Selasa, 24 Februari 2009

MIMPI SEMALAM


Sejenak setelah menyelesaikan tugas-tugas hingga jam 4 pagi aku tertidur di atas kursi panjang ruang tamu. Seorang teman karib semasa SMA tiba-tiba hadir dalam mimpi kesiangan itu. Dia serupa dulu saat kami masih bersama-sama dalam suka dan duka. Wajah, senyum, nada bicara dan perangainya yang sok diplomatis dengan rambut tebal menutup telinga.


Entah dimana kami bertemu, kurasa tiba-tiba saja ia berada di sampingku dengan membawa sepeda BMX berwarna putih perak mengkilap. Kamipun bersepeda bersama di sebuah tempat entah berantah yang sama sekali asing buatku. Kami saling berlomba. Sesekali aku berada di depannya, terkadang ia dengan penuh semangat berusaha mendahuluiku dan ketika berhasil ia mengolok-olokku. Dan kamipun terus bersukaria sepanjang jalan yang kanan kirinya dipenuhi tumbuhan nan hijau menyegarkan.


Suatu saat kami kelelahan dan berhenti untuk beristirahat di sebuah warung bambu kecil di pinggir jalan. Kami membeli 2 gelas dawet dan meminumnya sambil duduk berselonjor di atas tanah berumput di luar warung.


Jalanan itu sangat sepi, hanya beberapa orang saja lalu lalang melewatinya. Sementara suasana masih sangat pagi. Terlihat kabut samar-samar menyelimuti alam sekitar. Berkas-berkas embun tampak membasahi jalanan beraspal yang membentang di depan kami.


Diantara istirahat itu aku sempat menanyakan kabar bapak dan ibunya. Dan masih seperti dulu, gaya bicaranya yang acuh menjawab sekenanya. Lalu kami berbincang-bincang entah tentang apa. Yang bisa aku ingat dalam mimpi itu adalah pertanyaan tentang kabar kedua orang tuanya.


Setelah minum dawet kami kembali ke jalan dan berlomba. Tiba-tiba ia meninggalkan aku tanpa mengolok-olok lagi seperti tadi. Dengan sangat kuat ia kayuh sepeda kecil yang jauh lebih bagus dari punyaku itu. Akupun tak kuasa mengejarnya. Ia terlalu jauh meninggalkan aku padahal jalanan yang kini kami lalui penuh dengan tanjakan dan tikungan. Nafasku semakin terengah-engah. Kakiku terasa berat mengayuh jalan yang terus menanjak. Temanku itu sudah menghilang.


Pada saat-saat aku sudah hampir putus asa untuk mengejarnya aku tiba pada sebuah pertigaan jalan mirip huruf Y. Aku tidak tahu kemana arah yang diambil temanku itu. Jalan ke arah kiri menurun tapi jalanan nampak halus, dan arah kanan masih menanjak dan terjal bahkan semakin tinggi dan lurus hingga tampak sebuah puncak yang jauh sekali pada ujung jalan.


Dalam mimpi itu sepertinya aku tidak peduli kemana arah yang diambil temanku, dan akupun tidak tahu kenapa aku memilih arah ke kanan. Aku tidak lagi ingin mengejarnya. Akupun tidak tahu apa yang aku inginkan.


Aku dibangunkan karena hari sudah siang, dan harus kembali kerja. Terkejut aku seketika itu, aku masih merasakan kelelahan yang amat sangat. Dengan masih duduk terpekur aku berusaha mengingat-ingat mimpi dalam tidur yang hanya beberapa jam saja itu. Aku jadi teringat masa-masa bersama temanku yang ada dalam mimpi tadi.
Dulu, ia memang orang yang ulet dalam belajar. Kami selalu saling berlomba meraih prestasi. Ia giat dan tekun walau keadaan kedua orangtuanya yang tidak lebih dari kedua orang tuaku. Adik-adiknya masih kecil. Jalan kami memang berbeda. Ia memilih melanjutkan ke perguruan tinggi negeri di Malang meskipun 2 orang adiknya yang terpaksa harus berhenti sekolah, sementara aku memutuskan untuk tidak kuliah agar kedua adikku bisa menlanjutkan sekolahnya. Semenjak itu kami berpisah.


