Ini adalah sebuah kisah lama yang tidak jelas siapa penulis atau pembuatnya. Saya juga sudah lupa dari mana cerita ini saya dengar. Kini saya coba ceritakan kembali dengan bahasa yang mutakhir. O ya, yang anti pornographi sebaiknya tidak membaca artikel ini.
Begini kisahnya.
Masa itu adalah masa dimana orang tua suka menjodohkan anaknya. Anak seperti tidak punya otoritas dan kuasa dalam menentukan dan memilih calon istri atau calon suami bagi dirinya sendiri. Walau dengan berat hati bagaimanapun juga si anak akan tetap menuruti kemauan kedua orangtuanya agar tidak dicap sebagai anak durhaka.
Pak Kamto, sebut saja namanya begitu. (bukan nama sebenarnya) telah menjodohkan putranya bernama Kangmas dengan putri sahabatnya bernama Dimas. Perkawinan yang tidak didasari cinta kedua anak manusia itu berlangsung meriah dan megah. Maklum Pak Kamto adalah salah satu orang terpandang di desanya.
Perkawinan telah berjalan selama 1 tahun. Tapi Pak Kamto belum juga mendapatkan tanda-tanda akan mendapatkan seorang cucu dari putra pertamanya itu.
Suatu hari Pak Kamto memanggil Kangmas. Ia sangat ingin sekali tahu kenapa sang menantu belum juga hamil, padahal seharusnya dengan usia perkawinan 1 tahun sudah menimang bayi mungil. Ini teori Pak Kamto, hari ini nikahan malam langsung tembak di tempat dan bulan depan si istri pasti terlambat bulan alias hamil.
Dengan teori tersebut Pak Kamto penasaran mengenai ketidakhamilan Si Dimas, istri anaknya.
"Saya tahu apa yang hendak Bapak bicarakan," Ujar Kangmas menebak apa yang hendak dibicarakan oleh Pak Kamto. "Sayapun sudah lama ingin membicarakannya."
"O ya? Tentang apa coba?" Kata Pak Kamto
"Kenapa Dimas istri saya itu tidak hamil, bukan?"
"Tepat. Bapak dan ibumu ini sudah merindukan cucu, Kangmas! Usia pernikahan kalian kan sudah setahun, tapi kenapa belum ada tanda-tanda kehamilan." Ujar Sang Bapak, "Apa ada yang salah dengan…. Ehm… kesuburan kalian?"
Kangmas tersenyum, "Bapak bapak... saat bapak dan ibu berniat menjodohkan kami waktu itu, saya sudah bilang bahwa kami butuh waktu untuk saling dekat, untuk saling mengenal dan kemudian saling membutuhkan sebagai suami istri...."
"Lha,.... apa waktu setahun belum cukup untuk saling mengenal terus mendekat...?
Kangmas menunduk dan mempermainkan kedua tangannya yang saling menggenggam dalam pangkuan. Lalu...
"Selama itu pun kami belum juga bisa saling dekat, Pak. Kami belum melakukan kewajiban kami sebagai suami istri. Bahkan kami mau mohon ijin untuk cerai....!"
"Apa? Cerai..?" Pak Kamto terperanjat. Bukan saja jantung, bahkan bola matanya hampir copot karena terkejut.
"Edan,... edan...edan... dunia memang sudah edan." Pak Kamto berdiri sambil berkacak pinggang.
"Apa kamu ndak ingat. Pesta pernikahan kalian adalah yang terbesar di desa ini. Berapa biaya yang sudah keluar. Bapakmu ini orang terhormat dan terpandang. Kalian seenaknya sendiri mau minta cerai. Apa kata dunia, hah?" Pak Kamto mulai marah.
"Tapi, Pak....kami benar-benar tidak cocok."
"Tidak cocok bagaimana. Yang namanya laki-laki dengan perempuan ya pasti cocok. Kalian saja yang tidak tahu bagaimana cara mencocokkannya." Kata Pak Kamto kesal. "Pokoknya, tidak ada perceraian. Kalian harus jadi suami istri sampai tua seperti bapak dan ibumu ini. Titik. Tidak ada alasan cinta dan tetek bengeknya itu."
Kangmas hanya mengangguk lesu.
"Besok malam kamu beserta istrimu temui bapak lagi. Sekarang Bapak mau ke tempatnya eyang, mohon petunjuk." Ujar Pak Kamto seraya ngeloyor meninggalkan Kangmas dalam ketakutan.
Malam itu Pak Kamto bersama istrinya bertandang ke rumah orangtuanya, eyang si Kangmas untuk membicarakan masalah yang terjadi pada anak dan menantunya. Selesai meminta petunjuk Pak Kamto langsung pulang.
Keesokkan harinya Kangmas dan Dimas, suami istri yang tidak atut itu menghadap Pak Kamto. Kedua mempelai yang masih original walau sudah setahun itu seperti ketakutan. Mereka seolah terdakwa yang menunggu vonis sang hakim. Tunduk seperti pesakitan di hadapan sidang.
Tapi anehnya, Pak Kamto tersenyum senyum melihat kedua pasang anak manusia itu. Ia yakin sekali bahwa petunjuk dari orang tuanya yang didapat kemarin akan berhasil menyatukan perkawinan mereka.
"Kangmas,... dan kau Dimas..." Pak Kamto membuka acara pertemuan.
