Kamis, 28 Mei 2009

JODOH dan REJEKI

Sering kita mendengar ungkapan, Hidup, Mati Jodoh dan Rejeki ada di Tangan Tuhan.


 

Benarkah?


 

Saya tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Kenyataannya, rejeki masih kita tentukan sendiri. Bagaimana kita bisa dapat rejeki kalau kita hanya diam di rumah tanpa melakukan usaha barang sedikitpun. Pencuri saja harus berhati-hati dan bekerja keras untuk tidak ketahuan. Perampok saja harus berusaha keras berlatih bela diri dan menggunakan senjata api agar kegiatan keperampokannya sukses. Untuk dapat undian sabun mandi saja harus rajin mengumpulkan bungkus bekasnya. Mana ada rejeki yang datangya seperti hujan tercurah dari langit. Tidak ada bukan.


 

Mungkin benar rejeki ada di tangan Tuhan. Tapi manusia harus tetap berusaha.


 

Demikian juga dengan jodoh. Kenyataannya, manusia bebas memilih siapa jodoh yang cocok bagi dirinya, walau pada akhirnya belum sampai anaknya usia 5 tahun sudah bercerai. Kalau terjadi hal itu kita hanya tinggal bilang, mungkin belum jodohnya. Ironis memang, bila kita percaya jodoh di tangan Tuhan. (Belum jodoh kok sampai punya anak, bahkan ada yang anaknya lebih dari 3).


 

Beberapa bulan lalu, seorang staf yang masih gadis (sebut saja Reni) datang pada saya secara pribadi minta dinikahi saran mengenai pilihan pendamping hidupnya. Dengan terus terang ia mengatakan bahwa sedang mengalami kesulitan dalam memilih calon suami.


 

Saat itu dalam kehidupan pribadinya ada 2 orang lelaki yang tengah mendekatinya. Menurutnya 2 orang ini memiliki kelebihan dan keurangan yang berbeda dan bertolak belakang. Untuk kapasitas rasa kasihnya dinilai sama bobotnya.


 

Sebut saja lelaki pertama dengan Si A, lelaki kedua dengan Si B.

Si A adalah seorang yang cacat secara fisik. Maaf, kakinya invalid sejak lahir. Masalah penampilan pastilah terbatas karena keadaannya tersebut. Tapi ia adalah seorang yang ulet dan kreatif dalam bekerja. Sehingga pada usianya yang relatif muda ia telah berhasil mengelola toko jual beli handphone milik sendiri yang sukses.


 

Sementara Si B usianya sebaya dengan Si A. Ia sehat jasmani dan rohani. Secara penampilan tidak kurang sedikitpun untuk dibilang keren. Meskipun ia seorang sarjana, tapi Si B ini bukan tipe pekerja kreatif seperti Si A. Ia pemalas. Kerjanya asal-asalan. Hidupnya mengandalkan kedua orangtuanya yang bisa dibilang tidak miskin. Bidang kerjanya adalah serabutan. Suka hati dia mau kerja dan berhenti kapan saja.


 

Begitulah gambaran 2 lelaki pilihan yang membingungkan Reni. Ia harus pilih yang mana?


 

Saya hanya memberi gambaran bahwa mungkin ia harus memilih Si A jika menginginkan kehidupan yang layak. Karena secara ekonomi pastilah Si A bisa menghadapi segala macam gejolak perekonomian global yang tengah terjadi. Si A adalah lelaki yang kreatif dan tahan banting dalam permasalahan tersebut. Terbukti ia bisa mandiri walau ia hanya seorang yang cacat dan notabene bukan anak orang kaya. Bahkan ia telah berhasil mengentaskan kemiskinan kedua orang tuanya, sekaligus masih mampu membiayai seorang adiknya yang sedang kuliah. Sementara Si B hanya seorang yang masih belum memiliki visi yang jelas tentang masa depannya. Terbukti ia masih hidup sebagai asuhan orang tua walau usianya telah menginjak dewasa.


