Tampilkan postingan dengan label Anekdot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anekdot. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juli 2009

BEBERAPA HARAPAN

Pilpres telah digelar hari ini. Hari-hari sebelumnya sempat terdengar di telinga saya beberapa harapan terlontar dari beberapa mulut. Harapan tersebut antara lain:

  1. 1.   Orang Miskin (yang paham P-4) berharap :
    1. Semoga presiden terpilih nanti benar-benar mampu memimpin bangsa ini ke arah kesejahteraan rakyatnya sesuai dengan amanat UUD’45 dan Pancasila.
  2. 2.   Orang Miskin (yang awam) berharap :
    1. Semoga presiden terpilih nanti bisa menyulap yang miskin jadi kaya, tanpa kekurangan.
  3. 3.   Pengusaha berharap :
    1. Semoga presiden terpilih nanti bisa memperjuangkan hak-hak dagang dan memperkecil pajak ekspor impor serta tidak berpihak pada buruh saja sehingga usahanya tidak pernah merugi.
  4. 4.   Kaum Buruh (pinter) berharap :
    1. Semoga presiden terpilih bisa memperjuangkan hak-hak buruh dan memperkecil pajak ekpor-memperbesar pajak impor sehingga bosnya untung dan gaji buruh meningkat.
  5. 5.   Pekerjanya TPS yang tidak pernah bersyukur berharap :
    1. Semoga Ada Pilpres putaran kedua.
  6. 6.   Orang awam yang bijaksana berharap :
    1. Semoga PILPRES tahun ini sukses tanpa banyak kendala, tidak ada pertikaian mengenai hasil penghitungan. Pokoknya semua lancar dengan presiden terpilih sesuai dengan harapan seluruh rakyat Indonesia. Tentunya tidak ada putaran ke-2, sekali saja cukup. Dan Lanjutkan perjuangan….

Sabtu, 18 April 2009

JADI CALEG

Pemilu legislative tahun 2009 sudah berlalu. Tapi suasananya masih hangat. Hangatnyapun bukan hangat-hangat tahi ayam, tapi hangatnya pisang goreng yang enak untuk dinikmati saat keadaan di luar sana hujan.


 

Beberapa teman asyik membincangkan suasana pemilu tersebut. Ada yang mengkritik pelaksanaannya. Ada yang membicarakan kemungkinan hasil akhirnya. Ada yang mengunggulkan partai idolanya. Ada pula yang menyesalkan para caleg yang dimungkinkan "gila" ketika kalah. Dan banyak lagi yang lainnya. Giliran saya yang bicara malah bikin mereka semua terpana.


 

Saya bilang, "Saya akan maju jadi caleg tahun depan."


 

Ada yang dukung, "Siiip, Mas. Saya dukung. Sampeyan sudah populer lho!"


 

Ada yang heran, "Kayak katak merindukan bulan. Jangan mimpi!"


 

Ada yang tanya, "Sudah siap gila?"


 

Saya jawab, "Saya jadi caleg, bukan cagil. Calon legislatif bukan calon orang gila"


 

Ada yang Tanya lagi,"Sudah kaya? Seberapa banyak uangmu buat nyangoni rakyat, biar mereka mau memilih."


 

Saya jawab,"Aku bukan mau nyangoni rakyat, aku kan wakil rakyat, ya mereka harusnya yang nyangoni aku. Aku kan mau jadi pembawa suara mereka di DPR, ya mereka yang harusnya memperjuangkan suara agar aku terpilih. Aku kan yang nantinya memperjuangkan nasib mereka, ya merekalah yang harus memperjuangkan agar aku bisa duduk di kursi parlemen. Mereka semua harus menggalang dana dan suara agar aspirasi mereka tersampaikan. Jadi kenapa aku harus jadi orang kaya dulu untuk maju caleg. Dan aku tidak akan pusing-pusing cari pinjaman uang pada rentenir hanya untuk menang. Dan aku pasti menang tahun depan, sebab tidak ada pesaingnya,"


 

Ada yang kecewa, "Yaaa memang, tahun depan mana ada pemilu legislatif?"


 

Saya bilang, "Nah.... ini baru benar!"


