Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Februari 2009

AKU CINTA INDONESIA 2


BAGIAN KEDUA : TENTANG SAYA DAN NEGERI INI


Cerita ini adalah sambungan dari posting sebelumnya. Jadi, kalau teman-teman tidak keberatan dan tertarik tentunya silahkan baca dulu bagian yang pertama.





Seiring dengan bertambahnya usia saya saat itu keadaan negeri tercinta ini sedang menghadapi saat-saat sulit. Masih hangat pada ingatan kejadian-kejadian yang menimpa Indonesia pada Tahun 1998 silam. Diawali pada akhir jabatan Presiden Soeharto pada Tahun sebelumnya yang kemudian terpilih kembali. Saya tidak akan menjelaskan tentang seberapa besar gejolak politik di negeri kita saat itu, karena saya bukan ahlinya. Saya sangat merasakan akibat dari ketidakstabilan keamanan dan perekonomian saat itu. Saya yakin hampir semua orang di negeri ini juga merasakan hal yang sama. Harga barang-barang kebutuhan melangit, sementara lapangan pekerjaan menyempit. Peluang usaha pun terancam. PHK terjadi di mana-mana. Banyak keterpurukan terjadi di sekitar kita. Ada apa sebenarnya dengan bangsa yang besar ini?


Saya tidak terlalu peduli dengan semua gemuruh perpolitikan. Secara pribadi saya merasa kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah saat itu. Borok yang penuh ulat-ulat pemakan bangkai di tubuh pemerintahan dibongkar secara blak-blakan hampir di semua media masa. Kebaikan dan keberhasilan ORDE BARU seakan lenyap begitu saja, tanpa bekas penghargaan sedikitpun. Orde yang telah dicap sebagai pemerintahan paling korup, bahkan populer dengan istilah KKN. Lalu banyak kalangan elit tampil ke depan untuk menawarkan solusi. Saya berusaha menjadi warga negara yang baik dengan melaksanakan kewajiban berdemokrasi. Sayapun menetapkan pilihan terhadap partai dan calon presiden yang baru.


Waktu terus berjalan. Pesta demokrasi telah berlalu. Pemerintahan baru negeri tercinta ini sudah dibentuk dan mulai bekerja. Tapi secara pribadi yang saya rasakan masih sama. Jalan di tempat, tanpa ada perkembangan sedikitpun.


Belum genap dua tahun pemerintahan pasca Orde Baru bertugas-sembilan tahun yang silam, tepatnya Bulan Februari Tahun 2000 saya coba mengadu nasib di negeri jiran-Malaysia. Beberapa masalah pribadi telah memaksa saya harus mencoba peruntungan untuk mengais rejeki di negeri orang. Dengan tekad dan semangat yang bulat saya berharap bisa meraih kesuksesan di bidang financial. Artinya, dengan mengumpulkan ringgit saya bisa mempunyai modal untuk membuka sebuah usaha sendiri setelah pulang nanti. Sebab walaupun di negeri sendiri saya telah bekerja pada sebuah perusahaan swasta selama 8 tahun belum juga bisa mengumpulkan bekal untuk modal usaha. Jangankan ditabung, untuk kehidupan sehari-hari saja belum cukup, sehingga saya masih harus mencari pekerjaan lain (serabutan) setelah pulang kerja.


Saya alergi dengan hamparan air. Semula saya berfikir saya akan pergi ke Malaysia dengan menggunakan transportasi laut seperti cerita dari beberapa teman dan tetangga yang pernah ke sana. Tetapi ternyata tidak. Puji Tuhan. Saya sangat senang sekali ketika mendengar bahwa keberangkatan saya menggunakan pesawat terbang. Artinya, naik pesawat terbang adalah pengalaman pertama dan bahkan mungkin yang terakhir untuk orang awam seperti saya.


Akhirnya saya bersama 50 orang dalam satu rombongan dengan tujuan yang sama dari beberapa daerah di Jawa ini berangkat ke Malaysia melalui Bandara Soekarno Hatta. Pengalaman pertama saya masuk di lingkungan bandara saya merasa bangga melihatnya. Kagum. Heran. Maklumlah, orang ”ndeso,” katanya Mas Tukul ”Katrok”.

Perjalanan kami melalui udara ke Malaysia, tepatnya dari Bandara Soekarno-Hatta ke KLIA (Kuala Lumpur International Airport) memakan waktu kurang lebih satu jam. Beberapa menit sebelum mendarat pesawat yang kami tunggangi mengalami kesulitan karena cuaca buruk. Hujan lebat dengan awan hitam menyelimuti langit terlihat dari jendela pesawat. Beberapa kali pesawat kami mengalami guncangan cukup kuat. Saat itu saya benar-benar ketakutan. Apalagi ketika awak pesawat mengarahkan agar kami segera menggunakan sabuk pengaman. Sayapun hanya bisa berdo’a dengan bahasa yang penuh ketakutan.


Gangguan tersebut ternyata tidak berarti apa-apa. Sebab sebentar kemudian terdengar suara dari awak pesawat bahwa kami akan segera mendarat di Bandara KLIA. Hujan masih terlihat lebat ketika pesawat mencoba landing. Dengan ketakutan terpendam dalam hati, saya berharap penerbangan ini selamat. Dan...... tentu saja saya selamat sampai tujuan, kalau tidak-pasti hantu yang menulis pengalaman ini.Bersambung...

