Rabu, 11 Februari 2009

AKU CINTA INDONESIA 4


BAGIAN AKHIR : Tentang Hidup di negeri orang, Ketika Indonesia Raya dikumandangkan Dan Bye Bye Malaysia!




Hidup di negeri orang bukan hal yang mudah. Apalagi di sana kita mengadu nasib dan mengais rejeki. Mungkin benar kata pepatah, ”Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri.” Seenak-enaknya bernafas di negeri asing, lebih enak menghirup udara di kampung sendiri. Dua setengah tahun berada di Malaysia seperti hanya dalam mimpi, tapi yang saya rasakan waktu itu hari-hari seakan lambat bergerak. Menunggu besok rasanya seperti menunggu tahun berganti.


Bagi kalian yang belum dan akan pergi ke mana saja di luar negeri ini, jika hanya untuk menjadi buruh kalau boleh saya sarankan lebih baik batalkan. Apalagi di Malaysia, di sana kaum buruh asing semacam saya waktu itu seperti tidak bermartabat. Seringkali orang memandang kita dengan sebelah mata.

Pernah suatu saat ketika sedang istirahat siang di halaman belakang pabrik, saya sedang nongkrong, sendirian ada seorang tenaga kerja asing dari Bangladesh sedang belajar naik motor. Orang-orang Melayu ramai menertawainya. Secara reflek sayapun ikut tersenyum oleh ulah Bangla itu. Tiba-tiba seorang Melayu yang akrab dengan Bangla itu membentak saya, “He You, Indon! Awak ni budak miskin datang mari dah naik tongkang, tersenyum-senyum pula, boleh awak naik motosikal?,”


Nampaknya orang ini tidak suka saya ikutan tersenyum tadi. Dan dikiranya saya tidak bisa naik motor. Dan dipikirnya saya datang ke Malaysia dengan perahu. Nada bicaranya pun seakan mengejek saya. Maka dengan amarah di dada saya berdiri, sebatang rokok yang baru terhisap separuh di bibir saya buang dan injak, lalu saya hampiri dia.


“Hei, Bang. Jangan hina kami, ya. Kami memang miskin, tapi kami bukan bodo macam You punya member tu. Jangankan motor, naik kereta pun saya boleh. Kalau ada masa boleh kita resing, saya dengan You, macam mana? Bila? You pilih masa, kita berlumba, ha?” Saya berbicara agak keras persis di hadapannya.
“Satu lagi, Bang. Saya datang mari tidak naik tongkang. Kami beli tiket pesawat oh.. you tak tahu pesawat kan? Air Plane. Saya turun KLIA, tahu KLIA? Dan saya bayar mahal untuk bisa kerja di sini. Jadi tolong jangan macam-macam dengan kami, jaga awak punya mulut. Ok?” Lalu saya pergi ngeloyor tanpa mempedulikan mimik di wajahnya.


Dua bulan berada di Malaysia, secara kebetulan saya terpilih jadi Line Leader mewakili teman-teman dari Indonesia. Bagi saya ini adalah suatu kesempatan untuk menunjukkan siapa Indonesia di mata mereka. Saya akan berusaha memberikan segala kemampuan untuk membuktikan bahwa kita bukan bangsa yang miskin dan bodoh seperti mereka.


Tahun-tahun sebelum pergi ke Malaysia saya pernah menjadi anggota ORARI, saya banyak mendapatkan pengetahuan tentang radio dan elektronika dari organisasi ini. Jadi ketika saya bekerja pada pabrik elektronika milik Jepang di Malaysia itu sebenarnya saya sudah mempunyai bekal pengetahuan tentang arus listrik lemah serta beberapa perangkatnya. Sehingga saya tidak kesulitan membaca spec-spec dari product yang dibuat.


Saya hanya menjalani training selama satu minggu, setelah itu sudah dipercaya membawahi 3 line production dengan 21 orang member. Hebat? Tidak. Karena sebenarnya personil-personil di sana SDM-nya masih bisa dibilang rata-rata di bawah saya, sementara di Indonesia - kalau kita mau mengakui - SDM bangsa kita jauh di atas rata-rata melebihi saya. Saya hanya penggalan kecil dari bangsa yang besar ini. Lihatlah pemuda-pemuda kita banyak yang sudah menunjukkan kemampuannya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pada kontes-kontes internasional. Tidak sedikit pula dari mereka telah mendapatkan award. Sementara saya? Saya hanya mengadu nasib untuk melanjutkan hidup, tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk negeri ini.


Masa-masa menantikan habis kontrak 2 tahun seperti terlupakan. Kesibukan saya sebagai line leader membuat jam kerja saya lebih banyak, sehingga waktu seakan cepat berlalu. Hampir semua tugas-tugas yang diberikan kepada saya baik oleh atasan lokal maupun Jepun tidak mengecewakan mereka. Mereka bersimpati kepada saya. Member lokal maupun luar banyak yang menghormati saya. Tidak ada lagi umpatan dan pelecehan terhadap saya dan teman-teman sebangsa. Mereka semua jadi baik dan bersahabat serta dapat bekerja sama. Target produksi selalu tercapai bahkan sering lebih. Bulan ke-6 pun gaji dan tunjangan saya bertambah (ini yang penting ha..ha..ha..)


