Tampilkan postingan dengan label Apa adanya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Apa adanya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Oktober 2009

Enggan Berhitung

Ketika mainan dunia maya tak sengaja menemukan sebuah inspirasi yang menarik, Begini :


"Orang Pintar cenderung banyak menghitung, sehingga takut memulai usaha. Orang bodoh tak pandai berhitung, sehingga dia Mulai saja memBUKA usaha" Jaya Setiabudi


Wah saya jadi bangga dibilang bodoh, tapi yang jelas bukan secara harfiah kita mengartikannya. Ada makna yang lebih dari kalimat tersebut.


Satu contoh nyata pernah saya alami, sebagai orang gajian dengan gaji minim kalau dipikir rasional saat itu saya tidak mungkin bisa kredit motor baru apalagi beli kontan. Kalau mau nabung pun harus nunggu sekitar 5 tahun. Nah, ketika masa nabung sudah sampai target, harga motor sudah naik seiring kenaikan harga barang-barang, maka uang tabungan masih tidak cukup.


Saya tidak perlu menunggu 5 tahun untuk bisa punya motor. Tahun 1997, harga motor baru paling murah masih dibawah 5 juta. Saya coba tabung gaji saya selama 6 bulan, tiap bulan dis impan 150 ribu. Karena masih nebeng orang tua, gaji sebesar 150 ribupun cukup ditabung saja. Lalu, setelah dirasa masa 8 bulan tabungan saya menjadi sekitar 1 jutaan lebih. Harga kredit motor saat itu masih mahal. DP saja minimal 1 juta, cicilannya 180 ribuan. Nah gaji saya gak cukupkan bayar cicilan?


Sekema ini tidak membuat saya mundur. Kebetulan, saat itu saya punya banyak teman yang baru lulus sekolah tapi nganggur. Muncul ide "bodoh" dari otak saya untuk mengajak mereka bekerja bareng-bareng. Tabungan saya ambil, saya pergi ke dealer motor untuk mendapatkan motor kreditan. Sisa dari uang tabungan untuk DP motor yang 6 bulan tadi saya buat modal bikin usaha kecil-kecilan jualan jagung bakar (saat itu di kota kecil saya belum ada jagung bakar beraroma).


Ide "Bodoh" saya (jualan jagung bakar) berkembang hanya dalam waktu 6 bulan. Saya tidak terlalu dipusingkan uang cicilan lagi. Bahkan ada kelebihan penghasilan. Dan saya sudah menambah beberapa produk jualan (roti bakar dan minuman). Teman-teman saya belikan seragam berupa kaos dan jaket. Luar biasa memang walau pada tahun 1999 harus gulung tikar karena tragedi perpolitikan dan krisis ekonomi. Tapi saat itulah saya pertama kali sudah dipanggil "Bos".

Senin, 05 Oktober 2009

Dari Titik Awal Tapi bukan Nol

 

 

 

Sangat lama sekali saya tidak bikin psoting. Ini berkaitan dengan keadaan off line saya yang benar-benar sibuk, sehingga saya harus memilih mana yang harus menjadi prioritas utama untuk dikerjakan.

 

Sehubungan dengan itu, jelas yang utama adalah kewajiban.

Sejak pertengahan Agustus hingga akhir lebaran tahun ini, adalah kesempatan yang harus saya gunakan untuk menyeselaikan tugas di tempat kerja dan setelah itu Bye-Bye. Karena saya sudah punya sekema untuk menekuni usaha sendiri. Ini memang cita-cita saya yang lama terpendam. Kini tinggal selangkah lagi, maka akan saya mulai berpenghasilan tanpa harus jadi pekerja sebuah korporat. Inilah kebebasan saya untuk memulai tapi bukan dari nol, sebab modal kemandirian telah saya miliki. Nekat……!

Sabtu, 19 September 2009

Selamat Lebaran

Lebaran RCO

Senin, 27 Juli 2009

AIR

Seharusnya musim ini adalah kemarau, tapi siapa sangka hujan datang juga. Dua hari lalu sejak pagi hingga malam bahkan sampai keesokan harinya hujan terus mengguyur. Walau tidak terlalu deras, cukuplah itu membuat badan jalan depan rumah tergenang air.

Hampir tujuh belas tahun saya tinggal di tempat ini tapi saya tidak pernah tahu jalan raya yang membujur arah barat timur itu lebih tinggi mana. Dari aliran air ini saya jadi mengerti, ternyata arah ke barat memiliki dataran yang lebih rendah dari timur. Padahal menurut perasaan adalah sebaliknya.

Air yang menggenang di pinggir aspal karena hujan yang tidak berhenti hampir 24 jam itu perlahan mengalir ke timur searah jalan raya.

Ya, air selalu mengalir mencari tempat yang lebih rendah. Dia akan berhenti ketika tidak lagi ditemuinya tempat yang lebih rendah lagi. Tentunya jika sudah tidak ada lagi lobang yang bisa dilaluinya.

Alangkah fleksibelnya air. Dimanapun tempatnya, ia selalu bisa menyesuaikan diri. Seperti apapun bentuk wadah yang ia tempati senantiasa bisa diikutinya dengan sukarela. Dalam diamnya ia tenang dengan keseimbangan yang sempurna.

Saya jadi berfikir, seandainya ada seorang pemimpin yang bisa seperti air bersih. Selalu mengalir dengan tenang ke tempat-tempat yang jauh dibawahnya, sampai ke pelosok-pelosok dimana ada lorong yang lebih rendah dan membutuhkan alirannya. Bisa mengenali setiap sudut sekecil apapun tempat yang dilaluinya. Dan akan bermuara pada tempat semestinya dan kebersihannya mampu memantulkan cahaya sehingga bisa dipakai bercermin siapa saja.

Pemimpin, yang seperti air bisa senantiasa mendinginkan bara merah walau ia harus menguap ke udara menjadi butir-butir uap lembut.

Ketika ada anak-anak yang mengalami demam, air bisa bergaul dengan kain atau alat kompres yang ampuh untuk meredam gangguan demam itu.

Saya tidak bisa menjelaskan begitu banyak kegunaan air bersih bagi kehidupan mahkluk Tuhan di seputar bumi ini. Dan, yang pasti air (bersih) bisa menghilangkan dahaga siapa saja bahkan apa saja yang bertumbuh di bumi ini. Begitu sangat berharganya air.

Pemimpin yang seperti air murni dan bersih menjadi obsesi saya untuk bangsa ini ……. 

Kamis, 18 Juni 2009

SULAP? : FOTO HITAM PUTIH JADI WARNA

Bicara tentang klise mengingatkan kejadian beberapa hari lalu di home studio saya. Seorang customer cewek muda dan cantik datang dengan membawa lembar foto hitam putih ukuran 4x6 hasil cetak dari foto studio lain yang masih memiliki layanan foto hitam putih konvensional.


