Tampilkan postingan dengan label AKU UNTUK NEGERIKU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AKU UNTUK NEGERIKU. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Mei 2009

BANGKIT

101 tahun silam, pada Hari Minggu, 20 Mei 1908 Pemuda Soetomo menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan bangsa sendiri. Bersama kawan-kawan yang sebelumnya melalui diskusi serta pertemuan demi pertemuan yang panjang akhirnya pada hari itu juga didirikan Perkumpulan Boedi Oetomo. Berdirinya organisasi ini telah direspon baik oleh semua kalangan sebagai bentuk organisasi yang nasionalis. Semangat persatuan dan persatuan berbangsa dan bertanah air Indonesia telah lahir. Walau perjalanan organisasi ini tidak berjalan mulus, tapi pada akhirnya Pemerintah selalu memperingatinya sebagai Hari Kebangkitan Nasional.


 

Seabad lebih satu tahun Kebangkitan Nasional lahir, apakah ini berarti jiwa nasionalis Bangsa Kita setua umurnya? Pertanyaan yang melesat begitu saja dalam pikiran saya. Entah apa jawabannya. Keadaan negeri ini sepatutnya lebih baik dari 101 tahun silam dimana negeri ini diperintah oleh bangsa asing. Keadilan dan kemakmuran tentulah sangat jauh dari kenyataan. Kini Negara yang kaya akan budaya dan sumber daya alam ini telah diperintah oleh bangsa sendiri, harapan kita adalah negeri yang makmur sejahtera. Bisakah?


 

Semoga. Dan tugas kita tidak hanya sekedar berdo'a saja. Apalagi menuntut yang macam-macam pada pemerintah. Tunjukkan jiwa kebangsaan kita. Bagaimanapun juga negeri ini adalah milik kita bersama. Bangkitlah dan terus bangkit berjuang sesuai profesi kita. OK?


 

Salam persatuan dan kesatuan. MERDEKA……………….!

Senin, 20 April 2009

Setiap 21 April

Pagi masih terlalu muda. Teman-teman berteriak-teriak ramai sekali dalam perjalanan menuju ke sekolah. Mereka penuh sukacita mengolok-olok teman-teman wanita yang berkebaya. Warna-warni. Dengan sanggul besar di belakang kepalanya. Aneh. Saya juga melihatnya tapi tidak ikut serta meneriakinya. Hanya geli melihat kanak-kanak seusia saya sudah mengenakan pakaian adat jawa itu. Yang saya rasakan hanya gembira karena hari itu tidak ada pelajaran seperti biasa.


 

Itulah sedikit dari yang saya ingat saat masih kelas empat sekolah dasar. Pada hari itu di sekolah hanya ada kegiatan khusus untuk siswa perempuan. Lomba merangkai bunga, menyulam dan sebagainya. Para siswa lelaki kebanyakan hanya jadi penonton dan hanya beberapa yang turut serta membantu panitia. Hari itu Hari Kartini.


 

Begitulah setiap tahun selalu diperingatinya 21 April sebagai Hari Kartini. Katanya, hari kebangkitan kaum wanita Indonesia dari keterpurukan. Dan entah apa lagi. Saya sudah lama melupakannya. Saya benar-benar tidak tahu apa filosofi yang terkandung pada hari itu sampai dengan saat ini. Buku,"HABIS GELAP TERBITLAH TERANG," Karya RA. Kartini itu pun belum sempat saya baca.


 

Hanya dari pelajaran sejarah saya masih mengingat 21 April sebagai peringatan Hari Kartini. Dan sejauh ini yang saya mengerti bahwa sebenarnya Kaum wanita juga turut berperan dalam perjuangan bangsa ini. Dan setelah dewasa, saya lebih memahami bahwa wanita Indonesia memang sepatutnya tidak saja mampu hanya urusan dapur dan tempat tidur. Tapi lebih dari itu.


 

Bangkitlah Kartini-Kartini muda. Bela Bangsa tercinta ini tanpa tetes air mata.

Rabu, 11 Februari 2009

AKU CINTA INDONESIA 4


BAGIAN AKHIR : Tentang Hidup di negeri orang, Ketika Indonesia Raya dikumandangkan Dan Bye Bye Malaysia!




