Jumat, 15 Mei 2009

BONGKAR PENGALAMAN PAHIT-5

BAGIAN-5 : MELAMAR KERJA DAPAT MAKIAN


 

Akhirnya giliran saya masuk kantor untuk wawancarapun tiba. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Pisang goreng pengganjal perut sepertinya sudah ludes dicerna usus. Terdengar suara krucuk-krucuk dari kampung tengah itu. Tapi saya tidak peduli. Sebab saya yakin masa depan cerah sedang menanti.


 

Saya ketuk pintu lalu membukanya, dan mengucap."Selamat siang, Pak!"


 

"Silahkan." jawab seorang bapak-bapak muda yang akan mewawancarai. "Duduk...!"


 

"Terima kasih, Pak!" Saya menyodorkan formulir yang sudah saya isi. Bapak itu melihatnya sekilas.


 

"Persyaratannya?"


 

"Ini, Pak." saya menyerahkan map kuning berisi lembar-lembar pesyaratan.


 

Dibukanya map itu. Hanya sekilas saja dari lembar satu ke lembar yang lain. Kemudian ia menatap saya.


 

"Dari Jember, ya?


 

"I..i..iyaa..."


 

"Tidak ada pengalaman kerja?" saya ditanya.


 

"Tidak ada, Pak. ...sebab sebenarnya saya juga masih bekerja di tempat asal saya...."

Saya tidak sempat menyelesaikan kalimat saya yang jujur itu. Si bapak ini tiba-tiba menutup map kuning saya agak sedikit keras. Terkejut juga saya dibuatnya.


 

Lalu....

"Mas,.... tolong anda lihat ke luar sana. Di sana masih banyak yang belum bekerja. Apa anda tidak sadar bahwa seharusnya anda lebih bersyukur karena sudah bekerja? Untuk apa anda masih repot-repot cari pekerjaan lain. Maaf saya tidak bisa pertimbangkan permohonan anda. "Silahkan..." tangannya mempersilahkan saya keluar ruangan. "masih banyak yang harus saya kerjakan untuk menolong mereka..."


 

"Terima kasih... Selamat siang, Pak!" Ucap saya seraya mengambil stofmap kuning milik saya dan segera beranjak keluar dari ruangan itu.


 

Saya merasa ucapan itu terlalu keras. Mungkin saya terlalu sensitif karena kelaparan. Pengorbanan dua hari ini terasa sia-sia. Sudah begitu masih diceramahi. Dengan langkah lunglai saya pergi dari tempat itu. Stofmap bersama isinya saya buang ke tempat sampah di halaman itu.


 

Saya harus cari makanan dengan sisa uang saya dan pulang.

**************Selesai**************


 

18 komentar:

JengSRI.Com mengatakan...

memang mengenaskan hidup iniiii!!!

Antaresa mengatakan...

gpp deh,
mencari sesuatu yang lebih baik itu boleh,

cari aja pekerjaan di tempat lain, tapi jangan terlalu jujur gitu

bocah ilang mengatakan...

mas harusnya bersukur karena udah punya pekerjaan,

rco mengatakan...

@Antaresa/bocah ilang : orang tidak boleh menyerah pada nasib. sedikit2 bilang nasib menentukan jika sedang apes. Apa yang saya lakukan adalah berjuang untuk mencapai keinginan. Saya kira hampir semua orang seperti itu.

Yang jadi masalah di sini, bahasa penolakan dari bapak yang mewawancarai saya itu. Apa tidak ada yang lebih halus?

Saat itu saya sempat mengumpat dalam hati. Tapi kemudian saya mendo'akan dia agar panjang umur sehingga ia tahu bagaimana hidup jadi orang susah.

eka mengatakan...

wah anda jujur tapi jadi ajur

suwung mengatakan...

salute
kejujuran ana dapat nilai
bukan didunia tapi DIA sendiri yang akan menilai

senoaji mengatakan...

kakeyaan cangkem si pewawancara itu, inilah hiddup bung, kalo si pewawancara mau jadi seorang saviour bukan di bumi apalagi di Indonesia, persiangan, trima gak trima inilah hidup

dan kamu kang berhak untuk meningkatkan taraf hidupmu iya to??

nulis cerpen mengatakan...

wah saya menghargai anda

Itik Bali mengatakan...

ndak apa-apa mas,
yang penting sudah jujur kacang ijo
kejujuran itu mahal harganya lho
mungkin ada pekerjaan di tempat lain menanti
yang lebih menghargai kejujuran
sukses terus ya..

bang fiko mengatakan...

Saya rasa memang apa yang disampaikan Bapak itu benar adanya. Hanya, dari sisi pelamar kerja, tentunya yang diharapkan adalah pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan sebelumnya.
Di situasi ini, kadang memang kebohongan diperlukan juga.

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

galak banget sih tuh orang. duuh...

dwina mengatakan...

Selesai juga tho akhirnya. hmm mas rco udah jujur, sayang dia gak melihat dari sisi itu.
but, sekarang udah dapet pekerjaan yg lebih baik
dari yang dulu kan.
pelajarang buat kita semua y mas, kalau bicara mbok y jangan main keluar aja. bikin kita sakit hati kan

attayaya mengatakan...

lho kok gitu
pekerja khan boleh mencari yang terbaik dan memberi yang terbaik
ayo semangat

Seno mengatakan...

He.he.. biarin aja dimarahin, kali yang wawancara lagi sensi :)

joe mengatakan...

perjuaangan belum selesai mas, masih panjang ...

J O N K mengatakan...

wadoh galak amat tuh si pa bos, yah baik2 napa ya mas, tetap berjuang mas :D

ammadis mengatakan...

Sabar....

Life is struggle...

Kalo nggak gitu nggak hidup namanya...jalani saja dan jadikan pengalaman....

blackwolf mengatakan...

tuh bapak galak amir...? kan nyari pekerjaan lain boleh juga dong....