 

Dengan malu-malu si cantik yang baru lulus sekolah menengah atas setahun silam ini meminta saya agar foto hitam putihnya tadi dijadikan foto warna, sebab ternyata salah. Rupanya mini studio saya juga terkenal bisa merubah foto hitam putih jadi warna.


 

Dengan sabar dan berlama-lama (sengaja-mumpung cantik, xhi xhi xhi…!) saya jelaskan kalau foto hitam putih dijadikan warna hasilnya tidak alami, akan kelihatan kalau foto tadi hasil reka komputer dan sebaiknya tidak digunakan untuk urusan resmi seperti melamar kerja atau persyaratan formal lainnya. Dan saya sarankan untuk berfoto di studio kumuh saya saja. (Kalau mau, lumayan kan, bisa ngintip orang cantik lewat lobang kamera)


 

Tapi nampaknya dia tidak mau foto lagi, ia brengkel agar foto hitam putihnya itu saja dijadikan warna. Yaaa.... apa boleh buat. Sebagai pemberi jasa layanan yang berusaha baik terpaksa harus menuruti apapun permintaan konsumen dengan catatan tidak ada unsur pelanggaran pidana dan pemalsuan dokumen.


 

Setelah ada kesepakatan dari si gadis bahwa resiko ditanggung sendiri jika ada komplain, maka saya segera meminta klise dari fotonya untuk dipindai (scan) dan direka-reka kemudian dicetak jadi berwarna. Tapi dia bilang klise-nya tidak dibawa. Akhirnya saya minta foto yang sudah jadi. Dia menyerahkan sebuah bungkus kecil berisi foto hitam putih berukuran 4x6 sejumlah 10 lembar.


 

Setelah proses memindai foto selesai saya serahkan foto-foto itu kembali. Tiba-tiba raut muka dia tampak aneh karena terkejut. Lalu katanya, "Lho, mas fotonya kok masih hitam putih? Katanya bisa berubah warna?"


 

Thoeng...oeng...oeng eeeeeeeeeeeeeeeeng....! Saya lebih terkejut. Dalam hati saya mbatin, "Ini cewek cantik tapi o'on.... Memangnya saya tukang sulap?"

Senin, 20 April 2009

Setiap 21 April

Pagi masih terlalu muda. Teman-teman berteriak-teriak ramai sekali dalam perjalanan menuju ke sekolah. Mereka penuh sukacita mengolok-olok teman-teman wanita yang berkebaya. Warna-warni. Dengan sanggul besar di belakang kepalanya. Aneh. Saya juga melihatnya tapi tidak ikut serta meneriakinya. Hanya geli melihat kanak-kanak seusia saya sudah mengenakan pakaian adat jawa itu. Yang saya rasakan hanya gembira karena hari itu tidak ada pelajaran seperti biasa.


 

Itulah sedikit dari yang saya ingat saat masih kelas empat sekolah dasar. Pada hari itu di sekolah hanya ada kegiatan khusus untuk siswa perempuan. Lomba merangkai bunga, menyulam dan sebagainya. Para siswa lelaki kebanyakan hanya jadi penonton dan hanya beberapa yang turut serta membantu panitia. Hari itu Hari Kartini.


 

Begitulah setiap tahun selalu diperingatinya 21 April sebagai Hari Kartini. Katanya, hari kebangkitan kaum wanita Indonesia dari keterpurukan. Dan entah apa lagi. Saya sudah lama melupakannya. Saya benar-benar tidak tahu apa filosofi yang terkandung pada hari itu sampai dengan saat ini. Buku,"HABIS GELAP TERBITLAH TERANG," Karya RA. Kartini itu pun belum sempat saya baca.


 

Hanya dari pelajaran sejarah saya masih mengingat 21 April sebagai peringatan Hari Kartini. Dan sejauh ini yang saya mengerti bahwa sebenarnya Kaum wanita juga turut berperan dalam perjuangan bangsa ini. Dan setelah dewasa, saya lebih memahami bahwa wanita Indonesia memang sepatutnya tidak saja mampu hanya urusan dapur dan tempat tidur. Tapi lebih dari itu.


 

Bangkitlah Kartini-Kartini muda. Bela Bangsa tercinta ini tanpa tetes air mata.

Selasa, 14 April 2009

TAKUT DENGAN BARANG BARU

Awal bulan ini instansi tempat saya bekerja ada staf baru. Seorang wanita yang masih pantas disebut gadis belia. Cantik. Berkacamata. Drop out dari sebuah PTS entah jurusan apa. Dari angin lalu yang berhembus mulut ke mulut terdengar kabar bahwa dia ini terpaksa mrotol kuliahnya karena kekurangan biaya. Dan masuknya karena ada kemudahan sebab sang bapak adalah sopir pribadi dari salah satu investor. Ada kolusi, begitulah kira-kira.


 

Peraturan tentang kepegawaian yang mengatur kedisiplinan di kantor ini sangat kurang perhatian para pegawainya. Rata-rata mereka seenak udel-nya sendiri datang dan pulang kerja. Datang selalu kesiangan, pulang sebelum waktunya. Kebiasaan buruk untuk sebuah institusi swasta yang memberikan pelayanan kepada masyarakat.


 

Kalau saya, bisa dibilang pekerja VIP. Artinya lebih seenaknya sendiri datang dan pulang kerja. Tapi waktu kerja justru melebihi siapapun. Kadangkala datang sebelum pintu utama dibuka, bahkan lantainya belum disapu. (Karena tukang nyapunya saya sendiri) Pulang juga ketika yang lain mungkin sudah pada ngorok. Seolah-olah institusi ini milik saya pribadi. Yang pasti kegiatan saya sehari-hari tidak akan membuat yang lain iri hati. Sebab apa yang saya lakukan tidak bisa mereka kerjakan. Itu kelebihannya. Gaji yang saya terima pun harusnya setingkat para menejer. Ini yang penting bagi saya, pendapatan.


 

Walau VIP, sebenarnya saya bukan apa-apa. Karena jabatan menejer mempunyai kualifikasi minimal lulusan D3. Jadi pada struktur organisasi pastilah nama saya tidak nampak. Jebolan es-em-a tidak ada pada standar minimal. Saya hanya bekerja di belakang layar. Jadi sutradara, tapi setingkat cleaning servise. Wah jadi curhat nih.


 

Kebiasaan buruk yang sesuka hati itu seperti penyakit kronis yang tidak pernah bisa disembuhkan. Kalaupun ada tindakan, paling banter satu atau dua hari saja tertib, sisanya kembali ke zaman purba.


 

Dengan diperkerjakan tenaga baru - si gadis cantik itu - tiba-tiba saja kedatangan para staf terlihat tertib. Kebiasaan ngaretnya hilang sama sekali. Waktu pulangpun, sesuai dengan peraturan yang ada. Selidik punya selidik, e...e... ternyata si gadis baru ini adalah kaki tangan bos besar yang punya tugas mencatat secara manual siapa saja yang suka datang terlambat dan pulang mendahului.