 

Selasa, 14 April 2009

TAKUT DENGAN BARANG BARU

Awal bulan ini instansi tempat saya bekerja ada staf baru. Seorang wanita yang masih pantas disebut gadis belia. Cantik. Berkacamata. Drop out dari sebuah PTS entah jurusan apa. Dari angin lalu yang berhembus mulut ke mulut terdengar kabar bahwa dia ini terpaksa mrotol kuliahnya karena kekurangan biaya. Dan masuknya karena ada kemudahan sebab sang bapak adalah sopir pribadi dari salah satu investor. Ada kolusi, begitulah kira-kira.


 

Peraturan tentang kepegawaian yang mengatur kedisiplinan di kantor ini sangat kurang perhatian para pegawainya. Rata-rata mereka seenak udel-nya sendiri datang dan pulang kerja. Datang selalu kesiangan, pulang sebelum waktunya. Kebiasaan buruk untuk sebuah institusi swasta yang memberikan pelayanan kepada masyarakat.


 

Kalau saya, bisa dibilang pekerja VIP. Artinya lebih seenaknya sendiri datang dan pulang kerja. Tapi waktu kerja justru melebihi siapapun. Kadangkala datang sebelum pintu utama dibuka, bahkan lantainya belum disapu. (Karena tukang nyapunya saya sendiri) Pulang juga ketika yang lain mungkin sudah pada ngorok. Seolah-olah institusi ini milik saya pribadi. Yang pasti kegiatan saya sehari-hari tidak akan membuat yang lain iri hati. Sebab apa yang saya lakukan tidak bisa mereka kerjakan. Itu kelebihannya. Gaji yang saya terima pun harusnya setingkat para menejer. Ini yang penting bagi saya, pendapatan.


 

Walau VIP, sebenarnya saya bukan apa-apa. Karena jabatan menejer mempunyai kualifikasi minimal lulusan D3. Jadi pada struktur organisasi pastilah nama saya tidak nampak. Jebolan es-em-a tidak ada pada standar minimal. Saya hanya bekerja di belakang layar. Jadi sutradara, tapi setingkat cleaning servise. Wah jadi curhat nih.


 

Kebiasaan buruk yang sesuka hati itu seperti penyakit kronis yang tidak pernah bisa disembuhkan. Kalaupun ada tindakan, paling banter satu atau dua hari saja tertib, sisanya kembali ke zaman purba.


 

Dengan diperkerjakan tenaga baru - si gadis cantik itu - tiba-tiba saja kedatangan para staf terlihat tertib. Kebiasaan ngaretnya hilang sama sekali. Waktu pulangpun, sesuai dengan peraturan yang ada. Selidik punya selidik, e...e... ternyata si gadis baru ini adalah kaki tangan bos besar yang punya tugas mencatat secara manual siapa saja yang suka datang terlambat dan pulang mendahului.


 

Ketika istirahat siang, dalam sebuah pergunjingan kebetulan saya ikut ngumpul. Mereka asyik ngrasani si gadis kaki tangan bos ini. Saya nyeletuk sesuka hati,"Peraturan ndak ditakuti, sama barang baru malah takut...."

Minggu, 12 April 2009

MEMBANTU PEMERINTAH

Seorang teman yang kebetulan adalah PNS, datang ke rumah minta tolong scan foto-foto untuk dijadikan file. Sesuai kebijakan pelayanan saya, sebenarnya saya tidak menerima layanan scan saja, tapi cetak foto dari memori, HP, kamera digital termasuk scan (pindai).


 

Saya minta maaf sama dia karena tidak bisa bantu. Pekerjaan lain masih banyak. Foto-foto yang dibawanya cukup banyak. Lebih seratus lembar. Kalau saya putuskan untuk mengerjakan pasti saya dibilang tidak bijak karena yang lain saya tolak. Dengan argumen ini saya berusaha untuk menolaknya.


 

Tapi nampaknya teman saya ini tidak bisa terima alasan saya. Ia mau bayar berapa saja, sebab ini urusan administrasi di tempat kerjanya. Ia merayu saya sambil mengatakan,"Ayolah, tolong. Apa salahnya membantu pemerintah?!!!"


 

Sambil tersenyum saya balas menjawab,"Apa gak salah, pemerintah kok dibantu? Bukankah kalian yang harusnya melayani rakyat?"


 

He...he... he ... kalau dia ini bukan teman, saya pasti tidak berani bercanda begitu. Bisa kena pasal subversif barangkali.