Hidup di negeri orang bukan hal yang mudah. Apalagi di sana kita mengadu nasib dan mengais rejeki. Mungkin benar kata pepatah, ”Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri.” Seenak-enaknya bernafas di negeri asing, lebih enak menghirup udara di kampung sendiri. Dua setengah tahun berada di Malaysia seperti hanya dalam mimpi, tapi yang saya rasakan waktu itu hari-hari seakan lambat bergerak. Menunggu besok rasanya seperti menunggu tahun berganti.


Bagi kalian yang belum dan akan pergi ke mana saja di luar negeri ini, jika hanya untuk menjadi buruh kalau boleh saya sarankan lebih baik batalkan. Apalagi di Malaysia, di sana kaum buruh asing semacam saya waktu itu seperti tidak bermartabat. Seringkali orang memandang kita dengan sebelah mata.

Pernah suatu saat ketika sedang istirahat siang di halaman belakang pabrik, saya sedang nongkrong, sendirian ada seorang tenaga kerja asing dari Bangladesh sedang belajar naik motor. Orang-orang Melayu ramai menertawainya. Secara reflek sayapun ikut tersenyum oleh ulah Bangla itu. Tiba-tiba seorang Melayu yang akrab dengan Bangla itu membentak saya, “He You, Indon! Awak ni budak miskin datang mari dah naik tongkang, tersenyum-senyum pula, boleh awak naik motosikal?,”


Nampaknya orang ini tidak suka saya ikutan tersenyum tadi. Dan dikiranya saya tidak bisa naik motor. Dan dipikirnya saya datang ke Malaysia dengan perahu. Nada bicaranya pun seakan mengejek saya. Maka dengan amarah di dada saya berdiri, sebatang rokok yang baru terhisap separuh di bibir saya buang dan injak, lalu saya hampiri dia.


“Hei, Bang. Jangan hina kami, ya. Kami memang miskin, tapi kami bukan bodo macam You punya member tu. Jangankan motor, naik kereta pun saya boleh. Kalau ada masa boleh kita resing, saya dengan You, macam mana? Bila? You pilih masa, kita berlumba, ha?” Saya berbicara agak keras persis di hadapannya.
“Satu lagi, Bang. Saya datang mari tidak naik tongkang. Kami beli tiket pesawat oh.. you tak tahu pesawat kan? Air Plane. Saya turun KLIA, tahu KLIA? Dan saya bayar mahal untuk bisa kerja di sini. Jadi tolong jangan macam-macam dengan kami, jaga awak punya mulut. Ok?” Lalu saya pergi ngeloyor tanpa mempedulikan mimik di wajahnya.


Dua bulan berada di Malaysia, secara kebetulan saya terpilih jadi Line Leader mewakili teman-teman dari Indonesia. Bagi saya ini adalah suatu kesempatan untuk menunjukkan siapa Indonesia di mata mereka. Saya akan berusaha memberikan segala kemampuan untuk membuktikan bahwa kita bukan bangsa yang miskin dan bodoh seperti mereka.


Tahun-tahun sebelum pergi ke Malaysia saya pernah menjadi anggota ORARI, saya banyak mendapatkan pengetahuan tentang radio dan elektronika dari organisasi ini. Jadi ketika saya bekerja pada pabrik elektronika milik Jepang di Malaysia itu sebenarnya saya sudah mempunyai bekal pengetahuan tentang arus listrik lemah serta beberapa perangkatnya. Sehingga saya tidak kesulitan membaca spec-spec dari product yang dibuat.


Saya hanya menjalani training selama satu minggu, setelah itu sudah dipercaya membawahi 3 line production dengan 21 orang member. Hebat? Tidak. Karena sebenarnya personil-personil di sana SDM-nya masih bisa dibilang rata-rata di bawah saya, sementara di Indonesia - kalau kita mau mengakui - SDM bangsa kita jauh di atas rata-rata melebihi saya. Saya hanya penggalan kecil dari bangsa yang besar ini. Lihatlah pemuda-pemuda kita banyak yang sudah menunjukkan kemampuannya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pada kontes-kontes internasional. Tidak sedikit pula dari mereka telah mendapatkan award. Sementara saya? Saya hanya mengadu nasib untuk melanjutkan hidup, tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk negeri ini.


