Pernah dengar kata fanatik? Sebenarnya saya sendiri tidak begitu faham dengan definisi yang sebenarnya. Menurut pengalaman saya fanatik mungkin berarti mempercayai sesuatu secara berlebihan.
Saya memiliki pengalaman yang menggelikan dengan kata "Fanatik" tersebut. Begini ceritanya, setelah saya menekuni karier jadi tukang foto di rumah selama 5 tahun-pelanggan saya mulai bertambah banyak. Dari kalangan anak-anak sampai nenek-nenek. Mulai dari tukang becak sampai CALEG pun ada. Berbagai macam type manusia telah saya layani, mulai yang sabar sampai yang pemarah.
Saat itu kira-kira 1 tahun yang lalu ketika sedang musim perekrutan PNS-Guru. Seorang pelanggan saya yang juga calon PNS meminta layanan saya dalam membuat Pas Photo untuk keperluan pengajuan PNS-nya. Tempat tinggalnya dari rumah saya sekitar 10 menit dengan menggunakan motor.
Pagi-pagi sekali Ibu ini datang ke rumah bersama beberapa orang temannya untuk berfoto. Dan saya pun melayani mereka sesuai dengan komitmen saya yaitu memberikan layanan foto digital langsung jadi. Ketika saya tawari untuk dibuatkan CD-data fotonya mereka tidak mau, dengan permintaan cetak yang cukup banyak menurut mereka sudah tidak mungkin kurang.
Setelah selesai mendapatkan foto-foto untuk persyaratan merekapun langsung berangkat ke kota kabupaten tempat penyetoran persyaratan pengajuan PNS tersebut. Dan saya-pun bersiap-siap untuk pergi kerja. (usaha foto di rumah hanya sambilan).
Tengah hari kira-kira jam 11 siang, istri saya telpon agar saya pulang sebentar karena ibu-ibu guru calon PNS yang pagi tadi itu datang lagi untuk minta dicetakkan foto lagi.
"Lho katanya tadi sudah kebanyakan kok masih kurang?" Tanya saya heran.
"Foto yang tadi lebih, ada tambahan permintaan Foto Hitam Putih!" Jawab istri saya.
Ini baru namanya aneh, lha wong di kota kabupaten banyak studio foto besar yang memberikan pelayanan foto kilat dengan fasilitas yang lebih komplit-kok masih balik lagi ke tempat saya yang jaraknya sekitar 30 km.
Saya jadi bertanya-tanya apa ibu-ibu ini tidak pernah ke kota, jadi tidak tahu kalau sekedar untuk foto kilat saja mereka tidak mungkin kesulitan?
Akhirnya saya pun pulang, kebetulan tempat kerja saya tidak jauh hanya 2 menit jalan kaki (kurang lebih 100 m dari rumah).
Sampai di rumah saya coba tanya pada ibu-ibu tersebut.
"Kok ndak Foto di dekat-dekat sana aja, Bu? Kan banyak studio foto digital kilat, bagus-bagus lagi?"
"Waduh, mas. Kami merasa ndak pas kalau ndak foto di sini. Sudah kadung suka di sini. Cepat dah, mas! Kami harus balik lagi."
"Ndak usah difoto lagi, data-nya kan masih saya simpan. Biar itu saja yang dibikin hitam putih. Biar cepat."
"Wah iya, ndak ingat. Tahu gitu kan cukup satu orang aja yang datang?"
Mereka tertawa kompak. Istri saya tiba-tiba nyeletuk,"Makanya jangan terlalu fanatik sama foto di sini, bu?"
Mereka tertawa lagi. "Iya, Mbak. Memang ndak enak kalau ndak foto di sini."
Nah, kalau kejadian ini bisa disebut sebagai akibat kefanatikan seseorang terhadap sesuatu, saya jadi berfikir bahwa fanatik kadang-kadang menyesatkan dan merugikan apalagi fanatik terhadap hal-hal yang sederhana seperti ini. Coba kalau mereka tidak fanatik, mereka pasti tidak perlu tambah ongkos bensin dan waktu mereka tidak terbuang. Iya-Tidak?
2 komentar:
mereka bukan fanatik, tapi nge-fans sama studio foto kamu hehe.. mungkin krn mereka awam, trus sekali dpt tempat foto bikin mereka nyaman, jadinya ga mau ke lain studio. itu menguntungkan. krn memang dlm bisnis jasa, yg terpenting adalah pelayanan :D
oya, dah gabung di ciao.com? apa nama usernya? mo add jd friend ;)
http://bintang-yn.blogspot.com
he he he
cerita yang gimana gitu ...
salam kenal
http://firman.web.id
Posting Komentar