Sabtu, 23 Mei 2009

SAPI

Dulu, salah satu pelajaran yang tidak saya sukai adalah pelajaran biologi. Karena itulah mungkin saya tidak bisa mengingat apa saja yang pernah dipelajari. Hanya sedikit yang masih nyantol di otak sampai sekarang. Itupun pasti berhubungan dengan yang aneh-aneh bila diamati. Salah satunya adalah binatang yang bernama SAPI. Entah benar atau tidak, kalau salah ya biarkan saja, namanya juga tidak suka. Katanya, sapi itu adalah binatang memamah biak. Dalam batok kepala saya makna memamah biak berarti tidak pernah berhenti makan. Ngemiiiiil……. saja pekerjaannya.


 

Eiiit! Sorry ya? Bukan maksud saya mengatai anda yang suka ngemil itu mirip sapi,… ha ha ha… Tapi, saya hanya mengingatkan, janganlah kita hidup seperti sapi. Saat kerja, narik grobak, narik bajak, tidur dan lain-lain hampir semua kegiatannya selalu dibarengi dengan ngemil. Seolah-olah ia hidup hanya untuk ngemil. Ia rela bekerja keras hanya untuk ngemil. Bisa dibilang, hidup untuk makan, bukan makan untuk hidup.


 

Ungkapan "Hidup untuk makan atau makan untuk hidup" mungkin sering anda dengar. Tapi sekarang saya tertarik untuk membuat ulasan yang setidaknya menurut pandangan saya pribadi. Apa yang terjadi bila manusia hidup untuk makan, bukan makan untuk hidup? Yang terjadi pastilah hancurnya tatanan hidup dan kehidupan. Kepuasan tidak pernah ada batasnya. Kenyangnya perut belum cukup untuk menghentikan manusia dari pekerjaan memakan. Naluri manusiawinya hilang, bisa-bisa teman sendiri tega memakannya. Tidak ada lagi perikemanusiaan. Dan apakah ini terjadi pada kehidupan kita?


 

Jawabnya adalah Ya, ada. Beberapa gelintir manusia memiliki sifat SAPI yang suka "makan". Mereka ini tidak menyadari bahwa hidup mereka untuk makan. Akhirnya apa yang terjadi? Banyak cara menjadi halal ketika mereka dengan sendiri atau berjamaah menghabiskan uang Negara. Walau penghasilan mereka telah lebih dari cukup menurut ukuran saya, tapi mereka dengan laparnya menggasak sana sini, tidak peduli orang-orang di sekitar mereka kelaparan. Pungutan liar jadi budaya yang memilukan. Mulut manis berbisa penuh dengan taring-taring tajam siap merobek-robek dan mengunyah bahkan menelan siapa saja yang ada di depannya.


 

Akan berbeda halnya bila kita memiliki kebiasaan "makan untuk hidup". Tabiat kita tidak akan serakah, karena kebutuhan makan adalah syarat agar ada energy yang masuk untuk bekal hidup, bukannya mengenyangkan perut sekenyang-kenyangnya hingga membuat naluri kemanusiaan hilang oleh otak-otak penuh nafsu angkara murka.


 

Orang yang bertabiat makan untuk hidup akan selalu berfikir "apa yang bisa kita makan besok" tapi bagi mereka yang berpegang pada "hidup untuk makan" akan selalu berfikir "Siapa yang akan kita makan besok"

26 komentar:

Antaresa mengatakan...

tapi enak juga lho mas kerja untuk makan,
kayak pak Bondan. MAKNYUSSS...

ardisragen mengatakan...

wah,... sungguh mengingatkan mas.. dengan analoginya sapi..

semoga driku tidak seperti sapi.. padahal aku suka banget sama sapi..

dwina mengatakan...

Manteb ni postingan sip markusip
dari pelajaran biologi sampe ke
rakusnya manusia di atas sana
yang demen makan siapa aja tanpa belas kasihan
kalo sapi meskipun demen ngemil
tapi sapi cuma ngemil rumput
kalo penguasa negeri ini
hummmppphh
melebihi predator pa lagi sapi
huuuuuu kalah jauh deh sapi

senoaji mengatakan...

urip nggo nyambut gawe opo nyambut gawe nggo urip..

Itik Bali mengatakan...

Kalo aku yang paling suka malah pelajaran biologi
terutama tentang reproduksi
he..he
becanda mas..

aku sih itik, tapi suka makan juga
hidup makan!!

Dunia Polar mengatakan...

mungkin bagi sapi kalo nggak nyemil mulut jadi sepoh, sama kayak mas klo uda hobi merokok,he...

JengSRI.Com mengatakan...

makan untuk hidup or hidup untuk makan bang?

reni mengatakan...

Keren juga postingannya. Tapi aku juga suka makan tuh hehehe..

Tukang komen mengatakan...

nyam.... nulis komen sambil makan nasi goreng .. nyam... makan itu untuk hidup, bukan hidup unutk memakan... he..he..

J O N K mengatakan...

makan untuk hidup, hidup untuk makan hehehe

*sambil makan kripik*

musa mengatakan...

Wee, jangan salah. Gitu-gitu sapi juga keren lho, tpi kalo manusia yg gitu...

bocahbancar mengatakan...

Wah keknya ini curhatan dech...

Sabar Mas sambil cari jalan keluar terbaik yawh... :)

Kabasaran Soultan mengatakan...

very nice sharing ... hidup makan ..makan hidup ..atawa makanlah yang hidup-hidup atawa hiduplah yang makan-makan.
he-he-he

sukarnosuryatmojo mengatakan...

lha, kapan minumnya...dr td kok makan mulu.. hidup cuma sekedar mampir ngombe (minum)

vie_three mengatakan...

hanya dimulai dari sapi dan memamah biak bisa jadi artikel seperti ini... baguuuusssss

eh tp begitu2 jg aq suka ngemil loh.... hehehehehe
tp yg jelas sich makanlah yg benar dan minumlah setelah makan..... :D

attayaya mengatakan...

kalo politik dagang sapi gimana bro?
khan lagi ngetrend tuh menjelang pilkada/pilpres

brinet mengatakan...

wah sapimoto jangan jangan

mwiyono mengatakan...

ini baru postingan mantep

tips mengatakan...

ayo mampir-mapir biar yang punya blog repot mampirke kita juga he he he he

ardisragen mengatakan...

cerita renyah tapi menggugah,.. mantep tenan ki..

attayaya mengatakan...

daging sapi sekilo berapa ya bro?

ammadis mengatakan...

Analogi yg menyentuh...

Jadi memang benar khan, kllo manusia yg berbuat jelek itu kelakuannya jauh lebih endah derajatnya drpd binatang...

Salam kompak bro...

LaDy mengatakan...

wahh.. klo saya matematika mas.. langganan di hukum di dpn kelas, sambil angkt satu kaki, angkat kdua tangan// emmm// dah biasa kyknya gue mas.. hahahah

ajie mengatakan...

enak tuh

Anak Rantau mengatakan...

Besok gw makan apa ya ...?
Hehe... Nice posting friend...
Thanks ya ....

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

renungan yg bagus. makan utk hidup agar tetap hidup dan tidak sakit. btw, lagi gak nafsu makan nih.