 

Ketika istirahat siang, dalam sebuah pergunjingan kebetulan saya ikut ngumpul. Mereka asyik ngrasani si gadis kaki tangan bos ini. Saya nyeletuk sesuka hati,"Peraturan ndak ditakuti, sama barang baru malah takut...."

Rabu, 08 April 2009

MIMPI JADI BLOGGER

Kalian pernah lihat profil saya?

Disana tertulis aktif sejak April 2008. Tidak penting berapa kali sudah dilihat, sebab yang paling sering lihat saya sendiri.


 

Bulan dan tahun itu menunjukkan secara praktisnya saya nebeng blogger.com


 

Resminya saya mulai benar-benar aktif sejak akhir Tahun 2008.


 

Tadinya, koran langganan saya sering menuliskan artikel-artikel tentang blog dan blogger. Saya tertarik. Apa sih bloger itu? Di sana banyak menjelaskannya. Intinya, blog cocok untuk orang yang doyan nulis atau baru belajar. Bisa juga untuk sekedar iseng bikin tulisan. Ada pula yang menghasilkan dolar dsb.


 

Saya rasa sesuailah dengan minat baca tulis saya. Maka kemudian saya mulai coba. Tapi selalu gagal. Mangkraklah blog saya. Tidak terurus.


 

Tapi saya terus belajar dan mencari. Kalau pas nganggur, saya baca-baca blog hingga akhirnya saya temukan beberapa panduan membuat blog. Sebelumnya saya sudah sering menulis. Lumayan banyak saya punya tulisan. Saya buat dengan MS Word, dan tersimpan begitu saja.


 

Saya coba posting dengan tulisan pendek. Hasilnya aneh ketika tampil di blog. Satu dua tulisan berhenti lagi, tanpa posting. Tapi saya terus belajar bikin tampilan blog supaya enak dilihat sendiri.


 

Akhirnya saya lihat tampilan tema blog saya mulai bisa diterima dengan mata normal Hingga pada akhir tahun lalu, ketika baca-baca sebuah blog saya menemukan sebuah tulisan mengenai kompetisi blog. "Aku Untuk Negeriku." Kriterianya begini dan begitu. Saya tidak berfikir panjang lagi. Saya pun mendaftar. Saya langsung bongkar-bongkar tulisan lama untuk diposting.


 

Edit sana edit sini. Buat postingan terjadwal. Cukup untuk beberapa hari hingga satu bulan. Saya tinggalkan utak utik blog untuk menyapa para peserta kompetisi yang diadakan oleh Blog Bugiakso itu. Sehari bisa 10 – 20 blog saya baca dan berikan komentar. Harapan saya bisa mendapat kenalan. Dan benar, dari ratusan peserta yang sempat saya kunjungi ada beberapa saja yang berkunjung balik, tidak sampai 25 persen.


 

Ada sekitar sepuluh bloger atau lebih ternyata suka kembali mengunjungi blog ini walaupun kompetisi sudah berakhir. Tapi ada banyak yang suka saya kunjungi namun tidak mau berkunjung balik, padahal blog itu selalu update hampir setiap hari. Percuma saja saya komentar dengan meninggalkan jejak. Akhirnya kalau saya komentar di situ saya bikin anonim saja.


 

Maka akrablah saya dengan para bloger tersebut. Sehingga saya pun menyukai mereka. Sekarang menjadi bloger bukan lagi mimpi. Mengasyikan sekali. Bahkan saya sering mimpi baca blog. He he ...


 

Bersambung ya..... kebanyakan.

Rabu, 01 April 2009

AIR MATA

Sebuah negara kaya raya berbendera warna pelangi, namanya Republik Warna Warni. Pada agenda tahun ini pemerintahnya sedang memulai suatu kebijakan baru yaitu menyelamatkan manusia dari kemiskinan dan penderitaan. Sang presiden menyebarkan untusannya untuk membuat survei ke seluruh bangsa-bangsa di dunia.


 

Tujuan daripada survei ini adalah untuk mengetahui apa barang termurah dan termahal. Hasil survei itu akan menentukan bangsa mana yang perlu pertolongan agar harganya turun dengan cara membeli barang dari negara lainnya yang memiliki harga paling murah kemudian memberikan secara cuma-cuma. Survei yang dilakukan berdasarkan fakta dan data-data valid pada 10 tahun terakhir.


 

Tiga bulan masa survei telah berakhir. Para utusan telah kembali. Saatnya mereka menyampaikan laporan hasil surveinya masing-masing. Tiba pada giliran utusan yang ditugaskan ke Indonesia untuk menyampaikan laporan, Sang Presiden tercenung bagai patung mendengarkannya.


 

Apa yang termahal dan termurah di negeri ini berdasarkan fakta dan data pada sepuluh tahun terakhir adalah sesuatu yang diluar dugaan. Sembilan puluh sembilan persen harga barang tergolong paling mahal, mulai dari pulsa sampai mobil, bahan pangan dan obat-obatan bahkan hasil pertanian sendiripun seringkali sulit dibeli masyarakatnya. Dan barang yang paling murah hanya satu yaitu air mata.


 

Sesuai data yang diperoleh, bangsa ini seringkali membuang-buang air matanya karena penderitaan yang disebabkan oleh fenomena alam dan ketamakan manusia. Data lengkap tentang kerusuhan-kerusuhan, pembunuhan masal, demontrasi brutal, bom Bali yang tidak cukup sekali dan ironisnya didalangi oleh anak bangsa sendiri, korban tsunami paling banyak. Dan sebagainya dan sebagainya. Kemudian terakhir adalah korban luluh lantaknya penduduk Situ Gintung pada 27 Maret 2009 kemarin.


 

Murahnya air mata itu tidak mungkin dibeli oleh Republik Warna Warni. Hanya Tuhan yang mempu menghapusnya. Begitu pikir Sang Presiden.

Senin, 30 Maret 2009

REST ROOM

Inilah akibatnya jadi pemalas. Masa sekolah dulu, saya alergi dengan Pelajaran Bahasa Inggris. Ironis, sebab waktu SMA saya mengambil jurusan Budaya-waktu itu popular dengan sebutan jurusan A-4. Akibatnya saya adalah murid terbelakang di bidang ini. Untung masih bisa lulus dengan hasil ujian 5. Wah rekor! Setelah lulus, semua baik-baik saja. Tidak terasa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa bulan kemudian barulah saya mulai menyesali kebodohan itu. Saat saya jadi abang bakso si Pulau Dewata Bali. Hancur lebur telinga ini bila yang makan bakso turis asing. Kalau saja rombong baksonya enteng, mungkin saya langsung kabur melarikan diri.


 

Memang penyesalan selalu datang belakangan, persis polisi dalam sinetron Indonesia yang hadir setelah si penjahat bertekuk lutut oleh kepahlawanan tokoh protagonisnya. Karena ketidakmampuan berbahasa asing saya dibikin malu oleh ulah sendiri, malunya juga pada diri sendiri. Konyol.


 

Begini ceritanya.