Masa-masa menantikan habis kontrak 2 tahun seperti terlupakan. Kesibukan saya sebagai line leader membuat jam kerja saya lebih banyak, sehingga waktu seakan cepat berlalu. Hampir semua tugas-tugas yang diberikan kepada saya baik oleh atasan lokal maupun Jepun tidak mengecewakan mereka. Mereka bersimpati kepada saya. Member lokal maupun luar banyak yang menghormati saya. Tidak ada lagi umpatan dan pelecehan terhadap saya dan teman-teman sebangsa. Mereka semua jadi baik dan bersahabat serta dapat bekerja sama. Target produksi selalu tercapai bahkan sering lebih. Bulan ke-6 pun gaji dan tunjangan saya bertambah (ini yang penting ha..ha..ha..)


Walaupun demikian beberapa kejadian sempat mengecewakan saya. Ada beberapa teman dari tanah air yang membuat ulah, sehingga sedikit banyak memperburuk citra bangsa. Dan saya tidak perlu menyebutkan di sini, sebab itu memalukan. Sebagai line leader saya berusaha menomorsatukan teman-teman sendiri dari tanah air untuk banyak-banyak mendapatkan ”over time” (lembur), tapi beberapa dari mereka justru menolaknya, sayang sekali memang. Tapi saya tidak bisa berbuat banyak. Argumentasi saya selalu dipatahkan dengan berbagai macam alasan. Akhirnya saya hanya memilih beberapa teman yang sungguh-sungguh ingin menambah penghasilannya. Bagi mereka yang menolak? Saya tidak ingin tahu akibatnya.


Bekerja sebagai buruh pabrik di Malaysia gajinya tidak terlalu besar. Justru dari tambahan ”over time” (kerja lembur) itu pendapatan kita bisa meningkat sampai 2 kali lipat dari basic (gaji pokok). Percaya atau tidak percaya, saya sudah mengalaminya sendiri. Pernah, pada suatu bulan selama kurang lebih 3 bulan saya tidak seberapa aktif kerja lembur, pendapatan saya hanya cukup untuk makan, tidak sedikitpun bisa saya tabung. Saat itu ketika krisis pasca WTC main-main sama mercon raksasa sampai runtuh, Tahun 2001. Pengaruhnya begitu luas hingga tempat kerja saya pun kena dampak dengan berkurangnya order, maka pekerjaan pun berkurang.


Pada bulan September 2001 Malaysia menjadi tuan rumah SEA GAMES ke-21. Saya merasa sangat beruntung, karena kesempatan ini belum tentu bisa saya dapatkan walaupun Indonesia yang menjadi tuan rumahnya. Saya berkesempatan melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana PSSI berlaga, saya bangga bisa selalu hadir dalam setiap pertandingannya – meskipun saat itu Tim Merah putih hanya puas di urutan ketiga.


Sepulang kerja (tanpa lembur) sore hari saya sudah siap di stadion sebelum pertandingan dimulai. Seorang teman yang juga menjabat line leader sumur saya selalu menemani. Jadi, transportasinyapun gratis – karena ia memakai mobilnya untuk kami berempat. Dan kami selalu duduk sebangku, hanya sekali kami terpisah saat tim Malaysia bertanding dengan Tim Merah Putih, sebab peraturan bagi penonton mengharuskan kami harus dipisah. Separuh tribun untuk penonton Indonesia dan separuhnya untuk Malaysia.


Ada yang membuat miris di hati saya, yaitu ketika Indonesia Raya dikumandangkan sebelum pertandingan dimulai. Saya jadi teringat masa-masa sekolah, saya jadi teringat tanah air. Bulu kuduk saya meremang. Semangat saya seolah dibakar. Sayapun tidak ketinggalan ikut berteriak-teriak menyanyikan lagu kebangsaan ini. Saya tidak peduli seorang teman Melayu duduk di sebelah saya. Wow, mengesankan sekali. Ada sesuatu yang berbeda ketika kita mendengarkan lagu kebangsaan itu di negeri orang. Dan saya tidak bisa menggambarkan seberapa indahnya lagu itu untuk dikumandangkan.


Tahunpun berganti. Keadaan krisis di perusahaan jepun tempat saya bekerja itu nampaknya terus berlanjut. Banyak pekerja-pekerja lokal dirumahkan. Pekerja asing dari Bangladesh habis dipulangkan. Dari Indonesia sendiri tinggal 20 orang. Beberapa teman merasa tidak betah sehingga cukup hanya 2 tahun saja di sana. Sementara saya mencoba untuk bertahan, saya berharap mungkin ada perubahan.