Kedua pasang manusia yang berada dihadapan Pak Kamto tidak menjawab. Mereka mendongak dan memandang orang tua itu penuh harap.
"Kalian boleh bercerai….!" Lanjut Pak Kamto.
Kedua orang muda itu wajahnya langsung sumringah. Keinginan mereka untuk terbebas dari perkawinan paksa akan segera terpenuhi.
"Eit, jangan senang dulu. Masih ada tapinya...." Ujar Pak Kamto lagi.
"Ada syaratnya, Pak?" tanya Kangmas yang hampir bergembira ria itu.
"Iya dong. Bapak kan sudah mengeluarkan banyak biaya dan tenaga untuk perkawinan kalian. Bukannya bapak mau kalian mengembalikan itu semua. Bapak hanya ingin kalian melakukan satu syarat saja sebelum kalian boleh benar-benar bercerai,"
Kedua manusia dewasa di hadapan Pak Kamto tiba-tiba saling berpandangan seperti menyetujui persyaratan itu.
"Baiklah, Pak. Apa syaratnya?" Tanya Kamto kemudian.
Tanpa mempedulikan rasa heran dari anak dan menantunya itu, Pak Kamto mengeluarkan 2 buah biji asam jawa dari dalam kantung plastik di sakunya.
"Begini. Ini dua biji buah asam. Untuk Kangmas satu dan Dimas satu."
Kangmas dan Dimas terheran-heran belum mengerti maksud orang tua itu.
"Kalian harus mengadu dua biji buah asam ini sampai salah satunya pecah." Lanjut Pak Kamto menjelaskan sambil mengulurkan biji buah asam jawa itu kepada mereka masing-masing satu.
"Dan ini perekat." Pak Kamto kembali mengulurkan sebuah botol kecil kepada mereka.
"Caranya, lekatkan biji itu pada pusar kalian masing masing lalu adu dua biji itu, benturkan satu sama lain sampai salah satunya pecah. Nah mudah kan?"
Pak Kamto mengakhiri petunjuknya sambil tersenyum penuh kemenangan. Tapi kedua pasang suami istri itu belum juga mengerti maksudnya.
"Ayo lekas pergi dan lakukan...!"
"Tapi, Pak.????" Kangmas terbata.
"Sudah.... lakukan itu dalam kamar kalian, mulai sekarang. Katanya mau cepat-cepat cerai."
Dua orang itu masih tidak beranjak juga.
"Baiklah, sini..!" Pak Kamto memanggil Kangmas agar mendekatinya."Biar bapak yang melekatkan biji itu pada pusarmu. Dan Dimas, sana pergi ke ibumu biar dia lekatkan biji asam itu ke pusarmu."
Kangmas mendekati Bapaknya. Dimas pergi ke kamar ibunya.
Proses melekatkan biji asam ke pusar Kangmas oleh bapaknya dan Dimas oleh ibu telah selesai.
"Nah, sekarang juga kalian pergi masuk kamar. Adu dua biji asam jawa itu sampai pecah. Saya beri waktu kalian paling lama 3 bulan. Kalian harus melakukannya tiap hari bila ada kesempatan sampai biji asam itu benar-benar ada yang pecah."
Jangan dibayangkan, proses adu dua biji asam itu pasti mengerikan. Sama saja dengan proses adu pusar antara dua manusia berlainan jenis. Apalagi mereka berdua harus sama-sama bertelanjang perut.
1 bulan berlalu belum ada kabar pecahnya salah satu biji asam jawa dari Kangmas dan Dimas. Hingga bulan ke-3 pun telah terlampaui. Dan bulan ke-4 ternyata Dimas dikabarkan terlambat bulan.
Ternyata proses adu buah biji asam jawa dengan pusar telah jitu membuat Kangmas dan Dimas sukses menjadi suami istri hingga beranak pinak.
15 komentar:
Waduh, kalo saya dikawin paksa pasti saya kabur bang,hehehe.
eemm.. kawin pksa?? waduh.. curiga nih gw jg kyknya mau digituin mas.. takutt... hahhahahha...
bravo
cara jitu
tapi sekarang, belom nikah aja anak2 muda udah adu pusar duluan. selanjutnya kawin paksa... yaaaa udah hamil sehhhhhh
Kawin paksa??
Masih ada ya mas?? dijaman begini..
kaya jaman Siti Nurbaya
cuman kalo aku disuruh kawin paksa ya mau aja sih
lumayan, habis gak ada yang naksir gitu
he..he
masih ada ya?
zselamat atas perkawinannya
bos blognya dah saya link
nunggu link balik saya mas
untung pake biji asam tuh... bagaimana kalo pakai biji salak? bisa2 cerai beneran tuh... ha..ha..
huehehehehe, jangan2 pengalama pribadi neh :D
hohoho..kangmas mang nakal...
ha ha ha.licik juga si bapak. byk akalnya.
adu puser asal ga adu jotos
Jia..ha... pinter itu bapaknya, adu biji asam pake puser, lama2 adu biji he.he.. tapi berhasil juga ternyata :)
Keren Sob.
waaaah... kalo bang RCO digituin sih udah gak mikir biji asem lagi... xia.xa..xa..xa kabuuuuuuur
Jadi pengin adu biji asem nih.
Posting Komentar