Sepuluh tahun yang lalu aku mencoba mengunjungi kedua orangtuanya yang sudah kuanggap sebagai orang tuaku. Aku betul-betul terhenyak melihat perkembangannya. Rumah yang dulu awut-awutan kini tertata rapi dan nampak bagus. Semula aku takut keliru melihatnya, tapi ternyata tidak. Kuberanikan diri untuk mencoba masuk. Dan benar rumah itu adalah rumah yang dulu, tapi sudah banyak direnovasi.


Kedua orangtua temanku itu seperti terharu melihatku, ada butir-butir air mata yang seakan tertahan. Kamipun akhirnya bercengkerama, aku lebih banyak mendengar kisah anak-anaknya termasuk temanku itu. Ternyata ia telah sukses, menjadi dosen pada sebuah perguruan tinggi di luar jawa dan berhasil mengembalikan adik-adiknya yang dulu ia korbankan ke bangku sekolah. Yang masih kuingat saat pertemuan itu, mereka mengatakan bahwa aku masih seperti dulu.


Ya memang, aku belum berubah setelah 9 tahun lulus SMA. Tapi kini aku sudah berubah. Aku malu bertemu mereka, itulah perubahannya.

Tentang mimpi semalam, aku tidak tahu apa maksudnya. Biasanya, bagiku mimpi hanyalah bunga tidur. Tapi kini serasa ada yang harus aku ketahui tentang temanku dan keluarganya. Kalau ada waktu aku pasti datang berkunjung. Semoga kabar baik dari mereka.

8 komentar:

joe mengatakan...

mimpi adalah bunga tidur... benar kan? Salam kenal...

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

kadang mimpi memang bunga tidur. tapi aku rasa..kamu diingetin sama Tuhan untuk lebih giat lagi berusaha.

btw, tugasmu berat amat sampai tidur jam 4 pagi.

gratisanboy mengatakan...

Mimpinya meninggalkan teka-teki yach..

awamologi mengatakan...

Ops, agak susah memasukkan komen ke sini Mas. Gak ada pilihan "name/url" ya?
Aku coba lagi ya. Komenku: moga Mas RCO segera mendapatkan waktu tuk bersilaturahmi dengan sang teman lama.

be mengatakan...

Kalau teman bisa sukses, kamu juga pasti bisa sukses. Mungkin tidak sekarang, mungkin bulan depan, mungkin tahun depan, yang penting adalah kemauan qt. Betul ga sih????

phiy mengatakan...

kalo temennya ada apa2, entah itu kabar baik atau ngga, brarti ikatan batin sama temennya kuat tuh.. keren..

bocahbancar mengatakan...

Hmm...Saya juga tidak setuju kok Maz kalo Anda dianggap masih sama kaya dulu dan ga berubah sama sekali..

Intinya manusia itu dalam perkembangannya selalu berubah, kalau berubah yang dimaksud itu menjadi lebih berharta, saya rasa itu hanya efek saja,..

Allah memberikan kelengkapan organ tubuh kita beserta fungsinya untuk apa, tentu saja agar manusia berusaha dan terus berusaha..

Mengenai kapan kita akan memetik buah usaha tersebut tentu saja Allah yang Maha Tahu rencananya..

Di satu sisi, kita pasrah(tidak putus asa) namun di sisi lain juga seharusnya kita harus lebih kreatif lagi, lebih berrekspresi lagi, jangan2 memang masih ada yang salah langkah sehingga hasil kerja keras itu tak kunjung datang juga..

Saran saya MAz RCO selalu semangat tanpa henti dan saya yakin dengan pengalaman yang banyak dalam Try and Error maka ke depannya yang akan dicapai pasti juga lebih besar, AMiinn...

Salam semangat Bocahbancar...

anna fardiana mengatakan...

ada yang bilang mimpi itu bunga tidur..
tapi kadang2 juga pertanda..

wallahualam..