nan hijau menyegarkan.


Suatu saat kami kelelahan dan berhenti untuk beristirahat di sebuah warung bambu kecil di pinggir jalan. Kami membeli 2 gelas dawet dan meminumnya sambil duduk berselonjor di atas tanah berumput di luar warung.


Jalanan itu sangat sepi, hanya beberapa orang saja lalu lalang melewatinya. Sementara suasana masih sangat pagi. Terlihat kabut samar-samar menyelimuti alam sekitar. Berkas-berkas embun tampak membasahi jalanan beraspal yang membentang di depan kami.


Diantara istirahat itu aku sempat menanyakan kabar bapak dan ibunya. Dan masih seperti dulu, gaya bicaranya yang acuh menjawab sekenanya. Lalu kami berbincang-bincang entah tentang apa. Yang bisa aku ingat dalam mimpi itu adalah pertanyaan tentang kabar kedua orang tuanya.


Setelah minum dawet kami kembali ke jalan dan berlomba. Tiba-tiba ia meninggalkan aku tanpa mengolok-olok lagi seperti tadi. Dengan sangat kuat ia kayuh sepeda kecil yang jauh lebih bagus dari punyaku itu. Akupun tak kuasa mengejarnya. Ia terlalu jauh meninggalkan aku padahal jalanan yang kini kami lalui penuh dengan tanjakan dan tikungan. Nafasku semakin terengah-engah. Kakiku terasa berat mengayuh jalan yang terus menanjak. Temanku itu sudah menghilang.


Pada saat-saat aku sudah hampir putus asa untuk mengejarnya aku tiba pada sebuah pertigaan jalan mirip huruf Y. Aku tidak tahu kemana arah yang diambil temanku itu. Jalan ke arah kiri menurun tapi jalanan nampak halus, dan arah kanan masih menanjak dan terjal bahkan semakin tinggi dan lurus hingga tampak sebuah puncak yang jauh sekali pada ujung jalan.


Dalam mimpi itu sepertinya aku tidak peduli kemana arah yang diambil temanku, dan akupun tidak tahu kenapa aku memilih arah ke kanan. Aku tidak lagi ingin mengejarnya. Akupun tidak tahu apa yang aku inginkan.


Aku dibangunkan karena hari sudah siang, dan harus kembali kerja. Terkejut aku seketika itu, aku masih merasakan kelelahan yang amat sangat. Dengan masih duduk terpekur aku berusaha mengingat-ingat mimpi dalam tidur yang hanya beberapa jam saja itu. Aku jadi teringat masa-masa bersama temanku yang ada dalam mimpi tadi.
Dulu, ia memang orang yang ulet dalam belajar. Kami selalu saling berlomba meraih prestasi. Ia giat dan tekun walau keadaan kedua orangtuanya yang tidak lebih dari kedua orang tuaku. Adik-adiknya masih kecil. Jalan kami memang berbeda. Ia memilih melanjutkan ke perguruan tinggi negeri di Malang meskipun 2 orang adiknya yang terpaksa harus berhenti sekolah, sementara aku memutuskan untuk tidak kuliah agar kedua adikku bisa menlanjutkan sekolahnya. Semenjak itu kami berpisah.


Sepuluh tahun yang lalu aku mencoba mengunjungi kedua orangtuanya yang sudah kuanggap sebagai orang tuaku. Aku betul-betul terhenyak melihat perkembangannya. Rumah yang dulu awut-awutan kini tertata rapi dan nampak bagus. Semula aku takut keliru melihatnya, tapi ternyata tidak. Kuberanikan diri untuk mencoba masuk. Dan benar rumah itu adalah rumah yang dulu, tapi sudah banyak direnovasi.


Kedua orangtua temanku itu seperti terharu melihatku, ada butir-butir air mata yang seakan tertahan. Kamipun akhirnya bercengkerama, aku lebih banyak mendengar kisah anak-anaknya termasuk temanku itu. Ternyata ia telah sukses, menjadi dosen pada sebuah perguruan tinggi di luar jawa dan berhasil mengembalikan adik-adiknya yang dulu ia korbankan ke bangku sekolah. Yang masih kuingat saat pertemuan itu, mereka mengatakan bahwa aku masih seperti dulu.


Ya memang, aku belum berubah setelah 9 tahun lulus SMA. Tapi kini aku sudah berubah. Aku malu bertemu mereka, itulah perubahannya.