Perubahan yang saya harapkan itu mulai terjadi. Order bertambah, tapi ada sesuatu yang salah mungkin terjadi dalam manajemen. Dampaknya bagi saya terlalu berat. Jam kerja saya jadi semrawut. Kakuatan kerja saya dan teman-teman seolah-olah dipaksakan. Kami jadi seperti mesin. Waktu untuk istirahat sangat terbatas. Kerja selama hampir 18 jam pun pernah saya lakukan.


Keadaan semrawut ini membuat saya hanya mampu bertahan selama 5 bulan. Pada bulan ke-8 Tahun 2002 saya mendapatkan tugas kerja malam full selama satu bulan penuh. Teman-teman saya menganggap saya gila. Tapi saya memang punya rencana yang mereka tidak tahu.


2 line yang saya jaga bergantian shift. Sementara saya terus pada shift malam. Berangkat jam 5 sore, pulang pada jam 9.30 keesokan harinya, penuh selama 30 hari kerja. Dan perhitungan gaji sayapun meningkat, karena tunjangan shif malam dan lembur yang berlipat. Saya mendapatkan apa yang saya inginkan. Saya akan pulang ke Indonesia.


Awal September 2002 saya mengajukan untuk berhenti dan pulang ke tanah air. Teman-teman saya terkejut mendengarnya. Rekan-rekan kerja di pabrik seperti tidak percaya mendengar penuturan saya. Tahun itu adalah Tahun pertama pada masa kontrak ke-2 selama 1 tahun, dan saya baru menjalaninya selama 6 bulan. Kalau saya pulang sebelum waktunya, berarti saya harus menebus sisanya dengan sejumlah uang. Itu sudah saya perhitungkan. Maka dengan perolehan Bulan Agustus yang telah saya lalui dengan bekerja shift malam penuh satu bulan itu masih banyak tersisa setelah dipotong pengembalian uang kontrak.


Kalau dipikir sayang memang. Tapi entah setan mana yang membuat saya menjadi kepala batu. Tak satupun rayuan dari banyak orang yang ingin saya tetap di sana membuat saya luluh, sampai-sampai saya ditawari untuk cuti saja selama 3 bulan pun saya tolak, saya mau pulang terus. Maka proses kepulangan sayapun dikabulkan. Hari ke-8 bulan itu saya berpamitan. Budak-budak Melayu dan keturunan India yang mengenal saya tidak sedikit yang bersedih, mulai dari operator sampai tingkat manajer. Perpisahan itu memilukan kami. Saya pun kesulitan untuk tidak meneteskan air mata. Peluk dan salam dari mereka sangat mengesankan. Saat-saat menyakitkan dulu telah berganti kekraban yang harus saya akhiri. Mereka menangis seolah mengantarkan mayat seorang sahabat ke liang kubur, seorang sahabat yang tidak mungkin bisa ditemui lagi.


Ada yang bilang, ” Sampai jumpa di akhirat!”


Ada yang mengatakan, ”Jangan pergi mari lagi, kamu terlalu pandai untuk kerja dekat kilang yang teruk ini. Kalo nak kerja, cari kerajaan yang lebih kaya dari Malaysia.”


Ada pula yang mengatakan,”Jangan lupakan kita, ya?”


Keesokan harinya, 9 September 2002 pagi saya diantar ke Bandara KLIA untuk pulang ke Indonesia langsung ke tujuan Bandara Juanda. Saya dilepas hanya sampai di beranda Bandara. Saya masuk seorang diri ke tempat pesawat terbang yang akan membawa saya pulang. Ketika saya sedang berjalan seorang sekuriti memanggil saya dengan bahasa yang kasar. Tapi saya sudah kebal dengan bahasa itu.


”Hei, Wak. Sini!” Panggil sekuriti itu. Sayapun mendekat.


”Apa hal, Bang?” Saya balik bertanya.


”Awak nak balik kampung Indon kah?” Tanya sekuriti itu lagi.


” Ya...” Saya mengangguk.


”Banyak bawa duik, kah? Saya nak tengok,” Melayu itu terus bertanya.