Rabu, 01 April 2009

AIR MATA

Sebuah negara kaya raya berbendera warna pelangi, namanya Republik Warna Warni. Pada agenda tahun ini pemerintahnya sedang memulai suatu kebijakan baru yaitu menyelamatkan manusia dari kemiskinan dan penderitaan. Sang presiden menyebarkan untusannya untuk membuat survei ke seluruh bangsa-bangsa di dunia.


 

Tujuan daripada survei ini adalah untuk mengetahui apa barang termurah dan termahal. Hasil survei itu akan menentukan bangsa mana yang perlu pertolongan agar harganya turun dengan cara membeli barang dari negara lainnya yang memiliki harga paling murah kemudian memberikan secara cuma-cuma. Survei yang dilakukan berdasarkan fakta dan data-data valid pada 10 tahun terakhir.


 

Tiga bulan masa survei telah berakhir. Para utusan telah kembali. Saatnya mereka menyampaikan laporan hasil surveinya masing-masing. Tiba pada giliran utusan yang ditugaskan ke Indonesia untuk menyampaikan laporan, Sang Presiden tercenung bagai patung mendengarkannya.


 

Apa yang termahal dan termurah di negeri ini berdasarkan fakta dan data pada sepuluh tahun terakhir adalah sesuatu yang diluar dugaan. Sembilan puluh sembilan persen harga barang tergolong paling mahal, mulai dari pulsa sampai mobil, bahan pangan dan obat-obatan bahkan hasil pertanian sendiripun seringkali sulit dibeli masyarakatnya. Dan barang yang paling murah hanya satu yaitu air mata.


 

Sesuai data yang diperoleh, bangsa ini seringkali membuang-buang air matanya karena penderitaan yang disebabkan oleh fenomena alam dan ketamakan manusia. Data lengkap tentang kerusuhan-kerusuhan, pembunuhan masal, demontrasi brutal, bom Bali yang tidak cukup sekali dan ironisnya didalangi oleh anak bangsa sendiri, korban tsunami paling banyak. Dan sebagainya dan sebagainya. Kemudian terakhir adalah korban luluh lantaknya penduduk Situ Gintung pada 27 Maret 2009 kemarin.


 

Murahnya air mata itu tidak mungkin dibeli oleh Republik Warna Warni. Hanya Tuhan yang mempu menghapusnya. Begitu pikir Sang Presiden.

Senin, 30 Maret 2009

REST ROOM

Inilah akibatnya jadi pemalas. Masa sekolah dulu, saya alergi dengan Pelajaran Bahasa Inggris. Ironis, sebab waktu SMA saya mengambil jurusan Budaya-waktu itu popular dengan sebutan jurusan A-4. Akibatnya saya adalah murid terbelakang di bidang ini. Untung masih bisa lulus dengan hasil ujian 5. Wah rekor! Setelah lulus, semua baik-baik saja. Tidak terasa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa bulan kemudian barulah saya mulai menyesali kebodohan itu. Saat saya jadi abang bakso si Pulau Dewata Bali. Hancur lebur telinga ini bila yang makan bakso turis asing. Kalau saja rombong baksonya enteng, mungkin saya langsung kabur melarikan diri.


 

Memang penyesalan selalu datang belakangan, persis polisi dalam sinetron Indonesia yang hadir setelah si penjahat bertekuk lutut oleh kepahlawanan tokoh protagonisnya. Karena ketidakmampuan berbahasa asing saya dibikin malu oleh ulah sendiri, malunya juga pada diri sendiri. Konyol.


 

Begini ceritanya.

Hari itu adalah hari ketiga saya berada di negeri jiran Malaysia. Sudah menjadi kebiasaan saya kalau di tempat baru selalu sulit untuk dapat tidur. Pada malam kedua saya masih belum bisa memejamkan mata. Padahal keesokan harinya ada acara briefing pada sebuah hotel di KL. Pagi-pagi ketika bus jemputan datang, saya merasakan kantuk yang luar biasa. Dalam perjalananpun saya tidak bisa memejamkan mata. Setelah berada dalam ruang pertemuan yang ber-AC rasa kantuk itu semakin tidak bisa ditahan. Sebentar-sebentar kepala saya hilang keseimbangannya. Teklak tekluk seperti mau patah. Karena duduk paling depan akhirnya saya merasa sungkan pada si ibu pembicara. Saya benar-benar tidak bisa mengerti isi pembicaraannya karena serangan kantuk itu.