Hari itu adalah hari ketiga saya berada di negeri jiran Malaysia. Sudah menjadi kebiasaan saya kalau di tempat baru selalu sulit untuk dapat tidur. Pada malam kedua saya masih belum bisa memejamkan mata. Padahal keesokan harinya ada acara briefing pada sebuah hotel di KL. Pagi-pagi ketika bus jemputan datang, saya merasakan kantuk yang luar biasa. Dalam perjalananpun saya tidak bisa memejamkan mata. Setelah berada dalam ruang pertemuan yang ber-AC rasa kantuk itu semakin tidak bisa ditahan. Sebentar-sebentar kepala saya hilang keseimbangannya. Teklak tekluk seperti mau patah. Karena duduk paling depan akhirnya saya merasa sungkan pada si ibu pembicara. Saya benar-benar tidak bisa mengerti isi pembicaraannya karena serangan kantuk itu.


 

Beberapa saat kemudian saya coba tengok sana tengok sini, mungkin ada jalan keluar untuk bisa merokok sebentar. Tapi pintu keluar selain pintu masuk tidak ada. Tapi pandangan mata saya menemukan sebuah pintu yang tertuliskan Rest Room. Segera otak saya yang tidak mampu menyimpan bahasa Inggris dengan benar ini mulai mereka reka apa artinya. Dalam pengartian harafiah saya, Rest artinya istirahat dan room
adalah ruang atau kamar. Nah ini dia yang saya cari, "Ruang istirahat." Apa salahnya dicoba. Barangkali bisa melepas kantuk sejenak.


 

Dengan tanpa ragu-ragu saya berdiri minta ijin sebentar. Si Ibu pembicara mengijinkan. Dan segera saya pergi ke Rest Room itu dengan penuh percaya diri. Sayapun buka pintu dan masuk. Tapi apa yang saya dapatkan di dalam sana bukan seperti apa yang saya bayangkan. Ruangan itu lebar dan masih ada sekat-sekat berpintu lagi. Saya segera buka pintu salah satu sekat, wah ternyata bukan tempat tidur yang ada melainkan tempat duduk yang tengahnya lobang, alias WC. Waduh, dasar tolol. Tapi ngantuknya hilang karena malu pada diri sendiri.

Minggu, 22 Maret 2009

Yang Tua Tidak Mau diganti Kreditan


Pertengahan tahun 2008 kemarin, monitor saya sering ngadat. Ketika sedang dipakai tiba-tiba restart sendiri seperti kita sedang menekan tombol Degauss pada menu onscreennya. Ada bunyi kretek-kretek-kretek. Padahal bulan-bulan itu pekerjaan sedang meningkat. Kontan saja otak saya dipaksa untuk berfikir keras agar segera mencarikan penggantinya. Untuk beli yang kontan tidak mungkin, sebab uang persediaan pengembangan peralatan sudah dibelikan Printer R230 2 buah pada bulan sebelumnya. Satu-satunya jalan, cari yang kreditan. Itupun kalau ada.


 

Ketika jalan-jalan di sebuah mall kecil, kebetulan ada counter dadakan sedang memamerkan produk baru LCD. Eh, ternyata juga melayani permintaan kredit. Wah, ini namanya pucuk monitor dicita ulam LCD tiba. Langsung saja saya isi form pengajuan kredit. Ternyata mudah. Tanpa banyak pertanyaan dan basa-basi. Selesai isi form, si gadis penjaga pesan agar saya tunggu disurvei dalam satu dua hari kedepan.


 

Dasar orang jujur, saat isi form itu saya menuliskan apa adanya tanpa rekayasa. Tepat dua hari kemudian, saya didatangi surveyor penyedia layanan kredit itu, malangnya ia datang ke tempat kerja sesuai form yang saya isikan saat itu. Kemudian bla bla bla, sayapun banyak diserbu pertanyaan oleh si Mas yang kelihatan angker. Dasar saya orang jujur, semua pertanyaan dijawab apa adanya termasuk gaji saya yang berjumlah 2 kali lipat dari angka kredit bulanan sesuai pengajuan. Tanya jawab hanya sampai ke masalah gaji. Lalu disudahi begitu saja, Si Mas yang bertampang serem itu segera pamit.


 

Dua jam kemudian ringtone HP saya berbunyi SOS, sms masuk dari counter dadakan penjual monitor berisi bahwa pengajuan saya ditolak. Lha lak tenan!, saya membatin. Padahal waktu mengisi form saya sudah pesan agar disurvey ke rumah bukan ke kantor bolong saya. Inilah jadinya. Tidak jadi juga mengganti monitor tua saya dengan yang baru. Apa karena kreditan, ya? Anehnya, setelah kejadian itu monitor saya setia menemani hingga detik ini tanpa ngadat sedikitpun. Percaya?


 

Saya sendiri hampir tidak percaya? Tapi itu yang terjadi.


 


 


 


 

Jumat, 20 Maret 2009

PEMILU 2009

Tidak terasa Pemilu 2009 tidak lama lagi. Kurang dari satu bulan Pesta Demokrasi itu akan segera dilaksanakan. Hari-hari ini adalah saat-saat dimana sedang gencar-gencarnya orang mengobral janji. Tapi momen ini tidak terlalu penting bagi saya, PEMILU mengingatkan saya akan kejadian tahun 1992 di Pulau Dewata Bali.


 

Saat itu, telah hampir satu tahun saya tidak bersekolah lagi. Resminya, jadi pengangguran. Semenjak tidak meneruskan ke perguruan tinggi saya telah banyak mencoba berbagai pekerjaan, dari bikin batu bata merah sampai ikutan tukang mebel. Salah satunya, pada bulan April 1992 ada seorang kenalan mengajak kerja di Pulau Bali jualan bakso. Siapa takut. Malu? Ya, sedikit. Wah, mosok alumni sebuah SMA negeri ternama kok jualan bakso. Apa peduli saya. Saya lebih tidak rela dibilang pengangguran.


 

Langsung pada intinya. Satu bulan persis tinggal di sebuah Desa kecil (sudah lupa namanya) di Pulau Dewata itu, menginjak bulan Mei, sebulan sebelum Pemilu 1992, saya didatangi ketua RT.


 

Ketua RT    :    "Dik, saya minta maaf sebelumnya. Ada hal yang harus adik ketahui."

Saya    :    "Ada apa, Pak?"

Ketua RT    :    "Gini, adik datang ke Bali ini kan tidak bawa KTP, hanya surat jalan. Padahal satu bulan lagi ada PEMILU. Demi keamanan adik, kami mohon adik pulang dulu ke Indonesia....."

Saya    :    "Ah, ya terima kasih, Pak."


 

Yang bikin saya heran sampai sekarang, Pak RT itu salah apa lupa saat bilang saya harus pulang ke Indonesia. Seperti turis asing saja yang kebanyakan lebih mengenal BALI daripada Indonesia.

