
BAGIAN KETIGA: TENTANG SAYA, NEGERI SAYA dan NEGERI ORANG
Sudah tidak sabar baca yang ketiga? Lihat dulu gambar ini!
Ini adalah hari pertama saya bersama beberapa teman dari Jember 9 tahun lalu. Silahkan tebak, kira-kira menurut kalian yang pantes jadi saya yang mana hayoo?
Saya kasih kata kunci ya? Wajahnya ndak pantes jadi pemimpin. (Wuih ndak nyambung.....!)
Perasaan lega bercampur senang saat pesawat sudah berhenti dan para penumpang dipersilahkan keluar secara teratur. Saya bersama rombongan telah disambut tim dari perusahaan yang akan memperkerjakan kami. Sambutan yang luar biasa bagus, karena kami hanya calon buruh pabrik.
Yang mengesankan bagi saya saat itu bukan karena penyambutan yang baik dari pihak company, tapi ketika keluar dari pesawat dan berada di sana untuk proses-proses kedatangan-saya melihat bahwa KLIA jauh lebih megah dari Bandara Soekarno-Hatta. Dalam diri saya jadi bertanya-tanya, benarkah? Saya tidak percaya dengan penglihatan saya. Baru beberapa jam yang lalu saya melihat kemegahan Soekarno-Hatta, kini setelah sampai tujuan, saya melihat yang lebih megah lagi.
Saya terenyuh, tapi bukan karena saya merasa bangga telah berada di negeri orang melainkan karena bandara milik negara tercinta saya ternyata masih berada di bawah negara sekecil Malaysia yang usia kemerdekaannya jauh lebih muda dari Indonesia. Saya merasa iri dengan keadaan ini.
Sudah tidak mampukah negeri saya membangun bandara internasional yang lebih megah lagi? Semoga ini adalah penilaian yang subyektif dari saya. (Keadaan Bandara Soekarno-Hatta Tahun 2000 – mungkin sekarang sudah berubah menjadi lebih megah dari bandara manapun).
Minggu pertama saya berada di negeri itu saya merasakan suatu perbedaan tentang keadaan kotanya, di sana masih banyak berkeliaran burung-burung yang terbang ke sana-kemari secara bebas. Kalau di Kota Malang yang sering saya lihat hanya burung gereja. Tapi di pemukiman sebesar Kuala Lumpur lebih bervariasi. Burung-burung itu seakan bersahabat dengan alam perkotaan. Masih banyak pepohonan yang rindang untuk mereka singgahi. Di pagi hari saya dengar nyanyian burung-burung itu layaknya ketika saya tinggal di desa masa kecil dulu, bercericit bersenandung tentang nyanyian alam yang sejuk. Di Indonesia keadaan ini jarang kita temui mungkin karena banyak burung-burung telah dipelihara serta dikurung secara pribadi dan menjadi milik perseorangan. Jadi burung-burung yang ada di kota-kota di Indonesia tidak bisa berkeliaran dengan leluasa, karena orang akan menangkapnya lalu memperdagangkannya. Jadi kalau kita ingin melihat berbagai macam burung lebih baik ke pasar burung atau kebun binatang. Untuk lihat yang bebas, jangan pernah bermimpi.
Pagi di antara nyanyian burung-burung itu para pekerja mulai beraktivitas. Kami mulai berbenah untuk mempersiapkan diri pergi ke tempat kerja. Deru mesin menderum di luar rumah, pada mulanya saya tidak tahu bahwa suara itu adalah suara sebuah truk sampah yang sedang meraung mengepres sampah-sampah yang dimasukkan lewat bak belakang oleh beberapa pekerja. Dasar ”ndeso” yang begituan saja tidak pernah lihat.
Jadi ketika kami sudah siap berangkat sekitar jam 6.30 waktu setempat-sepanjang jalan yang kami lalui sudah bersih dari sampah meskipun beberapa pekerja wanita tukang sapu jalanan berseragam biru muda masih terlihat berada di sekitarnya. Sepagi itu mereka telah selesai dengan pekerjaannya-mungkin mereka memulainya ketika pagi masih gelap. Dan belakangan baru saya tahu bahwa mereka ternyata dari Indonesia.
Saya sering membayangkan, seandainya di kota tempat tinggal saya ada pekerja-pekerja khusus yang dibayar layak untuk sekedar menyapu jalanan dan membuang sampah secara tertib dan teratur seperti itu alangkah indah kota kecil saya, dan lagi kita tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk jadi tukang sapu.