 

Beberapa saat kemudian saya coba tengok sana tengok sini, mungkin ada jalan keluar untuk bisa merokok sebentar. Tapi pintu keluar selain pintu masuk tidak ada. Tapi pandangan mata saya menemukan sebuah pintu yang tertuliskan Rest Room. Segera otak saya yang tidak mampu menyimpan bahasa Inggris dengan benar ini mulai mereka reka apa artinya. Dalam pengartian harafiah saya, Rest artinya istirahat dan room
adalah ruang atau kamar. Nah ini dia yang saya cari, "Ruang istirahat." Apa salahnya dicoba. Barangkali bisa melepas kantuk sejenak.


 

Dengan tanpa ragu-ragu saya berdiri minta ijin sebentar. Si Ibu pembicara mengijinkan. Dan segera saya pergi ke Rest Room itu dengan penuh percaya diri. Sayapun buka pintu dan masuk. Tapi apa yang saya dapatkan di dalam sana bukan seperti apa yang saya bayangkan. Ruangan itu lebar dan masih ada sekat-sekat berpintu lagi. Saya segera buka pintu salah satu sekat, wah ternyata bukan tempat tidur yang ada melainkan tempat duduk yang tengahnya lobang, alias WC. Waduh, dasar tolol. Tapi ngantuknya hilang karena malu pada diri sendiri.

Sabtu, 28 Maret 2009

RAMALAN MASA SILAM

Jika saya melihat jalanan yang terbentang. Lalu lalang kendaraan bermotor seperti tidak terkendali. Jumlahnya setiap tahun bahkan setiap hari bertambah banyak. Orang-orang yang mengendarainyapun terkadang nampak hanya mampu mengemudi tapi tidak tahu bagaimana menjadi pengemudi yang benar. Kecelakaan sering terjadi dikarenakan kelalaian demi kelalaian para pengendara itu. Tak jarang kejadian itu membuat nyawa mereka melayang sia-sia. Bahkan orang yang berusaha berhati-hatipun bisa menjadi korbannya.


 

Tidakkah kita pernah berfikir bahwa kendaraan bermerk asing yang kita kendarai ini adalah senjata pembunuh yang paling ampuh? Kebetulan rumah tempat tinggal saya tepat berada di pinggir jalan raya. Hampir setiap minggu terjadi kecelakaan di sepanjang jalan itu. Dari beberapa kecelakaan bahkan memakan korban jiwa. Tragis. Kendaraan yang tadinya bertujuan untuk sarana yang mempermudah aktivitas kita, justru mempercepat kita kembali ke alam baka.


 

Mengamati merek-merek kendaraan itu, saya jadi teringat sebuah cerita tentang Jepang saat berpamitan untuk pulang dari Indonesia karena kalah perang dengan sekutu. Kita masih ingat bukan, pada tahun 1945 Jepang yang sebelumnya merajalela hampir di seluruh jagat ini akhirnya menyerah kalah. Dua mercon raksasa terbuat dari atom yang terkenal dengan BOM ATOM dihadiahkan secara cuma-cuma oleh sekutu. Dua kota besar di negeri matahari terbit itu luluh lantak rata dengan tanah. Ribuan nyawa sia-sia melayang. Penduduk tidak bersalah jadi korban kekejaman letusan petasan raksasa itu.


 

Setelah merasakan kekalahan yang tidak terhitung jumlahnya itu akhirnya Jepang menyerah kalah. Sebelum pulang ke tanah airnya yang hancur itu seorang Jepang mengatakan,"Jangan bersuka cita dulu, hai kau orang-orang jajahan. Kini kamu boleh bersorak-sorak bergembira karena kekalahanku. Tapi ingat, Jepang akan datang kembali untuk menjajah kalian tanpa harus memakan korban nyawa dari rakyatku. Kalian akan menikmati kematian demi kematianmu."


 

Kendaraan-kendaraan roda dua hingga roda empat yang kini sering memakan jiwa bangsa kita adalah bukti dari ucapan itu. Tragedi yang tidak pernah kita sadari. Kita telah dijajah dengan kenikmatan berkendara. Matipun tidak terasa.