Ini pasti ada yang tidak beres. Sayapun menghindarinya. Saya tidak jadi untuk lebih mendekat. ”Sorry, Bang. Saya terlambat.” Saya sedikit berlari menjauhinya.


”Hei, Indon. Jangan datang mari lagi lu ya....?” Hanya kata-kata itu yang saya sempat dengar.


Saya sedikit sakit hati dengan ulah sekuriti itu. Dalam batin saya mengatakan,”Saya tidak akan datang lagi ke sini sebagai buruh. Tunggu Malay, saya akan datang sebagai BOS!”


Bye-bye Malaysia!
Malaysia boleh kejam, tapi saya tidak akan melupakan sahabat-sahabat saya.
TAMAT.

Minggu, 08 Februari 2009

AKU CINTA INDONESIA 3



BAGIAN KETIGA: TENTANG SAYA, NEGERI SAYA dan NEGERI ORANG


Sudah tidak sabar baca yang ketiga? Lihat dulu gambar ini!
Ini adalah hari pertama saya bersama beberapa teman dari Jember 9 tahun lalu. Silahkan tebak, kira-kira menurut kalian yang pantes jadi saya yang mana hayoo?
Saya kasih kata kunci ya? Wajahnya ndak pantes jadi pemimpin. (Wuih ndak nyambung.....!)


Perasaan lega bercampur senang saat pesawat sudah berhenti dan para penumpang dipersilahkan keluar secara teratur. Saya bersama rombongan telah disambut tim dari perusahaan yang akan memperkerjakan kami. Sambutan yang luar biasa bagus, karena kami hanya calon buruh pabrik.


Yang mengesankan bagi saya saat itu bukan karena penyambutan yang baik dari pihak company, tapi ketika keluar dari pesawat dan berada di sana untuk proses-proses kedatangan-saya melihat bahwa KLIA jauh lebih megah dari Bandara Soekarno-Hatta. Dalam diri saya jadi bertanya-tanya, benarkah? Saya tidak percaya dengan penglihatan saya. Baru beberapa jam yang lalu saya melihat kemegahan Soekarno-Hatta, kini setelah sampai tujuan, saya melihat yang lebih megah lagi.


Saya terenyuh, tapi bukan karena saya merasa bangga telah berada di negeri orang melainkan karena bandara milik negara tercinta saya ternyata masih berada di bawah negara sekecil Malaysia yang usia kemerdekaannya jauh lebih muda dari Indonesia. Saya merasa iri dengan keadaan ini.


Sudah tidak mampukah negeri saya membangun bandara internasional yang lebih megah lagi? Semoga ini adalah penilaian yang subyektif dari saya. (Keadaan Bandara Soekarno-Hatta Tahun 2000 – mungkin sekarang sudah berubah menjadi lebih megah dari bandara manapun).


Minggu pertama saya berada di negeri itu saya merasakan suatu perbedaan tentang keadaan kotanya, di sana masih banyak berkeliaran burung-burung yang terbang ke sana-kemari secara bebas. Kalau di Kota Malang yang sering saya lihat hanya burung gereja. Tapi di pemukiman sebesar Kuala Lumpur lebih bervariasi. Burung-burung itu seakan bersahabat dengan alam perkotaan. Masih banyak pepohonan yang rindang untuk mereka singgahi. Di pagi hari saya dengar nyanyian burung-burung itu layaknya ketika saya tinggal di desa masa kecil dulu, bercericit bersenandung tentang nyanyian alam yang sejuk. Di Indonesia keadaan ini jarang kita temui mungkin karena banyak burung-burung telah dipelihara serta dikurung secara pribadi dan menjadi milik perseorangan. Jadi burung-burung yang ada di kota-kota di Indonesia tidak bisa berkeliaran dengan leluasa, karena orang akan menangkapnya lalu memperdagangkannya. Jadi kalau kita ingin melihat berbagai macam burung lebih baik ke pasar burung atau kebun binatang. Untuk lihat yang bebas, jangan pernah bermimpi.


Pagi di antara nyanyian burung-burung itu para pekerja mulai beraktivitas. Kami mulai berbenah untuk mempersiapkan diri pergi ke tempat kerja. Deru mesin menderum di luar rumah, pada mulanya saya tidak tahu bahwa suara itu adalah suara sebuah truk sampah yang sedang meraung mengepres sampah-sampah yang dimasukkan lewat bak belakang oleh beberapa pekerja. Dasar ”ndeso” yang begituan saja tidak pernah lihat.