Kamis, 19 Maret 2009

MATI

Pulang kerja, sore kemarin. Lelah sekali. Ada meeting panjang baru saya lalui. Ingin rasanya segera meletakkan kepala di atas bantal. Dan tidur sampai ngiler. Tapi urusan pendapatan hari itu pasti berkurang kalau dipaksakan pergi ke peraduan sore. Dengan berat menahan kelopak mata untuk tetap terjaga. Banyak kerjaan menunggu untuk diselesaikan. Terpaksa juga harus kembali bekerja.


 

Baru beberapa menit duduk di hadapan partner kerja saya yang kelihatan sudah tua itu tiba-tiba terdengar ringtone dari HP saya. Sayapun menyapa sesorang yang sedang menghubungi saya. O, ternyata adik bungsu saya, cowok, sekitar 27 tahun usianya. Inilah percakapan kami (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):


Adik    :    "Lagi apa, mas?"

Saya    :    "Biasa, kerjaan rutin."

Adik    :    "Rame?"

Saya    :    "Ada saja!.... kamu?"

Adik    :    "Di rumah!"

Saya    :    "Ndak kerja?"

Adik    :    "Pulang bentar, mandi."

Saya    :    "Ooo, ada apa?"

Adik    :    "Ndak ada, pengen tanya dikit?"

Saya    :    "Apa?"

Adik    :    "Habis dapat rejeki banyak, ya?"

Saya    :    "Rejeki apa? Tiap hari kerja, ya dapat. Kalau libur siapa yang mau kasih uang? Kenapa?"

Adik    :    "Ndak ada, tadi malam aku impikan mas mati!"

Saya    :    (Tertawa, rasa kantuk saya agak hilang) "Kalo dimimpikan mati memangnya mau dapat rejeki nomplok?"    


 

Minggu, 15 Maret 2009

SEPEDA BARU TANPA KACA SEPION


Ternyata tidak mudah memilki pengalaman menjadi sopir. Karena kebiasaan mengendarai roda empat itu, saya kikuk mengendarai kendaraan bermotor tanpa kaca sepion. Saya tidak malu dibilang kuno sama teman-teman karena motor saya terlalu lengkap dengan atributnya, tidak seperti teman-teman seumur saya waktu itu merasa mbois dengan motor brundulnya.


 

Bulan kemarin saya baru saja membeli sepeda kayuh. Seumur-umur baru sekarang saya mampu membeli sepeda tanpa mesin itu dengan hasil jerih payah sendiri. Setelah mengendarainya beberapa kali saya merasa asing dengan benda ini. Tanpa kaca sepion. Lucu ya? Tapi saya benar-benar tidak nyaman bersepeda.


 

Karena itulah saya ingin melengkapinya. Beberapa hari yang lalu ketika jalan-jalan di mall ada sebuah counter yang memamerkan perlengkapan olah raga bersepeda. Maka mampirlah saya. Kebetulan penjaganya agak lumayan. Ya hitung-hitung sambil cuci mata. Mata saya celingukan mencari-cari mahluk yang namanya sepion. Tapi tidak ketemu juga. Sebelum ditanya sama si gadis penjaga saya coba bertanya lebih dulu.


 

"Mbak, gak ada kaca sepion, ya?"

Bukannya menjawab, ia malah tersenyum-senyum. "Sialan," saya membatin, senyumnya seperti mengolok-olok.

"Ya, gak ada mas!" jawabnya kemudian.

"Sepeda ginian memang dirancang tanpa sepion apa di sini sedang tidak ada setok?" saya coba mbrengkel.

"Setahu saya ndak ada, mas!"

"Ya udah, makasih mbak?" saya coba tutupi rasa malu sambil beranjak pergi. Saya lirik cewek penjaga itu tersenyum-senyum pada temannya. Saya jadi ge-er, jangan-jangan saya yang jadi bahan tertawaan.


 


 

Selasa, 10 Maret 2009

TEMPAT APA YANG PALING POPULER

Seorang teman lama yang baru jumpa menanyakan apa tempat paling populer di kota saya. Saya tidak bisa langsung menjawabnya. Disamping saya tidak tahu, sebenarnya saya kurang melakukan orientasi dan observasi walaupun sudah terhitung hampir dua dekade menetap di sana. Terus terang kepentingan perut lebih utama daripada sekadar ngelencer mencari tempat wisata, kalau itu yang dimaksud teman saya.


 

Setelah melakukan perenungan agak panjang, akhirnya sayapun bisa mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan itu. Inilah hasil polling batiniah yang memutuskan tempat terpopuler di kota saya.


 

Pada tahun 2003, cardtride Printer EPSON Stylus C43 saya rusak, sudah kemana-mana di seputar kota tidak menemukan toko yang menjualnya bahkan di toko aslinya. Akhirnya saya dapat informasi agar pergi ke kampus. Dan benar, saya menemukannya.


 

Pada Tahun yang sama, HP 3310 saya chasingnya harus diganti. Masa itu masih langka penjual eceran. Di kotapun saya kesulitan mencarinya. Seorang teman menyarankan,"Coba beli di kampus." Dan benar saya juga berhasil.


 

Pada Tahun 2005, saya pesan Printer EPSON R230 di toko langganan, tapi pemilik toko bilang pesanan saya baru bulan depan sampai, kalau mau cepat coba cari di kampus, akhirnya sayapun beli juga walaupun agak sedikit mahal.


 

Pada tahun yang sama, seorang kastamer datang membawa CD berisi foto-foto pengantin, saya diminta mencetak ulang. Saya lihat pose fotonya lumayan bagus. Dasar usil, saya tanya, "Foto studionya dimana, Mbak. Kok bagus-bagus?" Pengantin baru itu menjawab,"Di kampus, mas"
Yaaaaaaaah kampus lagi.


 

Pada tahun 2006, ada seorang pelanggan minta dicetakkan foto sebesar ukuran poster saya bilang, printer saya hanya mampu ukuran A4, seorang tamu yang lain memberikan saran padanya agar pergi ke kampus.


 

Masih di tahun yang sama, tiba-tiba mainboard saya terbakar. Harus diganti. Toko langganan saya sedang tidak memilki stok. Ketika keluar dari toko iseng-iseng tanya sama seorang pemuda yang hendak memasuki toko itu, "Sudah coba cari di kampus, Mas?"


 

Seorang teman datang ke rumah. Baju yang dipakainya terlihat berbeda, sepertinya bikinan butik, bukan istrinya Pak Tik. Mulut jail saya tanya, "Baju baru nih, beli di mana?"

"Kemarin jalan-jalan di kampus, lihat-lihat baju kok bagus.... murah... beli."


 

Tahun 2007 saya diundang kumpul-kumpul bersama para fotografer amatir oleh sebuah studio besar. Saya tidak tahu dimana tempat yang ditulis pada undangan itu. Akhirnya saya call pada pemberi undangan,"Tempatnya dimana?"

"Sebuah aula pertemuan di kampus, mas!"

"Ooooow...."


 

Seorang kenalan datang ke rumah bawa oleh-oleh Bakso. Selesai makan bersama, saya tanya, "Beli dimana?"

"Kampus!"


