BAGIAN-4
Malam itupun saya tidur diantara para kuli bangunan yang ramah-ramah. Dengan sedikit menahan lapar saya tertidur. Saya diberi tempat di tengah-tengah, karena mereka tidak ingin terjadi sesuatu dengan saya.
Keesokan harinya ketika saya terjaga, hari sudah terang. Matahari pagi membangunkan saya dengan sinarnya yang menerobos lewat atap yang belum dipasang genting. Rupanya saya benar-benar terlelap. Sampai-sampai saya tidak tahu jam berapa para pekerja itu bangun. Ketika membuka mata, tempat itu sudah sepi tinggal saya seorang beralaskan koran bekas pemberian mereka.
Saya tingak-tinguk mencoba cari tahu dimana mereka. Nampaknya mereka sudah mulai aktivitasnya masing-masing. Saya lihat jam tangan sudah menunjukkan pukul 6.30. Saya segera pergi ke tempat mandi gratis di lingkungan itu.
Selesai mandi dan ganti baju saya segera mencari orang-orang yang telah berbaik hati memberi tumpangan untuk berpamitan dan mengucap terima kasih. Saya hanya bertemu dengan beberapa orang. Selebihnya hanya bisa saling melambaikan tangan.
Agar tidak berkeringat saya pergi ke tempat wawancara dengan angkot. Biar tidak sarapan juga tidak masalah. Isi perutnya ditunda setelah wawancara sajalah, begitu rencana saya. Untuk sarapan cukup sebuah pisang goreng dan teh manis.
Sampai di tempat tujuan, seperti hari sebelumnya-suasana sudah ramai. Tapi saya yakin giliran saya pasti hari ini dan tinggal beberapa orang saja sebelum saya.
Bersambung......
7 komentar:
waduh jalannya panjang banget nih mas, banyak sekali pengalamannya. GPp buruk juga, biar nanti bisa tambah kuat :D
lg bikin cerbung ne.. jgn lupa pisang gorennya minta atu ya hihi
makin penasaran nih.
bener2 pengalaman ya. hmmm tak tungguin kelanjutannya
Wah perjalanan yang cukup panjang
melelahkan dan pahit
masih bersambung terus ya..
oke tak tunggu postingannya selanjutnya
hahahahaha ada istilah tingak tinguk
tingak tinguk = toleh sana toleh sini
Posting Komentar