Senin, 30 Maret 2009

REST ROOM

Inilah akibatnya jadi pemalas. Masa sekolah dulu, saya alergi dengan Pelajaran Bahasa Inggris. Ironis, sebab waktu SMA saya mengambil jurusan Budaya-waktu itu popular dengan sebutan jurusan A-4. Akibatnya saya adalah murid terbelakang di bidang ini. Untung masih bisa lulus dengan hasil ujian 5. Wah rekor! Setelah lulus, semua baik-baik saja. Tidak terasa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa bulan kemudian barulah saya mulai menyesali kebodohan itu. Saat saya jadi abang bakso si Pulau Dewata Bali. Hancur lebur telinga ini bila yang makan bakso turis asing. Kalau saja rombong baksonya enteng, mungkin saya langsung kabur melarikan diri.


 

Memang penyesalan selalu datang belakangan, persis polisi dalam sinetron Indonesia yang hadir setelah si penjahat bertekuk lutut oleh kepahlawanan tokoh protagonisnya. Karena ketidakmampuan berbahasa asing saya dibikin malu oleh ulah sendiri, malunya juga pada diri sendiri. Konyol.


 

Begini ceritanya.

Hari itu adalah hari ketiga saya berada di negeri jiran Malaysia. Sudah menjadi kebiasaan saya kalau di tempat baru selalu sulit untuk dapat tidur. Pada malam kedua saya masih belum bisa memejamkan mata. Padahal keesokan harinya ada acara briefing pada sebuah hotel di KL. Pagi-pagi ketika bus jemputan datang, saya merasakan kantuk yang luar biasa. Dalam perjalananpun saya tidak bisa memejamkan mata. Setelah berada dalam ruang pertemuan yang ber-AC rasa kantuk itu semakin tidak bisa ditahan. Sebentar-sebentar kepala saya hilang keseimbangannya. Teklak tekluk seperti mau patah. Karena duduk paling depan akhirnya saya merasa sungkan pada si ibu pembicara. Saya benar-benar tidak bisa mengerti isi pembicaraannya karena serangan kantuk itu.


 

Beberapa saat kemudian saya coba tengok sana tengok sini, mungkin ada jalan keluar untuk bisa merokok sebentar. Tapi pintu keluar selain pintu masuk tidak ada. Tapi pandangan mata saya menemukan sebuah pintu yang tertuliskan Rest Room. Segera otak saya yang tidak mampu menyimpan bahasa Inggris dengan benar ini mulai mereka reka apa artinya. Dalam pengartian harafiah saya, Rest artinya istirahat dan room
adalah ruang atau kamar. Nah ini dia yang saya cari, "Ruang istirahat." Apa salahnya dicoba. Barangkali bisa melepas kantuk sejenak.


 

Dengan tanpa ragu-ragu saya berdiri minta ijin sebentar. Si Ibu pembicara mengijinkan. Dan segera saya pergi ke Rest Room itu dengan penuh percaya diri. Sayapun buka pintu dan masuk. Tapi apa yang saya dapatkan di dalam sana bukan seperti apa yang saya bayangkan. Ruangan itu lebar dan masih ada sekat-sekat berpintu lagi. Saya segera buka pintu salah satu sekat, wah ternyata bukan tempat tidur yang ada melainkan tempat duduk yang tengahnya lobang, alias WC. Waduh, dasar tolol. Tapi ngantuknya hilang karena malu pada diri sendiri.

12 komentar:

JengSRI.Com mengatakan...

Hahaha, lucu bang, lucu!!!

attayaya mengatakan...

mending malu ma diri sendiri daripada
malu-maluin
hehehehhe

J O N K mengatakan...

oh ms RCo sekarang di malay ? waduh seru juga nih :) ...

heuheuheu, saya mah idem sama mas attayaya ...

rco mengatakan...

@Jonk. Aku dah lama di tanah air. Ini sebagian cerita masa lalu.

dwina mengatakan...

pengalaman guru yg terbaik kan. dan guru yg baik akan mengajarkan yg baik. jadi berbaiklah pada sang guru.. hiaaa komen opo iki...kaburrr

riosisemut mengatakan...

Hwahahaha... untung Rco gak tidur disitu.

Bdw, follow aku dunk ntar gantian, mau gak?

Senoaji mengatakan...

wakakakkakakakakk!!! wis ngono wae!

wakakakkakakakakk!!!

Linda Belle mengatakan...

huhuhuhu....Rco ada2 ajah...

sukarnosuryatmojo mengatakan...

untungnya waktu itu nggak nemu tulisan rest area ya.. karena adanya cuma di toll aja. di rest area banyak rest room-nya

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

hmm...kalo rest room nya bersih sih, gak papa kok tidur di sono. ha ha ha....

phiy mengatakan...

ikikikikik...
jelaslah, masa Rest Room ada kasurnya, nanti kasurnya diompolin *LoL*

anggi mengatakan...

hhhiiiyyyaaa....

uchul boz...

td sy juga sempet berpikir klo rest room itu ruang istirahat..

gpp bro.. pengalaman adalah guru yg terbaik.