 

Gambaran kedua, jika Reni tidak menginginkan kehidupan dengan materi cukup ia boleh memilih Si B walau harus bekerja keras agar rumah tangganya yang ditopang oleh penghasilannya sendiri terus berlanjut, sedangkan Si B selalu tidak memiliki pengahasilan tetap.


 

Sementara itu Reni membuat suatu pernyataan sendiri yang membuat ia bingung, jika memilih Si A ia harus rela menahan malu karena suaminya adalah seorang yang cacat. Ia harus siap kemana-mana berjalan di samping lelaki yang tidak seimbang dalam berjalan. Bila memilih Si B ia bangga karena punya suami tampan dan keren, walau ia harus siap hidup dalam kekurangan.


 

Saran saya selanjutnya, jika Reni bersikeras memilih Si B, maka ia harus bisa merubah visi Si B terlebih dahulu. Ia harus merubah kebiasaan yang sekarang agar tidak hanya minta ditopang kedua orang tuanya. Usahakan Si B memiliki kegiatan positif atau setidaknya memiliki penghasilan tetap walau sedikit.


 

Demikian, bulan-bulan telah berlalu Si Reni kembali datang dengan suatu keputusan bahwa ia harus memilih Si B, karena orangtuanya tidak menghendaki putrinya bersuamikan orang cacat, masalah rejeki nanti Tuhan pasti bisa memberikan jalan. Saya tidak berkomentar sedikitpun, pilihan telah dijatuhkan. Itu hak Reni mau dengan siapa. Dan mereka telah resmi bertunangan, tapi Si B masih juga seperti sebelumnya.


 

Jodoh boleh memilih, tapi rejeki diserahkan Tuhan. Aneh. Mana ada rejeki kalau kita malas.

32 komentar:

sukarnosuryatmojo mengatakan...

Hidup, Mati Jodoh dan Rejeki ada di Tangan Tuhan, tetapi ini bukan harga mati. Usaha yg cerdas dan keras disertai doa tulus, masa' iya sih Tuhan nggak ngasih yg terbaik bagi kita?

BIG SUGENG mengatakan...

Untuk menjawab itu kita perlu memahami taqdir. Secara umum taqdir bisa dibagi 2 yaitu taqdir di mana tidak ada campur tangan manusia (mutlak Alloh swt yang menentukan, misalnya pas lahir kita berambut hitam dsb, kapan meninggal), ada juga takdir yang masih ada campur tangan manusia dengan usaha maksimal dan doa meskipun hasil akhir Alloh swt yang menentukan. Kalau taqdir yang tidak ada campur tangan manusia, manusia hanya bisa berdoa diberikan yang terbaik.

Dunia Polar mengatakan...

btw hidup, mati jdoh, rejek ada di tangan ALLAh, tp kita jg hrs brusaha tuk mrubah smua itu. entar baru Allah yg mnentukan. Allah g mungkin membiarkn orng yg berusaha tnpa ada hasil

J O N K mengatakan...

rezeki di tangan Tuhan, tapi harus di usahakan donk :D

Itik Bali mengatakan...

Kalo aku semboyannya tambah satu lagi mas..
Ibarat, hidup mati,jodoh dan rejeki, rasa kantukku kalo pas di kelas itu juga kayanya di Tangan Tuhan deh..
he..he

Laston M Nainggolan mengatakan...

Setuju, yang artinya Tuhanlah yang ber otoritas untuk memberi dan mengijinka segala sesuatu terjadi

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

tulisanmu makin bagus nih.

btw, jodoh memang di tangan Tuhan tapi manusia tetap harus berusaha.

sejak kapan jadi konsultan biro jodoh? he he he...

riosisemut mengatakan...

Betul kata temen2, jodoh, rizki dan mati ada di tangan Alloh dan hanya Dia yg Maha Tahu.

JengSRI.Com mengatakan...

jodoh ditangan agen biro jodoh kali ya bang

Ayas Tasli Wiguna mengatakan...

jodoh dan rejeki harus dicari baru tuhan yg menentukan, kayaknya si reni harus milih aku deh,, hehehe

Anak Rantau mengatakan...

Kapan ketemu jodoh ya boss...

reni mengatakan...