Walaupun demikian beberapa kejadian sempat mengecewakan saya. Ada beberapa teman dari tanah air yang membuat ulah, sehingga sedikit banyak memperburuk citra bangsa. Dan saya tidak perlu menyebutkan di sini, sebab itu memalukan. Sebagai line leader saya berusaha menomorsatukan teman-teman sendiri dari tanah air untuk banyak-banyak mendapatkan ”over time” (lembur), tapi beberapa dari mereka justru menolaknya, sayang sekali memang. Tapi saya tidak bisa berbuat banyak. Argumentasi saya selalu dipatahkan dengan berbagai macam alasan. Akhirnya saya hanya memilih beberapa teman yang sungguh-sungguh ingin menambah penghasilannya. Bagi mereka yang menolak? Saya tidak ingin tahu akibatnya.


Bekerja sebagai buruh pabrik di Malaysia gajinya tidak terlalu besar. Justru dari tambahan ”over time” (kerja lembur) itu pendapatan kita bisa meningkat sampai 2 kali lipat dari basic (gaji pokok). Percaya atau tidak percaya, saya sudah mengalaminya sendiri. Pernah, pada suatu bulan selama kurang lebih 3 bulan saya tidak seberapa aktif kerja lembur, pendapatan saya hanya cukup untuk makan, tidak sedikitpun bisa saya tabung. Saat itu ketika krisis pasca WTC main-main sama mercon raksasa sampai runtuh, Tahun 2001. Pengaruhnya begitu luas hingga tempat kerja saya pun kena dampak dengan berkurangnya order, maka pekerjaan pun berkurang.


Pada bulan September 2001 Malaysia menjadi tuan rumah SEA GAMES ke-21. Saya merasa sangat beruntung, karena kesempatan ini belum tentu bisa saya dapatkan walaupun Indonesia yang menjadi tuan rumahnya. Saya berkesempatan melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana PSSI berlaga, saya bangga bisa selalu hadir dalam setiap pertandingannya – meskipun saat itu Tim Merah putih hanya puas di urutan ketiga.


Sepulang kerja (tanpa lembur) sore hari saya sudah siap di stadion sebelum pertandingan dimulai. Seorang teman yang juga menjabat line leader sumur saya selalu menemani. Jadi, transportasinyapun gratis – karena ia memakai mobilnya untuk kami berempat. Dan kami selalu duduk sebangku, hanya sekali kami terpisah saat tim Malaysia bertanding dengan Tim Merah Putih, sebab peraturan bagi penonton mengharuskan kami harus dipisah. Separuh tribun untuk penonton Indonesia dan separuhnya untuk Malaysia.


Ada yang membuat miris di hati saya, yaitu ketika Indonesia Raya dikumandangkan sebelum pertandingan dimulai. Saya jadi teringat masa-masa sekolah, saya jadi teringat tanah air. Bulu kuduk saya meremang. Semangat saya seolah dibakar. Sayapun tidak ketinggalan ikut berteriak-teriak menyanyikan lagu kebangsaan ini. Saya tidak peduli seorang teman Melayu duduk di sebelah saya. Wow, mengesankan sekali. Ada sesuatu yang berbeda ketika kita mendengarkan lagu kebangsaan itu di negeri orang. Dan saya tidak bisa menggambarkan seberapa indahnya lagu itu untuk dikumandangkan.


Tahunpun berganti. Keadaan krisis di perusahaan jepun tempat saya bekerja itu nampaknya terus berlanjut. Banyak pekerja-pekerja lokal dirumahkan. Pekerja asing dari Bangladesh habis dipulangkan. Dari Indonesia sendiri tinggal 20 orang. Beberapa teman merasa tidak betah sehingga cukup hanya 2 tahun saja di sana. Sementara saya mencoba untuk bertahan, saya berharap mungkin ada perubahan.


Perubahan yang saya harapkan itu mulai terjadi. Order bertambah, tapi ada sesuatu yang salah mungkin terjadi dalam manajemen. Dampaknya bagi saya terlalu berat. Jam kerja saya jadi semrawut. Kakuatan kerja saya dan teman-teman seolah-olah dipaksakan. Kami jadi seperti mesin. Waktu untuk istirahat sangat terbatas. Kerja selama hampir 18 jam pun pernah saya lakukan.


Keadaan semrawut ini membuat saya hanya mampu bertahan selama 5 bulan. Pada bulan ke-8 Tahun 2002 saya mendapatkan tugas kerja malam full selama satu bulan penuh. Teman-teman saya menganggap saya gila. Tapi saya memang punya rencana yang mereka tidak tahu.