 

Kampuuuuuuuuuus lagi.


 

Saya jadi bingung, kampus itu tempat apa sih? Kok semua ada di sana. Dan sangat populer.

Senin, 02 Maret 2009

BUKAN PELAJAR BICARA PE-ER

Kemarin sore, sepulang dari kerja jadi buruh di kantor sebelah rumah (100 m ke barat) seperti biasa saya sudah ditunggu oleh beberapa pelanggan untuk mencetak foto-foto dari handset mereka. Maklum, saya di rumah kan buka usaha kecil-kecilan jadi tukang foto dan memberikan layanan cetak foto digital, sederhana saja, hanya menggunakan beberapa perangkat peralatan inkjet sebagai alat cetaknya.

Sejak beberapa bulan kemarin di sela-sela pekerjaan rutin itu iseng-iseng belajar bikin blog. Maka bila komputer khusus saya dihidupkan, jaringan internetnya tidak pernah ketinggalan selalu disambung. Jika sudah nyambung langsung saja baca-baca artikel di blog yang sudah sering saya kunjungi.

Nah, kemarin sore saya langsung pergi ke blognya Si Fanny, blognya selalu fresh, ia sangat rajin bikin posting, lucu-lucu dan tidak ada sara atau obrolan politik. Jadi saya suka.

Tapi artikel ini sangat tidak saya sukai. Terus terang, kalau ada artikel yang isinya pe-er pe-eran, dimanapun pasti tidak saya baca sebab bagi saya tidak bermanfaat, tapi yang ini beda-dia tulis nama saya ”RCO”. Terpaksa juga saya membacanya.

Ternyata ada semacam tugas yang perlu dikerjakan untuk posting. ”Wah, kurang kerjaan benar orang ini.” saya membatin.
”Katanya Notaris, kalau ndak ada kerjaan mbok yao tolong saya dibikinkan NPWP atau SIUP gitu kok malah dikerjai,”

Dan inilah yang harus dikerjakan, (ini saya kopipaste-kan begitu saja)

1. Ambil photo terbaru kamu, lebih baik sekarang juga di photo khusus untuk ngambil award ini

2. Jangan ganti baju, jangan rapikan rambut, pakaian dan yang lainnya pokoknya langsung photo

3. Posting photonya ga pake di edit segala macem

4. Posting juga instruksinya, bareng sama postingan photo (ya kaya gini aja lah...)

5. Tag 10 orang buat ngelakuin hal yang sama seperti ini...


Nah, ini dia gambar saya tanpa diapa-apakan, walau saya bisa photoshop bahkan boleh dibilang jago (wuih! nyombong dikit) tapi yang ini saya jamin keasliannya tidak pakai ditelanjangi atau diganti kepala orang lain. Lihat, betapa dahyatnya. Belum ganti baju, masih pakai pakaian buruh, tidak pakai mandi dulu. Ini benar-benar langsung photo, minta tolong seorang pelanggan dengan kamera pocket digitalnya. Hancur lebur, bukan?



Dan, sesuai dengan aturan ke 5, saya coba tag ke mereka yang rajin jadi komentator di blog ini, antara lain :


Bocah Bancar

Mojoniaga

Mbak UMI

MGYP

Gratisanboy

Kang Bahtiar

Phiy

Teh Yayan

Senoaji


Dan special (Tidak pakai telur, ya!) buat Aribicara karena dengan perjuangannya yang tinggi untuk bisa komen di sini baru kemaren berhasil. Selamat ya Ari!


Nah, adil bukan? Walau tidak sampai 10 orang, tapi sudah mencakup dari yang muda sampai lebih dari usia muda, dari yang cantik sampai yang ganteng.


Sudah… sudah..., jangan lama-lama pandang foto saya, kualat baru tahu rasa….!





Rabu, 18 Februari 2009

Bukan Dokter Bicara DM



Saat ini ramai orang membicarakan Kampanye Damai Pemilu 2009, lalu masih tak pernah lekang tentang koleksi foto foto artis, model seksi, bintang film, artis sinetron, model seksi, gosip selebrits, wallpaper artis, bikini model, casting film, cerita seks artis, eksklusif, artis ABG, abg korea, model Jepang, Bugil dan Telanjang.-Meskipun UU APP sudah disyahkan. Serta ramainya pebisnis internet yang menggembar-gemborkan sukses secara spectakuler seperti iklan-iklan yang ada di bawah atau di samping. Diantara itu semua saya akan mencoba sesuatu yang lain untuk ditulis, yaitu DIABETES MELLITUS. Belum tahu?


Pernah dengar DM? Dalam pelajaran bahasa DM merupakan singkatan dari Diterangkan Menerangkan. Tapi dalam dunia kesehatan atau dunia medis DM adalah singkatan dari Diabetes Mellitus. Ahli therapi dan Paramedis sering menyebutkan demikian. Tapi sebagai orang awam saya lebih familiar menyebutnya dengan Kencing Manis. Istilah ini sudah sering saya dengar sejak saya masih anak-anak, ketika itu nenek saya punya teman yang “ngamar” di sebuah rumah sakit karena penyakit tersebut.


Diabetes konon berarti curahan air kencing atau kencing yang berlebihan, kemudian Mellitus berarti banyak kandungan gula dalam kencing. Kencing manis ditandai dengan :

  • Air kencing yang manis. Jangan dicoba sendiri rasanya, kasih semut untuk mencobanya. Caranya, air kencing taruh pada sebuah wadah kecil lalu tempatkan pada ruangan yang biasa dilalui semut. Kalau air kencing itu ramai dikunjungi semut artinya kencing itu benar-benar manis. Tapi kalau traffic si semut tidak banyak ya berarti ndak ada masalah.



  • Mudah merasa lapar, tidak seperti biasa. Mudah merasa haus, walau di malam hari. Sering buang air kecil



  • Walaupun makan dan minum sudah melebihi kebiasaan tapi berat badan terus menurun



Apabila kita mengalami tanda-tanda di atas, maka segera datang ke dokter terdekat. Cukup ke dokter umum dulu. Jangan ke dukun apalagi jauh-jauh pergi ke rumah Ponari – kasihan bocah ini sudah kehilangan banyak hal berharga yang dimilikinya – belum tentu juga Ponari tahu apa itu kencing manis. I ya kan? .


Konsultasi sama dokter, berikan informasi yang detail tentang apa saja yang berhubungan dengan keluhan. Kalau dokter tanya alamat email hati-hati, jangan-jangan anda nanti dijadikan refferalnya. He..he.. .


Mengenai kencing manis, anda tidak perlu tanya sama dokter karena akan menyita waktunya, kecuali dokter itu teman dekat, saudara atau pacar anda. Cukup anda baca di sini. Saya akan menjelaskan sedikit yang saya tahu dengan bahasa awam saya. .


