Kehidupan di dunia semakin terasa aneh. Sejak beberapa tahun terakhir ini banyak bermunculan hal-hal aneh di sekitar kita. Apa yang aneh? Meminjam istilah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata aneh bermakna sesuatu yang tidak biasa kita lihat (dengar, dsb.).
Dalam satu minggu terakhir ini dunia media massa digemparkan oleh berita aneh tentang munculnya dukun cilik bernama Ponari dari Jombang Jawa Timur. Kenapa saya bilang aneh? Karena dalam kehidupan saya, baru pertama kali saya mendengar tentang seorang anak kecil yang tiba-tiba terkenal karena bisa menyembuhkan banyak orang, kemudian ada yang menyebutnya sebagai dukun cilik.
Sepengetahuan saya yang namanya dukun biasanya ya nenek-nenek tukang pijit. Dengan sedikit mantra lalu tubuh kita dipijit-pijit. Nah, kalau ada jodoh sembuhlah kita dari rasa sakit kita. Tapi si dukun pijet ini punya keterbatasan pada penyakit tertentu. Sedangkan yang terjadi pada Ponari, konon ia bisa menyembuhkan segala macam penyakit hanya dengan air.
Berita tentang kehebatan penyembuhan yang dilakukan Ponari ini banyak diberitakan oleh media, bahkan oleh hampir semua televisi lokal yang sukanya ngejar rating, tidak ketinggalan juga para bloger.
Yang menjadi perhatian saya-tanpa bermaksud ikut-ikutan-sebenarnya adalah usia si anak ini. Ponari masih terlalu kanak-kanak untuk disebut dukun atau semacamnya. Dan atribut terbarunya ini pastilah menyita waktu dan tenaganya yang tentu masih sangat terbatas. Mungkin karena alasan inilah beberapa hari terakhir praktek penyembuhan ponari dihentikan. Akibatnya banyak orang-orang yang sudah terlanjur mempecayai kehebatan si bocah ini rela menunggu berdesak-desakan dengan puluhan orang untuk menunggu kemunculannya kembali.
Bagaimanapun juga Ponari adalah manusia kanak-kanak biasa yang tidak ada bedanya dengan kanak-kanak seusianya. Banyak kebutuhan kanak-kanak yang harus terpenuhi. Tapi dengan membludaknya pengunjung yang ingin disembuhkannya ia menjadi kanak-kanak yang kekurangan, walaupun secara keuangan ia bisa menghasilkan uang tidak kurang dari 60 juta per hari. Apa artinya uang, kalau kita tidak bisa menikmati masa kecil yang indah.
Coba diperhatikan bahwa fenomena aneh yang terjadi pada Ponari ini tidak timbul karena kesengajaan. Kalau kita mau mempelajari beberapa kisah aneh lain (setidaknya menurut saya) yang berhubungan dengan anak-anak banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari kita, hanya saja tidak sepopuler Ponari, bahkan beberapa kasus terjadi karena kesengajaan. Kejadian itu adalah pendewasaan anak-anak dengan sengaja. Sebut saja kasus-kasus penjualan anak-anak, pekerja anak-anak, pemain sinetron anak-anak dan sebagainya.
Dari beberapa kasus yang menjadi perhatian saya tentang pendewasaan si cilik-cilik itu mutlak adalah kesalahan orang tua atau ulah manusia dewasa yang (maaf) tidak mengerti kedewasaannya. Mereka hanya mengejar materi dan kehormatan tanpa peduli efek samping yang ditimbulkannya.
Dulu saya sempat terhenyak ketika sebuah televisi lokal membuat acara idola-idolaan yang pesertanya anak-anak. Saya kira tujuan dari penyelenggaraan itu baik, untuk mengembangkan bakat anak-anak. Tapi yang saya sayangkan adalah format kompetisinya, lagu-lagu yang dinyanyikan para peserta itu tidak dibatasi pada lagu anak-anak. Mereka dengan bangganya sebagai kanak-kanak menyanyikan lagu-lagu bertema “cinta kacangan” yang sangat-sangat tidak mendidik anak-anak. Apa sudah tidak ada lagi lagu anak-anak di Indonesia ini, sudah begitu terpuruknyakah negeri ini, hingga kita ini miskin lagu anak-anak.
Yang membuat saya heran, katanya pemerintah punya KPPI dan segudang ahli psikologi anak, tapi kenapa mereka diam saja-kalaupun ada yang berani angkat bicara-tindakan proaktif tidak Nampak di permukaan. Maka berlanjutlah acara itu hingga saat ini dengan format yang sama. Sudahkah kita sebagai orang tua memikirkan hal sekecil ini untuk anak-anak kita?
Blog ini pasti tidak cukup bahkan akan sangat menjemukan bagi pengunjung kalau saya membeberkan semua keanehan-keanehan tentang si bocah cilik. Kasihan si cilik-cilik dengan fenomena aneh itu, mereka terpaksa kehilangan masa kecilnya untuk menelan hal-hal yang harusnya untuk orang dewasa.
8 komentar:
soal anak dan perkembangan pskologisnya memang tidak habis untuk jadi bahan pergunjingan dengan tingkat kekawatiran yang signifikan... dan peran orangtua memang mendasari dari perkembangan anak tersebut, dan tentu saja televisi ikut berkontribus dalam usaha peremukkan mental dan jiwa anak [hororr!!]
prihatin sama anak itu, tapi ga taulah, soal magis2 gitu aku ga ngerti :p
iya bener.. masa kecil itu gak datang dua kali... klo gak dinikmati pada saat itu kapan lagi.. Nice bRO
hue..kasian yaa..masa kecilnya dirampas cm gara2 petir sm batu hiks...
begitu miskinnya kita sampai mimpi di bayar nyawa..
kasihan si ponari. ampe mengungsi gara-gara ngga nyaman
cerpen kita
Pertama dengar soal Ponari, dari mulut temen! Waktu itu saya tidak percaya. Akhirnya saya lihat sendiri dari beberapa tayangan di televisi, bukan langsung percaya sih? Tapi justru, masih bertanya-tanya sampai sekarang, " Koq bisa ya?"
karena kalah dengan uang
Posting Komentar