Jadi ketika kami sudah siap berangkat sekitar jam 6.30 waktu setempat-sepanjang jalan yang kami lalui sudah bersih dari sampah meskipun beberapa pekerja wanita tukang sapu jalanan berseragam biru muda masih terlihat berada di sekitarnya. Sepagi itu mereka telah selesai dengan pekerjaannya-mungkin mereka memulainya ketika pagi masih gelap. Dan belakangan baru saya tahu bahwa mereka ternyata dari Indonesia.

Saya sering membayangkan, seandainya di kota tempat tinggal saya ada pekerja-pekerja khusus yang dibayar layak untuk sekedar menyapu jalanan dan membuang sampah secara tertib dan teratur seperti itu alangkah indah kota kecil saya, dan lagi kita tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk jadi tukang sapu.

Pertanyaannya, kenapa di Malaysia bisa menerapkan manajemen kebersihan kotanya dengan cara demikian sementara di tempat tinggal saya tidak? Apakah perencanaan kebersihan yang sedemikian itu membutuhkan terlalu banyak biaya? Sehingga APBD tidak cukup untuk membayar beberapa tenaga kebersihan yang layak sehingga mereka bekerja secara benar? Saya tidak bisa menjawabnya karena saya tidak tahu seluk beluk di dalam pemerintahan. Dan saya tidak ingin menuduh pemerintah daerah saya tidak becus dalam mengelola, saya hanya bisa berharap agar gambaran ini bisa dijadikan acuan bagi mereka apabila hal sekecil ini belum mendapatkan perhatian. Tapi apakah ada pihak pemerintah yang membaca tulisan kumuh ini, ya? Semoga!

Sepuluh menit kemudian saya sudah sampai ke tempat kerja. Seperti biasa saya membeli makanan kecil untuk sarapan yang dijual oleh semacam pedagang kaki lima tapi mereka menggunakan bagasi belakang mobil sebagai tempat meletakkan dagangannya. Kemudian saya mengantri di depan mesin penjual kopi, ya memang mesin-di kota kecilku tidak ada yang seperti itu, entah kalau di kota-kota besar semacam Jakarta atau Surabaya atau kota besar lainnya. Jadi kita tinggal masukkan uang recehan dan memencet tombol sesuai menu yang ada maka keluarlah minuman yang kita inginkan-dari yang dingin sampai yang panas.

Ada semacam pertanyaan iseng melintas dalam pikiran saya saat itu, apa mungkin di Indonesia dipasang mesin penjual otomatis di tempat umum? Pasti umurnya tidak panjang, sekarang dipasang 2 hari kemudian sudah rusak oleh tangan-tangan jail, sebab jangankan yang isinya bisa melegakan dahaga lha wong telpon umum saja rusak.

Ketika saya sudah berada di tanah ringgit itu selama kurang lebih satu bulan saya baru merasa bahwa ternyata sangat mudah menemukan orang sebangsa di sana. Hampir setiap sudut jalan kita bisa bertemu orang Indonesia.

Pada sebuah rumah makan - orang sana menyebutnya “Kedai makan” saya sempat berbincang-bincang dengan seorang lelaki muda asal Banyuwangi Jawa Timur. Menurut ceritanya ia sudah berada di sana selama 20 tahun lebih-sejak ia masih remaja. Saya coba bertanya kenapa ia tidak pulang? Dengan logat melayu kentalnya ia menjawab, “Di sini cari duit senang, Wak. Di kampung susah, saya lelah jadi orang miskin.”

Jawaban yang mencengangkan saya, ternyata jadi orang miskin di Indonesia itu melelahkan. Benarkah? Bersambung ………

Rabu, 04 Februari 2009

AKU CINTA INDONESIA 2


BAGIAN KEDUA : TENTANG SAYA DAN NEGERI INI


Cerita ini adalah sambungan dari posting sebelumnya. Jadi, kalau teman-teman tidak keberatan dan tertarik tentunya silahkan baca dulu bagian yang pertama.