Tentang mimpi semalam, aku tidak tahu apa maksudnya. Biasanya, bagiku mimpi hanyalah bunga tidur. Tapi kini serasa ada yang harus aku ketahui tentang temanku dan keluarganya. Kalau ada waktu aku pasti datang berkunjung. Semoga kabar baik dari mereka.

Senin, 26 Januari 2009

FANATIK YANG BERLEBIHAN

Pernah dengar kata fanatik? Sebenarnya saya sendiri tidak begitu faham dengan definisi yang sebenarnya. Menurut pengalaman saya fanatik mungkin berarti mempercayai sesuatu secara berlebihan.



Saya memiliki pengalaman yang menggelikan dengan kata "Fanatik" tersebut. Begini ceritanya, setelah saya menekuni karier jadi tukang foto di rumah selama 5 tahun-pelanggan saya mulai bertambah banyak. Dari kalangan anak-anak sampai nenek-nenek. Mulai dari tukang becak sampai CALEG pun ada. Berbagai macam type manusia telah saya layani, mulai yang sabar sampai yang pemarah.



Saat itu kira-kira 1 tahun yang lalu ketika sedang musim perekrutan PNS-Guru. Seorang pelanggan saya yang juga calon PNS meminta layanan saya dalam membuat Pas Photo untuk keperluan pengajuan PNS-nya. Tempat tinggalnya dari rumah saya sekitar 10 menit dengan menggunakan motor.



Pagi-pagi sekali Ibu ini datang ke rumah bersama beberapa orang temannya untuk berfoto. Dan saya pun melayani mereka sesuai dengan komitmen saya yaitu memberikan layanan foto digital langsung jadi. Ketika saya tawari untuk dibuatkan CD-data fotonya mereka tidak mau, dengan permintaan cetak yang cukup banyak menurut mereka sudah tidak mungkin kurang.



Setelah selesai mendapatkan foto-foto untuk persyaratan merekapun langsung berangkat ke kota kabupaten tempat penyetoran persyaratan pengajuan PNS tersebut. Dan saya-pun bersiap-siap untuk pergi kerja. (usaha foto di rumah hanya sambilan).



Tengah hari kira-kira jam 11 siang, istri saya telpon agar saya pulang sebentar karena ibu-ibu guru calon PNS yang pagi tadi itu datang lagi untuk minta dicetakkan foto lagi.
"Lho katanya tadi sudah kebanyakan kok masih kurang?" Tanya saya heran.



"Foto yang tadi lebih, ada tambahan permintaan Foto Hitam Putih!" Jawab istri saya.



Ini baru namanya aneh, lha wong di kota kabupaten banyak studio foto besar yang memberikan pelayanan foto kilat dengan fasilitas yang lebih komplit-kok masih balik lagi ke tempat saya yang jaraknya sekitar 30 km.



Saya jadi bertanya-tanya apa ibu-ibu ini tidak pernah ke kota, jadi tidak tahu kalau sekedar untuk foto kilat saja mereka tidak mungkin kesulitan?



Akhirnya saya pun pulang, kebetulan tempat kerja saya tidak jauh hanya 2 menit jalan kaki (kurang lebih 100 m dari rumah).
Sampai di rumah saya coba tanya pada ibu-ibu tersebut.
"Kok ndak Foto di dekat-dekat sana aja, Bu? Kan banyak studio foto digital kilat, bagus-bagus lagi?"



"Waduh, mas. Kami merasa ndak pas kalau ndak foto di sini. Sudah kadung suka di sini. Cepat dah, mas! Kami harus balik lagi."
"Ndak usah difoto lagi, data-nya kan masih saya simpan. Biar itu saja yang dibikin hitam putih. Biar cepat."



"Wah iya, ndak ingat. Tahu gitu kan cukup satu orang aja yang datang?"



Mereka tertawa kompak. Istri saya tiba-tiba nyeletuk,"Makanya jangan terlalu fanatik sama foto di sini, bu?"



Mereka tertawa lagi. "Iya, Mbak. Memang ndak enak kalau ndak foto di sini."



Nah, kalau kejadian ini bisa disebut sebagai akibat kefanatikan seseorang terhadap sesuatu, saya jadi berfikir bahwa fanatik kadang-kadang menyesatkan dan merugikan apalagi fanatik terhadap hal-hal yang sederhana seperti ini. Coba kalau mereka tidak fanatik, mereka pasti tidak perlu tambah ongkos bensin dan waktu mereka tidak terbuang. Iya-Tidak?