BAGIAN KEDUA : TENTANG SAYA DAN NEGERI INI
Cerita ini adalah sambungan dari posting sebelumnya. Jadi, kalau teman-teman tidak keberatan dan tertarik tentunya silahkan baca dulu bagian yang pertama.
Seiring dengan bertambahnya usia saya saat itu keadaan negeri tercinta ini sedang menghadapi saat-saat sulit. Masih hangat pada ingatan kejadian-kejadian yang menimpa Indonesia pada Tahun 1998 silam. Diawali pada akhir jabatan Presiden Soeharto pada Tahun sebelumnya yang kemudian terpilih kembali. Saya tidak akan menjelaskan tentang seberapa besar gejolak politik di negeri kita saat itu, karena saya bukan ahlinya. Saya sangat merasakan akibat dari ketidakstabilan keamanan dan perekonomian saat itu. Saya yakin hampir semua orang di negeri ini juga merasakan hal yang sama. Harga barang-barang kebutuhan melangit, sementara lapangan pekerjaan menyempit. Peluang usaha pun terancam. PHK terjadi di mana-mana. Banyak keterpurukan terjadi di sekitar kita. Ada apa sebenarnya dengan bangsa yang besar ini?
Saya tidak terlalu peduli dengan semua gemuruh perpolitikan. Secara pribadi saya merasa kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah saat itu. Borok yang penuh ulat-ulat pemakan bangkai di tubuh pemerintahan dibongkar secara blak-blakan hampir di semua media masa. Kebaikan dan keberhasilan ORDE BARU seakan lenyap begitu saja, tanpa bekas penghargaan sedikitpun. Orde yang telah dicap sebagai pemerintahan paling korup, bahkan populer dengan istilah KKN. Lalu banyak kalangan elit tampil ke depan untuk menawarkan solusi. Saya berusaha menjadi warga negara yang baik dengan melaksanakan kewajiban berdemokrasi. Sayapun menetapkan pilihan terhadap partai dan calon presiden yang baru.
Waktu terus berjalan. Pesta demokrasi telah berlalu. Pemerintahan baru negeri tercinta ini sudah dibentuk dan mulai bekerja. Tapi secara pribadi yang saya rasakan masih sama. Jalan di tempat, tanpa ada perkembangan sedikitpun.
Belum genap dua tahun pemerintahan pasca Orde Baru bertugas-sembilan tahun yang silam, tepatnya Bulan Februari Tahun 2000 saya coba mengadu nasib di negeri jiran-Malaysia. Beberapa masalah pribadi telah memaksa saya harus mencoba peruntungan untuk mengais rejeki di negeri orang. Dengan tekad dan semangat yang bulat saya berharap bisa meraih kesuksesan di bidang financial. Artinya, dengan mengumpulkan ringgit saya bisa mempunyai modal untuk membuka sebuah usaha sendiri setelah pulang nanti. Sebab walaupun di negeri sendiri saya telah bekerja pada sebuah perusahaan swasta selama 8 tahun belum juga bisa mengumpulkan bekal untuk modal usaha. Jangankan ditabung, untuk kehidupan sehari-hari saja belum cukup, sehingga saya masih harus mencari pekerjaan lain (serabutan) setelah pulang kerja.
Saya alergi dengan hamparan air. Semula saya berfikir saya akan pergi ke Malaysia dengan menggunakan transportasi laut seperti cerita dari beberapa teman dan tetangga yang pernah ke sana. Tetapi ternyata tidak. Puji Tuhan. Saya sangat senang sekali ketika mendengar bahwa keberangkatan saya menggunakan pesawat terbang. Artinya, naik pesawat terbang adalah pengalaman pertama dan bahkan mungkin yang terakhir untuk orang awam seperti saya.
Akhirnya saya bersama 50 orang dalam satu rombongan dengan tujuan yang sama dari beberapa daerah di Jawa ini berangkat ke Malaysia melalui Bandara Soekarno Hatta. Pengalaman pertama saya masuk di lingkungan bandara saya merasa bangga melihatnya. Kagum. Heran. Maklumlah, orang ”ndeso,” katanya Mas Tukul ”Katrok”.
Perjalanan kami melalui udara ke Malaysia, tepatnya dari Bandara Soekarno-Hatta ke KLIA (Kuala Lumpur International Airport) memakan waktu kurang lebih satu jam. Beberapa menit sebelum mendarat pesawat yang kami tunggangi mengalami kesulitan karena cuaca buruk. Hujan lebat dengan awan hitam menyelimuti langit terlihat dari jendela pesawat. Beberapa kali pesawat kami mengalami guncangan cukup kuat. Saat itu saya benar-benar ketakutan. Apalagi ketika awak pesawat mengarahkan agar kami segera menggunakan sabuk pengaman. Sayapun hanya bisa berdo’a dengan bahasa yang penuh ketakutan.
Gangguan tersebut ternyata tidak berarti apa-apa. Sebab sebentar kemudian terdengar suara dari awak pesawat bahwa kami akan segera mendarat di Bandara KLIA. Hujan masih terlihat lebat ketika pesawat mencoba landing. Dengan ketakutan terpendam dalam hati, saya berharap penerbangan ini selamat. Dan...... tentu saja saya selamat sampai tujuan, kalau tidak-pasti hantu yang menulis pengalaman ini.Bersambung...
7 komentar:
Pengalaman menarik dan penuh perjuangan ... ditunggu sambungannya. Apalagi dalam keadaan negeri ini yang sangat sulit bergerak maju kearah yang lebih baik.
aku jg cinta emak saia eh Indonesia coy hehehe...
wew, masih bersambung, ditunggu sambungannya ;)
wew, ceritanya makin menaik aja,,
ayo, ditunggu lanjutannya ya..
:D
Saya tunggu sambungannya......rasanya nggak enak lho berkomentar tanpa tahu endingnya....
keep blogging...
suarakan kebenaran.....
perasaan sih tidak terlalu menarik, sekedar sharing pegalaman buat kalian semua.
Bener nih mau lanjutannya-masih 2 atau 3 lagi lho lanjutannya. ...
Tapi terima kasih buat semua yang sudah baca dan penasaran.... tunggu ya, masih proses editing.
sudah nggak sabar nunggu sambungannya nih
Posting Komentar