2 line yang saya jaga bergantian shift. Sementara saya terus pada shift malam. Berangkat jam 5 sore, pulang pada jam 9.30 keesokan harinya, penuh selama 30 hari kerja. Dan perhitungan gaji sayapun meningkat, karena tunjangan shif malam dan lembur yang berlipat. Saya mendapatkan apa yang saya inginkan. Saya akan pulang ke Indonesia.


Awal September 2002 saya mengajukan untuk berhenti dan pulang ke tanah air. Teman-teman saya terkejut mendengarnya. Rekan-rekan kerja di pabrik seperti tidak percaya mendengar penuturan saya. Tahun itu adalah Tahun pertama pada masa kontrak ke-2 selama 1 tahun, dan saya baru menjalaninya selama 6 bulan. Kalau saya pulang sebelum waktunya, berarti saya harus menebus sisanya dengan sejumlah uang. Itu sudah saya perhitungkan. Maka dengan perolehan Bulan Agustus yang telah saya lalui dengan bekerja shift malam penuh satu bulan itu masih banyak tersisa setelah dipotong pengembalian uang kontrak.


Kalau dipikir sayang memang. Tapi entah setan mana yang membuat saya menjadi kepala batu. Tak satupun rayuan dari banyak orang yang ingin saya tetap di sana membuat saya luluh, sampai-sampai saya ditawari untuk cuti saja selama 3 bulan pun saya tolak, saya mau pulang terus. Maka proses kepulangan sayapun dikabulkan. Hari ke-8 bulan itu saya berpamitan. Budak-budak Melayu dan keturunan India yang mengenal saya tidak sedikit yang bersedih, mulai dari operator sampai tingkat manajer. Perpisahan itu memilukan kami. Saya pun kesulitan untuk tidak meneteskan air mata. Peluk dan salam dari mereka sangat mengesankan. Saat-saat menyakitkan dulu telah berganti kekraban yang harus saya akhiri. Mereka menangis seolah mengantarkan mayat seorang sahabat ke liang kubur, seorang sahabat yang tidak mungkin bisa ditemui lagi.


Ada yang bilang, ” Sampai jumpa di akhirat!”


Ada yang mengatakan, ”Jangan pergi mari lagi, kamu terlalu pandai untuk kerja dekat kilang yang teruk ini. Kalo nak kerja, cari kerajaan yang lebih kaya dari Malaysia.”


Ada pula yang mengatakan,”Jangan lupakan kita, ya?”


Keesokan harinya, 9 September 2002 pagi saya diantar ke Bandara KLIA untuk pulang ke Indonesia langsung ke tujuan Bandara Juanda. Saya dilepas hanya sampai di beranda Bandara. Saya masuk seorang diri ke tempat pesawat terbang yang akan membawa saya pulang. Ketika saya sedang berjalan seorang sekuriti memanggil saya dengan bahasa yang kasar. Tapi saya sudah kebal dengan bahasa itu.


”Hei, Wak. Sini!” Panggil sekuriti itu. Sayapun mendekat.


”Apa hal, Bang?” Saya balik bertanya.


”Awak nak balik kampung Indon kah?” Tanya sekuriti itu lagi.


” Ya...” Saya mengangguk.


”Banyak bawa duik, kah? Saya nak tengok,” Melayu itu terus bertanya.


Ini pasti ada yang tidak beres. Sayapun menghindarinya. Saya tidak jadi untuk lebih mendekat. ”Sorry, Bang. Saya terlambat.” Saya sedikit berlari menjauhinya.


”Hei, Indon. Jangan datang mari lagi lu ya....?” Hanya kata-kata itu yang saya sempat dengar.


Saya sedikit sakit hati dengan ulah sekuriti itu. Dalam batin saya mengatakan,”Saya tidak akan datang lagi ke sini sebagai buruh. Tunggu Malay, saya akan datang sebagai BOS!”


Bye-bye Malaysia!
Malaysia boleh kejam, tapi saya tidak akan melupakan sahabat-sahabat saya.
TAMAT.

5 komentar:

E-C-H-O-X mengatakan...

yaps...
cintai negri sendiri...
we love INDONESIA....!!!
salam kenal...
salam damai...

blessedcode89.blogspot.com

bocahbancar mengatakan...

Wah pengalaman hidup di negeri orang yang sangat inspiratif Maz..

Saya belajar banyak dari cerita Anda ini dan bisa mengambil banyak pelajaran..

Semua tetap mengerucut pada satu hal, Indonesia tetaplah menjadi negara tercinta kita dan menjadi tempat paling layak bagi kita..

Semoga ke depannya dengan olah tangan dari para pemuda, Indonesia menjadi negara yang sangat dihormati oleh negara lainnya..

Salam..

demoffy mengatakan...

indonesia...
I Love...
tak hanya aku saja...
it's aLL...

phiy mengatakan...

Tekadnya bikin merinding. Nice story.. :)

pika2 mengatakan...

sampai kapan bangsa kita diremehin yah???
huhuw... aku juga mau jd BOS ah... lalu tunjukkan pd dunia bgmn indonesia !!!!
kunjungi blogku yah : http://han2cute.com