Kamis, 05 Maret 2009

KISAH TIGA ORANG PERTAPA – 2


Saya tidak sabar ingin berbagi mengenai akhir dari cerita ini. Walau tidak banyak respon dari rekan-rekan, tapi saya akan tetap uraikan bagaimana kelanjutannya. Mungkin benar Kang Bahtiar dan Kang Semar bilang bahwa cerita ini sedikit berbau filosofis, tapi cukup untuk sekedar berbagi.


Nah begini kelanjutannya:


Hari ke empat pun telah datang. Tiba saatnya bagi ketiga murid pilihan itu menghadap Sang Maha Guru untuk mempertanggungjawabkan tugasnya.


Penthol, Penthil dan Pedhal telah berada di Ruang khusus Sang Maha Guru tepat pada waktunya.

Dengan penuh Wibawa Sang Maha Guru berdiri dihadapan mereka. Senyum menghiasi wajahnya tanda puas akan kecekatan dan kedisiplinan ketiga murid itu. Satu persatu dipandangi wajah muridnya. Lalu ia duduk di atas singgasananya. Dan berkata,”Aku tidak salah memilih kalian. Kalian memang patut diandalkan”


Sang Maha Guru mengelus Jenggotnya,”Sekarang aku ingin tahu apa dan di mana kalian dalam 3 hari 3 malam yang lalu.” berhenti sejenak, ”Penthol!” Pandangannya mengarah pada si Penthol, ”Dimana kamu telah bertapa? Dan tunjukkan buktinya!”


”Baik, Maha Guru.” Si Penthol mendekat ke hadapan Sang Maha Guru kemudian menyerahkan sesuatu dalam bungkusan kain.

”Ini adalah batu sisa letusan gunung berapi sebagai bukti bahwa saya telah bersemadi di puncak gunung berapi tertinggi di kepulauan ini. Saya hanya seorang diri di sana selama 3 hari 3 malam.” ujar Si Penthol, ”Tidak ada manusia selain saya seorang, Maha Guru!”


Sang Maha Guru menimang-nimang batu milik Penthol sambil mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan muridnya itu. Dan ia percaya. Kemudian meletakkan batu iu di atas meja yang berada di samping tempat duduknya. Kini giliran Si Penthil yang menjadi perhatian dari sorot matanya.
”Baik. Aku terima penjelasan Penthol. Bagaimana dengan kamu Penthil.” katanya kemudian


Penthol mundur ke tempat semula dan berganti Penthil mendekati Sang Maha Guru, sebuah bungkusan sedikit lebih besar dari milik Penthol diserahkannya.
”Ini batu karang, Maha Guru. Saya ambil dari dasar laut pulau bergoa itu. Saya menyelam sangat dalam untuk dapat bersembunyi dari manusia lain.” Penthil coba menjelaskan, ”Dan di sanalah saya bersemadi selama ini, sesuai perintah Maha Guru.”


Sang Maha Guru mendengarkan penjelasan Si Penthil seraya membuka bungkusan itu dan mendekatkan ke hidungnya dan terciumlah bau amis air laut. Batu karang itu masih belum kering. Ia pun kembali manggut-manggut, ”Kalian berdua telah melaksanakan tugas dengan baik.” Ia meletakkan batu karang itu ke atas meja.”Sekarang giliran kamu, Pedhal,”

Pandangan mata Sang Maha Guru beralih pada Si Pedhal, murid pilihan ketiga yang tampak paling kelelahan, tapi ia hanya membawa tangan kosong. ”Mana oleh-oleh mu buat aku?”


Si Pedhal tidak berani memandang wajah Sang Maha Guru. Ia tidak mampu megucapkan sepatah katapun. Kepalanya menunduk lesu.


”Pedhal!” Panggil Sang Maha Guru lagi, berlahan Si Pedhal mengangkat wajahnya, ”Apa yang kamu peroleh?”
Mulut Si Pedhal terasa kelu. Ingin berucap tapi tidak mampu. Bibirnya bergerak namun suara desispun tidak terdengar.


”Apa yang terjadi, Nak?” tanya Maha Guru lembut. ”Apa sebenarnya yang kamu hadapi sehingga kamu seperti ketakutan?”


Pedhal masih belum mengeluarkan suaranya.


”Kamu tidak perlu takut jika kamu memang gagal melaksanakan tugasmu. Tidak ada hukuman bagi kalian yang gagal.” Sang Maha Guru berujar sambil berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Si Pedhal yang kembali menundukkan kepala. ”Ayo, bicaralah!”


Nampaknya Suara Sang Maha Guru yang lembut berwibawa itu membangkitkan keberanian Pedhal untuk membuka suara. ”Maafkan saya Maha Guru!”

”Saya tidak bisa em....”Berhenti sejenak dan mulai berani memandang ke arah Sang Maha Guru yang kini berjongkok di depannya.”...saya tidak sanggup menjalankan tugas ini.”