Baiklah, kencing manis adalah penyakit yang terjadi karena darah kita kelebihan kadar gula. Secara umum kencing manis dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan penyebabnya, antara lain :

  • Diabetes jenis pertama dikenali karena penderita ketergantungan insulin. (lihat di wikipedia lebih detail tentang insulin) ketergantungan ini terjadi karena pancreas tidak bisa lagi memproduksi insulin, sehingga penderita harus mendapatkan suply insulin dari luar melalui suntikan.(pergi ke wikipedia juga untuk tahu apa itu pancreas)



  • Diabetes jenis kedua dikenali sebagai penderita yang kadar insulinnya tidak bekerja secara maksimal, karena kegemukan misalnya. Pada jenis ini penderita tidak membutuhkan suply insulin dari luar. Hanya membutuhkan pemeliharaan tubuh secara benar, yaitu melalui pola makan, minum dan beraktivitas, sehingga tidak terjadi pengendapan energi yang harusnya dibuang. Olah raga teratur yang bertujuan membakar lemak-lemak dan kandungan karbohidrat dalam darah bisa anda dapatkan melalui latihan-latihan kebugaran tubuh atau senam. Kalau saya cukup bersepeda setiap pagi sejauh 1 km (bukan berarti saya sedang mengidap, hanya untuk pencegahan)




Inilah sedikit yang saya tahu tentang kencing manis. Bahkan banyak penderita kencing manis sekarang ini yang masih berusia di bawah 30 tahun. Mungkin pola hidup masa kini telah membuat fenomena baru pada penyakit ini dengan menyerang pada usia produktif.


Makanya hati-hati, jangan karena anda berusia muda lalu mengabaikan kesehatan anda dari serangan kencing manis. Kita semua berpotensi terkena penyakit itu, kecuali kita adalah orang yang punya aktivitas tinggi seperti olahragawan atau pekerja keras. Kalau aktivitas kita hanya di depan PC dan duduk di belakang meja dengan camilan yang bermacam-macam serta minuman yang serba manis, kita harus ekstra hati-hati. Sebab penumpukan energi yang dihasilkan oleh kebiasaan makan kita yang tinggi dan tidak diimbangi dengan aktivitas tubuh yang teratur akan menghalangi kinerja insulin sehingga kadar gula dalam darah kita meningkat.


Anda boleh tidak percaya dengan informasi ini, karena ini memang bukan tulisan yang valid. Silahkan rujuk pada sumber pengetahuan yang benar mengenai Kencing Manis. Ingat pesan ini ”JIKA SAKIT BERLANJUT HUBUNGI DOKTER”


Minggu, 15 Februari 2009

FENOMENA CILIK



Kehidupan di dunia semakin terasa aneh. Sejak beberapa tahun terakhir ini banyak bermunculan hal-hal aneh di sekitar kita. Apa yang aneh? Meminjam istilah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata aneh bermakna sesuatu yang tidak biasa kita lihat (dengar, dsb.).



Dalam satu minggu terakhir ini dunia media massa digemparkan oleh berita aneh tentang munculnya dukun cilik bernama Ponari dari Jombang Jawa Timur. Kenapa saya bilang aneh? Karena dalam kehidupan saya, baru pertama kali saya mendengar tentang seorang anak kecil yang tiba-tiba terkenal karena bisa menyembuhkan banyak orang, kemudian ada yang menyebutnya sebagai dukun cilik.


Sepengetahuan saya yang namanya dukun biasanya ya nenek-nenek tukang pijit. Dengan sedikit mantra lalu tubuh kita dipijit-pijit. Nah, kalau ada jodoh sembuhlah kita dari rasa sakit kita. Tapi si dukun pijet ini punya keterbatasan pada penyakit tertentu. Sedangkan yang terjadi pada Ponari, konon ia bisa menyembuhkan segala macam penyakit hanya dengan air.


Berita tentang kehebatan penyembuhan yang dilakukan Ponari ini banyak diberitakan oleh media, bahkan oleh hampir semua televisi lokal yang sukanya ngejar rating, tidak ketinggalan juga para bloger.


Yang menjadi perhatian saya-tanpa bermaksud ikut-ikutan-sebenarnya adalah usia si anak ini. Ponari masih terlalu kanak-kanak untuk disebut dukun atau semacamnya. Dan atribut terbarunya ini pastilah menyita waktu dan tenaganya yang tentu masih sangat terbatas. Mungkin karena alasan inilah beberapa hari terakhir praktek penyembuhan ponari dihentikan. Akibatnya banyak orang-orang yang sudah terlanjur mempecayai kehebatan si bocah ini rela menunggu berdesak-desakan dengan puluhan orang untuk menunggu kemunculannya kembali.


Bagaimanapun juga Ponari adalah manusia kanak-kanak biasa yang tidak ada bedanya dengan kanak-kanak seusianya. Banyak kebutuhan kanak-kanak yang harus terpenuhi. Tapi dengan membludaknya pengunjung yang ingin disembuhkannya ia menjadi kanak-kanak yang kekurangan, walaupun secara keuangan ia bisa menghasilkan uang tidak kurang dari 60 juta per hari. Apa artinya uang, kalau kita tidak bisa menikmati masa kecil yang indah.

Coba diperhatikan bahwa fenomena aneh yang terjadi pada Ponari ini tidak timbul karena kesengajaan. Kalau kita mau mempelajari beberapa kisah aneh lain (setidaknya menurut saya) yang berhubungan dengan anak-anak banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari kita, hanya saja tidak sepopuler Ponari, bahkan beberapa kasus terjadi karena kesengajaan. Kejadian itu adalah pendewasaan anak-anak dengan sengaja. Sebut saja kasus-kasus penjualan anak-anak, pekerja anak-anak, pemain sinetron anak-anak dan sebagainya.


Dari beberapa kasus yang menjadi perhatian saya tentang pendewasaan si cilik-cilik itu mutlak adalah kesalahan orang tua atau ulah manusia dewasa yang (maaf) tidak mengerti kedewasaannya. Mereka hanya mengejar materi dan kehormatan tanpa peduli efek samping yang ditimbulkannya.


Dulu saya sempat terhenyak ketika sebuah televisi lokal membuat acara idola-idolaan yang pesertanya anak-anak. Saya kira tujuan dari penyelenggaraan itu baik, untuk mengembangkan bakat anak-anak. Tapi yang saya sayangkan adalah format kompetisinya, lagu-lagu yang dinyanyikan para peserta itu tidak dibatasi pada lagu anak-anak. Mereka dengan bangganya sebagai kanak-kanak menyanyikan lagu-lagu bertema “cinta kacangan” yang sangat-sangat tidak mendidik anak-anak. Apa sudah tidak ada lagi lagu anak-anak di Indonesia ini, sudah begitu terpuruknyakah negeri ini, hingga kita ini miskin lagu anak-anak.


Yang membuat saya heran, katanya pemerintah punya KPPI dan segudang ahli psikologi anak, tapi kenapa mereka diam saja-kalaupun ada yang berani angkat bicara-tindakan proaktif tidak Nampak di permukaan. Maka berlanjutlah acara itu hingga saat ini dengan format yang sama. Sudahkah kita sebagai orang tua memikirkan hal sekecil ini untuk anak-anak kita?