Lho..., kok namaku ada di sini ? Tapi yang sedang diceritakan ini bukan aku to ? Hehehe..

Science Bloggers Association mengatakan...

Nice Blog. Congrats.
-Zakir Ali ‘Rajnish’
{ Secretary-TSALIIM & SBAI }
[ Editor- Children’s Poem
& Adult’s Poem ]

Senoaji mengatakan...

yang penting jangan punya prinsip "kalo jodoh ntar datang sendiri" lha nek ra teko-teko? piye jal selak ngoyot nu wkwkwkkwkwkwkwkkw

J O N K mengatakan...

hehehehehe, saya juga susah nih nyari jodoh wkwkwkwkwkwk.

kak_ega_punya cerita mengatakan...

wah ijonk promosi disini!!!

yup, mang semuanya di Tangan Tuhan..tapi manusia harus berusaha..Tuhan suka dengan makhluknya yang berusaha...

attayaya mengatakan...

cari bibit bebet bobotnya dulu kata orang tua

suwung mengatakan...

bukankah semua atas kuasa NYA

Rendy BlogHeboh "Blog Dofollow" mengatakan...

saya suka postingnya menarik baget..
blognya keren juga, Sukses selalu..
Salam kenal dari Blog Heboh, jangan lupa berkunjung balik yah dan berkomentar.. Ditunggu..

Blog saya yg lainnya:
Bikin Heboh (Download lagu-lagu Indonesia Terbaru) Mohon dukungannya. =)

Trimatra mengatakan...

ungkapan itu mungkin lebih tepat diartikan Hidup, Mati Jodoh dan Rejeki bisa kita usahakan namun yang menentukan adalah TUHAN

kita yg ingin mati klo tuhan blum nyabut nyawa kita ya gha mati2 to.., wekekeke

Anak Rantau mengatakan...

Sekian tahun di rantau kok belum ketemu jodoh ya ...hikhik...

phiy mengatakan...

apapun, kalo kita lakukan yang terbaik dengan niat lillahita'ala. insyaAllah, Allah ngga buta ko, hasilnya juga pasti berkah :)

maya sitorus mengatakan...

memang terkadang pepatah pepatah yang ada itu hanya untuk membuat kita tenang di saat galau

tapi ternyata pepatah pepatah itu ga selalu diakhiri dengan titik tapi diakhiri dengan koma
dan kalimat setelah koma itu kita sendiri yang isi, seperti jodoh, rejeki, harta ada di tangan Tuhan dan kita harus melangkahkan kaki menuju tangan Tuhan itu untuk mengambil si jodoh, rejeki dan harta tadi,,,

melangkah artinya sebuah usaha, daya, upaya

ayo berjuang,,,hehehe

salam kenal

imtihan mengatakan...

Rizki itu sering ditentukan oleh pembuat kebijakan. Betapa banyak orang yang msikin karena kebijakan yang tidak tepat...
Kalau jodoh itu sering ditentukan oleh orangtua. Berapa banyak orang yg terpaksa menikah dgn laki2/wanita pilihan ortu yg otoriter. Sudah maksa, kadang ortu malah bilang, "sudah diterima saja, mungkin dialah takdirmu, dialah jodohmu."

ranny mengatakan...

kelahira,rezeki,jodoh,kematian ada di tangan TUHAN
rezeki dan jodoh kudu usaha wat dapetin itu, harus ikhtiar baru tawakal :)

Dedot mengatakan...

wacana yg sangat menarik,jodoh saya kapan datang ya... :D

Ayas Tasli Wiguna mengatakan...

blm update om?

Pixel mengatakan...

Berusaha dan Doa

Anak Rantau mengatakan...

Kalau itu mah, emang si reni jodohnya si B Bos..hehe...

MATA HATI mengatakan...

meyakini jg ga ada ruginya..ada hikmah kepasrahan to.. pa kabar

Bahtiar Awamsekali mengatakan...

Klo RCO sendiri semisal jadi Reni mau pilih siapa, si A atau si B? He he he...

blackwolf mengatakan...

Anda orang yang bijak! saya setuju dengan pernyataan itu.