”Ya... ya... ya..., aku tahu.” Sang Maha Guru menganggukkan kepalanya.”Aku lihat kamu tidak bisa membawa bukti dari tempat bersemadimu. Tapi kenapa?”


”Saya tidak bersemadi, Maha Guru.” Ucap Pedhal mulai menjelaskan. ”Sebab saya tidak menemukan tempat sesuai petunjuk Maha Guru.”


”Pedhal-pedhal...., bumi ini luas. Ada bukit dan lembah. Ada gunung dan lautan luas.”


”Saya sudah pergi kemana-mana, Maha Guru. Seluas bumi ini. Saya kerahkan semua tenaga saya untuk mencari tempat itu.” potong Si Pedhal.


”Dan kau tidak menemukannya?”


”Benar, Maha Guru. Perintah Maha Guru untuk mencari tempat bersemadi yang tidak terdapat manusia itu tidak ada. Karena semua tempat di mana saya pergi di situ ada manusia.” Jelas Si Pedhal. ”Saya masih manusia, Maha Guru. Jadi saya masih menemukan manusia itu dalam diri saya.”


”Cukup!” Kata Sang Maha Guru seraya berdiri dan berjalan mendekati Si Penthol dan Si Penthil. Dalam hati kedua murid itu merasa bahwa persaingan hanya tinggal berdua sebab Si Pedhal pasti gagal.


”Penthol dan Penthil,”

”Saya, Maha Guru.”

”Kalian berdua telah melaksanakan tugas dengan baik. Tapi kalian tidak cukup sempurna dalam memahami apa yang kuperintahkan.” Penthol dan Penthil memandangi Sang Maha Guru heran.


”Yang aku perintahkan saat itu adalah carilah tempat yang menurut kalian tidak ada manusia.” Sang Maha Guru mulai menjelaskan.


”Tapi saya pergi ke tempat sepi dimana...”Si Penthol menyela kata-kata Sang Maha Guru.

”Tidak ada manusia lain selain kamu, Bukan?” lanjut Sang Maha Guru.”Itulah kesalahan kalian. Kalian merasa paling sempurna sehingga kalian lupa bahwa kalian masih manusia seperti halnya aku juga.”


Sejenak tempat itu menjadi sepi. Penthol dan Penthil merenungi kembali apa yang diperintahkan Sang Maha Guru empat hari yang lalu. Merekapun mulai menyadari kesalahannya masing-masing. Tapi Si Pedhal belum merasa menang.

Sang Maha Guru berjalan kembali ke singgasananya dan duduk. Ia kembali memperhatikan ketiga murid yang menundukkan kepalanya itu lalu berkata, ”Bagaimana, Penthol dan Penthil? Apakah kalian sudah mengerti maksudku?”


Penthol dan Penthil pun mengangguk.


”Jadi, sekarang juga aku putuskan bahwa Pedhal pantas menjadi wakilku. Karena ia telah menjalankan tugasnya sebelum melakukan apa yang kuperintahkan.”


Nah, itulah akhir ceritanya. Sederhana, bukan? Semoga ada makna yang bermanfaat bagi kita sebagai manusia.


Baiklah, menanggapi komentar teman-teman yang sudah membaca pada bagian pertama dan telah menebaknya.


Pertama, untuk Kang Seno semoga cepet bisa bangun WC sendiri jadi tidak selalu ke WC umum, xhi..xhi..xhi...!


Kedua untuk Suwung terima kasih sudah gabung di sini, jawabanmu benar, saya hargai tebakanmu karena apa yang ada dipikiranmu sama dengan Si Pedhal yang akhirnya menang.


Untuk Phiy jangan pernah ada kata mungkin, ya? Sebab pemahamanmu sudah pasti. Jadi semangatlah, jangan suka ngantuk lagi, OK?


Karena hampir semua jawaban benar maka, tiket nonton Pemilu 2009 tidak jadi dicetak. Dan lagi, kita semua kan ikut main di sana-jangan sampai ada yang ketinggalan, walaupun mungkin kita sudah jenuh menjalani sistem demokrasi di negeri ini. (Wah jadi kampanye anti GOLPUT Nih!)


OK. Tunggu posting saya besok, pasti lebih seru dan menjijikkan. He...he...he....

7 komentar:

MATA HATI mengatakan...

waaaah ak terlambat ne hiks..mo maen filosofi2an ne..seeep nice posting

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

cerita yg bagus. ada makna yg dalam nih. tiada yg sempurna memang di dunia ini.

J O N K mengatakan...

God Post mas :) ada makna di balik cerita ...

wening mengatakan...

hehehe..gak ketebak e..
habis lg ra mudeng :)
crita yg bagus

Kontes Fajarseraya mengatakan...

hebat ceritanya..baca2 yang laen juga ah

phiy mengatakan...

hehehe...
skarang lagi ga ngantuk niy,
jadi kepingin malu :D

aku juga anti GOLPUT :p

Senoaji mengatakan...

*pingsan!*