Kamis, 15 Januari 2009

APA UKURAN SUKSES?

Sukses? Apa Ukurannya?
Kita sering mendengar kata sukses di dalam kehidupan
sehari-hari kita, misalnya sukses dalam belajar di perguruan tinggi, sukses dalam berkarier, sukses dalam menjalankan penelitian, dan sebagainya.
Tapi seringkali saya merasa ragu dengan batasan-batasannya, sehingga kita bisa dianggap sukses.
Sukses barangkali berhubungan dengan pencapaian sebuah tujuan. Satu contoh, dalam sebuah even pertandingan sepak bola piala dunia, Italia sukses meraih juara dan berhasil mempertahankan gelar juara bertahannya. Contoh kedua, Barack Obama sukses dalam pemilihan presiden Amerika Serikat.
Pada dua contoh kesuksesan di atas terdapat kesamaan dan perbedaannya. Contoh pertama menggambarkan kesuksesan tim, dan yang kedua adalah contoh kesesuksesan secara perorangan.
Tapi keduanya memiliki batasan yang sama, yaitu sudah meraih apa yang diharapkan pada ajang yang diikutinya.
Ketika Tim Nasional Itali itu diurai pada anggota timnya,apakah anggota tim merasakan kesuksesan yang sama dalam kariernya masing-masing? Pencapaian sukses secara subyektif pasti berbeda. Apakah ukuran sukses Del Piero sebagai pemain sepak bola sudah bisa dianggap sukses? Menurut ukuran kita mungkin. Tapi menurut dia belum tentu, sebab kita tidak tahu ukuran sukses bagi dia. Betul?
Nah, satu contoh lagi yang pernah saya alami sendiri. Ketika masih menjadi TKI di negara tetangga, saya sering berdiskusi dengan teman-teman yang intinya mereka semua harus sukses sebagai TKI. Ketika saya bertanya, sukses yang bagaimana? Ada berbagai jawaban, pulang ke tanah air membawa uang yang berlimpah, bisa membeli barang-barang yang diinginkannya, punya modal untuk usaha sendiri dan sebagainya. dari 10 orang yang berdiskusi itu masing-masing memiliki batasan sukses yang berbeda. Hanya beberapa orang yang bisa dianggap sama, yaitu mengumpulkan uang untuk modal usaha di rumah nanti, itupun dengan batasan pengumpulan dana yang berbeda-beda. Dan ketika sudah akhir masa kontrak kami semua harus pulang, maka tibalah kami semua hitung-hitungan hasil. Nampaknya saya tergolong paling tidak berhasil, sebab apa yang saya kumpulkan jauh di bawah teman-teman yang lain. Apakah saya tidak sukses? Jawabannya adalah tidak. Sebab menjadi TKI baru bagian awalnya, selanjutnya saya masih harus memulai bidang usaha sendiri di rumah untuk melanjutkan kehidupan saya dan tidak perlu harus melanglang buana hanya untuk mencari harta benda.
Saya merasa cukup mencari penghasilan di negeri orang hanya sebatas 2 tahun. Kalau saya ke luar negeri nanti dengan urusan yang berbeda yaitu tamasya bukan kerja. Itulah prinsip saya.
Sementara sebagian besar teman-teman saya masih harus pergi lagi jadi TKI ke negara yang sama dengan pekerjaan berbeda atau ke negara tetangga lain, padahal banyak dari mereka ini menganggap jadi TKI sudah sukses. Kalau sukses kenapa jadi TKI lagi? Dan bagaimana dengan saya?
Saya pegang prinsip saya semula untuk meneruskan kehidupan dengan mengais rejeki di rumah walau banyak yang mengatakan saya tidak sukses jadi TKI.
Setelah sampai di kampung halaman, saya pergunakan uang hasil dari menjadi TKI itu sebagai modal usaha kecil-kecilan jadi tukang foto seperti cita-cita saya sewaktu sekolah dulu, saya akan belajar komputer sebab digital kamera sudah mulai berkembang. Ternyata keuangan saya tidak cukup. Saya jual barang-barang saya yang sudah ada sebelum jadi TKI sebagai tambahan modal. Masih juga belum cukup, akhirnya saya terpaksa menjalankan usaha saya itu sambil pelan-pelan kumpulkan modal untuk tambahan pembelian perangkat pendukung usaha.
Kini target saya untuk memenuhi kebutuhan hidup sudah lebih dari cukup. Target menambah perangkat pendukung sudah 75% terpenuhi. Waktu yang saya butuhkan sekitar 7 tahun.
Tiba-tiba seorang teman saya yang dulu sama-sama jadi TKI datang berkunjung dan terkesima dengan keadaan saya. Dia bilang saya sukses. Benarkah saya sukses? Menurut saya biasa-biasa saja, sebab saya masih harus berjuang mempertahankan popularitas usaha saya sehingga layanan saya terus digunakan orang sementara di desa saya banyak pengusaha-pengusaha baru sebagai kompetitor dengan modal yang luar biasa besar (dibanding saya dulu) tapi harga layanan seolah mematikan pesaingnya. Persaingan yang tidak masuk akal yang sangat tidak sehat. Semoga saya terus mampu berusaha?
Jadi ukuran sukses bagi saya adalah ketika sudah bisa menikmati hasil usaha kita tanpa ada lagi kerja keras. Adakah yang demikian?