Seiring dengan bertambahnya usia saya saat itu keadaan negeri tercinta ini sedang menghadapi saat-saat sulit. Masih hangat pada ingatan kejadian-kejadian yang menimpa Indonesia pada Tahun 1998 silam. Diawali pada akhir jabatan Presiden Soeharto pada Tahun sebelumnya yang kemudian terpilih kembali. Saya tidak akan menjelaskan tentang seberapa besar gejolak politik di negeri kita saat itu, karena saya bukan ahlinya. Saya sangat merasakan akibat dari ketidakstabilan keamanan dan perekonomian saat itu. Saya yakin hampir semua orang di negeri ini juga merasakan hal yang sama. Harga barang-barang kebutuhan melangit, sementara lapangan pekerjaan menyempit. Peluang usaha pun terancam. PHK terjadi di mana-mana. Banyak keterpurukan terjadi di sekitar kita. Ada apa sebenarnya dengan bangsa yang besar ini?


Saya tidak terlalu peduli dengan semua gemuruh perpolitikan. Secara pribadi saya merasa kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah saat itu. Borok yang penuh ulat-ulat pemakan bangkai di tubuh pemerintahan dibongkar secara blak-blakan hampir di semua media masa. Kebaikan dan keberhasilan ORDE BARU seakan lenyap begitu saja, tanpa bekas penghargaan sedikitpun. Orde yang telah dicap sebagai pemerintahan paling korup, bahkan populer dengan istilah KKN. Lalu banyak kalangan elit tampil ke depan untuk menawarkan solusi. Saya berusaha menjadi warga negara yang baik dengan melaksanakan kewajiban berdemokrasi. Sayapun menetapkan pilihan terhadap partai dan calon presiden yang baru.


Waktu terus berjalan. Pesta demokrasi telah berlalu. Pemerintahan baru negeri tercinta ini sudah dibentuk dan mulai bekerja. Tapi secara pribadi yang saya rasakan masih sama. Jalan di tempat, tanpa ada perkembangan sedikitpun.


Belum genap dua tahun pemerintahan pasca Orde Baru bertugas-sembilan tahun yang silam, tepatnya Bulan Februari Tahun 2000 saya coba mengadu nasib di negeri jiran-Malaysia. Beberapa masalah pribadi telah memaksa saya harus mencoba peruntungan untuk mengais rejeki di negeri orang. Dengan tekad dan semangat yang bulat saya berharap bisa meraih kesuksesan di bidang financial. Artinya, dengan mengumpulkan ringgit saya bisa mempunyai modal untuk membuka sebuah usaha sendiri setelah pulang nanti. Sebab walaupun di negeri sendiri saya telah bekerja pada sebuah perusahaan swasta selama 8 tahun belum juga bisa mengumpulkan bekal untuk modal usaha. Jangankan ditabung, untuk kehidupan sehari-hari saja belum cukup, sehingga saya masih harus mencari pekerjaan lain (serabutan) setelah pulang kerja.


Saya alergi dengan hamparan air. Semula saya berfikir saya akan pergi ke Malaysia dengan menggunakan transportasi laut seperti cerita dari beberapa teman dan tetangga yang pernah ke sana. Tetapi ternyata tidak. Puji Tuhan. Saya sangat senang sekali ketika mendengar bahwa keberangkatan saya menggunakan pesawat terbang. Artinya, naik pesawat terbang adalah pengalaman pertama dan bahkan mungkin yang terakhir untuk orang awam seperti saya.


Akhirnya saya bersama 50 orang dalam satu rombongan dengan tujuan yang sama dari beberapa daerah di Jawa ini berangkat ke Malaysia melalui Bandara Soekarno Hatta. Pengalaman pertama saya masuk di lingkungan bandara saya merasa bangga melihatnya. Kagum. Heran. Maklumlah, orang ”ndeso,” katanya Mas Tukul ”Katrok”.

Perjalanan kami melalui udara ke Malaysia, tepatnya dari Bandara Soekarno-Hatta ke KLIA (Kuala Lumpur International Airport) memakan waktu kurang lebih satu jam. Beberapa menit sebelum mendarat pesawat yang kami tunggangi mengalami kesulitan karena cuaca buruk. Hujan lebat dengan awan hitam menyelimuti langit terlihat dari jendela pesawat. Beberapa kali pesawat kami mengalami guncangan cukup kuat. Saat itu saya benar-benar ketakutan. Apalagi ketika awak pesawat mengarahkan agar kami segera menggunakan sabuk pengaman. Sayapun hanya bisa berdo’a dengan bahasa yang penuh ketakutan.