Pertanyaannya, kenapa di Malaysia bisa menerapkan manajemen kebersihan kotanya dengan cara demikian sementara di tempat tinggal saya tidak? Apakah perencanaan kebersihan yang sedemikian itu membutuhkan terlalu banyak biaya? Sehingga APBD tidak cukup untuk membayar beberapa tenaga kebersihan yang layak sehingga mereka bekerja secara benar? Saya tidak bisa menjawabnya karena saya tidak tahu seluk beluk di dalam pemerintahan. Dan saya tidak ingin menuduh pemerintah daerah saya tidak becus dalam mengelola, saya hanya bisa berharap agar gambaran ini bisa dijadikan acuan bagi mereka apabila hal sekecil ini belum mendapatkan perhatian. Tapi apakah ada pihak pemerintah yang membaca tulisan kumuh ini, ya? Semoga!
Sepuluh menit kemudian saya sudah sampai ke tempat kerja. Seperti biasa saya membeli makanan kecil untuk sarapan yang dijual oleh semacam pedagang kaki lima tapi mereka menggunakan bagasi belakang mobil sebagai tempat meletakkan dagangannya. Kemudian saya mengantri di depan mesin penjual kopi, ya memang mesin-di kota kecilku tidak ada yang seperti itu, entah kalau di kota-kota besar semacam Jakarta atau Surabaya atau kota besar lainnya. Jadi kita tinggal masukkan uang recehan dan memencet tombol sesuai menu yang ada maka keluarlah minuman yang kita inginkan-dari yang dingin sampai yang panas.
Ada semacam pertanyaan iseng melintas dalam pikiran saya saat itu, apa mungkin di Indonesia dipasang mesin penjual otomatis di tempat umum? Pasti umurnya tidak panjang, sekarang dipasang 2 hari kemudian sudah rusak oleh tangan-tangan jail, sebab jangankan yang isinya bisa melegakan dahaga lha wong telpon umum saja rusak.
Ketika saya sudah berada di tanah ringgit itu selama kurang lebih satu bulan saya baru merasa bahwa ternyata sangat mudah menemukan orang sebangsa di sana. Hampir setiap sudut jalan kita bisa bertemu orang Indonesia.
Pada sebuah rumah makan - orang sana menyebutnya “Kedai makan” saya sempat berbincang-bincang dengan seorang lelaki muda asal Banyuwangi Jawa Timur. Menurut ceritanya ia sudah berada di sana selama 20 tahun lebih-sejak ia masih remaja. Saya coba bertanya kenapa ia tidak pulang? Dengan logat melayu kentalnya ia menjawab, “Di sini cari duit senang, Wak. Di kampung susah, saya lelah jadi orang miskin.”
Jawaban yang mencengangkan saya, ternyata jadi orang miskin di Indonesia itu melelahkan. Benarkah? Bersambung ………
5 komentar:
Kenapa ya, Negeri kaya tapi banyak warga yang susah kaya? Bahkan ada yang kelelahan jadi orang miskin ahirnya betah dinegeri orang. Apa karena masyarakatnya yang tidak disiplin? atau salah pilih pemimpin?... Tanya kenapa...!
Jangankan membuat bandara besar,
keknya Indonesia kita nih masih kepentok masalah: padat penduduk & korupsi..
wah, jadi sedih kalo lihat perbandingan seperti itu
iya...
saya setuju..
seharusnya, badanra adalah serambi negara...kalau orang tansit...kan hanya dibandara aza.
bukan hanya banadranya tak megah, tapi cara kerja dibandara yang sangat menjengkelkan.
saya pulang bulan 7 kemarin, urus pembayaran visa mesti antri 2 jam..alasanya komputer rusak. Gila jaman secanggih ini, kok bandara internasional indonesia pakai komputer buntut.
Terdengar makin orang2 bule dan arab, saya sebagai WNi, sempat sedih melihat kejadian itu.
Padahal setiap penumpang yang keluar masuk bandara dikenakan biaya Rp.100.000 loh uang itu kok ngak bisa digunakan untuk membeli dan merenovasi bandara?
Jadi uang nya dikemanakan tuh?
sedangakan dibandara negara lain tak diminta sepeserpun.
sebelum Korupsi hilang, Indonesia selamanya begitu.
Btw. kudoakan smeoga kamu sukses dinegeri orang...semoga ketemu majikan dan sahabat2 yang baik disana.
yang penting kita yakin dan bisa ....apapun itu aku bangga jadi orang Indonesia
Posting Komentar