Blog ini pasti tidak cukup bahkan akan sangat menjemukan bagi pengunjung kalau saya membeberkan semua keanehan-keanehan tentang si bocah cilik. Kasihan si cilik-cilik dengan fenomena aneh itu, mereka terpaksa kehilangan masa kecilnya untuk menelan hal-hal yang harusnya untuk orang dewasa.

Jumat, 13 Februari 2009

Happy & Happy, But Don't Be Grazy.....!



Hari ini – Sabtu, 14 Februari 2009.

Sengaja saya menuliskan Trend Remaja yang disebut “Valentine Day”


Saya tidak peduli bila ada yang bilang ikut-ikutan. Suka hati saya mau tulis apa saja yang ingin saya tulis. Yang penting saya tidak sedang berusaha melukai siapapun.


Saya tidak peduli bila ada yang mengatakan “Valentine Day sebagai perayaan para kafir.” Suka hati mereka yang ingin mengatakannya.


Saya tidak peduli bila kemarin ada yang demontrasi menentang “Perayaan Valentine Day.” Suka hati mereka yang ingin masuk TI-PHI biar disebut sebagai bagian dari Negara yang suka berdemontrasi, padahal biaya dan waktu mereka yang seharusnya berguna untuk belajar terbuang sia-sia.


Hari ini – Sabtu, 14 Februari 2009.
Akhir dari minggu ke-2 Bulan Februari,


Sangat-sangat kebetulan sekali bila hari ini berbenturan dengan perayaan Valentine Day, pasti menjadi week end yang mendebarkan hati bagi mereka yang sedang kasmaran.


Tapi ingat, jangan kalian nodai hari ini dengan melukai diri sendiri dalam perbuatan mesum. Tunjukkan kasih sayang yang seutuhnya tanpa harus berbuat dosa.
Nikmati hari yang indah ini dengan memberikan hadiah yang paling indah bagi kekasih, bukan kenikmatan sesaat yang akan membuat kalian menyesal belakang hari.
Ucapkan kata-kata indah sesuka hati kalian.
Hari ini milik kalian.
Tapi ingat, masih banyak yang bisa kalian lakukan untuk sesama.
Sebab kasih sayang tidak sebatas untuk kalian yang sedang kasmaran.
Kasih sayang adalah milik semua orang.
Bahkan kita terlahir ke dunia ini karena kasih sayang.

Tunjukkan pada dunia bahwa kalian bisa berbagi kasih sayang dengan siapa saja.
Bahkan kepada mereka yang menyumpahi, memusuhi atau membenci kalian sekalipun. Sebab kasih sayang bukan saling melukai walau hanya sekedar dengan tulisan atau kata-kata


Hari ini – Sabtu, 14 Februari 2009.


Saya hanya bisa mengucap,”Happy Valentine for You All”



Senin, 26 Januari 2009

FANATIK YANG BERLEBIHAN

Pernah dengar kata fanatik? Sebenarnya saya sendiri tidak begitu faham dengan definisi yang sebenarnya. Menurut pengalaman saya fanatik mungkin berarti mempercayai sesuatu secara berlebihan.



Saya memiliki pengalaman yang menggelikan dengan kata "Fanatik" tersebut. Begini ceritanya, setelah saya menekuni karier jadi tukang foto di rumah selama 5 tahun-pelanggan saya mulai bertambah banyak. Dari kalangan anak-anak sampai nenek-nenek. Mulai dari tukang becak sampai CALEG pun ada. Berbagai macam type manusia telah saya layani, mulai yang sabar sampai yang pemarah.



Saat itu kira-kira 1 tahun yang lalu ketika sedang musim perekrutan PNS-Guru. Seorang pelanggan saya yang juga calon PNS meminta layanan saya dalam membuat Pas Photo untuk keperluan pengajuan PNS-nya. Tempat tinggalnya dari rumah saya sekitar 10 menit dengan menggunakan motor.



Pagi-pagi sekali Ibu ini datang ke rumah bersama beberapa orang temannya untuk berfoto. Dan saya pun melayani mereka sesuai dengan komitmen saya yaitu memberikan layanan foto digital langsung jadi. Ketika saya tawari untuk dibuatkan CD-data fotonya mereka tidak mau, dengan permintaan cetak yang cukup banyak menurut mereka sudah tidak mungkin kurang.



Setelah selesai mendapatkan foto-foto untuk persyaratan merekapun langsung berangkat ke kota kabupaten tempat penyetoran persyaratan pengajuan PNS tersebut. Dan saya-pun bersiap-siap untuk pergi kerja. (usaha foto di rumah hanya sambilan).



Tengah hari kira-kira jam 11 siang, istri saya telpon agar saya pulang sebentar karena ibu-ibu guru calon PNS yang pagi tadi itu datang lagi untuk minta dicetakkan foto lagi.
"Lho katanya tadi sudah kebanyakan kok masih kurang?" Tanya saya heran.



"Foto yang tadi lebih, ada tambahan permintaan Foto Hitam Putih!" Jawab istri saya.



Ini baru namanya aneh, lha wong di kota kabupaten banyak studio foto besar yang memberikan pelayanan foto kilat dengan fasilitas yang lebih komplit-kok masih balik lagi ke tempat saya yang jaraknya sekitar 30 km.



Saya jadi bertanya-tanya apa ibu-ibu ini tidak pernah ke kota, jadi tidak tahu kalau sekedar untuk foto kilat saja mereka tidak mungkin kesulitan?



Akhirnya saya pun pulang, kebetulan tempat kerja saya tidak jauh hanya 2 menit jalan kaki (kurang lebih 100 m dari rumah).
Sampai di rumah saya coba tanya pada ibu-ibu tersebut.
"Kok ndak Foto di dekat-dekat sana aja, Bu? Kan banyak studio foto digital kilat, bagus-bagus lagi?"



"Waduh, mas. Kami merasa ndak pas kalau ndak foto di sini. Sudah kadung suka di sini. Cepat dah, mas! Kami harus balik lagi."
"Ndak usah difoto lagi, data-nya kan masih saya simpan. Biar itu saja yang dibikin hitam putih. Biar cepat."



"Wah iya, ndak ingat. Tahu gitu kan cukup satu orang aja yang datang?"



Mereka tertawa kompak. Istri saya tiba-tiba nyeletuk,"Makanya jangan terlalu fanatik sama foto di sini, bu?"



Mereka tertawa lagi. "Iya, Mbak. Memang ndak enak kalau ndak foto di sini."



Nah, kalau kejadian ini bisa disebut sebagai akibat kefanatikan seseorang terhadap sesuatu, saya jadi berfikir bahwa fanatik kadang-kadang menyesatkan dan merugikan apalagi fanatik terhadap hal-hal yang sederhana seperti ini. Coba kalau mereka tidak fanatik, mereka pasti tidak perlu tambah ongkos bensin dan waktu mereka tidak terbuang. Iya-Tidak?