Gangguan tersebut ternyata tidak berarti apa-apa. Sebab sebentar kemudian terdengar suara dari awak pesawat bahwa kami akan segera mendarat di Bandara KLIA. Hujan masih terlihat lebat ketika pesawat mencoba landing. Dengan ketakutan terpendam dalam hati, saya berharap penerbangan ini selamat. Dan...... tentu saja saya selamat sampai tujuan, kalau tidak-pasti hantu yang menulis pengalaman ini.Bersambung...

Senin, 02 Februari 2009

AKU CINTA INDONESIA


BAGIAN PERTAMA : TENTANG CITA-CITA




Sebagai anak dari keluarga yang pas-pasan sebetulnya cita-cita saya tidak bisa dibilang sederhana, menjadi tukang foto professional bukan hal biasa. Saya belajar memotret sejak tingkat sekolah menengah atas. Untuk melampiaskan hasrat belajar saya di bidang itu saya terpaksa meminjam kamera tetangga. Agar bisa membeli filem saya harus mengumpulkan uang saku yang diberikan orang tua saya. Bahkan saya rela jalan kaki sejauh 10 km ke sekolah untuk menghemat uang saku saya, tentu saja agar sisa uang tersebut bisa saya pakai untuk praktek belajar memotret. Bagi saya biaya untuk cuci cetak filem saat itu masih sangat mahal.


Tamat SMA saya tidak meneruskan belajar ke perguruan tinggi. Kedua orang tua saya sudah menyerah dan merasa tidak mampu lagi membiayai, karena biaya kuliah mahal. Saya tidak begitu mempersoalkan masalah tersebut walaupun saya tahu dari semua teman-teman sekolah saya hanya saya seorang yang tidak menlanjutkan kuliah.


Saya tidak pernah berputus asa. Kehidupan saya harus terus berlanjut. Cita-cita saya harus tercapai walau bagaimanapun caranya, tapi dengan jalan yang benar. Ketika baru lepas SMA sayapun rajin mencari lowongan pekerjaan di sana-sini. Saya rela ikut kerja apa saja untuk mendapatkan penghasilan. Dan uang yang saya dapatkan bisa digunakan untuk keperluan membuat lamaran dan pergi wawancara bila ada panggilan. Hingga pada akhirnya ada sebuah perusahaan di bidang jasa kesehatan baru yang mau menerima saya untuk bekerja. Walaupun dengan gaji hanya sebesar 50 ribu rupiah per bulan (1992), saya terima kesempatan ini dengan harapan akan ada peningkatan. Tetapi setelah bertahan sampai 8 tahun harapan saya pun tinggal angan-angan. Tahun ke delapan saya hanya bisa menerima gaji sebesar 200 ribu rupiah saja per bulan. Penghasilan yang sedemikian itu tentulah tidak bersisa setelah digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


Saat itu usia saya sudah mencapai 27 tahun. Teman-teman sekolah saya sudah banyak yang berhasil. Saya dengar ada beberapa telah menjadi dosen pada perguruan tinggi negeri maupun swasta, bahkan ada yang menjadi pengusaha. Wal hasil saya pun malu bila ada undangan reuni teman-teman sekolah SMA, saya tidak pernah hadir. Dan saya berusaha menghilang dari peredaran mereka sampai saat ini.


Usia saya semakin bertambah, kedua orang tua saya sudah mulai menuntut agar saya segera mencari pasangan hidup. Menurut mereka, rejeki akan bertambah bila saya telah menikah dan mempunyai anak. Banyak contoh diberikan oleh mereka untuk meyakinkan saya, bahwa sebuah keluarga akan memiliki rejekinya masing-masing. Nasib itu akan berubah dengan sendirinya.


Saya mencoba berfikir secara realistis, kalau dengan gaji 200 ribu rupiah per bulan tidak cukup untuk satu orang bagaimana saya bisa menghidupi dua orang.
Ah, masa bodo dengan perkawinan, masa bodo dengan keluarga. Saat itu saya hanya ingin beli kamera SLR untuk meneruskan cita-cita saya jadi tukang potret professional, walau biayanya sangat mahal sekalipun. Lagi pula belum ada satu wanita pun yang mau melirik saya. (Kalau yang saya lirik sudah banyak, Ha ha ha….)